The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
55. Malam Terakhir


__ADS_3

Hari sudah petang, tapi Gaby masih tertidur pulas. Tuan Scott berkali-kali melihatnya ke kamar. Pria itu merasa gelisah. Seperti ada tarikan agar dia kembali lagi melihat Gaby di dalam kamar.


Keinginan itu makin kuat dan membuatnya tak ingin beranjak lagi setelah masuk kamar yang ke sekian kalinya. Tuan Scott duduk di tepi tempat tidur besar yang digunakan wanita itu.


Diamatinya wajah cantik yang tergolek pulas akibat kelelahan. "Kau akan sangat menderita akibat anak ini nanti. Sayangnya aku tak ada di sana untuk menjaga dan membantumu lagi."


Jemari kasar pria itu merapikan helai-helaian rambut yang berantakan di wajah Gaby. "Maafkan aku," gumamnya lirih.


Entah bagaimana awalnya, tapi kali ini keduanya melakukan hal itu lagi dalam keadaan sadar. Tenggelam dalam manisnya cinta yang tak mereka sadari telah bersemi di relung hati masing-masing.


Pukul delapan malam.


"Aku sudah harus kembali ke flat. Barang-barangku belum dikemasi." Gaby ingin pamit pergi, namun hatinya merasa berat. Kepalanya masih berada dalam pangkuan pria itu sejak satu jam terakhir setelah pertempuran mereka.


"Ayo! Kita makan malam dulu, lalu kembali ke flat. Akan kubantu berkemas."


Suara tegas Tuan Scott menyadarkan Gaby bahwa segalanya telah usai. Dia bangkit dan duduk dengan lesu. Tuan Scott mengecup keningnya untuk memberinya semangat.


"Kita masih bisa saling menelepon. Dan aku bisa mengunjungimu sebelum hari perjanjian dengan Watson tiba," ujarnya memberi sedikit harapan.


"Tak bisakah kau abaikan saja tantangannya?" Mata Gaby menatap Tuan Scott penuh harap.


"Itu sama saja dengan mempermalukan diri sendiri. Kehormatan yang kujaga ratusan tahun, akan hilang begitu aku tidak menepati janji atas tantangan itu." jelas Tuan Scott.


"Tapi kan nyawamu selamat! Lebih penting mana, menepati janji atau menjaga nyawamu? Apa kau tak ingin melihat anak ini lahir?"


Suara Gaby mulai terasa tercekik. Dia bicara sembari menahan air mata yang akan segera jatuh berderai.


"Aku mempercayakan anak kita padamu. Asuhlah dengan baik dan jangan sampai dia melupakan akar kehidupannya di sini. Dia harus kembali lagi, segera setelah dia siap menghadapi segala tantangan!"


Tuan Scott menarik pundak Gaby dan membawanya ke dalam pelukannya. Kali ini bendungan di pelupuk mata itu jebol. Air yang deras, mengalir membasahi pipinya yang putih pucat. ubuhnya terguncang halus seirama isakan tangis tertahan.


Tuan Scott hanya bisa mengusap-usap punggung Gaby. Pria itu tahu bahwa tak ada kata yang mampu menghibur dan membasuh luka di hati Gaby. DIa akan bisa mengalihkan cinta yang baru bersemi itu pada putra mereka kelak. Anak itu tak akan kekurangan cinta sedikitpun! Tuan Scott sangat yakin tentang itu.

__ADS_1


Pukul sembilan, keduanya keluar dari kediaman Tuan Scott.


*


*


"Ini semua pakaian yang kutemukan di kamar mandi," kata Tuan Scott.


"Letakkan di situ. Nanti kumasukkan ke dalam plastik loundry agar tak mengotori pakaian lain!"


Gaby menjawab tanpa menoleh sama sekali. Kedua orang itu sedang sibuk berkemas.


"Akhirnya selesai juga. Terima kasih bantuannya!" Gaby melihat jam di atas meja. Sudah hampir pukul dua belas malam.


"Sudah larut. Apa kau tak ingin pulang?" tanya Gaby. Dilihatnya Tuan Scott duduk di sisi jendela besar, membuang pandang ke arah jalanan di seberang.


"Aku akan menginap di sini!" katanya tegas. Matanya tak teralihkan dari jendela.


"Apakah ada seseorang di luar sana?" tanya Gaby khawatir. Kakinya melangkah ke arah Tuan Scott.


"Sebaiknya kau segera tidur," saran Tuan Scott.


"Aku belum mengantuk. Tadi tidur siang cukup lama di rumahmu," tolak Gaby.


Tuan Scott tak memaksa. Dibiarkannya wanita muda itu melakukan apapun yang dia mau, kecuali mendekat ke jendela.


Gaby memilih untuk tidur dan membiarkan pria itu berjaga di dekat jendela. Dia ingin hari terakhirnya di Scotland berlalu dalam kedamaian.


Pukul enam pagi, Gaby terbagun. Tuan Scott tidur di bangku panjang di sisi jendela kaca. Gaby tak ingin mengganggunya. Dia pergi ke kamar mandi dan bersiap lebih dulu.


Saat kembali ke kmar, Tuan Scott ternyata sudah bangun. "Selamat pagi!" sapanya ke arah Gaby.


"Pagi, Tuan Scott. Pukul berapa kau tidur tadi malam?" tanya Gaby berbasa-basi.

__ADS_1


"Mungkin sekitar jam satu lewat!" jawab Tuan Scott. Dia segera menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri.


"Lebih baik ambil sarapan dulu sebelum berangkat ke bandara," saran Tuan Scott.


"Kita mampir di toko Emily untuk memesan sarapan lezat," ujar Gaby yang dibalas oleh anggukan kepala Tuan Scott.


"Mari kubantu membawakannya ke bawah sana!" Tua Scott menawarkan bantuan untuk mengangkat barang-barang mereka.


*


*


"Apa kau akan kembali hari ini?" tanya Emily.


"Ya. Waktu liburanku sudah habis. Aku harus kembali. Kuharap aku tak terlalu mengotori kamarmu," ujar Gaby sambil mengembalikan kunci kamar.


"Aku akan merindukanmu, my dear." Emily memeluk Gaby hangat.


"Kau akan naik pesawat pukul berapa?" tanya Tuan Edward.


"Pukul sebelas. Aku akan sarapan dulu di sini, sebelum berangkat ke bandara," jawab Gaby.


"Ini sarapan kalian. Apa Tuan Scott yang akan mengantarkanmu?" Emily menyajikan pesanan sarapan.


"Ya, aku yang akan mengantarnya. Tampaknya ada yang masih ingin mengganggunya." Tuan Scott menjawab cepat.


"Apakah orang yang mengawasi kamarku tadi malam?" tanya Gaby.


Tuan Scott mengangguk sebagai jawabannya. "Kau sarapan lah. Aku akan mengantarmu setelah ini."


Gaby menuruti perintah itu. Kali ini dia tak banyak membantah lagi.


Pukul delapan pagi, mereka sudah siap untuk berangkat.

__ADS_1


"Lain kali mampirlah ke sini, saat kau datang lagi." Emily melambaikan tangannya ke arah mobil Tuan Scott.


"Sampai jumpa, Emily. Terima kasih untuk semua bantuanmu." Gaby membalas lambaian Emily sebelum mobil yang ditumpanginya melaju.


__ADS_2