
Abercio berhenti didepan mansion Hawthorne dengan membawa belanjaan titipan dari Hana. Abercio menghela nafas,"Benar-benar sangat merepotkan bukan anak gue tapi kenapa gue yang di suruh belanja, hadeh" ucap Abercio melangkah ke dalam mansion Hawthorne.
Ting tong!
Abercio memencet tombol bel pintu, Galang membuka pintu melihat Abercio berdiri di depan pintu sambil membawa dua kantong belanjaan.
Ceklek!
"Lo beli pampers dan baju bocil lama banget, lo beli dimana sih anjir lama banget jangan-jangan lo beli di luar negeri lo makanya lama?" tebak Galang bersedekap dada.
Abercio malah ngeloyor pergi duduk di sofa sambil membuka tiga kancing kemejanya . "Lo ada tamu bukannya di suruh duduk malah interogasi dulu udah kek tersangka saja, gue habis dari luar panas banget, minum dong Lang jus apokat kalo ada"
"Woi, ini rumah bukan kafe kalo tamu kek lo semua bisa-bisa gue darah tinggi,ck. Gak ada jus apokat, adanya air comberan mau lo?" kesal Galang emang ada tamu modelan kek Abercio.
"Yaelah Lang masak orang kaya gak bisa ngasih jus apokat, udah bangkrut lo? kalo gak ada ya jus tomat aja deh sama nasi beserta lauk pauk gue laper butuh asupan gizi lo gak lihat apa? gue lemas begini gara-gara muter-muter supermarket" Abercio memelas didepan Galang.
"Lama-lama lo ngelunjak ya Yo, lo kira ini warteg apa minta nasi segala mana minumnya minta jus, tamu macam apa lo" decak Galang tak habis pikir dengan kelakuan Abercio.
Sagara lari ke arah Abercio tanpa selehai baju di tubuhnya dalam keadaan naked dan biji cabe melompat-lompat kesana kemari.
"Papah, Gaya kangen" teriak Sagara sambil lari ke arah Abercio.
Abercio melotot melihat Sagara lari ke arahnya mana tidak pakai baju apapun benar-benar seperti tuyul. "Anjir, masih aja panggil gue papah"
"Berarti lo benar-benar papahnya, coba lo pikir lagi lo pernah gak ninggalin kecebong lo sama mantan-mantan lo itu, siapa tahu tuh Sagara emang bener kecebong lo" tebak asal Galang.
"Sembarangan lo, walaupun gue playboy dan selalu tebar pesona tapi gue bukan tebar kecebong kemana-mana sebelum halal, gue masing ting-ting lo mau lihat gak?" naik turun alis Abercio.
"Dih, ogah palingan punya lo kecil kek punya nya Sagara tuh biji cabe" ejek Galang.
"Kamvret- eh?" Abercio kaget melihat siapa yang memeluk kaki nya ternyata Sagara yang memeluk kaki Abercio dengan erat.
"Heh, lo ngapain peluk kaki gue bocil? lepas dong cil kaki gue lama-lama kesemutan kalo lo peluknya begitu" Abercio berusaha melepaskan pelukan Sagara dari kakinya.
Sagara geleng-geleng."Gaya kangen ama papah, kenapa papa balu kesini sih, kan Gaya tadi udah nungguin papah" Sagara merucutkan bibirnya ke depan.
"Papah lo tadi habis sama janda bahenol di gang sebelah Gar" senyum miring Galang.
Abercio membulatkan matanya mendengar ucapan Galang."Heh, sembarangan tuh mulut sejak kapan gue suka sama janda, jangan di dengerin cil mulut lucknut om Galang"
Tap
Tap
Tap
"Lo udah ada disini Yo, daritadi gue tungguin lo kemana aja sih?" suara Hana yang baru saja datang dari arah belakang.
"Habis mojok sama janda bahenol di sebelah gang mansion kita Han" bukan Abercio yang menjawab melainkan Galang yang menjawab pertanyaan dari Hana.
Abercio berdecak kesal. "Jangan percaya sama abang lo itu, dia selalu sesat"
__ADS_1
Hana geleng-geleng kepala dan mengalihkan pandangannya ke Sagara yang masih memeluk kaki Abercio. "Tuh, anak lo tolong pake in pampers kasihan tuh tadi Galang di ompolin sama anak lo" Hana terkekeh kecil seraya melirik ke Galang yang udah mendengus kesal.
"Asal lo tahu dia bukan anak gue, selalu saja bilang anak gue mana ada cowo masih ting ting gini udah punya anak, sini Sagara lo pake pampers sendiri udah gede gak usah manja" ucap Abercio melepaskan pelukan Sagara dari kakinya.
Galang duduk di sofa single ."Pakein napa Yo, kasihan tuh Sagara udah manyun gitu"
Sagara manggut-manggut saja."Papah jahat bin pelit Gaya gak bisa pake pampels sendili papah, pakein dong pah" Galang dan Hana terkekeh kecil mendengar protesan dari Sagara.
"Heh, nih anak mulutnya udah kek emak-emak aja pake ngatain segala" Abercio menatap nyalang Sagara sambil memakaikan pampers Sagara.
"Angkat kaki lo cil, buruan nanti buwung lo terbang kemana-mana"
"Sabal napa pah nanti kalo kebanyakan malah cepat tua lho, Sagaya gak punya buwung pah" protes Sagara.
"Ck, nih anaknya siapa sih? mulutnya udah kek orang dewasa" gumam lirih Abercio.
"Anaknya papah dong, masak anaknya olang lain" bantah Sagara.
"Diem lo cil, daritadi berkicau terus kek burung emprit"
Abercio telah selesai memakaikan pampers dan kaos untuk Sagara.
"Woi,lo pake pampers kebalik tuh lo gak baca dulu cara pake nya?" protes Hana melihat Sagara memakai pampers kebalik.
"Ah, bodo ah sama aja kali biarin lah gak ada yang lihat juga" ucap Abercio ia benar-benar lelah dengan bocil ini .
Hana berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari mansionnya Tiba-tiba suara Abercio menghentikan langkah Hana.
"Mau ke supermarket bentar, lo disini sama bang Galang temenin anak lo kasihan gak ada temen mainnya"
"Gue titip rokok dong dua bungkus sama cemilan kalo boleh" pinta Abercio.
"Duit lo mana? kalo mau nitip ya pake duit lo dong" tangan Hana mengadah untuk meminta uang kepada Abercio.
"Ck. Giliran duit aja gercep lo! nih, duit gue kasih lo 100 rb kalo kurang pake duit lo dulu" ucap Abercio memberikan duit kepada Hana.
"Dasar orang kaya pelit, sama aja ngutang kalo gitu". kesal Hana.
"Papah jangan pelit, kalo pelit nanti kubulan papah jadi sempit dan gak ganteng lagi nantinya" nasehat Sagara sambil berkacak pinggang dan jarinya menunjuk ke arah Abercio seperti orang dewasa.
"Hahaha bener-bener dah anak lo Yo ,gak ada lawan hahaha" tawa Hana melihat Abercio dimarahin sama Sagara.
Abercio mendengus kesal menatap nyalang Sagara, dasar bocil kematian.
...****************...
Mika sudah sampai di panti asuhan ia melangkahkan kakinya masuk kedalam panti asuhan.
"Permisi" ucap Mika sambil clingak clinguk mencari pemilik panti.
"Iya mbak ada apa ya?" tanya ibu paruh baya datang dari arah belakang dengan penampilan yang sangat sederhana.
__ADS_1
"Ekhm, begini ibu saya kesini sedang mencari anak kecil umurnya sekitar 3 tahunan" balas Mika tersenyum manis.
"Duduk dulu mbak, silahkan" ibu paruh baya tersebut menyuruh Mika untuk duduk.
Mika pun duduk di kursi yang sudah tua namun masih tetap kokoh. "Apa ada anak kecil umurnya sekitar 3 tahunan baru masuk ke panti asuhan ini, bu? oh ya, sebelumnya nama saya Mika ibu"
"Baiklah nak Mika, panggil saja ibu Dewi emang betul kemarin pagi ada anak kecil berjenis kelamin laki-laki umur 3 tahun baru saja masuk ke panti asuhan tapi-"
"Tapi apa Bu Dewi? tidak terjadi sesuatu kan? itu keponakan saya bu Dewi namanya Sagara Caesar Patrios umurnya 3 tahun dia di bawa paksa ke sini sama neneknya, mereka keluarga jahat dan tidak bertanggung jawab, dulu bundanya Sagara di siksa oleh mertuanya dianggap pembantu tapi didepan anak kandungnya mertua kakak saya sangat baik tapi kalo suaminya sedang pergi langsung keluar sifat asli mertuanya, kakak saya bunuh diri karena sangat tertekan hidupnya di bawah tekanan mertuanya dan sering diancam kakak saya bu, kakak saya menyerah dan tidak sanggup lagi apalagi mendengar ibu mertuanya menjodohkan suami kakak saya dengan wanita pilihan ibu kandung suaminya, kita berdua berasal dari panti asuhan juga bu, kita terpisah gara-gara insiden yang terjadi pada saya dulu saya di culik dan hampir di jual di perdagangan manusia untungnya ada orang baik menolong saya, setelah sekian lama saya akhirnya menemukan kakak saya walaupun sudah terlambat. Dan saya kesini untuk menjemput keponakan saya yang di bawa paksa kesini" Mika menceritakan semuanya tentang kehidupan bunda Sagara kepada ibu Dewi pemilik panti asuhan.
Ibu Dewi meneteskan air matanya betapa malang nasib mereka berdua apalagi kakaknya sungguh tragis kehidupan kakaknya sampai mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
"Tapi nak, emang benar kemarin ada orang yang memasukan anak kecil laki-laki berumur 3 tahun kesini tapi dia menghilang setelah bermain di luar saat malam hari kita semua sudah mencari kemana-mana keberadaan Sagara tapi nihil tidak ada semua orang kebingungan" jelas ibu Dewi.
Mika membulatkan matanya mendengar penjelasan dari ibu Dewi. "Apa? jadi Sagara hilang bu? bagaimana bisa bu?" Mika benar-benar shock kalau keponakannya itu hilang.
"Maaf ya nak Mika, kita udah lapor polisi tapi tidak di tanggapi malah diam saja, kita hanya orang kecil tidak mampu membayar polisi untuk mencari orang hilang nak, kamu tahu sendiri di sini panti asuhan yang sangat sudah tua sekali bangunannya belum ada uang untuk memperbaiki panti asuhan"
"Baiklah Bu Dewi sekali lagi terimakasih, biar saya saja yang akan mencari Sagara bu. Masalah duit nanti saya akan bantu Ibu Dewi untuk memperbaiki panti asuhan ini menjadi lebih baik lagi" sahut Mika emang benar bangunan panti asuhan dari luara seperti bangunan jaman dulu dan belum pernah di renovasi.
"MasyaAllah nak Mika sekali lagi terimakasih Mika sudah mau bantu ibu" ucap syukur Ibu Dewi.
"Sama-sama bu, kalo begitu saya pamit dulu" Ibu Dewi pun menganggukkan kepalanya.
Mika pamit kepada Ibu Dewi pemilik panti asuhan dan pergi dari sana, Mika akan mencari Sagara dan membawanya pulang bersama Mika dia akan merawat dan mengurus Sagara dan akan mengangkatnya sebagai anaknya sendiri.
🐾
🐾
🐾
Hana melangkahkan kakinya kedalam ruangan gelap dan berbau anyir.
Tap
Tap
Tap
Ceklek!
"Halo apa kabar lo hm?"
Seseorang menoleh ke sumber suara."Hana?"
"I'm not Hana, but I'm Winter " desis Winter menyeringai tipis sekali.
Deg!
...----------------...
__ADS_1
Update sambil nonton konser SMtown sorry lama hehe ✌️😅...