Transmigrasi Belvia

Transmigrasi Belvia
133


__ADS_3

Ratna melangkahkan kakinya menuju kantor Rajendra dengan wajah emosi. Sesampainya di resepsionis Ratna menghentikan langkahnya.


"Maaf, ibu mau bertemu dengan siapa?" tanya staff resepsionis.


"Tuan Rajendra ada di ruangannya tidak?" balas Ratna


"Maaf ibu siapa ya?" tanya kembali staff resepsionis.


"Saya istrinya, apa Tuan Rajendra ada di ruangannya tidak?"


"Istrinya?" beo staff resepsionis.


"Ck. Gak percaya? yaudah saya mau nelpon Tuan Rajendra langsung buat pecat kamu" ancam Ratna.


Seketika staff resepsionis ketakutan setelah mendengar ancaman dari Ratna.


"B-baik nyonya, silahkan masuk tuan Rajendra ada di ruangannya" suara gagap staff resepsionis.


"Cih, dari tadi kek" Ratna menatap sinis ke staff resepsionis setelah itu Ratna menganyunkan kakinya menuju ruangan Ceo yang berada di lantai 10.


🏃


🏃


🏃


"Nyonya Ratna" ucap asisten Rajendra melihat Ratna sedang berjalan menuju ruangan Ceo.


"Apa tuan Rajendra ada di dalam?" tanya Ratna menatap asisten Rajendra yang berdiri di depan pintu ruangan Ceo.


"A-ada nyonya, nyonya-


Asisten Rajendra belum sempat menyelesaikan ucapannya Ratna sudah membuka pintu ruangan Ceo dengan paksa.


Brak!


"Aish,kena marah deh gue" gerutu asisten Rajendra melihat Ratna sudah membuka pintu ruangan Ceo.

__ADS_1


Sementara di dalam ruangan Rajendra tersentak mendengar suara gebrakan pintu ia mengira asisten nya yang membuka pintu dengan kasar.


Rajendra yang tadinya lagi fokus dengan layar monitor ia langsung menoleh ke arah pintu ternyata bukan asistennya melainkan Ratna mantan istrinya, Rajendra hanya menatap malas melihat kedatangan mantan istrinya yang sangat tidak sopan sekali. Setelah itu pintu terbuka kembali menampilkan asistennya yang baru saja datang dan berdiri di belakang Ratna.


"Maaf tuan, tadi nyonya Ratna memaksa untuk masuk kedalam ruangan" ucap asisten Rajendra.


"Hm, keluarlah" pinta Rajendra kepada asistennya.


Sebelum asistennya keluar dia sempat melirik ke nyonya Ratna, ia menebak pasti habis ini akan ada perang dunia ke empat puluh lima.


"Ada apa kamu kemari, saya sedang sibuk, kenapa kamu sangat lancang sekali masuk kedalam ruangan saya tanpa memberitahu" sentak Rajendra dengan wajah datar.


"Apa kamu tahu soal kematian Tiara anak kamu Rajendra, aku ingin kamu usut tuntas kasus kematian Tiara, dan beri hukuman mati bagi pelaku yang udah membunuh Tiara" ucap Ratna dengan suara yang sengaja di tinggikan.


"Apa kamu lupa Ratna, Tiara bukan anak kandung saya dan saya tidak ada hubungannya lagi dengan anak kamu itu, saya sudah tidak peduli lagi dengan Tiara mau mati atau masih hidup saya tidak peduli lagi, karena dia bukan anak kandung saya, saya juga sangat kecewa sama kamu Ratna benar-benar membohongi ku selama ini saya tidak menyangka kamu mempunyai otak yang licik dengan menggunakan anak kamu itu untuk mencoba menikah denganku sampai saya harus meninggalkan Dina demi wanita j•lang seperti kamu dan ternyata anak kamu juga mengikuti jejak ibunya sebagai simpanan om-om di luar sana makanya dia meninggal dunia akibat ulahnya sendiri. Lebih baik kamu keluar dari ruangan ini, saya sedang sibuk tidak ada waktu untuk mendengar celotehan yang tidak bermutu itu" jelas Rajendra dengan tegas.


Ratna geram mendengar cacian dari Rajendra bahkan dia menyebutkan Tiara j•lang ,sangat tidak terima anaknya disebut j•lang menurut Ratna, Tiara adalah anak gadis yang manis dan cantik bukan j•lang seperti yang dikatakan oleh Rajendra.


"Tiara tetap saja anak kamu Rajendra, jangan pernah sebut Tiara j•lang dia bukan j•lang Rajendra, dia hanya di jebak oleh pria hidung belang, tolong bantu aku Rajendra temukan pelakunya tolong Rajendra demi Tiara anak kamu" Ratna tetap kekeh meminta Rajendra untuk menuntut kasus kematian Tiara di buka kembali.


"RATNA APA KAMU TULI HAH! SEBELUM SAYA MELAKUKAN KEKERASAN TERHADAP KAMU,LEBIH BAIK KAMU KELUAR DARI SINI! SAYA INGATKAN LAGI TIARA BUKAN ANAK SAYA, LEBIH BAIK KAMU CARI SAJA AYAH KANDUNG TIARA, KELUAR!!!" bentak Rajendra ia sungguh muak dengan Ratna.


Sebelum melanjutkan perkataannya Rajendra sudah menarik tangan Ratna dan membukakan pintu ruangan, Rajendra menyentak tangan Ratna dan mendorong tubuh Ratna keluar dari ruangan itu.


Bruk!


Ratna terjatuh ke lantai dengan posisi terduduk di atas lantai, setelah itu Rajendra mengancam untuk tidak lagi datang ke kantornya.


"Jangan lagi datang ke kantor saya, kalo tidak saya akan memenjarakan kamu sebagai tersangka pembunuhan Dina 20 tahun yang lalu" ancam Rajendra.


Deg!


Jantung Ratna seketika berhenti dan matanya melotot jangan sampai Rajendra memenjarakannya.


Blam!


Rajendra langsung menutup pintunya dengan kencang membuat Ratna tersentak.

__ADS_1


"Aku harus mencari Sam iya Sam, aku harus memanfaatkan dia lagi aku yakin dia masih mencintaiku,dengan begitu aku bisa hidup dengan enak lagi dan mencari pembunuh Tiara memberikan hukuman mati kepadanya" gumam Ratna sambil bangkit dan berdiri ia langsung melangkahkan kakinya keluar dari kantor Rajendra, asisten Rajendra hanya melirik Ratna sekilas sepertinya tadi terjadi keributan di ruangan bosnya sudah terlihat jelas dari ekspresi raut wajah Ratna.


Dia benar-benar tidak menyukai istri mantan bosnya itu Ratna selalu bersikap sewenang-wenang waktu dulu saat Ratna masih memiliki status sebagai istrinya Rajendra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



"Gimana dok, keadaan calon anak saya?" tanya Kivandra duduk disebelah Hana.


Mereka sedang berada di rumah sakit Hawt, Hana sedang memeriksakan kondisi kehamilannya dan di temani oleh Kivandra suaminya.


"Alhamdulillah bayi nyonya muda Hana sangat baik-baik saja dan usia kandungan sudah memasuki usia 4 bulan nyonya, dan Pada minggu ini, janin telah mampu merasakan detak jantung ibunya. Panjang bayi sekitar 7,5cm dengan trakea, paru-paru, perut, hati, pankreas, dan usus berkembang ke fungsi terakhir. Pita suara mulai terbentuk, dan tunas gigi muncul dengan 20 gigi bayi. pada minggu ini jari tangan dan telapak kaki mulai terlihat. Nyonya Hana disarankan jangan terlalu capek ya nyonya,vitamin dan susu ibu hamil jangan lupa di minum dan sepertinya bayi anda itu insyaallah berjenis kelamin laki-laki nyonya" jelas dokter kandungan.


Hana dan Kivandra saling tatap-tatapan dan melengkungkan bibirnya ke atas mereka sangat bahagia sekali mendengar kabar baik kondisi dari bayi utun mereka dan lagi mereka berdua semakin bahagia bayi utunnya berjenis kelamin laki-laki.


"Baik dok, terimakasih dokter kami sangat bahagia sekali mendengar jenis kelamin calon bayi kami, saya pastikan istri saya selalu minum vitamin dan susu ibu hamil dan juga saya pastikan istri saya tidak akan melakukan kegiatan yang bisa membuat istri saya capek dan lelah lagi dok" balas Kivandra ia sangat bahagia sekali sembari menggenggam erat tangan Hana.


"Baiklah tuan, ini vitamin buat nyonya muda Hana jangan lupa di minum ya nyonya" ucap dokter kandungan.


"Baik dok, saya akan selalu minum vitamin ini, kalo begitu kami pergi dulu dok, terimakasih dokter" balas Hana sembari mengambil vitamin yang ada di meja.


"Sama-sama nyonya dan tuan muda"


Setelah keluar dari ruangan dokter spesialis kandungan , Hana dan Kivandra tiba-tiba tanpa disengaja melihat Dasha masuk kedalam ruangan dokter spesialis penyakit dalam. Hana tahu ruangan itu adalah ruangan dokter Azka dokter spesialis penyakit dalam. Ada apa dengan Dasha kenapa dia masuk kedalam ruangan dokter Azka, apa dia sakit? dengan cepat Hana langsung menggelengkan kepalanya ia berusaha menepis semua pikiran negatif tentang Dasha.


"Kenapa sayang?" tanya Kivandra melihat istrinya geleng-geleng kepala.


"Ah, tidak apa-apa yank, tadi aku lihat Dasha masuk ke ruangan dokter Azka" ucap Hana.


"Iya aku juga tadi melihatnya, apa dia sakit sayang?" tebak Kivandra.


"Aku nggak tahu, atau kita tunggu Dasha keluar dari ruangan dokter Azka nanti kita tanya" sambung Hana.


"Nanti saja sayang, kamu harus pulang dulu dan istirahat ingat apa kata dokter, nanti kita mampir dulu beli buah buat dedek utun" tolak Kivandra ia tidak mau istrinya kelelahan menunggu Dasha keluar dari ruangan Azka kemungkinan dia akan lama keluarnya.


Hana lupa kalau dia mempunyai suami yang posesif ia hanya menghembuskan nafas dengan pelan. "Baiklah, kita pulang saja, nanti kapan-kapan aku tanya sama Dasha"

__ADS_1


Kivandra merengkuh pinggang Hana dan mengajaknya untuk pulang. "Ayo, kita pulang mommy" ucap Kivandra menirukan suara anak kecil. Hana yang mendengarnya langsung terkekeh kecil.


...----------------...


__ADS_2