Transmigrasi Belvia

Transmigrasi Belvia
121


__ADS_3

Hana memejamkan matanya dan berbicara dengan Red melalui batinnya.


"Red" panggil Hana


"Hm?" jawab Red.


"Ambil ahli tubuh gue tapi gue khawatir dengan calon anak gue Red" cemas Hana.


"Calon anak lo akan baik-baik saja tenang aja calon anak lo ada yang jagain"


"Siapa Red?"


"Dia Elijah raja dari segala raja dunia kegelapan dia yang akan menjaga anak lo ketika anak lo lahir ke dunia, ilmu dia lebih tinggi dari gue Bel, anak lo akan baik-baik saja"


"Syukurlah, apa gue bisa berbicara dengan nya sekarang?"


"Sepertinya belum bisa Bel, katanya nanti akan menemui lo Elijah, gue ambil alih tubuh lo sekarang Bel, sepertinya Kivandra butuh bantuan kita, gue dan Winter akan sama-sama bantu lo tenang aja lo istirahat aja"


"Hm, thanks ya Red dan Winter"


"Ini sudah kewajiban kita Belvia" balas Red dan diangguki oleh Winter.


Hana membuka kembali kedua matanya dengan rahang sudah mengeras, kali ini Winter dan Red akan bersatu membantu Hana. Hingga rambut Hana berubah menjadi putih sedangkan bola matanya berubah menjadi merah darah dengan tatapan tajam seketika atmosfer di sekitar menjadi dingin Red dan Winter menekan udara di sekitarnya.


...~Ilustrasi kolaborasi Winter dengan Red~...



"Akhirnya kita kembali menyatu Winter, kita sudah lama tidak melakukan seperti ini" suara dingin Red.


"Benar sekali Red, mari kita bersenang-senang" senyum miring tercetak di wajahnya.


Tap


Tap


Tap


Winter dan Red berjalan menuju pintu ruangan gelap tersebut. Mereka berdua menendang pintu dengan keras hingga penjaga di balik pintu terpental jauh akibat tendangan mereka.


Brakkkk!!!


Penjaga yang satunya terkejut melihat temannya terpental jauh hingga menabrak tembok membuat penjaga tersebut langsung mati.


Penjaga menoleh ke arah pintu dia melihat sosok wanita seperti hantu, dengan kaki gemetaran dan mata melotot.


"Se-setan l-lo se-tan" teriak penjaga dengan suara gagap.


"Lo duluan Winter habisi dia" batin Red.


Winter menyeringai melihat tikus didepan nya. Winter berjalan menghampiri penjaga tersebut.


Tap


Tap


Tap


"Bye..bye" ucap Winter seringai tipis.


Penjaga tersebut masih gemetaran menatap mata merah Red dan rambut putih Winter, penjaga ingin kabur dari sana tapi kakinya tidak bisa di gerakan apalagi kepalanya sangat sulit sekali untuk di gerakan karena Red dan Winter menekan pergerakan manusia di sekitar sana.


Winter dengan gerakan cepat kilat ia mematahkan tulang leher penjaga dan memutuskan kepalanya penjaga dengan sekali tarik dari tubuh penjaga tersebut. Winter melemparkan jauh kepala tersebut. Darah bercucuran di lantai yang dingin.


"Die" desis Winter.


Red dan Winter melanjutkan menelusuri lorong gelap tersebut.


Siapapun yang melihat Red dan Winter didalam tubuh Hana pasti sangat ketakutan, gimana tidak satu tubuh dengan penampilan yang mengerikan rambut putih dan bola mata berwarna merah darah yang sangat terang seperti bukan Hana apalagi aura mereka sangat dingin sekali.


Tap


Tap


Tap


Mereka keluar dari lorong di sambut oleh beberapa anggota mafia milik Lorenzo yang menjaga gedung tua bekas gudang pabrik gula.


Red mengkretek kan leher dan tangannya sedangkan Winter menyeringai.


"It's time for the game to start" desis mereka bersamaan.


Bugh!


Kreekk!!!


Brak!!!


Winter dan Red baru menghabiskan beberapa anggota mafia Lorenzo dengan mematahkan tulang mereka hingga tulang mencuat keluar,menarik tangan mereka hingga terpisah dari anggota tubuh mereka yang tadinya lantai tersebut bersih tanpa noda sekarang bercucuran darah dimana-mana, Winter dan Red menekan pergerakan mereka hingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Red membengkok kan tangan mereka hingga tulang mereka hancur suara pekikan mereka saling bersahutan-sahutan.


Krekkk!!!


Pats!!!!


Kreekk!!


Bugh!!!


Brakk!!!



Lantai penuh dengan genangan darah segar dari pembantaian Winter dan Red. Mereka berdua berhasil menghabisi nyawa sekitar 30 orang, setelah itu mereka menganyunkan kakinya keluar dari gudang. Didepan gudang masih ada lagi 10 penjaga yang tengah berdiri di gerbang pintu.


Red mengambil pisau lipat dan melemparkan ke salah satu penjaga tepat pisau lipat tertancap di leher penjaga tersebut.


Pats!


Jleb!


"Aaarrghhhhhhhh...." teriakan penjaga yang terkena tusukan pisau lipat.


Semua penjaga langsung mengepung Red dan Winter mereka berdua malah tetap santuy dan tidak panik.Red mengambil tali yang ada di samping pintu, ia berjalan menghampiri para penjaga. Dengan gerakan cepat Red menarik leher salah satu penjaga melilitkannya dengan tali tersebut sedangkan Winter bagian menendang penjaga yang hendak membidik Red.


Bugh!


Krek!

__ADS_1


Red memutarkan kepala penjaga itu dengan tali sekali putaran menimbulkan bunyi yang sangat renyah sekali dan langsung tewas. Red memegang belati dengan menyeringai, delapan penjaga yang tersisa bergirik ngeri darimana datangnya makhluk seperti Red dan Winter.


"Hihihi gue suka darah hihihi" tawa menggelegar Red.


"Suara lo cempreng neng" ejek di dalam batin Winter.


"Ck, mau gue masukan lagi ke dalam sangkar huh?" tawar Red dalam hatinya.


Mereka saling berkomunikasi lewat batin.


"Ogah, gue gak bisa makan seblak"


"Bac*ot" desis Red.


Bugh!


Bugh!


Brak!!


Krek!!


Jleb!


Pats!!


Mereka berhasil menumbangkan tujuh orang penjaga tinggal sisa satu dia sangat ketakutan melihat tatapan Red. Tanpa aba-aba Red berlari secepat kilat dengan belati di tangannya untuk menyayat leher penjaga itu.


Sreekk!


Saat Red melewatinya penjaga mengira dia akan selamat dan hidup ternyata Red menyayat leher penjaga itu sekali sayatan langsung darah segar keluar deras seperti air mancur dan tumbang.


Brak!



Red dan Winter mengambil motor entah punya siapa ia pakai untuk mengejar Leon di tempat yang berbeda, Red dan Winter harus menghabisi Leon terlebih dahulu setelah itu akan menghabisi musuh yang udah membuat Elena meninggal dalam kecelakaan.


🔪


🔪


🔪


Saat Red dan Winter pergi Mika dan anggota lainnya tiba di gudang pabrik gula. Mereka bingung apa mereka salah tempat atau bagaimana kenapa tempat ini seperti tempat mutilasi orang. Karena mereka melihat banyak potongan tubuh berserakan dan darah dimana-mana.


"Ini benar tempatnya? kenapa seperti tempat mutilasi manusia apa yang terjadi sebenarnya? apa barusan ada hewan buas disini?" tanya Mika ke salah satu anggota Costa Nostra.


"Sepertinya kita tidak salah tempat nona, kemungkinan mereka di serang hewan buas nona"


Deg!


"Coba kalian cari nona Hana sekarang ,semoga dia tidak di makan juga seperti orang-orang ini"


"Baik nona"


Para anggota Costa Nostra langsung mencari Hana ke berbagai ruangan yang ada di sana. Sedangkan Mika menunggu di depan gudang. Salah satu anggota Costa Nostra berjalan menghampiri Mika.


"Gimana ketemu tidak?" tanya Mika.


"Maaf nona kami tidak menemukan nona Hana"


"Nona?"


"Kita kembali ke tuan Brivan sekarang"


"Baik nona"


Mika menarik kembali anggota Costa Nostra ke tempat Brivan yang sedang bertemu dengan Lorenzo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bruuuummmmm....Ckiiittt...


Red dan Winter turun dari motor, ia mengedarkan pandangannya mencari Leon. Ternyata Kivandra dan Leon sedang berkelahi, sedangkan Kalandra juga sedang melawan anggota mafia. Kivandra membawa beberapa anggota Costa Nostra saja sepertinya mereka kewalahan menghadapi anggota Leon. Disana juga ada Raka dan Galang membantu mengalahkan Leon dan pasukannya.


Tuk


Tuk


Tuk


Suara derap langkah seketika menghentikan aksi mereka dan mengalihkan pandangan mereka ke arah Red dan Winter terutama Kivandra dan Leon menatap seseorang yang tengah berjalan.


"Anjir, siang bolong begini ada kuntilanak yang bener aja" mata Kalandra hampir copot melihat Red Winter datang dengan penampilan yang berbeda.


Galang, Raka, Kivandra dan Kalandra jelas tidak tahu siapa dia karena baru pertama kali melihat penampilan Red Winter saat dijadikan satu di dalam tubuh Hana.


"Itu setan atau iblis? kenapa matanya ngeri sekali" sambung Galang.


"Itu siapa yang pakai kostum Halloween kesini?" tanya Raka berdiri disamping Kalandra.


Saat Red Winter sudah dekat dengan Galang, Raka dan Kalandra mereka seketika mematung dan merasakan aura yang sangat pekat dan dingin apalagi bau anyir darah semerbak di dalam tubuh Red Winter.


Glek!


"Merinding cok" lirih Kalandra.


"Berasa ingin pipis di celana, dia siapa?" bisik Galang.


"Gue aja gak tahu kenapa tanya sama gue" sahut Raka.


Kivandra memicingkan matanya sepertinya ia tidak asing dengan postur tubuhnya.


"Hana" lirih Kivandra ia kira Red Winter tidak mendengar suara lirih Kivandra justru Red Winter menoleh ke samping Kivandra.


"Gue Red dan Winter" desis Red dengan tatapan tajam dan aura dingin.


Glek!


Semua orang yang didekat Red mendengar suara dingin Red terutama Leon menatap Red dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Jadi kalo mereka di gabungkan penampilan Hana akan berubah seperti ini, sungguh mengerikan sekali kalo mereka bergabung, Red aja udah ketar ketir apalagi mereka gabung pasti gonjang-ganjing nih bumi" batin Kalandra masih menatap ngeri Red Winter.


"Kenapa lebih mengerikan alter ego Belvia saat ini, rasanya seperti gue mau di mutilasi oleh Red" batin ngeri Galang yang udah merinding disko.


"Baru gue lihat alter ego Belvia, betapa ngerinya tatapan mata itu" Raka tidak kuat menatap mata Red yang merah menyala.

__ADS_1


"Ini beneran Hana? kenapa dia jadi seperti ini" batin ngeri Leon.


"Apa Hana baik-baik saja Red? kan dia sedang hamil" tatapan cemas Kivandra ia bahkan tidak menatap langsung mata Red karena Kivandra tidak kuat menatap matanya.


"Hm tenang aja mereka baik-baik saja" jawab dingin Red.


Setelah menjawab Red langsung memiringkan kepalanya menatap Leon sambil menyeringai seperti joker.


"You die hihihihi" tawa iblis Red seketika langit menjadi gelap.


Orang-orang sekitar di buat merinding oleh Red.


Glek!


Leon seketika mematung dan sangat berat sekali badan dia seperti tidak bisa di gerakan.


"Mundur" desis Red sedikit melirik ke Kivandra dkk.


Kivandra peka dengan ucapan Red ia langsung memerintahkan Kalandra, Raka dan Galang untuk mundur agar tidak terlibat dengan Red.


"Untungnya bang Abercio tidak ada disini, kalo disini pasti udah mati berdiri dia" ucap lirih Kalandra ia berjalan menjauh dari jangkauan Leon.


Kini di tengah lapangan hanya ada Leon dan Red Winter yang sedang berdiri berhadapan. Leon tidak bisa bergerak sama sekali karena Red menekankan semua gerakan manusia, suara petir menggelegar dan langit berubah menjadi hitam.


"Hihihihihi, berlutut" tatapan tajam Red.


Keempat tuyul bener-bener di buat merinding oleh Red Winter menonton mereka dari kejauhan.


Tanpa disadari Leon mengikuti perintah dari Red, Leon langsung berlutut didepannya padahal dia sendiri tidak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri jadi kenapa tiba-tiba bergerak berlutut sendiri didepan Red? karena Red telah mengontrol gerak tubuh Leon.


Tuk.


Tuk.


Tuk.


Red berjalan menghampiri Leon, mencekik erat leher Leon hingga Leon susah bernafas, Red mengangkat tubuh Leon sambil mencengkik leher Leon hingga tubuh Leon melayang ke atas.


"Le-lepasin g-gue ib-lis" suara gagap Leon nafas tersengal-sengal tangannya berusaha menyingkirkan tangan Red dari lehernya.


"Hihi...hihi...die" desis Winter.


Winter membanting tubuh Leon dari atas ke bawah hingga keluar suara renyah dari tulang belakang Leon.


Krek!!!


"Aaarrrrrghhhhh s-a-k-i-t" ringisan Leon.


"Astaghfirullah itu tulang apa ayam geprek renyah sekali"


 celetuk Kalandra shock mendengar suara patahan tulang.


"Gimana rasanya di banting dari atas ke bawah mana bantingannya keras juga" bergirik ngeri Galang.


"Kamu gini aja udah ngeri banget Hana, apa nanti anak kita akan seperti ini juga?" batin Kivandra masih menatap Red Winter dari kejauhan.


Back to Red Winter.....


Red berjongkok didepan Leon ia mencengkram kuat rahang Leon. Red membelai pipi mulus Leon dengan silet, membelainya dengan menekan silet ke dalam daging pipi Leon.


Sreekkk!!!


Tetesan darah keluar dari pipi Leon, Leon mendesis menahan rasa perih di bagian pipi.


"L-lepaskan gue Red" suara lirih Leon dengan nafas yang kelihatan udah melemah.


"Bagaimana kalo jantung lo gue kirim langsung ke bokap lo huh? apa reaksi bokap lo"


"J-jangan l-lakukan" Leon geleng-geleng kepala.


"Tapi sayangnya gue mau tuh hihihihi" tawa iblis Red.


Winter membenturkan kepala Leon ke tanah hingga berkali-kali, darah segar mengucur deras dari kepala Leon.


Nafas Leon sudah sangat melemah dan tersengal-sengal matanya sudah kelihatan sayu hampir menutup.


"ssh..itu kepala atau bola basket sih, ringan banget Winter benturin kepala udah kek bola basket aja" sahur Kalandra.


"Lo gak kasihan sama temen lo itu? kan dia ketua Devils" bisik Kalandra ke Galang.


"Ngapain kasihan, mending dia mati aja daripada bikin masalah mulu" celetuk santai Galang.


Back to Winter...


"Ssshhh.. b-bunuh g-gue l-langsung" suara lemah Leon.


Red tersenyum smirk ia mengambil belati ,Red langsung menusukkan ke perut Leon hingga berkali-kali.


"Aaaarrrrghhhhh" pekik Leon setelah itu menghembuskan nafas terakhirnya.


"Ck, payah gitu aja langsung mati" decak Winter.


Red langsung obrak abrik isi perut Leon ia mengambil jantung Leon ia akan memberikannya kepada Ghani ayah kandung Leon, setelah itu Red bangkit dan berdiri menyuruh anggota Costa Nostra kirim tubuh Leon ke alamat mansion Leon.


"Leon udah mati kah? terus Red bawa apa tuh? kok tangannya banyak darah" tanya Kalandra sedikit kepo melihat Red berjalan ke arah sini dengan membawa jantung Leon.


"Kita langsung pergi ke tempat Brivan ah maksud gue tuan Brivan" suara Winter.


"Lo bawa apa itu Winter? terus Leon dan anggota Leon lainnya gimana?" tanya Galang.


"Ini jantung Leon, gue udah menyuruh anggota Costa Nostra untuk mengurusi mereka" tatapan dingin Winter ke arah Galang.


Kalandra mendengar jawaban Winter dan melihat jantung yang masih diselimuti darah segar milik Leon membuat Kalandra ingin muntah. Sedangkan Galang dan Raka menelan salivanya dengan berat melihat jantung manusia di depan mata mereka sendiri tertampang nyata.


"Kamu mau apakan jantung itu?" tanya Kivandra.


"Nanti kalian akan tahu, kita berangkat" balas Red yang udah berjalan terlebih dahulu.


"Hoek, sumpah gue eneg lihat darah kental yang netes dari tangan Red apalagi bawa jantung Leon" kaki Kalandra seketika cosplay menjadi nutrijel.


Beruntung Abercio tidak berada disana, coba kalau ada Abercio tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Abercio.


...****************...


Next episode nanti lagi ya agak malam .....


2167 kata ...

__ADS_1


Gimana sadis gak kalau mereka bergabung? 😈😝


__ADS_2