
Kini Semua berada di markas kecuali Raka dan Galang, Raka kembali ke mansion Hareklees sedangkan Galang pulang ke mansion Hawthorne dia disuruh daddy Brivan untuk pulang ke mansion temani mama Lika kasihan sendirian. Red dan Winter masih mengambil ahli tubuh Hana butuh waktu lama untuk memulihkan penampilan Hana ke semula.
Saat Red melewati Mika, Red berhenti membuat Mika menegang dan mematung seperti menahan nafas dan tidak berani menatap matanya.
"Sagara" ucap dingin Red.
Mika mengernyitkan dahi apa yang dimaksud oleh Red?.
"Ma-maksudnya?" tanya Mika.
"Pergilah ke mansion Hawthorne" setelah Red mengucapkan kalimat Red masuk kedalam markas.
Mika masih belum paham apa yang di ucapkan oleh Red barusan. "Kenapa dia menyuruh gue pergi ke mansion tuan Brivan?"
Ceklek!
Red membuka kamarnya yang ada di markas Costa Nostra bukan hanya Red/Hana saja yang mempunyai kamar di markas, Kalandra, Kivandra mereka juga mempunyai kamar masing-masing di markas. Sedangkan Galang dan Raka masih di renovasi karena mereka baru saja bergabung dengan Costa Nostra.
Red saat membuka pintu Red melihat Kivandra hanya memakai handuk sebatas pinggang menutupi bagian asetnya, sepertinya dia baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan rambut basah dan enam roti sobek tertampang jelas di mata Red benar-benar kelihatan hot dan sexy. Tapi bagi Red yang melihatnya biasa saja, Elijah lebih hot dari Kivandra bagi Red. Beda dengan Winter dia pecinta roti sobek.
Kivandra terkejut melihat Red sudah ada di dalam kamar kapan dia melangkahkan kakinya ke kamar ini, suara langkahnya aja nyaris tidak terdengar benar-benar iblis.
"Sejak kapan lo ada disini" tanya Kivandra.
Bukannya menjawab malah terpekik melihat badan kekar dan roti sobek Kivandra. "Ya ampun badan lo hot banget Kivandra, boleh gak kalo gue sentuh roti sobek lo" mode Winter centil.
Kivandra melotot emang ada iblis secentil ini?
"Winter, centil banget lo gak bisa tuh mata lihat roti sobek" batin Red kesal.
"Ck, diem lo. Kapan lagi ada roti sobek gratis didepan mata gue" decak Winter.
Kivandra merasa takut dengan tatapan Winter seperti ingin menerkam. "Sudah sana lebih baik lo ganti baju, gue mau berendam sudah lama tidak merasakan berendam di air hangat" sahut Red.
"Hei, iblis emangnya di neraka gak ada air hangat huh?" tanya Winter lewat batin dengan nada jahilnya.
"Bac0t" desis Red.
Red Winter pun berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Sedangkan Kivandra hanya menatap perdebatan mereka kalau orang lain melihatnya seperti sedang mengobrol dengan dirinya sendiri padahal di Red sedang berdebat dengan Winter satu tubuh dengan dua suara yang berbeda.
Kivandra langsung berjalan menuju walk in closet untuk berganti pakaian.
...****************...
Saat Delvin hendak menutup gerbang mansion dihentikan oleh suara Tiara memanggil namanya.
"Delvin" panggil Tiara.
Tuk
Tuk
Tuk
Berjalan menghampiri Delvin yang tengah memegang gerbang.
"Ah, gue lupa seharusnya gue panggil lo bang Delvin haha gitu ya" sahut Tiara membenarkan ucapan panggilan nama Delvin.
"Ada apa datang ke sini" suara dingin Delvin dengan wajah datarnya.
"Gue ini adek lo bang Vin, masak lo tega lihat adek lo tinggal di jalanan gak punya rumah bang, boleh ya gue tinggal di mansion ini" Tiara berharap Delvin mau menerima dia dan mengajaknya untuk tinggal di mansionnya.
Delvin masih dengan tatapan datarnya, si kulkas pintu 25 ini menatap jengah Tiara apa dia tidak punya malu,hm?
"Gue tidak punya adik, maaf" ucap Delvin dengan penekanan diakhir kalimat. Setelah itu Delvin ingin menutup gerbang tangan Tiara menahannya, Delvin menaikkan satu alisnya.
"Delvin ada apa?" suara wanita dari dalam mansion berjalan menghampiri mereka yang berada di luar.
Tuk
Tuk
Tuk
Tiara melotot melihat sahabatnya eh ,mantan sahabatnya ada disini. "Lo ngapain ada disini Tania?"
Delvin hanya diam saja berdiri disamping mantan sahabat Tiara. "Justru gue yang tanya sama lo, ngapain lo ke sini huh?" sinis Tania bersedekap dada.
Tiara membulatkan matanya sejak kapan dia berani seperti itu. "Ini mansion gue dan dia adalah abang gue, dan lo sebagai orang asing disini lebih baik lo pergi"
"Ck, yakin dia abang lo hm? Delvin barusan ngusir lo dari sini dan dia bilang lo bukan adiknya,jadi yang orang asing siapa ya mbak?" ejek Tania.
Tiara sangat geram di ejek Tania di depan Delvin tangan di bawahnya terkepal erat."Bang lihat Tania berani mengejek gue didepan lo bang, tolong usir dia dari sini bang" ucap Tiara menoleh ke Delvin.
"Lo yang pergi bukan Tania" desis Delvin.
__ADS_1
Tiara semakin geram mendengar ucapan Delvin kali ini Delvin tidak memihak kepadanya seperti dulu lagi, Tania sudah ketawa sinis melihat raut wajah Tiara yang semakin kesal.
"Haha..lihat sendiri kan? Delvin udah nyuruh lo pergi tapi lo masih aja disini, gak punya muka mbak? atau muka lo udah pindah ke bokong lo" sindir Tania seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Tiara ingin menampar pipi Tania tapi sayangnya Delvin menahan tangan Tiara, Tiara menoleh ke arah Delvin.
"Jangan sentuh Tania, kalo lo sentuh gue patahin tangan lo" desis Delvin dengan wajah datar.
Glek!
Tiara merasa wajah Delvin sangat menyeramkan apalagi di tambah dengan suaranya membuat Tiara langsung menurunkan tangannya. Tania sudah tersenyum miring rasanya puas membuat Tiara tidak bisa berkutik.
"Awas ya lo, gue pasti akan balas semuanya ini termasuk sahabat lo itu" ancam Tiara setelah itu pergi dari sana dengan tatapan tajam ke arah Tania.
"Yee, gue tunggu lo kalo mau balas dendam kita gak takut sama lo, palingan bentar juga lo jadi ubi" teriak Tania sekencang mungkin.
Tania merasa ada yang memperhatikan nya langsung menoleh ke arah Delvin.
"Apa?"
"Masuk, katanya mau nonton film" ucap Delvin.
"Udah gak mood, gara-gara nyi pelet barusan" kesal Tania moodnya sekarang hilang entah kemana.
Delvin menghembuskan nafas dengan pelan. "Emang semua wanita seperti ini?gampang ngambek?" dalam hatinya.
"Terus?" tanya Delvin, Tania mengernyitkan dahinya ia tidak paham dengan ucapan Delvin.
"Apa sih?"
"Kamu mau apa? es krim hm?" tawar Delvin.
"Ck, sampai kapan hubungan backstreet kita ini Delvin? gue bosan harus sembunyi-sembunyi terus apalagi kalo kita sedang berkumpul sama teman-teman yang lainnya kita harus jaga jarak, gue pengennya kayak Hana dan Kivandra jadi iri kan gue bisa bermesraan didepan umum apalagi di depan teman-teman" protes Tania merucutkan bibirnya.
Delvin merasa gemas dengan tingkah Tania ternyata dia mau mempublikasikan hubungannya didepan semua orang. Delvin yang jarang tersenyum itu pun mengulum bibirnya ke atas.
"Hm, besok kita publikasikan hubungan kita mau hm?" suara deep Delvin membuat Tania melting.
Blush!
"M-mau" cicit Tania.
Delvin mengacak-acak rambut Tania. "Gemes banget pacar aku ini"
"Aish...rambut gue jadi berantakan Delvin" dengus Tania.
"Aku kamu sayang"
Blush!
Lagi-lagi Tania di buat melting sama Delvin rasanya ingin menenggelamkan wajahnya di Antartika.
"Woi, tolong dong kenapa wajah gue jadi panas gini" Tania teriak dalam hatinya.
...****************...
Tok
Tok
Tok
Mika sudah sampai didepan mansion Hawthorne dan sekarang Mika sedang mengetuk pintu mansion.
Kebetulan Abercio belum pulang dari mansion Hawthorne, dia disuruh untuk menjaga Sagara oleh Hana, sebenarnya Abercio sudah menolaknya ia ingin menghabiskan waktu liburan semester dengan kesibukan rebahan di rumahnya tapi malah di suruh jaga bocil kematian.
Ceklek!
Keduanya sama-sama terkejut saat Abercio membuka pintu.
"Eh, gue gak salah kan alamatnya mansion Hawthorne" gumam Mika melihat Abercio yang membukakan pintu.
"Tidak, lo gak salah emang bener ini mansion Hawthorne,ada apa lo?"
"Gue kesini-
"Papa" ucapan Mika terputus oleh teriakan dari Sagara lari ke arah Abercio, Sagara tidak mau Abercio pergi dan pulang ke rumahnya. Abercio menoleh ke Sagara seketika menghembuskan nafas dengan kasar.
Mika melebarkan matanya melihat sosok keponakannya yang selama ini sedang ia cari, ternyata dia nyangkut di mansion Hawthorne pantas saja tidak ketemu diluar sana.
"Papa ndak boleh pelgi, papa nginap aja di sini tidul sama Gaya papah" ucap Sagara seraya memeluk kaki Abercio.
"Iya iya papah gak akan pulang" terpaksa Abercio mengalah tunggu nanti kalau bocil ini udah tidur baru ia akan pulang sambil menggendong Sagara.
"Papah?" cicit Mika.
__ADS_1
Sagara dan Abercio mendengar cicitan Mika langsung menoleh ke arahnya. Sagara menatap wajah Mika seperti tidak asing baginya.
"Kok lo di panggil papah?" tanya Mika.
Abercio langsung bingung di tanya seperti itu mau jawab bagaimana ceritanya aja panjang kali panjang.
"Ah, dia sendiri yang panggil gue papah padahal udah gue larang" Mika pun langsung manggut-manggut yang artinya paham.
"Kakak siapa?" suara cadel Sagara.
"Sagara gak kenal sama onty huh? Sagara lupa?" tanya Mika sedikit menundukkan kepalanya.
Sagara masih menatap wajah Mika sampai ia memiringkan kepalanya, Mika yang melihatnya terkekeh kecil betapa gemasnya keponakan satu-satunya ini.
"Onty Mika" pekik Sagara yang baru saja ingat.
Senyum merekah tercetak di bibir Mika syukurlah kalau Sagara masih ingat dengannya.
Abercio bingung darimana Sagara kenal dengan Mika.
"Gara kenal sama kaleng rombeng ini?" tunjuk Abercio ke arah Mika.
Mika mendengus kenapa dia ngatain kaleng rombeng di depan anak kecil.
"Kaleng lombeng siapa pah?" Sagara menoleh ke Abercio ia mengerjap-ngerjapkan matanya.
Plak!
Sebuah pukulan mendarat di bahu Abercio siapa lagi kalau bukan Mika pelakunya.
"Njir, lo ngapain pukul gue cok" ringisan Abercio tenaga Mika benar-benar bukan seperti tenaga perempuan.
Mika mendelik, "Lo ngapain panggil gue kaleng rombeng di depan Sagara dia anak kecil dia bisa saja niruin perkataan lo yang jelek itu"
"Biarin saja, biar Sagara manggil lo kaleng rombeng" celetuk santai Abercio.
Sagara menatap kedua orang aneh yang sedang berdebat yang tidak jelas itu. "Kenapa kalian beltengkal".
Seketika mereka langsung diam dan menatap Sagara, mereka tidak sadar barusan adu bac0t didepan Sagara.
"Aish ...ini semua gara-gara belatung api, bisa-bisanya gue debat di depan Sagara" batin Mika kesal.
Keduanya masih mengibarkan bendera perang dan saling tatapan tajam.
"Kenapa lo bisa kenal Sagara" tatapan curiga Abercio.
"Dia keponakan gue" balas Mika menatap jengah Abercio.
"Oh, jadi lo tante nya?" ucap Abercio dengan meninggikan suaranya.
Mika tersentak mendengar suara Abercio yang sengaja di tinggikan.
"Iya gue tantenya emang kenapa?"
"Lo sebagai tantenya kenapa di biarkan Sagara berkeliaran di jalan raya huh? kalo dia di culik terus di jadikan korban perdagangan anak kecil gimana? untung dia ketemu gue pas gue lagi makan ketoprak"
Mata Mika melotot jadi Sagara selama ini berada di jalanan sendirian astaga! langsung menatap wajah Sagara dengan wajah sedih betapa malangnya nasibmu Sagara.
"Kenapa? tidak bisa jawab kan? tante macam apa lo ini hm?" lamunan Mika dikagetkan oleh ucapan Abercio.
"Lo gak tahu apa-apa jadi lebih baik diam dan tidak usah menyalahkan gue" suara dingin Mika dengan tatapan datar.
Alis kanan Abercio terangkat ke atas. "Maksud lo apa lo gak mau di salahkan? lo kan tantenya Sagara harusnya jagain dia jangan sampai dia keluyuran di jalanan"
Mika menatap nyalang Abercio. "Lo gak tahu bagaimana hidupnya Sagara dan ibu kandungnya jadi lo jangan terus menyalahkan gue"
"Kalo lo gak cerita gimana gue bisa tahu dodol" ngegas Abercio.
Mika menghela nafas dengan pelan."Nanti gue akan cerita sama lo tapi bukan sekarang"
Di tengah keheningan tiba-tiba Sagara membuka suaranya.
"Onty jadi mama Gaya aja ya, kasihan papa Gaya jomblo teyus ndak laku papah Gaya tuh, pah ajak onty Mika nikah dong kayak kak Hana sama om Kivandla pah"
Eh?
Keduanya saling tatap-tatapan kenapa Sagara tiba-tiba meminta dirinya menikahi Mika.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Duda anak 1 rasa bujang...
__ADS_1