Transmigrasi Belvia

Transmigrasi Belvia
123


__ADS_3

"Brivan" panggil Winter dengan suara dingin nan rendah.


"Ya" balas Brivan dengan singkat.


"Bawa kesini"


Brivan tahu maksud Red Winter ia langsung menganyunkan kakinya dengan lebar menghampiri Red Winter menyerahkan jantung Leon kepadanya.



Brivan setelah memberikan jantung kepada Red Winter ia langsung memundurkan langkahnya ke belakang. Ghani dan Bara mengernyitkan dahi mereka, jantung siapa? pikir mereka berdua.


"Ghani, apa lo tidak tahu benda yang gue pegang di tangan gue ini apa hm?" tanya Winter seraya memutar-mutar kan jantung Leon seperti mainan karet.


"J-jantung bukan" ucap ragu Ghani.


"Hm, ternyata benar ini jantung tapi lo ingin tahu jantung siapa ini?" senyum smirk tercetak di sudut bibir Winter.


"S-siapa?" jantung Ghani seketika berdebar kencang dan cepat berasa seperti mempunyai feeling yang tidak enak baginya.


"Jantung ini milik anak lo Leon dan sepertinya jantung ini masih berdenyut apa lo mau melihat jantung anak lo ini hm?" suara dingin Winter.


Deg!


Jeeeeuuudaaarrr!!!


Bak seperti tersambar petir jantung Ghani


Berita macam apa ini, jantung Ghani seketika berhenti sejenak tubuhnya mematung menatap nanar jantung Leon yang di pegang Winter. Tak kalah jauh kagetnya Bara, Brivan, Darren dan Agler pun sama-sama terkejut mendengar perkataan dari Winter,


"P-pasti bohong" suara gugup nan rendah Ghani.


"Hm, sepertinya gue tidak suka berbohong, yang jelas gue akan kasih lo oleh-oleh jantung Leon buat lo tolong nanti di pajang di ruang tamu ya agar semua orang yang bertamu di mansion lo tahu kalo jantung anak lo masih berdenyut."


"Bastard, lo udah bunuh anak gue satu-satunya kini sudah tidak ada lagi pewaris Bratajaya,ini semua gara-gara iblis macam lo" desis Ghani.


"Haha..haha iblis? yes, gue emang iblis hihihihi...ambil ini" tawa sinis Winter sambil melemparkan jantung Leon ke Ghani, dan Ghani pun menangkapnya ia memandangi jantung tersebut dengan pandangan yang begitu sulit diartikan.


"Hiks...hiks...kenapa kamu cepat pergi meninggalkan papi dan mami Leon, apa dosa papi bisa membuat mu seperti ini, maafkan papi yang tidak bisa menyelamatkan mu dan gara-gara keegoisan papi kamu jadi korban, maaf" ucap lirih Ghani menatap jantung Leon.


Winter memutar bola mata malasnya mendengar ucapan lirih Ghani.


"Nanti kuburkan jasad Leon dengan layak" ucap Winter walaupun Red dan Winter membunuh orang mereka selalu menguburkan mayatnya dengan semestinya.


"Tapi kenapa lo membunuh anak gue HAH!" Maki Ghani tepat di depan wajahnya hingga Winter menutup matanya.


"Karena anak lo berencana membunuh calon anaknya Hana asal lo tahu, dia sangat berobsesi untuk memiliki Hana bahkan dia ingin membunuh Kivandra" ucap Winter sedikit melirik ke arah Kivandra.


Sedangkan Kivandra sudah mengepalkan tangannya di bawah sana. "Bastard" umpat lirih Kivandra.


"Hahaha obsesi maksud lo? itu bukan obsesi tapi Leon hanya ingin mengambil miliknya kembali dari seseorang itu saja" tawa sinis Ghani.


"Mungkin saat pembagian otak, ayahnya tidak datang jadi ya begini isi kepalanya kosong kebanyakan isi angin" celetuk asal Galang yang mendengar jawaban dari Ghani.


"Hah...mengambil miliknya kembali? helo bapak tua, selama Hana hidup apa Leon sempat melirik dan peduli dengan Hana?" Winter pun langsung geleng-geleng dan melanjutkan perkataannya."Ingat Leon bahkan ikutan menyalahkan Hana dan paling buruknya dia pernah bersikap kasar padanya menampar dan caci maki Hana di depan semua orang demi sebongkah sampah yang tidak ada artinya, Ck. Sekarang dia mau mengambil miliknya? bercandya lo gak seru om, Hana sekarang bukan Hana asli tapi dia Belvia Hawthorne ingat itu om, Leon anak lo dan j@l@ng kecil itu yang membuat nyawa Hana menyalang, entah gue agak heran mata Hana dulu kelilipan mata dia apa bisanya dia menyukai seorang pria seperti Leon seorang pria yang sangat bodoh sekali hahaha emang pantas sebutan untuknya" papar jelas Winter.


"LO! LANCANG SEKALI MENYEBUTKAN ANAK GUE LAKI-LAKI BODOH" geram Ghani sepertinya ia melupakan kalau didepannya yang barusan di maki itu adalah seorang iblis. Tamat sudah riwayat lo Ghani batin Bara sambil tepok jidat.


Winter memiringkan kepalanya seraya senyum joker.


"Apa om mau menemui Leon hm? gue bisa mengabulkan permintaan om,mau?"


"Anjay, Winter kalo nawarin orang udah kek nawarin jasa travel" geleng-geleng Kalandra.


"Bangs@t!" Ghani sudah mengangkat tangannya dengan tinggi ingin menampar Winter, tapi sayangnya dengan gerakan cepat Winter langsung menangkap tangan Ghani dan memutarkan tangannya hingga berbunyi seperti patahan tulang terputus.


Kreeekk!!!!


"Aaaaaarrrrrghhhh..... t-tangan g-gue" ringisan Ghani merasakan tulang tangannya terputus.


"Ops, maaf gak sengaja om" sahut Winter.


Semua orang yang melihatnya merasa ngilu dan tanpa disadari mereka langsung memegang tangan mereka masing-masing.


"L-lo apakan tangan gue hah! kenapa gak bisa di gerakan" sentak Ghani.


"Gak gue apa-apain kok om, salahnya om sendiri tulang om udah keropos jadi gampang terputus dan patah, mending om beli lagi yang kuat di toko orens" kelakar Winter sedikit ketawa kecil.


Sedangkan Kalandra, Galang dan Raka menahan ketawa bisa-bisanya disaat seperti ini Winter malah ngelawak.


"Bedebah, gue harus bunuh lo karena lo udah bunuh anak gue" desis Ghani.


"Yakin om? om mau bunuh gue hm? emang bisa bunuh iblis om?"


"Bedebah" umpat Ghani ia mengeluarkan pistol dari dalam sakunya dan menodongkan pistol ke wajah Winter.


Winter yang di todong pistol hanya bersikap santai tidak merasakan takut, beda dengan yang lainnya semua udah was-was dan khawatir apalagi Kivandra ia sangat khawatir kalau istrinya kenapa-kenapa.

__ADS_1


Red menyeringai tipis berjalan dengan santai menghampiri Ghani yang masih menodongkan pistol. Red kembali mengunci pergerakan Ghani. Tepat Red berdiri didepan Ghani dan ia malah menggeserkan ujung pistol di jidat Red.


"Tembak" desis Red dengan tatapan yang dingin.


Ghani berusaha menggerakkan jarinya untuk menarik pelatuknya tapi tetap saja tidak bisa di gerakan. Hingga terdengar suara ketawa renyah Red.


"Hihihihi...hihihihi" tawa iblis Red seraya membengkokkan ujung pistol Ghani hingga bengkok membuat semua orang menatap kaget. Apalagi Ghani sendiri matanya hampir copot.


Red merebut pistol dari tangan Ghani membuang pistolnya ke sembarang arah. Red ingin mengeluarkan pisau lipatnya tiba-tiba di hentikan oleh Brivan.


"Jangan dibunuh tapi buat dia cacat, dia hanya di manfaatkan oleh Lorenzo" ucap Brivan.


Red berdecak kesal lagi-lagi tidak boleh dibunuh, sampai akhirnya ia menyeringai dan memiringkan kepalanya melihat Bara yang berdiri di belakang Ghani.


"Samurai" desis Red meminta samurai kepada salah satu anggota Costa Nostra, dengan gerakan cepat mereka langsung memberikan samurai kepada Red.


Sedangkan Mika dan beserta rombongan beberapa anggota Costa Nostra baru saja sampai ia terkejut melihat sosok aneh tak jauh dari sana dari posturnya seperti Hana tapi kenapa rambutnya berwarna putih dan bola matanya berwarna merah darah yang menyala. Dan terkejutnya lagi Mika menatap shock melihat potongan tubuh manusia Mika tebak pasti tubuh Lorenzo. Mika tetap diam dan melihat dari kejauhan seperti yang lainnya.


"Bagaimana kalo gue potong kepala lo pake samurai ini huh?" senyum smirk Red.


Deg!


Jantung Ghani sudah ketar-ketir bagaimana kalau ucapan Red benar, dan memikirkan nasib sang istrinya kalau dia di tinggal pergi anaknya dan suaminya.


Dengan gerakan cepat dan kilat Red menganyunkan samurainya dan berlari dengan kilat, Ghani sudah memejamkan matanya dan sudah berserah diri kalau hari ini dia akan mati.


Ctakkkkk!!!


Blashhh!!!


Tebakan semua orang disana meleset ternyata Red tidak memenggal kepala Ghani melainkan kepala Bara yang berada di belakang Ghani. Seketika tubuh Bara jatuh tanpa kepala darah mengalir keluar dari leher Bara.


Kepala Bara menggelinding dan berhenti di depan kaki Agler dengan matanya Bara yang masih melotot.


Agler merasa kakinya tersentuh sesuatu ia langsung menatap ke arah kakinya, seketika tubuhnya menegang dan mematung apalagi mata Bara seolah sedang menatapnya.


"Huuaaaa.... ada kelapa toooloong" teriak Agler langsung naik ke tubuh Darren kakak iparnya, Darren sontak kaget tiba-tiba Agler naik ke tubuhnya untungnya Darren bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh dan oleng.


Kalandra yang melihat tingkah ayah kandungnya sontak melotot sungguh ia sangat malu.


"Dia ayah lo bukan?" tanya Galang


"Bukan, gue gak kenal" celetuk asal Kalandra dengan membuang muka ke sembarang arah.


"Kamvret, turun gak lo" desis Darren ia menahan tubuh Agler yang sangat berat sungguh adik ipar yang gak tahu diri.


"Ck, itu kepala Agler bukan kelapa ini satu bule ngadi-ngadi sukanya, lo gak malu sama badan lo apalagi ada anak lo tuh anak lo udah nahan malu" ujar Darren.


Agler melirik ke arah Kalandra benar kata Darren Kalandra langsung membuang muka, ia pun terpaksa turun dari gendongan Darren dan lebih memilih berdiri di belakang Brivan, Brivan hanya terkekeh kecil melihat sikap Agler.


"Anjir, bokap lo sama kek lo kelakuannya haha" tawa kecil Galang ia masih waras untuk tidak tertawa terlalu kencang takutnya Red melirik ke arahnya.


Kalandra mendengus, "Diam lo ilalang"


"Pffft...ilalang" tahan tawa Raka.


"Ck" decak Galang.


Ghani membuka matanya dan ia tidak merasakan apa-apa, dikira dirinya yang akan di tebas oleh Red, ternyata kepala Bara yang di tebas.


"Coba lo lihat ke belakang lo siapa yang barusan gue tebas" ucap Red.


Dengan berat hati Ghani menoleh ke belakang dan...


Deg!


Tubuh Bara tergeletak tanpa kepala di tanah dengan darah masih mengalir dari tubuhnya. Segampang itu Red menghabisi nyawa orang? benar-benar iblis.


"Bagaimana? apa lo mau menyusul teman-teman lo dan juga anak lo?kalo mau tenang aja, nanti gue suruh istri lo untuk menyusul kalian juga" celetuk Red.


"Tolong ampuni gue , tolong jangan bunuh gue apa lo gak kasihan istri gue nanti hidup sendirian di tinggal anak dan suaminya" Ghani langsung berlutut didepan Red memohon ampun agar Red melepaskan Ghani.


Red mengetuk-ngetuk dagunya dengan jarinya. "Hm, benar juga tapi, sebagai permohonan maaf lo gimana kalo kaki dan tangan lo buat cendramata gue hm? kalo tidak yaudah ucapkan selamat tinggal kepada istri lo"


Glek!


Kaki dan tangan gue? apa dia sudah gila nanti gue kerjanya gimana kalau tanpa kaki dan tangan batin Ghani.


"Gue gak suka bertele-tele cepat JAWAB" bentak Red.


"B-baiklah" Ghani terpaksa menyetujui syarat dari Red.


"Oke, tapi kalo setelah ini lo ganggu kehidupan Hana lagi gue akan mengejar lo kemanapun itu dan langsung menendang lo ke neraka" desis Red dengan tatapan menghunus tajam.


Red mengambil gergaji mesin biar cepat katanya kalau pakai samurai kelihatan hasilnya tidak memuaskan pikir Red.


Glek!

__ADS_1


Ghani memundurkan langkahnya melihat Red udah menyalakan gergaji mesin.


Red menyeringai melihat Ghani memundurkan langkahnya.


"Sekali lagi lo mundur, belati ini akan menancap sempurna ke jantung lo" ancam Red dengan suara dingin nan rendah.


Deg!


Seketika Ghani mematung dan tubuh tidak bisa di gerakkan. Red semakin mendekat dengan gergaji mesin di tangannya.


Semua orang sudah membalikkan badan mereka, mereka tidak sanggup melihat adegan berbahaya ini. Red mengarahkan gergaji mesin ke kaki Ghani bagian kanan, ia hanya akan memotong yang bagian kanannya saja, sedangkan tangan di bagian kiri.


Blash!


Tanpa aba-aba Red langsung menggergaji kaki kanan Ghani.


"Aaarrrrrghhhhh...sshhh...." Ghani langsung tumbang terjatuh di lantai.


setengah kaki Ghani terputus dari tubuhnya, bisa dilihat darah mengalir deras, Ghani menatapi kakinya sekarang dia hanya memiliki kaki kiri saja.


"Hihihihihi...bau darah gue suka hihihihi" Red menjilati darah yang ada di tangannya.



Saat Ghani melamun menatapi potongan kakinya saat itu juga Red menggergaji tangan kiri Ghani tanpa aba-aba lagi.


Blash!!!


"Aaaaaarrrrrghhhh...sshhh..." teriak ringisan Ghani seketika langsung jatuh pingsan.


"Dasar lemah gitu aja udah pingsan" dengus Red.


Red mengambil potongan kaki kanan dan tangan kiri Ghani.


"Bawa om pedo ini ke rumah sakit" pinta Red kepada anggota Costa Nostra.


Red berjalan menghampiri Brivan dkk dengan membawa potongan kaki dan tangan Ghani.


"Buat apa potongan kaki dan tangan Ghani?" tanya Brivan.


"Ah, ini buat cendramata lumayan buat hiasan dinding" balas Winter.


"Iblis agak lain ya, cendramatanya malah potongan tubuh manusia" bisik Agler.


"Hm namanya juga iblis oneng" bisik kembali Darren.


"Brivan dendam atas kematian Elena sudah selesai, tapi masih ada tikus kecil yang masih mengganggu Belvia, biar Winter yang akan menanganinya, sepertinya gue akan istirahat yang lama untuk memulihkan tenaga" ucap Red.


"Hm, baiklah yang penting Belvia dan calon anaknya baik-baik saja" balas Brivan.


Kivandra berjalan menghampiri Red.


"Red" panggil Kivandra.


Red menoleh ke arah Kivandra. "Kenapa?"


"Apa aku bisa bertemu dengan Hana, aku khawatir dengannya" Red menggelengkan kepalanya yang artinya belum bisa, Hana sedang beristirahat.


"Nanti, tidak saat ini dia masih beristirahat. Lo tenang saja mereka berdua baik-baik saja" ucapnya.


Kivandra hanya menghela nafas dengan berat.


Red menoleh ke arah Agler, Agler yang merasa di tatap oleh Red langsung bergetar tubuhnya dan seketika kaki Agler seperti nutrijel.


"Bawa potongan tubuh ini" ucap Red sambil menarik kedua tangan Agler dan menaruhkan potongan kaki dan tangan ke tangan Agler.


Sontak mata Agler mendelik melihat tangannya memegang potongan tubuh manusia yang masih ada darah segarnya.


Darren dan Brivan udah menahan tawanya lihatlah wajah Agler sudah sangat pucat seperti melihat hantu.


""B-bang t-tolongin g-gue d-dong, ta-tangan gue gemetar nih" suara gagap Agler sedikit tubuhnya sudah gemetaran.


"Dih, ogah gue kan Red yang minta tolong sama lo ya harusnya lo dong, terima aja dah lah" tolak Darren ia juga gak mau membawa potongan tubuh itu.


"Kala sebagai anak yang berbakti tol-


Kalandra langsung menyela kalimat Agler. "Berhubung perut Kalandra mules , jadi Kala mau pergi ke wc dulu ya ayah...bye bye ayah" dengan gerakan cepat ia langsung lari kabur dari sana sebelum ayahnya mengamuk.


Wussss!


"DASAR ANAK DURJANA LO" teriak Agler.


Semua orang meninggalkan Agler yang masih mematung berdiri disana, hingga Agler baru sadar kalau semua orang sudah keluar dari gedung itu. Agler langsung melangkahkan kakinya dengan langkah lebar dan terpaksa membawa potongan tubuh Ghani.


"JIANGKRIK TENAN, GUE MALAH DI TINGGAL BEDEBAH SIALAN" pekik Agler dengan seribu langkah keluar dari gedung tua.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2