
Brak!
Raka terperanjat mendengar suara pintu di buka paksa oleh kedua tuyul siapa lagi kalau bukan Hana dan Galang.
Mereka langsung menggaruk rambutnya yang tidak gatal setelah mendapat tatapan tajam dari Raka.
"Bisakah kalian mengetuk dulu sebelum masuk?" suara dingin Raka membuat kedua tuyul bergirik merinding.
"Hehe maaf bang, ini benar-benar darurat ya kan Hana" ucap Galang yang mendapatkan anggukan dari Hana.
"Darurat apa?"
Galang menutup pintu dan menguncinya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Raka.
"Bang, kita harus mengusir dua ondel-ondel dari mansion kita bang" Galang duduk di sofa dan diikuti Hana.
"Abang juga gak ingin mereka tinggal disini kan? kasihan mama bang" tambah Hana
Raka terdiam sambil memikirkan sesuatu apa ia harus memberitahu kepada kedua adiknya mengenai Melisa wanita yang selalu menghubungi papanya setahun yang lalu.
"Bang kok diam" Galang memandangi Raka yang daritadi hanya diam sepertinya abangnya sedang banyak pikiran.
Perkataan Galang membuyarkan kesadaran Raka.
"Abang ingin bilang ke kalian soal wanita itu-
"Apa bang?" tanya Hana memotong perkataan Raka yang belum selesai.
"Abang belum selesai Hana" kesal Raka terhadap adeknya yang selalu memotong ucapannya.
"Hehe maaf bang"nyengir kuda Hana
•
•
•
"Setahun yang lalu gue gak sengaja dengar saat papa sedang menelpon wanita yang bernama Melisa itu" ucap Raka.
"Setahun yang lalu?" pekik kedua tuyul bersamaan.
Raka meringis mendengar pekikan kedua tuyul tersebut.
"Bisa gak kalian gak usah pake teriak, kuping gue jadi budeg" dengus Raka mengusap-usap kupingnya.
"Maaf bang kita hanya terkejut aja,kenapa abang gak bilang ke kita setahun yang lalu.Apa yang papa bicarakan sama boneka santet itu bang?" tanya Galang yang masih penasaran.
"Maaf abang lupa, abang pikir itu hal yang gak penting.Kalo gak salah dengar katanya wanita itu memiliki bukti dan papa memintanya untuk membawakan bukti tersebut udah itu doang lalu papa langsung menutup teleponnya" papar Raka
"Bukti apa yang papa butuhkan?" Galang mengernyitkan dahinya.
"Kita harus mencari informasi tentang mereka bang,gue akan meminta asisten gue buat menyelidiki hal ini segera sepertinya tuh tante kuntilanak membenci mama bang kita harus segera mendepak mereka dari sini" jelas Hana yang sudah menggelap matanya menahan emosi.
"Kita pasang alat perekam atau kamera kecil bang di sudut kamarnya" Galang memberikan ide kepada Hana dan Raka.
"Boleh, lakukan sesuai rencana kalian gue akan mencoba masuk kedalam ruang kerja papa siapa tahu ada petunjuk sana"
"Bang coba lo retas ponsel papa" saran dari Galang.
"Shiitt kenapa gue gak kepikiran sampai kesana" umpat Raka
Hana mendengus kesal,"Kenapa lo jadi bego gini bang".
"Dulu abang gak kepikiran kalo tuh tante kuntilanak akan tinggal disini Hana"
"Kita harus melindungi mama dari tante kuntilanak jangan sampai dia membuat masalah sama mama" ujar Galang.
"Oke" ucap bersamaan kedua tuyul.
...****************...
"Hallo Alan"
__ADS_1
"Iya nona ada apa?"
"Tolong carikan saya informasi tentang Melisa Wulandari secepatnya"
"Baik nona"
"Terimakasih Alan"
Tutt...
Hana mengakhiri pembicaraan dengan asistennya lewat telepon.
"Akan gue bikin tante kuntilanak gak akan betah tinggal di sini dan pergi dari sini" gumam lirihnya.
°
°
°
Sedangkan di kamar pasangan suami istri disana sedang terjadi perdebatan antara Dekkan dengan Lika.
"Mas kenapa kamu malah mengajak Melisa untuk tinggal disini,mas kan tahu kalo dia dulu pernah mengkhianati ku mas dia bukan orang baik dia itu ular" maki mama Lika.
"Dia bukan Melisa yang dulu lagi Lika, dia udah berubah dan kejadian itu udah lama terjadi tolong maafkan dia dan bertemanlah kembali"
"Ck, tahu darimana mas kalo dia udah berubah hm?Aku udah maafin dia tapi aku gak akan sudi berteman kembali sama ular 🐍 itu " ucap mama Lika dengan meninggikan intonasi suaranya.
"Lika jaga bicaramu ini sejak kapan kamu menjadi orang pendendam, mas selama setahun berteman dengannya hidup dia kasihan Lika dia baru saja di tinggal mati suaminya. Dia cukup baik dia bukan Melisa dulu lagi" seru papa Dekkan.
"Aku jadi orang pendendam sejak sahabatku sendiri mengkhianati ku dan dia selalu memfitnah ku di depan kedua orang tua ku dan orang-orang yang aku sayangi"
"Termasuk mantan kekasih mu itu Juan Gautama" tambah papa Dekkan dengan tatapan sinis.
"Itu masa lalu mas kenapa kamu malah membahasnya lagi mas Juan udah lama meninggal"mama Lika tak habis pikir dengan suaminya ada apa dengannya masih saja cemburu dengan orang yang udah lama meninggal dunia.
"Oh, udah lama meninggal dunia kenapa kamu gak memberitahu kepada ku Lika, kenapa kamu menutupinya dariku" maki papa Dekkan.
"Astaghfirullah mas, aku gak menutupi hal ini dia meninggal dunia bersama istrinya saat naik pesawat mereka kecelakaan pesawat dan di siarkan lewat televisi apa mas gak melihat berita tersebut di televisi mas?aku kira mas udah tahu dan udah lihat beritanya di televisi makanya aku gak memberitahu kepada mu mas"
"Aku sibuk gak ada waktu buat nonton televisi yang gak penting itu,sebelum Juan meninggal apa kamu masih berhubungan dan bertemu dengannya?" tanya Dekkan memicingkan matanya ia ingin mengetahuinya langsung dari istrinya.
Dekkan terkekeh kecil mendengar ucapan Lika rasanya Lika tengah membohongi dirinya."Kamu udah bohong Lika"
"Mas Lika gak bohong" bantah Lika
"Sudah cukup aku capek berdebat denganmu,dan gak nyangka kamu bisa berbohong kepadaku" sinis Dekkan.
"Sumpah mas Lika gak pernah bohong sama kamu mas, tunggu ini pasti gara-gara Melisa yang udah meracuni otak kamu ya kan mas?"
"Ini tidak ada kaitannya dengan Melisa Lika, jangan menyalahkan orang lain" maki papa Dekkan
"Kenapa kamu malah membela wanita ular itu mas? oh, jadi benar dia udah meracuni otak kamu mas"
"CUKUP LIKA" bentak Dekkan yang hampir melayangkan tamparan ke pipi Lika, Lika sendiri udah memejamkan matanya saat melihat Dekkan mengangkat tangan kanannya.
"Kenapa gak jadi tampar mas? tampar aku mas demi wanita lain kamu berani menampar istrimu sendiri mas? kamu udah berubah mas bukan mas Dekkan yang aku kenal, kalo mas tetap kekeh membiarkan mereka tinggal disini aku akan pergi dari rumah ini dan membawa anak-anak ku" rasa sesak di hati Lika semakin bertambah sesak melihat suaminya ingin menampar dirinya dan membela wanita lain selain istrinya sendiri.
"Oh sekarang kamu jadi istri pembangkang hm? kalo kamu melangkahkan kaki mu dari kamar ini, aku anggap kamu istri pembangkang"
Dengan berat hati Lika melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya sejujurnya ia sangat tidak ingin menjadi istri pembangkang tapi ia juga tidak mau tinggal serumah dengan wanita ular itu mantan sahabat yang pernah mengkhianatinya.
Tap
Tap
Tap
"LIKA BERHENTI" bentak Dekkan mata Dekkan melotot melihat Lika semakin berani keluar dari kamar tersebut.
"Maaf mas lebih baik aku jadi istri pembangkang daripada aku harus tinggal bersama wanita ular itu" ucap Lika berdiri diambang pintu kamarnya.Dan akhirnya Lika keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya ke kamar anak sulungnya.
Sedangkan Dekkan ia langsung frustasi mengacak-acak rambutnya dan berteriak tidak jelas.
"Aaaarrrrghhhhh" teriak Dekkan sambil menonjok tembok kamarnya.
__ADS_1
Dibalik itu ada Melisa yang tengah mengintip dan tersenyum miring."Sepertinya mereka habis bertengkar hebat, semoga saja Lika pergi dari sini dan cerai"
°
°
Tok
Tok
Tok
Ceklek!
"Mamah" beo Raka terkejut melihat mama berdiri didepan pintu kamarnya dengan keadaan kusut seperti habis menangis.
"Mama boleh masuk bang?"
"Boleh kok mah"
Mama Lika masuk kedalam kamar anak sulungnya yang bernuansa hitam putih.
"Ada apa mah? mama abis nangis? ada masalah apa mah kenapa mama nangis siapa yang jahatin mama?" pertanyaan bertubi-tubi dari Raka, Raka emang anaknya peka terhadap sesuatu berbeda dengan Galang yang selalu saja lola loading lama.
Mama hanya tersenyum manis mendengar pertanyaan dari anak sulungnya itu.
"Mama gak apa-apa kok bang,mata mama hanya kemasukan binatang kecil makanya mama menangis" bohong mama Lika.
Raka tahu kalo mama berbohong dan menutupi masalah dari anak-anaknya,dan juga mama Lika tidak mau membuat anak-anaknya semakin cemas padanya.
"Baiklah mah"jujur saja Raka ingin sekali mengetahui kenapa mama bisa menangis dan apa yang terjadi padanya.Sepertinya Raka tidak bisa memaksakan mamanya untuk bercerita sekarang ini.
"Bang, kita nginap di mansion nenek ya ajak adik-adik mu sekarang, mama tunggu di bawah" pinta mama Lika.
Raka mengernyitkan dahinya kenapa mama buru-buru mengajak menginap di mansion nenek ada apa sebenarnya apa mama sedang bertengkar dengan papa batinnya berkecamuk didalam benaknya.
"Ada apa mah, kok mama tumben mengajak nginap ke mansion nenek sekarang mah?"
"Ehm, nenek mu sedang sakit bang dan nenekmu ingin bertemu dengan ketiga cucunya kasihan nenekmu sakit sendirian di mansion" bohong mama Lika mencoba menutupinya.
Raka ingin sekali menanyakan sesuatu kepada mamanya tapi ia urungkan mungkin lain kali saja tunggu mama siap untuk bercerita batinnya.
"Baiklah mah, nanti abang akan bilang ke Hana dan Galang untuk mengemasi barang-barang mereka"
"Mama tunggu dibawah ya bang" ucap mama Lika menepuk bahu Raka sebelum pergi dari kamar Raka.
Raka langsung mengirimkan chat kepada Hana dan Galang, Raka malas untuk berjalan ke kamar mereka lebih baik dia berbicara lewat chat saja.
Mereka sudah selesai mengemasi barang-barang mereka yang akan mereka bawa, Galang dan Hana masih bingung kenapa mamahnya mengajak mereka ke mansion neneknya dengan buru-buru, Hana melihat dari ekspresi wajah mamanya pasti terjadi sesuatu pada mamanya sampai mamanya mengajak anak-anak untuk menginap di mansion nenek.
Beda dengan Galang dia masih saja bingung kenapa mamanya secara tiba-tiba ingin pergi ke mansion nenek, padahal kemarin neneknya masih sehat-sehat saja terakhir kemarin ia bertemu dengan neneknya.
Saat mama Lika dan ketiga tuyul melangkahkan kakinya keluar dari mansionnya sambil membawa koper besar papa Dekkan langsung memanggil nama istrinya.
"Lika" panggil papa Dekkan.
"Apa mas?" suara dingin Lika.
"Mau pergi kemana kalian?"
"Mau pergi ke mansion nenek pah, katanya mama nenek sakit dan ingin bertemu dengan cucunya" polos Galang sambil mengerjap-ngerjapkan matanya Hana dan Raka menepuk jidatnya melihat kepolosan Galang kenapa nih anak malah ngomong jujur sih batin kedua tuyul bersamaan.
"Nenek?" cicit papa Dekkan.
"Iya pah,emang kenapa?"
"Kenapa kalian membawa koper besar kalo hanya sekedar ke mansion nenek?" tanya papa Dekkan melihat adanya koper besar di samping mereka
"Kita akan menginap disana,sudah ayo anak-anak kita berangkat ke mansion nenek nanti keburu malam" pinta mama Lika menggiring anak-anaknya untuk masuk kedalam mobil.
"Dia benar-benar pergi dari mansion ini" dalam hati Dekkan menatap punggung istrinya, ia ingin mencegah kepergian istrinya tapi ia tidak ingin anak-anaknya mengetahui kalau mama dan papanya sedang bertengkar.
"Haha akhirnya dia pergi dari sini, tenang saja Lika aku akan menggantikan posisimu sebagai istri mas Dekkan" batin Melisa tersenyum smirk.
......................
__ADS_1
......................
......................