
Seorang gadis cantik tengah berada di rumah sakit terbesar di ibukota. Gadis cantik itu sedang menunggu hasil pemeriksaan medis dari dokter di ruang periksa.
"Gimana dok?saya sakit apa dok?" tanya gadis cantik itu.
Dokter tampan menghela nafas dengan pelan dan memberikan amplop putih kepada gadis cantik yang ada didepannya.
"Ini apa dok?" tanya gadis cantik sembari menerima amplop putih.
"Buka dulu saja nanti saya akan menjelaskannya kepadamu, Dasha" balas dokter Azka.
Ya gadis cantik itu adalah Dasha Alberta Betrino yang sedang memeriksa kondisi kesehatannya tersebut. Akhir-akhir ini dia mengalami sakit kepala dan keluar darah dari hidungnya.
Dasha memeriksakan diri tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya. Dokter Azka adalah paman Dasha yang bekerja sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Dasha kalau berada di luar ia memanggil paman Azka sedangkan di rumah sakit ia tetap memanggilnya dokter Azka, karena dia tidak mau ada orang yang tahu kalau Azka adalah pamannya terutama yang kerja di rumah sakit. Azka bekerja di rumah sakit milik Hawthorne group. Dasha membuka amplop putih dengan pelan, jantungnya berdegup kencang ia takut kalau dia memiliki penyakit berbahaya. Saat membuka dan membaca seketika jantung Dasha berhenti sejenak.
Deg!
Air mata turun menetes membasahi pipinya. Betapa terkejutnya melihat hasil pemeriksaan medis miliknya itu, Dasha memikirkan perasaan orang tuanya kalau mereka tahu soal ini, betapa hancurnya hati mereka.
"Ini gak salah pemeriksaan kan dok? atau jangan-jangan ini ketukar sama pasien lainnya?" Dasha geleng-geleng masih belum menerimanya.
Dokter Azka bangkit dan berdiri memeluk keponakannya dan menepuk punggung Dasha untuk menguatkan hati Dasha dan mencoba memberikan semangat untuknya. Azka melonggarkan pelukannya dan sedikit menundukkan kepalanya, mengusap kepala Dasha setelah itu ia kembali duduk di kursi.
"Ini gak ketukar Dasha, disana tertuliskan nama lengkap kamu dan tanggal pemeriksaan. Kamu harus berobat rutin dan kemoterapi Dasha agar penyakit kanker darah kamu bisa cepat sembuh" ucap dokter Azka memberikan pengertian untuk Dasha.
Dasha geleng-geleng kepala. "Mana mungkin paman, kanker darah itu susah untuk disembuhkan nanti kalo Dasha kemoterapi rambut Dasha akan rontok dan botak dong, Dasha gak mau kalo botak paman hiks" balas Dasha masih terisak nangis.
Azka menghembuskan nafas dengan panjang. "Kemungkinan bisa Dasha asal kamu rutin berobat dan kemoterapi, kalo takut botak kamu bisa memakai rambut palsu Dasha atau kamu pakai hijab malah lebih cantik, kalo kemoterapi pasti rambut kamu akan rontok tidak mungkin tidak rontok, ini demi kesembuhan mu Dasha, paman yakin kamu bisa sembuh dan melanjutkan hidup kamu yang masih panjang. Katanya kamu mau jadi dokter seperti pamanmu ini hm? kenapa langsung menyerah?"
Dasha mendongakkan kepalanya menatap wajah pamannya dengan wajah sendunya ,hidung memerah dan kembang kempis sangat menggemaskan sekali kalau dilihatnya.
"Tapi Dasha takut paman takut kalo tidak berhasil dan gagal, kalo gagal semua impian Dasha ikut terkubur didalam tanah huaaa hiks hiks Dasha gak mau hiks hiks" tangisan Dasha semakin kencang hidungnya pun semakin memerah.
__ADS_1
Dokter Azka kelimpungan mendengar tangisan Dasha ia meraup wajahnya dengan kasar. Nanti dikiranya ia macam-macam sama ini bocil kalau suara tangisan Dasha terdengar dari luar ruangan.
"Sudah ya Dasha jangan menangis nanti semua orang mengira nya kalo paman ngapain-ngapain Dasha, padahalkan bukan paman yang bikin nangis"
Ingus menetes keluar dari hidung Dasha, seketika Dasha berhenti menangis. "Ih, paman bisa-bisanya bercanda Dasha ini masih sedih tahu, lagi mikirin nasib Dasha selanjutnya, tisu dong paman" Dasha mencebikkan bibirnya.
Azka yang melihat ingus Dasha yang keluar hanya geleng-geleng kepala, Azka gak habis pikir sama Dasha dia itu perempuan tapi gak bisa jaga image seperti perempuan yang lainnya biasanya kalau perempuan lain keluar ingus langsung menutupi hidungnya lah ini malah di biarin keluar netes mana panjang lagi. Azka pun langsung mengambil tisu untuk Dasha.
"Makasih paman" ucap Dasha ia langsung membersihkan ingusnya.
Srrrooott!!!
Bener-bener tidak punya sopan membersihkan ingus di depan pamannya sendiri mana suaranya keras lagi.
"Lo gak malu Dasha? bersihin ingus seperti itu didepan orang?" tanya Azka.
Dasha menyengir tanpa dosa. "Ngapain malu paman, udah biasa kali Dasha sering kayak gini" ucap Dasha.
Azka geleng-geleng dengan kelakuan ajaib keponakannya itu. "Kamu itu cewek Dasha paman takutnya kalo ada cowok yang ingin deket sama kamu langsung ilfeel sama kamu Dasha"
Azka hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah absurd keponakannya itu. Entah dulu adiknya waktu hamil dia ngidam apa punya anak cewek tapi bentukannya seperti ini.
"Jadi Dasha terkena kanker darah udah stadium berapa paman?" tanya Dasha.
"Stadium 2 Dasha masih bisa di sembuhkan Dasha asal kamu rajin datang kesini buat kemoterapi dan minum obat kamu setiap waktu, dan jangan sampai kamu kelelahan jaga tubuh kamu Dasha." papar dokter Azka.
"Hm, baiklah paman, Dasha mengerti" ucap lirih Dasha.
"Sebaiknya kamu bilang kepada orang tua kamu Dasha" ucap dokter Azka.
"Kalo pun Dasha bilang kepada mereka,mereka juga gak akan perduli sama Dasha paman, mereka hanya memperdulikan pekerjaannya saja paman, tiap minggu saja Dasha gak pernah di temani oleh papi dan mami,lebih baik jangan beritahu mereka paman" balas lirih Dasha dengan wajah sedihnya.
Azka menatap wajah Dasha dengan kasihan betapa sedihnya dia dan kesepian pastinya tanpa perhatian dari kedua orang tuanya. Mungkin Azka akan mencoba berbicara dengan adiknya agar lebih meluangkan waktu untuk Dasha, anak remaja seperti Dasha emang masih membutuhkan perhatian lebih dan khusus dari kedua orang tuanya. Tapi kenapa mereka hanya memikirkan uang, uang dan uang apa dengan uang anak tunggalnya itu akan bahagia? Apalagi Dasha mempunyai penyakit yang berbahaya bagi tubuhnya.
__ADS_1
"Baiklah, paman tidak akan memberitahu kepada orang tua kamu Dasha, tapi janji sama paman untuk melakukan kemoterapi dan rajin meminum obat setiap waktu" sahut dokter Azka.
"Iya Dasha janji dokter Azka" ujar Dasha.
"Baiklah, kamu pulang terus jangan lupa istirahat yang cukup dan obatnya jangan lupa diminum" dokter Azka mengingatkan kembali agar Dasha tidak kelupaan.
"Iya ya dokter Azka yang bawel dan cerewet" kesal Dasha, dokter Azka pun langsung tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di hotel bintang lima seseorang baru saja berjalan menuju kamar yang sudah dipesan oleh seseorang, orang itu membawa koper yang berukuran besar ia menyeretnya menuju kamar yang sudah di pesan. Setelah sampai didepan pintu kamar hotel, ia membuka pintunya.
Ceklek!
Pria itu membuka koper besar yang ia bawa, setelah membuka ia meletakkan potongan tubuh manusia diatas kasur, orang itu tidak lupa menggunakan sarung tangan agar tidak meninggalkan jejak tangannya. Setelah itu pria 35 tahun langsung menelpon seseorang setelah menyingkirkan jasad manusia. Ya dia adalah Bian seorang masokis dan psycho sekaligus seseorang yang diajak kerjasama dengan Winter. Jasad yang telah dipotong-potong oleh Bian adalah tubuh Tiara setelah melakukan hubungan badan, Tiara langsung meninggal dunia ia sudah tidak tahan lagi dengan siksaan dari Bian. Setelah itu Bian langsung memotong tubuh Tiara dengan beberapa bagian dan memasukkan kedalam koper besar. Sesuai perintah dari Winter.
"Bagaimana?" tanya Winter dari seberang sana
"Beres nona, saya sudah melakukan sesuai perintah anda, dan saya sudah meletakkan jasadnya di hotel" balas Bian yang sedang menelpon Winter.
"Bagus, biar sisanya saya yang urus, dan anda cukup disini saja , uangnya sudah saya kirim ke rekening kamu 1M, senang bekerjasama dengan anda tuan Bian" ucap Winter.
"Terimakasih nona, saya juga senang bekerjasama dengan anda semoga kita bisa bekerjasama kembali"
Tutt.....
Bian mengakhiri pembicaraan lewat telepon, Bian pergi dari sana sebelum pergi ia membuang pakaiannya dan mengganti dengan pakaian yang bersih agar tidak ada yang mencurigainya. Ia melangkahkan kakinya keluar dari hotel bintang lima menggunakan mobil mewahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mau lagi? komen ya hehe...
__ADS_1
Gimana kalo Kalandra tahu soal Dasha ya? 🥹