Transmigrasi Belvia

Transmigrasi Belvia
132


__ADS_3


Pagi hari seperti biasanya Lika , Brivan, Galang dan Sagara sudah berada di meja makan untuk sarapan bersama. Sagara tadi subuh diantar oleh Mika, karena hari ini Mika harus pergi ke luar kota atas perintah Brivan guna mengawasi kiriman pasokan senjata api rakitan dari Italia. Hana dan Kivandra turun dari lantai 2 melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


"Pagi dad,mah" sapa Hana dan Kivandra bersamaan sembari menarik kursi.


"Pagi juga sayang" balas mereka bersamaan.


"Kok gue sama Sagara gak di sapa ya? celetuk Galang secara tiba-tiba.


Hana terkekeh-kekeh mendengar ucapan Galang. "Selamat pagi Sagara"


"Pagi kak Hana" senyum dua gigi Sagara.


"Dasar adik laknat lo, hiks..jahatnya abang sendiri gak disapa" dramatis Galang dengan melengkungkan bibirnya ke bawah.


"Ck,masih pagi gak usah dramatis deh!"


"Om Lang ndak cocok tuh pasang wajah begitu, bikin Gaya pengen muntah deh" ejek Sagara memperagakan orang seperti ingin muntah.


Galang melotot mendengar ejekan dari Sagara sedangkan yang lainnya sudah ketawa melihat tingkah lucu Sagara.


"Dasar bocil kematian" gumam Galang.


Tuk..


Tuk...


Tuk...


Dasha berjalan menghampiri mereka yang sedang berada di meja makan.


"Pagi semuanya, maaf bangunnya terlambat" ucap Dasha.


Semua menoleh ke arah Dasha, Hana dan Kivandra terkejut melihat Dasha ada disini.


"Duduk sayang" ucap mama Lika.


Dasha pun menarik kursi dan duduk disebelah Galang.


"Lo nginap disini?kok gue gak tahu ya" pertanyaan itu keluar dari mulut Hana.


"Iya, semalam dianterin sama bang Kalandra, kata bang Galang kak Hana lagi ngadon" ucap polos Dasha membuat Hana melotot sedangkan Kivandra langsung tersedak makanan.


Uhuk..uhuk..


Hana langsung memberikan minuman kepada Kivandra. Hana menatap tajam kearah Galang.


"Gawat nih, ngapain juga tuh Dasha pake ngomong segala sih" gumam Galang ia langsung menyengir ke arah Hana dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah.


"Terus dimana Kalandra? gue semalam ketiduran bukan ngadon jangan dengerin omongan bang Galang sesat dia" ucap Hana sedikit melirik ke Galang.


Dasha langsung manggut-manggut."Bang Kala pulang kak, katanya takut di marahin"


Kivandra yang mendengar langsung terkekeh kecil, emang benar bukan hanya Kalandra saja yang dimarahin sama mommy sebelum menikah Kivandra juga sering kena marah kalau mereka pulang malam diatas jam 12 malam. Hana pun hanya ber'oh' ria saja. Sagara menatap wajah cantik Dasha dengan mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Kakak cantik deh" goda Sagara.


Semuanya terkejut mendengar ucapan Sagara seolah seperti menggoda Dasha.


"Heh, bocil lo masih kecil ngapain goda Dasha" ucap Galang.


Sagara menatap sinis Galang."Gaya bukan bocil om, Gaya udah besal" setelah itu Sagara menoleh ke Dasha."Kak Dasha,mau jadi pacalnya Gaya ndak?"


Sontak mereka langsung mendelik siapa yang ngajarin Sagara jadi f°ck boy pikir mereka.


"Hmm...pasti didikan dari Abercio nih, dasar sesat" tebak lirih Hana.

__ADS_1


"Cil, lo masih kecil udah tahu soal pacaran lagi,siapa sih yang ngajarin" sahut Galang.


"Gaya tahu dong, pacalan kan altinya menjalankan suatu hubungan dimana dua olang beltemu dan melakukan selangkaian aktivitas belsama agal dapat saling mengenal satu sama lain,makanya Gaya ngajakin kak Dasha pacalan bial saling kenal gitu om Lang, kan Gaya belum kenal kak Dasha" balas Sagara.


Semuanya yang mendengar celotehan dari mulut Sagara langsung bertepok jidat.


"Gak gitu juga konsepnya bocil, yang ngajarin lo siapa cil" pekik Galang.


"Papah Cio" celetuk santai Sagara.


"Hm... pantesan sesat" ucap Galang dan Hana bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sekarang kampus sedang dihebohkan dengan berita tentang jasad Tiara salah satu mahasiswi universitas Lexander internasional yang ada di hotel bintang lima.


Termasuk Kivandra dkk dan juga Hana dkk mereka saat ini sedang berkumpul di taman kampus,mereka sedang membicarakan tentang jasad Tiara.


Hana hanya tersenyum smirk tipis tanpa ada yang tahu kecuali Kivandra dia sangat tahu ini semua gara-gara ide gilanya Winter dengan menyewa seorang masokis untuk membunuh Tiara tanpa turun tangan sendiri.


"Gue nggak nyangka kalo Tiara akan meninggal secara tragis" ucap Alula walaupun dia membenci Tiara, tetap saja sebagai sesama wanita juga mempunyai rasa kasihan.


"Karma itu it's real" sentak Abercio.


"Ajal manusia akan menjemput sesuai kebiasaan hidupnya, ya begitulah Tiara semasa hidupnya kan selalu tidur bebas dengan om-om langganannya" sambung Agam.


"Weh, tumben lo bijak Gam,abis kepentok apa lo" ejek Adrian.


Agam hanya memutar bola mata malasnya. "Kepentok dinosaurus"


"Lo daritadi diem mulu Vin? lagi mikirin Tiara pastinya kan?"tebak Abercio.


Delvin menghela nafasnya dengan panjang, walaupun kelakuannya Tiara itu sangat buruk dan seperti j•lang tetap saja Tiara adalah adik tirinya. Terselip rasa iba di hati Delvin namun mau gimana lagi udah takdirnya Tiara meninggal dengan secara tragis. "Hm" jawab singkat Delvin.


"Yaelah masih aja es batu kalo jawab cuman hm doang, lama-lama kayak nisa sabyan aja lo Vin hmmm hmmm.." kesal Abercio.


"Ayah gue belum pulang, gue gak tahu" balas Delvin.


"Eh, emang om Sam pergi kemana Vin?" Delvin hanya mengedikan bahunya ia tidak tahu kemana Sam itu pergi, nomor ponselnya saja tidak aktif.


"Om Rajendra tahu soal ini Vin?" tanya Adrian.


"Belum" sahut singkat Delvin.


Abercio, Agam, Adrian, Alula dan Tania hanya mendes•h lagi-lagi Delvin hanya menjawab dengan singkat dan sangat irit sekali.


"Sudahlah kawan, jangan lagi tanya sama es batu pasti jawabannya hm kalo gak ya satu kalimat doang" celetuk Agam.


"Eh, btw mayat Tiara di kuburkan dimana ya? kalian mau ziarah ke makam Tiara gak? walaupun dia jahat dan sikapnya sangat buruk tetap saja dia pernah jadi bagian dari kita, ya itung-itung buat jengukin untuk terakhir kalinya dan maafin semua kesalahan Tiara biar dia gak berat nanggung dosanya" ucap Alula.


"Tapi gue masih benci sama Tiara La, lo gak ingat dia pernah ngomong kalo kita bukan sahabatnya dia hanya pura-pura saja, itu bikin hati gue sakit La, mungkin sampai sekarang hati gue masih sakit gue tulus sahabatan sama dia eh dia nya malah gak anggap gue sahabatnya dan hanya pura-pura doang, berasa ada belati yang nancap di hati gue, cuman gara-gara cowo dia berubah dratis menjadi orang gila dan mau menyingkirkan sahabatnya sendiri gak habis pikir, dan ternyata Tiara itu wanita panggilan madam Choo gue gak nyangka banget, gue kira dia cewek polos cewek baik-baik,ternyata cuman covernya saja isinya bukan cewek polos tapi suhu, kalo lo mau ke makamnya Tiara, sorry gue gak ikut hati gue masih sakit La, butuh waktu lama buat nyembuhinnya" papar Tania.


Semuanya langsung terdiam setelah mendengar perkataan dari Tania, benar juga apa yang dikatakan oleh Tania. Kecuali Hana ia pun sama seperti Tania sekali pengkhianat tetap pengkhianat tidak akan ada kata maaf baginya walaupun sudah mati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



"Kak, apa cita-cita lo?" tanya Dasha kepada Kalandra.


Kalandra menoleh ke Dasha yang ada disampingnya. "Mmm..dulu ingin jadi polisi tapi sekarang cita-cita gue udah berubah"


"Apa?" tanya Dasha menatap wajah tampan Kalandra.


"Pengusaha kaya raya" ucap Kalandra sambil tertawa kecil.


Dasha memukul lengan Kalandra walaupun tidak terasa seperti pukulan. "Ish..serius kak" Dasha merucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Haha...kakak juga serius kok" Kalandra menatap lekat wajah cantik Dasha.


Deg!


Jantung Dasha serasa seperti mau loncat ditatap oleh kedua mata Kalandra.


"Kak, jangan tatap Dasha seperti itu" ucapnya pipi Dasha seketika memerah.


"Emang kenapa hm? emang kakak gak boleh memandangi wajah cantik bocilnya kakak ini hm?" goda Kalandra.


Blush!


Kalandra langsung tertawa terbahak-bahak melihat pipi Dasha sangat merah, membuat Dasha memukul lengan Kalandra secara brutal.


"Sshhh ..sakit Dasha" ringis Kalandra.


"Rasain noh, kakak sih selalu saja godain Dasha mulu" kesal Dasha.


"Haha...habisnya lo lucu cil, pengen gue makan tuh pipi"


Eh?


"Ya Allah jantung gue kenapa jadi kembang kempis gini, fix besok gue harus periksa ke dokter Azka" batin Dasha sembari memegang dadanya.


"Dada lo kenapa? sakit?" ucap Kalandra melihat Dasha memegang dadanya.


Dengan cepat Dasha menggelengkan kepalanya.


"Kak, lihat sebelah kanan ada bintang yang bersinar sendirian, kasihan ya bintangnya gak ada temannya" celoteh Dasha sambil menunjuk kearah bintang.


Kalandra langsung mengikuti arah pandang Dasha, ia menatap bintang yang bersinar sendirian.


"Iya benar kasihan juga ya gak ada temannya, apa dia dibully sama bintang lainnya" sahut Kalandra.


"Mungkin kak, Dasha ingin menjadi temannya bintang itu gak biar dia gak sendirian disana, pasti bintang itu suka kalo ada temannya" ujar Dasha.


"Ya gak mungkin lah lo jadi bintang Dasha, lo kan manusia bukan bintang mana mungkin lo jadi bintang" geleng-geleng Kalandra.


"Mungkin saja kak, gak ada yang gak mungkin kak" ucap lirih Dasha.


"Dasha, sebentar lagi kan lo lulus nih, mau kuliah dimana?" tanya Kalandra.


"Belum tahu kak"


"Kok belum tahu kenapa?"


"Karena umur ku juga kayak nya gak bakalan lama kak, entah sampai kapan aku bisa bertahan, kemungkinan sembuh juga sangat tipis sekali karena kebanyakan orang yang memiliki penyakit kanker darah pasti akan meninggal, papi mami saja tidak pernah perduli sama aku yang mereka pedulikan hanya uang ,uang dan uang , mungkin papi mami mau perduli saat aku tidak ada" batin Dasha .


"Dasha? hidung lo keluar darah" pekik Kalandra tiba-tiba melihat cairan berwarna merah keluar dari hidung Dasha.


Deg!


"Ah, ini mungkin Dasha kecapekan kak, jadi keluar darah, maaf ya kak" dusta Dasha sembari membersihkan darahnya dengan tisu yang selalu ia bawa.


"Beneran karena capek? gak ada hal lainnya? aku kaget lho, tiba-tiba keluar darah" ucap Kalandra memicingkan matanya.


"Beneran kak, Dasha gak pernah bohong"


"Maaf ya kak, terpaksa Dasha bohong, Dasha gak ingin membuat kakak khawatir" lanjutnya dalam hati Dasha.


"Baiklah, kita pulang saja yuk, kamu udah capek perlu istirahat" sahut Kalandra ia langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Iya kak, Dasha juga ngantuk" balasnya.


Mereka pun langsung meninggalkan tempat itu dan Kalandra langsung mengantarkan Dasha pulang ke rumahnya.Jujur Kalandra saat ini sangat khawatir dengan keadaan Dasha yang tiba-tiba keluar darah dari hidungnya. Makanya Kalandra langsung mengajak Dasha pulang untuk istirahat.


Dasha menatap punggung Kalandra ."Kak, Dasha suka sama kakak, Dasha ingin sekali bilang seperti itu ke kakak tapi Dasha takut kak, Dasha gak mau kakak punya pacar yang umurnya pendek dan berpenyakitan kayak Dasha kak" ucap lirih Dasha.

__ADS_1


__ADS_2