Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Mulai Akrab


__ADS_3

Kamil memutuskan kembali memakai kemeja putihnya dan berangkat ke masjid bersama dengan Malvin karena tak mungkin baginya memakai t-shirt milik Malvin yang terlihat pas ditubuhnya memperlihatkan badannya yang kekar.


”Kamu tiap hari ke masjid?” tanya Kamil.


”Gak juga Om, kalau dhuhur dan ashar lebih sering di sekolah sih,” balas Malvin.


Malvin menghela nafasnya membayangkan jika dia pergi ke masjid bersama dengan papanya Daffa, ”Jika saja papaku tidak memilih wanita lain pastinya hidup mamaku gak akan menderita sedemikian rupa. Papaku itu tidak tahu diri Om, dia tidak bisa membedakan mana berbakti pada orang tuanya dan bagaimana membahagiakan istrinya.”


”Kamu ini bicara apa, kamu itu masih kecil tugas kamu hanya satu belajar,” ucap Kamil mengacak rambut Malvin.


”Aku memang ingin sukses Om, Malvin mau nunjukin pada mereka yang udah buat mama aku menangis tiap malam dengan kesuksesanku pasti mereka akan bungkam!”


”Nah kalau itu Om sangat setuju, kalau kamu mau Om bisa bantu kamu kok kebetulan Om banyak teman di Jakarta.”


Malvin menatap ke arah Kamil. ”Beneran Om?”


”Iya, kita sholat dulu yuk!”


Keduanya pun berdiri di barisan shof paling depan untuk melakukan sholat maghrib.


”Habis ini kamu mau kemana?”


”Langsung balik lah om, masa iya mau main lagi waktunya belajar lagipula sejak tadi sore sudah main bola di lapangan,” jelas Malvin.


”Bos!” panggil Baron membuat Kamil melotot karena panggilan tersebut.


”Kenapa kamu telat datangnya?"


”Saya sudah datang ke rumahnya mbak Medina katanya lagi sholat ya sudah saya langsung menyusul ke sini.”


”Antarkan Malvin pulang lebih dulu baru kita pulang ke kontrakan,” titah Kamil.


”Gak perlu Om, Malvin bisa kok pulang sendiri lagipula udah terbiasa.”


”Baik, kalau begitu Om balik dulu ya. Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam.”


Baron menyalakan motornya segera balik ke kontrakan. ”Mampir dulu ke angkringan ya, perutku lapar!"


”Baik.”


Baron menepikan motornya di tepi jalan dan duduk di trotoar.


”Apa ini?” Kamil mengambil bungkusan kecil yang ada di nampan beberapa gorengan dan memesan segelas es teh.


”Apa itu bos?”


”Kurang tahu ini juga lagi nyobain pertama kali duduk di sini.” Kamil pun membukanya dan terkejut melihat isinya.


”Nasinya hanya segenggam, sambel sama apa ini secuil ikan asin?” ucap Kamil membuat Baron tertawa.


”Bisa diam gak kamu!” Dengan cepat Baron menghentikan tawanya.

__ADS_1


”Itu namanya ’sego kucing’ Mas. Ini dari mana ya?” ucap pemilik angkringan menjelaskan.


”Oh pantesan saja ada ikan asinnya dikit. Kami asli Jakarta Bu, ini baru pertama kalinya makan di angkringan,” sahut Kamil.


Si pemilik angkringan pun mengangguk, ”Silakan dinikmati.”


”Bos, gak salah?”


”Kenapa memangnya?"


”Ini biasanya makan di restoran dengan menu yang wow lah ini makan seperti ini apa nanti Nyonya besar gak marah kalau lihat hidup bos seperti ini.”


”Udah diam aja asalkan kamu gak bicara sama yang di sana gak mungkin mereka tahu.”


Kamil mulai melahap makanan yang ada di depannya satu persatu. ”Enak, ini bahkan belum pernah aku temui dimanapun. Kamu cobain saja.”


Baron menatap tak percaya dengan apa yang dia lihat Kamil dengan lahapnya menyantap nasi kucing dan mengambil beberapa bungkus lagi.


”Alhamdulillah kenyang,” gumam Kamil.


Baron kembali geleng-geleng kepala.


”Ayo kita pulang!”


”Bosku ini memang aneh, diberi kekayaan banyak uang malah memilih hidup susah,” cecar Baron.


”Kanu keberatan ikut denganku, jika iya silakan balik ke Jakarta sana biar aku sendiri di sini.”


”Maaf bos, bukan begitu apapun keadaannya saya akan setia ikut denganmu,” sahut Baron.


”Duh salah omong lagi!” Baron memukul keningnya sendiri.


***


Suasana di rumah Farhan tampak lengang kedua pasangan pengantin itu tampak canggung dan lagi Alea seakan menjaga jarak dengan Farhan.


”Aku tidak akan memaksamu sekarang, aku yakin seiring waktu kau bisa mencintaiku,” ucap Farhan.


Alea hanya diam.


”Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau tapi tetap ada batasannya, aku tidak mau keluarga kita tahu jika kita menikah bukan atas dasar cinta.”


”Jika ada sesuatu yang kau butuhkan tinggal bilang saja padaku jika aku bisa memenuhinya maka aku akan mengabulkannya. Apa ada yang ingin kau tanyakan?”


”Tidak ada.”


”Baiklah silakan beristirahat, besok kita pergi jalan-jalan kamu mau kan?"


”Baik.”


Sikap dingin Alea membuat Farhan kesal dia tidak suka diabaikan tapi mengingat bagaimana papanya Hamid berusaha keras meyakinkan kedua orang tua Alea membuatnya semakin tertantang menaklukkan hati gadis cantik yang sekarang menjadi istrinya.


Dia tahu jika Alea lebih menyukai adiknya Kamil tapi dia tidak akan menyerah begitu saja hanya karena Alea tidak mencintainya Farhan sangat yakin bisa meluluhkan hatinya.

__ADS_1


Pagi tiba, Alea telah menyiapkan secangkir kopi dan sepiring sandwich di meja makan. Dia bukanlah gadis bodoh yang tidak tahu diri karena keluarganya pun telah banyak berhutang budi pada keluarga Hamid.


Alea bergegas ke kamar Farhan memanggil pria itu untuk segera turun dan sarapan.


”Mas, sarapan sudah siap!” ucap Alea dengan segera berbalik melihat karena terkejut dengan apa yang dia lihat di depannya.


”Aku menunggumu di bawah.” Dengan cepat Alea segera pergi dari kamar Farhan.


Beberapa menit Farhan pun turun dengan pakaian santai.


”Pagi ... kau yang menyiapkan ini semua?" tanya Farhan menatap meja makan yang telah siap dengan menu sarapan pagi.


”Aku tidak begitu pandai memasak tapi aku akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu, maaf.”


”Tidak perlu minta maaf karena ini semua sudah cukup untukku, ayo kita sarapan bersama,” ajak Farhan.


Alea diam dan duduk di depan Farhan sesekali dia melirik ke arah suaminya dan Farhan bisa menangkap hal itu. Alea masih memikirkan apa yang dia lihat barusan.


”Habis ini kita jalan-jalan kamu mau kan? Belilah kebutuhanmu karena kamu tidak membawa apapun dari rumah dan memang aku melarangnya. Pakailah yang baru karena kita akan memulai semuanya dari awal.”


Alea mendongak ke arah Farhan.


”Rumah ini juga baru karena aku tidak mau mengenang kembali ke masa lalu jadi kita sama-sama memulainya dari nol.”


”Astaga,” gumam Alea.


”Kenapa?”


”Bagaimana dengan mantan istrimu nanti jika dia datang dan ingin kembali padamu,” tanya Alea.


”Kau ingin aku bagaimana?”


***


Kamil bolak-balik ke kamar mandi perutnya mules dia sedang mengalami diare.


”Baron, kau jualan sayur sendiri ya perutku sakit sekali.”


”Astaga kau tampak lemas begini bos, apakah kita perlu ke dokter?”


”Tidak usah kau pergi saja aku bisa mengurus diriku sendiri.”


Jam lima pagi Baron sudah mulai keliling menjualkan sayurannya.


”Bang beli cabainya dua ribu!” seru Bu Lia.


”Kok Bang Kamil gak pernah kelihatan kemana?”


”Di kontrakan lagi sakit jadi saya yang bantu keliling,” sahut Baron.


”Dia sakit perasaan kemarin baik-baik saja,” ucap Medina menimpali perkataan Baron.


”Mungkin karena semalam dia terlalu banyak makan jadi sakit.”

__ADS_1


”Memangnya apa yang dia makan?”


__ADS_2