
”Bagaimana keadaan mama saya Dok?” tanya Kamil gurat khawatir terlihat jelas di wajahnya.
”Ibu Anda hanya kurang istirahat saja Pak Kamil, tolong jaga tekanan darahnya jangan sampai kembali naik,” ucap Dokter lalu berpamitan pada Kamil dan Hamid.
”Bagaimana dengan Farhan apa kau sudah menghubunginya?” Hamid menatap ke arah Kamil.
”Aku tidak tahu apakah dia akan datang atau tidak karena sampai sekarang ponselnya sulit dihubungi.”
”Dad ... ” Kamil menoleh ke arah Malvin dan mengikuti pandangan matanya. Farhan datang dengan tergesa-gesa.
”Bagaimana keadaan mama?” tanya Farhan begitu langkahnya mendekati ketiga pria yang masih berada di depan pintu rawat inap.
”Kemana saja kamu Bang? Sejak tadi kami menghubungimu dan kau sama sekali tidak merespon sedikitpun apakah kau sedang bersenang-senang sehingga tak ingin diganggu?” ujar Kamil kesal.
”Maaf, aku benar-benar tidak tahu tadi aku sedang istirahat di kamar dan ponselku sedang aku charger jadi tidak tahu jika ada panggilan masuk,” sambar Farhan.
”Bagaimana keadaan mama?” lanjutnya.
”Mamamu sedang tidak baik-baik saja tolong kau jangan membebani pikirannya dengan masalah yang sedang kau hadapi,” ucap Hamid membuatnya meradang mendengarnya.
”Papa tidak salah ucapkan? Bukankah selama ini papa yang mulai lebih dulu membuat mama menderita!”
”Kalian tidak tahu ini adalah rumah sakit tolong jangan buat keributan!” tegur Kamil segera meninggalkan keduanya merangkul Malvin masuk ke ruangan Alika.
Kamil sedang merasakan lelah tapi melihat kedua manusia itu bertengkar membuatnya semakin kesal. ”Apa kau merasa lapar?” tanya Kamil pada Malvin dia yakin putranya itu belum memakan apapun di rumah.
”Belum Dad, sedikit lapar sih,” sahutnya mengurai senyum.
”Astaga, kenapa tidak bilang sejak tadi.” Kamil meraih ponselnya dan menghubungi kantin rumah sakit meminta mereka mengantar makanan ke ruang rawat mamanya.
”Tunggu sebentar ya.”
Malvin hanya mengangguk sebelum Kamil bertanya lagi padanya. ”Sekolahmu baik-baik saja kan?”
”Iya.”
”Lalu bagaimana dengan Salsa, Intan dan Denis?”
Malvin mengangkat kepalanya wajahnya tegang mendengar pertanyaan Kamil. ”Bagaimana Daddy bisa tahu?”
”Kamu lupa jika Daddy dulu sekolah di sana, tanpa kau ceritakan Daddy sudah tahu.”
”Maaf bukannya Malvin tidak mau jujur tapi memang Malvin merasa itu bukanlah sesuatu yang serius dan di sisi lain Malvin tidak mau menambah bebanmu Dad, Malvin tahu jika belakangan ini Daddy sedang banyak masalah.”
”Anak kecil sok tahu!” cibir Kamil.
”Aku benar kan Dad, kemarin Om Daren ke rumah dan mengatakan sesuatu di telepon dan tak sengaja Malvin mendengarnya.”
__ADS_1
”Tolong jangan bilang siapapun ya karena Daddy tak mau menambah beban pikiran mamamu di rumah,” pesan Kamil.
”Tentu saja Dad.”
Ketukan pintu terdengar dan seseorang masuk membawakan makanan yang dipesan oleh Kamil. Kamil membayarnya dengan sedikit tips untuk kurirnya.
”Makanlah kau pasti lapar bukan? Daddy mau memejamkan mata dulu sebentar jika kau butuh sesuatu jangan sungkan untuk membangunkannya.”
Malik duduk di sofa dan memejamkan kedua matanya yang lelah dirinya memang sedang merasakan lelah karena pekerjaannya menumpuk di kantor. Kamil bertahan di rumah sakit hingga Alika tersadar dan bisa ditinggal, dirinya berjanji akan segera kembali setelah urusannya selesai.
***
”Om apa nanti kau akan menjemput diriku?” tanya Malvin pada Baron begitu mobil berhenti.
”Kamu maunya bagaimana? Nurut saja bagaimana perintahnya.”
Malvin tampak berpikir. ”Nanti aku akan menghubungimu!”
Malvin segera turun karena melihat Intan masuk ke sekolahan dia ingin mengejar dan meminta maaf.
”Dasar anak muda,” desis Baron lalu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang setelahnya segera pergi meninggalkan sekolahan bos mudanya menuju kantor bosnya.
Di kantor Kamil sedang menunggu Baron yang sudah setengah jam berlalu belum juga datang. ”Kemana orang itu padahal janji akan datang tepat waktu tapi nyatanya sampai sekarang dia tidak datang.”
”Bos ada tamu di luar,” ucap Daren melangkah menghampiri Kamil.
”Dia mengaku istri dari mantannya istrimu,” jelas Daren.
Kamil berpikir ulang apakah wanita itu Lastri, lalu ada masalah apa dia datang ke sini dan lagi Kamil merasa tidak ada urusan dengannya.
”Biarkan dia masuk!”
Daren keluar dan kembali bersama dengan Lastri. Wanita itu nampak percaya diri masuk ke ruangan Kamil.
”Silakan duduk, ada perlu apa Ibu Lastri datang ke sini?” tanya Kamil.
”Kantormu lumayan bagus,” sahutnya.
”Langsung saja ke intinya!” tegas Kamil.
”Baiklah saya ke sini hanya ingin memberitahukan Anda jika selama ini suami saya ternyata masih saja memberikan nafkah pada putranya Malvin. Saya mau Anda mengganti kerugian yang saya terima karena hal ini!”
Kamil menautkan alisnya, hanya karena masalah kecil sepet ini Lastri mau menyambanginya ke kantor.
”Sudah hanya itu saja?”
Lastri mengangguk.
__ADS_1
”Bukankah sudah menjadi kewajibannya menafkahi anak sendiri lagipula Malvin itu anak yang cerdas saya yakin Daffa pasti bangga padanya sama halnya dengan saya.”
”Saya butuh stock susu formula karena harus meninggalkan putri saya bekerja dan itu tidak bisa saya dapatkan dari suami karena seperempat gajinya ternyata atas nama Malvin putranya. Saya hanya mendapatkan setengahnya saja bukankah ini sangat buruk!”
Kamil segera mengambil pena dan memberikan cek ada Lastri. ”Ini cukup untuk mengganti susunya? Saya tekankan pada Anda jika saya sama sekali tidak mengerti apapun soal ini, jadi tolong jangan bawa-bawa nama anak dalam perkara ini.”
”Karena saya menginginkan gak saya kembali utuh makanya saya kemari,” sahut Lastri.
Kamil tersenyum sinis pada wanita matre di depannya ini. ”Jika demikian Anda menganggap Malvin tidak berhak atas uang papanya? Perlu diingat Malvin adalah darah dagingnya tidak akan pernah terputus dari apapun karena di tubuh Malvin ada darahnya Daffa. Tidak masalah jika Malvin tidak mendapatkannya karena saya masih mampu memberikannya lebih padanya.”
”Syukurlah, dan tolong minta istri Anda untuk tidak membawakan oleh-oleh untuk mantan mertuanya jika Malvin datang ke rumah, saya merasa muak!”
Kamil mundur menyandarkan tubuhnya, ”Yakin Anda muak? Tapi kenapa ikut menikmatinya juga?”
”Kau ... ”
”Ingat Bu Lastri, istri saya bermaksud baik dengan membawa oleh-oleh untuk mantan mertuanya bukankah maksudnya itu baik karena istri saya masih mengingat mantan mertuanya dengan membawakannya oleh-oleh. Dia masih menghormati wanita itu meskipun dulu dia sempat dihina habis-habisan olehnya.”
Lastri menegang mendengar perkataan Kamil ternyata pria di depannya ini justru lebih menjengkelkan dari dugaannya. ”Jangan sok tahu memangnya kau siapa, sehingga apapun yang dilakukan oleh orang lain selalu saja mengetahuinya.”
”Of course, I'm bos!” ucap Kamil sedikit sombong untuk mematahkan semangat Lastri yang terus saja mengusik masa lalu istri dan putranya itu.
Hal tersebut membuat Lastri tercengang mendengarnya, dia tidak mengira jika Kamil akan mengucapkan hal demikian.
”Apakah sudah selesai? Jika sudah tolong Anda segera keluar karena saya sangat sibuk!”
”Anda mengusir saya?”
”Tidak, tapi memang sudah sepantasnya bukan jika keperluannya telah selesai maka segera pulang. Silakan pintunya di sebelah sana,” ucap Kamil menunjuk pintu ruangannya.
Kamil menghembuskan nafas kesal mengingat tujuan Lastri datang ke kantornya wanita itu seakan tidak punya malu dengan meminta sesuatu seperti seorang pengemis.
”Wanita tadi tampak bahagia sekali, apa kau memberikannya sesuatu?” Daren masuk dengan setumpuk berkas.
”Ya dia datang untuk memeras, tidak mengemis lebih bagus untuknya.” Kamil memijit pelipisnya menahan pusing.
”Apa maksudnya?”
Kamil menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. ”Dia tidak terima jika suaminya memberikan nafkah pada putranya sendiri, dasar orang aneh padahal Malvin sama sekali tidak menerima uang tersebut.”
”Kau tanyakan padanya saja sekarang selagi dia masih di sekolah dan temui langsung dengan Daffa agar semuanya jelas,” tawar Daren.
”Baiklah, aku ke sana sekarang. Aku penasaran berapa banyak uang yang diberikan Daffa untuk Malvin.”
”Kau marah?”
”Dasar bodoh! Tentu saja aku marah, dia pikir aku siapa sehingga membiarkan putraku mengemis uang darinya. Aku masih mampu memberikannya. Aku merasa direndahkan dikira aku tidak sanggup memberikan nafkah padanya.”
__ADS_1
Kamil mengambil kunci mobil dan ponselnya segera pergi ke sekolahan dan menjelaskan semuanya, dia ingin memberi pelajaran pada keluarga Daffa, khususnya Lastri.