
Percayalah tidak ada kesempurnaan dalam hidup itulah yang terjadi tanpa kita sadari. Begitu juga dengan Kamil pria berparas tampan dan kaya itu bisa saja mendapatkan gadis berparas cantik dan masih muda jika dia mau, tapi kenyataannya dirinya justru memilih seorang janda beranak satu.
Medina wanita yang baik tanpa cela karena menurut Kamil dia lebih baik daripada seribu gadis yang mengejarnya, apapun keadaannya Kamil tidak pernah mempermasalahkan apalagi perihal anak. Dirinya sudah menganggap Malvin sebagai putranya dan tidak harus dari benihnya karena pernikahan baginya tidak semata-mata untuk keturunan. Cinta itu saling melengkapi bukan mencela kekurangan pasangannya. Kamil ikhlas dan tidak pernah menuntut apapun dari istrinya.
”Bang kenapa melamun?" tegur Medina melihat Kamil melamun di meja makan membuatnya khawatir apakah terjadi masalah di kantor atau mungkin masalah lain yang belum diceritakannya.
”Maaf.” Kamil tersenyum namun senyum tersebut seperti tidak biasanya membuat Medina semakin khawatir.
”Apa terjadi sesuatu?” tanya Medina perlahan.
”Tidak semua baik-baik saja. Oh iya, besok malam kita diundang Daren untuk acara pernikahannya tolong kasih tahu Malvin dan Riezka agar mereka ikut ke sana.”
”Baiklah nanti aku sampaikan. Bang, jika ada masalah tolong cerita ya. Ya, meskipun aku tidak bisa bantu setidaknya beban di hati mungkin bisa sedikit berkurang.”
”Tentu, aku akan cerita semua sama kamu nanti.”
”Ini sudah selesai kan?” Medina mengambil piring yang sudah kosong di depan Kamil. Pria itu mengangguk membiarkan istrinya membereskan semuanya.
”Dad, ayo kita main basket!” ajak Malvin tiba-tiba membuat Kamil terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
”Bukankah ada Baron di luar kenapa tidak mengajaknya?”
”Sudah, ada Denis juga di luar ayo biar kita bisa jadi dua tim!” seru Malvin bersemangat membuat Kamil pun beranjak dari duduknya menuju lapangan.
”Bos, yakin mau main?” ejek Baron.
”Memangnya kenapa kamu takut kalah?” Dengan cepat Kamil merebut bolanya dan mendribelnya di lantai beberapa kali lalu memasukkannya ke dalam keranjang.
”Bagaimana?” tanya Kamil. ”Aku masih sanggup melawan kalian bertiga!” tantang Kamil membuat ketiganya saling pandang.
”Oke. Daddy sendiri kita bertiga, deal!”
Kamil tersenyum menyeringai mendengar perkataan Malvin. ”Baiklah, ayo kita lihat siapa yang akan menang!”
Mereka berempat asyik dengan permainannya masing-masing hingga kemenangan diraih oleh Kamil meskipun sendiri nyatanya mampu melawan mereka bertiga.
”Kalian curang mana ada tiga lawan satu!” kesal Kamil seraya mengelap keringat yang bercucuran di tubuhnya dengan handuk kecil pemberian Medina.
”Tapi kan tetap saja Dad, yang menang itu Daddy,” sahut Malvin.
”Anak muda sukanya main keroyok saja!” ujar Kamil.
__ADS_1
”Sudah debatnya minum dulu,” seru Medina menimpali perdebatan mereka berempat.
Keakraban sangat terlihat dan Medina merasa bersedih karena sebentar lagi mereka akan berpisah, Malvin memilih ke luar negeri dan rumah pasti akan sepi.
”Kemana kamu akan melanjutkan pendidikanmu Denis?” tanya Kamil yang memang cukup akrab dengan sahabat putranya itu.
”Aku mau melanjutkan ke kedokteran Om. Papa ingin saya melanjutkan karirnya dan tentunya bisa menolong orang banyak pastikan juga berpahala,” jawab Denis.
”Hebat, berikan yang terbaik untuk orang tuamu!” seru Kamil.
”Pasti Om,” ucap Denis mengulas senyumnya.
”Dad, aku tidak ditanya?” ujar Malvin mencibir.
”Ya ampun untuk apa bertanya toh sudah tahu jawabannya, kan?” sambar Kamil.
”Ya siapa tahu buat kembali meyakinkan.” Malvin terkekeh sendiri.
”Daddy percaya kok, tolong jangan kecewakan Daddy mengerti!”
”Siap, bos! Eh, Dad!” Semua orang yang ada di sana tertawa lepas mendengar candaan Malvin.
***
”Bu, dia sibuk sekali karena sebentar lagi ujian jadi tidak mungkin dia ke sini,” jelas Daffa.
”Kenapa tidak bisa hanya sebentar saja tidak akan lama, ibu kangen sekali dengannya,” keluh Bu Yanti.
”Bu, jika ibu kangen lebih baik datang saja ke rumahnya Daffa akan kasih alamatnya pada ibu nanti karena bisa jadi itu adalah pertemuan terakhir dengannya.”
”Apa maksudmu Daffa?” Bu Yanti tidak mengerti maksud perkataan anaknya itu.
”Bu, Malvin akan melanjutkan pendidikannya ke luar negeri jadi kita tidak tahu lagi kapan akan bertemu dengannya.”
”Benarkah?” Bu Yanti cukup terkejut mendengar hal ini, Daffa mengangguk cepat.
”Kenapa tidak sekolah di sini saja bukankah itu sama saja. Apa dia kesana lewat jalur bea siswa?” tebak Bu Yanti.
”Tidak ini murni biaya sendiri ayah tirinya sangat kaya tak perlu bea siswa lagipula dia juga diperebutkan di beberapa universitas di luar negeri karena memang kecerdasannya itu.”
”Benarkah?” Bu Yanti tidak percaya jika cucunya akan menjadi orang hebat sayangnya sekarang mereka tidak bisa sedekat dulu dan dia sungguh menyesal telah membuatnya berpisah dengan Daffa.
__ADS_1
”Iya, kemungkinan besar dia akan memilih yang jauh dan kita sulit menjangkaunya.” Daffa bersedih kemudian.
”Memangnya kemana dia akan pergi?”
”Jika bukan Amerika kemungkinan ke London.”
”Astaga jauh sekali Daffa, bahkan uangmu tidak akan cukup untuk pergi ke sana,” ujar Bu Yanti.
”Itulah dan aku merasa gagal sebagai seorang ayah karena seharusnya aku lah yang menjadi penopangnya bukan orang lain.” Daffa merasa bersedih jika mengingat pertemuannya dengan Malvin kemarin siang di sekolahan.
”Halah, kasih nafkah istri saja ngos-ngosan masih mikirin orang lain,” keluh Lastri.
”Sabar Daffa jangan pedulikan dia,” ujar Bu Yanti dirinya kembali merasa bersalah karena telah mendorong putranya menikah dengan Lastri.
”Meskipun demikian aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluargaku,” kilah Daffa.
”Benarkah?” Lastri menyeringai.
”Sudah jangan bertengkar!” Bu Yanti menegur keduanya karena dia yakin ujungnya mereka akan bertengkar. ”Kalian sudah sama-sama dewasa kenapa masalah sepele saja diributkan!”
”Bu, aku berangkat dulu,” pamit Daffa karena tidak mau berlama-lama di rumah.
”Hati-hati Nak,” sahut Bu Yanti.
”Mas, mana uang belanja dan juga uang susu untuk anakmu?”
Daffa menghentikan langkahnya begitu mendengar hal itu, ”Bukankah aku sudah memberikannya padamu tempo hari berikut uang untuk belanja keperluanmu sendiri, kenapa sekarang meminta lagi?”
”Ya ampun Mas, uang segitu kamu anggap cukup tapi tidak bagiku. Uang itu buat beli susu dan juga perlengkapan make up milikku saja masih kurang. Aku bukanlah Medina mantan istrimu yang sama sekali tidak pernah dandan!” keluh Lastri.
”Kami benar Lastri, kamu dan dia memang berbeda dia selalu saja mensyukuri pemberian suaminya sedangkan kamu? Kamu hanya bisa mencelanya, sudahlah aku tidak akan menambah apa yang seharusnya aku berikan dan bagiku itu sudah lebih dari cukup!”
Daffa meninggalkan keluarganya ke sekolah dirinya pun ingin sekali berbicara dengan putranya karena memang belakangan ini dirinya sangat sibuk. Daffa ingin memastikan jika putranya pergi ke tempat yang tepat.
”Malvin bisakah kita bicara berdua saja sekarang?” ucap Daffa begitu melihat putranya berjalan di depan kantor.
”Ada apa, Pa?” sahut Malvin.
”Ikutlah ke ruangan papa!”
”Apa yang ingin papa katakan?”
__ADS_1
”Ini soal sekolahmu. Apa benar kamu akan ke luar negeri?”