Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Kemarahan Alea


__ADS_3

Kamil tergesa-gesa masuk ke rumah, baru saja pergi hanya beberapa jam saja rasanya sudah sangat merindukan wanita itu. Kamil langsung menuju ke kamar tapi tak ditemukan wanitanya di sana.


”Malvin, dimana mama?” teriaknya tepat di depan pintu kamarnya.


Pintu terbuka Malvin masih terlihat acak-acakan dan mengucek mata kanannya. ”Apa yang terjadi Dad?”


”Apa kau tahu dimana mama?”


Malvin menggeleng, ”Mungkin di taman belakang tadi dia bilang mau menata taman belakang.”


Kamil segera berlari ke bawah mencari Medina di sana dan benar apa kata Malvin, Medina sedang menanam beberapa bunga dalam pot.


”Ya ampun, bukankah aku sudah melarang kamu untuk beraktivitas kenapa masih nekad!” seru Kamil melihat istrinya tengah sibuk menata pot-pot tanaman bunga lalu menggantungnya. Kamil mengambil alih karena Medina kurang tinggi membuat gantungan pot tidak terhubung pada paku.


”Istirahatlah! besok biar aku memanggil orang untuk membereskan semua ini. Jika kau masih nekad maka aku akan tetap di rumah setiap hari mengawasi dirimu mengerti”


Medina masih tetap diam dia tidak bisa untuk menjawab perkataan Kamil tapi juga tak ingin tubuhnya hanya duduk tanpa melakukan apapun karena memang sudah terbiasa bergerak saat masih di kampung.


”Sebaiknya Abang mandi dulu apa perlu aku siapkan dulu?”


”Tidak perlu aku bisa kok melakukan sendiri bagiku yang penting kamu, Malvin dan bayi kita itu saja dan sekarang kamu menjadi prioritas mengerti!”


Medina mengangguk. ”Bagaimana urusannya di kantor?”


Kamil mengedikkan bahunya, ”Banyak sekali yang harus diurus terlebih soal hilangnya dana perusahaan yang masih ghoib!”


”Ghoib?” Medina membulatkan matanya.


”Ya karena tidak tahu kemana perginya, jadi kan ghoib. Aku harus pergi nanti jam tujuh kamu sama Malvin ya di rumah, Baron sudah aku minta untuk tetap di sini jadi kalian akan tetap ada teman sekuriti sudah aku tambah di depan.”


”Jangan berlebihan Bang, aku gak masalah kok ditinggal.”


”Tidak, keamanan kalian tetap nomor satu. Oh iya nanti ada yang antar makanan jadi gak perlu masak ya.”


”Siapa Bang? Kalau Malvin gak mau makan bagaimana?”

__ADS_1


Kamil terkekeh kecil, ”Sayang, dia itu sudah dewasa jadi jangan khawatirkan dia dan aku juga sudah pernah memberitahukan padanya untuk belajar lebih mawas diri jangan tergantung pada satu orang saja.”


”Makanan itu kan rasanya juga berbeda-beda masa iya dia mau bergantung pada masakanmu sedangkan kau sendiri pun memiliki segudang kesibukan.”


Medina pun diam apa yang dikatakan oleh Kamil memang benar, jadi dia harus membiarkan putranya untuk mandiri tidak bergantung padanya.


”Ayo masuk atau mau aku gendong!”


”Jangan menggoda.”


Kamil tertawa renyah karena dirinya mampu membuat Medina merasa malu.


***


”Apa yang kalian lakukan?” Alea datang menghampiri kedua manusia yang sedang asyik saling berbagi saliva dengan penuh hasrat di depan pintu apartemen.


Keduanya pun terkejut melihat Alea berada di sana. ”Sayang, kau pulang?” Farhan memekik kenapa dia ceroboh sekali tidak bisa menahan godaan yang diberikan oleh Laras padanya.


”Jadi ini jawaban yang aku cari beberapa hari terakhir ini,” ucap Alea. Dia tidak habis pikir dengan Farhan tempo hari dia mengemis cinta padanya memintanya untuk mencoba belajar mencintainya tapi sekarang lihat apa yang terjadi, dia justru membuat luka yang dalam di hatinya.


Tamparan keras mendarat di pipi kiri Laras wanita itu menegang seketika Farhan dan Daren terkejut dengan aksi Alea yang spontan itu.


”Wanita tidak tahu malu, memangnya kamu gak laku di luar sana dan tak ada pria single yang bisa kau kencani?”


”Kau pria tidak tahu diri, aku kira aku bisa mempercayaimu Bang, nyatanya kau sama saja dengan papamu tukang selingkuh! pantas saja jika Mbak Rania tidak betah denganmu karena kau plin plan!” teriak Alea.


”Aku bisa jelasin semuanya Alea,” pekik Farhan.


Alea semakin marah tatapannya nyalang penuh kebencian. ”Penjelasan apalagi huh! Kau pikir aku wanita bodoh begitu? Aku yakin kalian bukan hanya bertindak seperti yang ku lihat barusan tapi lebih, besok aku akan meminta pengacara mengurus surat cerai kita!”


Alea segera berbalik melangkah pergi dan Farhan berniat untuk mengejarnya tapi Laras mencegahnya dengan menarik telapak tangannya. ”Biarkan saja!”


Alea pun melangkah cepat air matanya tidak dapat ditahannya lagi inikah jawaban dari perkataan Kamil tadi siang. Kenapa dia tidak bicara denganku langsung, kenapa dia harus melihatnya sendiri, kenapa harus dia dan bukan orang lain saja. Banyak pertanyaan yang buat hati Alea bertanya tanya.


Daren yang mengikutinya pun khawatir karena wanita yang ada di depannya ini tengah dilanda masalah takut terjadi sesuatu atau mungkin mengambil keputusan yang keliru.

__ADS_1


”Aku harus bagaimana?” lirih Alea tangisnya pecah seketika di mobil. ”Salahku apa? Kenapa nasibku begini?” sambungnya.


Daren pun meraih tubuhnya dengan sedikit kesusahan dan memeluknya ini adalah hal yang telah lama dia inginkan.


”Menangislah!”


Alea pun terisak bahunya bergetar hebat tangisnya pecah seketika. ”Dia benar-benar membuatku kecewa, aku pikir tidak masalah aku tidak mendapatkan Kamil karena aku masih bisa memiliki kakaknya tapi inilah yang aku dapatkan. Dia memang pria yang tidak tahu diri!”


”Bersabarlah semua pasti ada jalan keluarnya. Aku akan mengantarmu ke rumah Bu Alika.”


”Tidak jangan ke sana, karena aku belum siap untuk mengatakan hal ini padanya.”


"Baiklah, pulang saja ke rumahmu,” tawar Daren.


”Tidak! Aku tidak mau orang tuaku tahu lebih baik aku ke hotel saja, antar aku ke sana.”


Daren menggelengkan kepalanya dan berbalik arah menuju ke apartemennya itu akan lebih baik daripada pergi ke hotel untuk saat ini. Dia mempercepat laju mobilnya dan membiarkan Alea menangis terisak di samping kemudinya.


Begitu sampai dia segera membawa Alea ke apartemennya memperlakukan wanita itu seperti layaknya kekasih sendiri. Hal yang sudah lama dia ingin lakukan.


”Istirahatlah di sini lebih dulu, aku tidak mau kau ke hotel belum tentu di sana akan aman untukmu mengingat Farhan pasti akan mencarimu nantinya.”


”Kenapa kau begitu baik padaku sedangkan aku sama sekali tidak tertarik padamu Daren!” teriak Alea dia bukannya tidak tahu tentang perasaan pria itu hanya saja dia khawatir akan menyakiti hati orang lain sama yang pernah dia rasakan tempo hari.


Daren diam memejamkan kedua matanya mendengar perkataan Alea yang seakan sedang menyindirnya habis-habisan dan Daren seakan menjadi pria yang tidak tahu diri dengan merendah di depan Alea.


”Kau tidak perlu tahu jawabannya Alea karena aku khawatir justru akan mengejutkanmu seperti saat sebelumnya.”


Alea menggeleng pelan, ” Jangan bilang jika kau mencintaiku Daren.”


”Bagaimana jika hal itu benar adanya apakah kau akan menerimaku?”


Deg!


Alea segera mengangkat wajahnya mendengar pernyataan Daren wajahnya menegang, apakah dia tidak salah dengar?

__ADS_1


__ADS_2