
Flashback on.
”Iya, kami memang sedang dalam tahap pendekatan mohon doanya Mas Daffa semoga kami berjodoh nanti biar segera menyusul ke pelaminan,” ucap Medina.
”Aku tidak percaya dengan apa yang kau ucapkan tapi jika memang itu keputusanmu silakan semoga kalian bahagia,” balas Daffa.
”Terima kasih.”
”Sayang, ayo kita pulang!” Bang kamil mengajakku dan aku pun menyambut uluran tangannya dengan ragu. Dengan segera Bang kamil membawaku keluar dari minimarket.
”Maafkan saya ya karena tanpa persetujuan darimu bicara begitu tadi, saya hanya tidak suka melihat wanita diinjak-injak apalagi yang menginjaknya itu adalah mantannya sendiri. Bukankah sebuah aib itu harus ditutupi bukan dibongkar di depan banyak orang saya rasa jika tadi Mbak Medina diam saja calon istri mantannya Mbak Medina akan semakin banyak bicara mempermalukan Mbak di depan umum.”
”Iya saya tahu terima kasih, lain waktu jika mau bertindak konfirmasi dulu ya dan terima kasih.”
Medina masuk dan menutup pintunya karena kesal.
Flashback off.
”Gimana ini jika aku datang sendiri ke pernikahannya besok lusa pasti keluarga Mas Daffa akan semakin menginjak-injak dan menertawakan diriku terlebih Bu Yanti mantan ibu mertuaku. Ish, kenapa semua jadi sesulit ini sekarang,” ucap Medina tanpa sadar.
”Ada apa Ma? Kenapa mama ngomong sendiri?” tanya Malvin.
”Kamu ini ngagetin mama aja, udah mau berangkat?” balas Medina.
”Iya Ma, mama jaga diri di rumah ya. Malvin hanya sebentar kok besok siang juga udah bisa balik.”
”Kamu hati-hati ya ingat jangan macam-macam di luar kamu hanya punya mama di rumah jadi setiap tindakan harus kamu pikirkan baik-baik mengerti!”
”Iya Ma, Malvin sayang sekali sama mama karena hanya mama yang Malvin miliki sekarang.” Malvin memeluk Medina erat.
”Ish, udah jangan lebay gini tuh teman-teman kamu udah ada nungguin di depan!” seru Medina membuat Malvin terkekeh kecil.
”Assalamu’alaikum.”
”Waalaikumussalam.”
Medina memandang kepergian Malvin, putranya tumbuh menjadi pemuda yang tampan sayangnya dia harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah Daffa memilih percaya dengan ucapan ibunya untuk tidak melanjutkan pernikahannya dengan Medina dan memilih gadis pilihan ibunya dengan alasan demi berbakti pada kedua orang tuanya, miris memang karena dia tidak bisa memperjuangkan cintanya.
__ADS_1
Gosip yang beredar Daffa selingkuh itu hanyalah gosip yang sengaja disebar oleh mantan ibu mertuanya agar tidak menjelekkan namanya, dan terkesan jika Daffa adalah pria yang buruk dan Medina mau melepaskannya. Sungguh kejam Bu Yanti itu.
”Mbak kok dari tadi melamun saja, ada tamu itu,” bisik Hasna mengagetkan Medina.
”Astaghfirullah, maaf mana tamunya?” tanya Medina dan Hasna hanya memberikan kode lewat kepalanya ke depan Kamil sudah berdiri di depan pintu membuat Medina kembali terkejut untuk apa pria itu datang ke rumahnya.
***
Kamil penuh semangat pergi ke rumah Medina dia berharap wanita itu mau bekerja sama dengannya dan bisa menguatkan ekonomi wanita itu.
”Assalamu'alaikum,” seru Kamil namun tak ada balasan yang dia dengar membuat tetangganya Hasna pun datang karena melihat pria itu berdiri di depan pintu.
”Waalaikumussalam aduh ada Bang Kamil, ada apa ya Bang?” tanya Hasna.
”Ini saya mau nawarin bisnis buat Mbak Medina.”
”Oh bentar ya, saya panggilkan silakan masuk!”
Hasna melihatnya di ruang makan Medina sedang melamun, bergegas dia memberitahukannya dan menarik Medina keluar menuju ruang tamu.
”Ada apa ya Bang kok tumben ke sini?” tanya Medina mengingat ini sudah siang dan tadi pagi dia tidak jualan sayur keliling.
”Bisnis?” Medina bingung.
”Iya bisnis, saya punya banyak jengkol di rumah tapi tidak tahu harus dibuat apa mengingat saya sendiri juga belum pernah memakan yang namanya jengkol, lagi baunya memenuhi ruangan bisakah kau membantuku mengolahnya?”
Medina menatap tak percaya pada Kamil.
”Kenapa harus saya Bang?” tanya Medina.
”Ya karena Bu Broto merekomendasikan Mbak Medina jadi saya langsung ke sini tak mungkin saya menunggu besok mengingat besok saya juga gak kerja,” jelas Kamil.
”Hah? Gak kerja? Maksudnya gak jualan sayur?” tanya Hasna.
”Iya Mbak Hasna, saya meminta Baron untuk jualan karena saya sendiri sibuk besok seharian.”
”Oh begitu,” seru Hasna.
__ADS_1
”Bagaimana Mbak Medina apakah setuju jika iya maka saya akan kasih DP buat bumbu-bumbunya misalkan, atau beli alat-alatnya jika mang diperlukan.”
”Baiklah jika begitu saya akan terima.”
”Alhamdulillah, kalau begitu saya permisi dulu terima kasih. Assalamualaikum.”
”Wa'alaikumussalam.”
Kamil pulang dan segera berangkat ke kota pulang ke rumahnya setelah sebelumnya menjelaskan pada Baron apa saja yang harus dilakukan selama dirinya tidak ada. Jika bukan karena Alika sakit, Kamil tidak akan pulang mana mau dia peduli selain hanya pada mamanya itu.
”Sayang, kau pulang Nak,” ucap Alika menyambut kedatangan putranya itu.
”Katanya mama sakit kok kelihatan bugar begini?” tanya Kamil curiga.
”Papa sengaja melakukannya Kamil karena jika tidak demikian kau tidak akan pernah mau untuk pulang ke rumah. Di sini hanya mama kamu saja yang mampu membuatmu pulang, maaf jika papa berbohong padamu,” ucap Hamid.
Kamil menghembuskan nafas kesalnya ternyata dia telah dibohongi oleh papanya. ”Apa maksud papa?”
”Tidak ada maksud apapun papa hanya ingin kau segera pulang karena sebentar lagi kakakmu Farhan akan menikah dengan Alea sahabatmu itu,” terang Hamid.
”Apa? Jangan mengorbankan orang yang tidak tahu apapun. Ingat Alea itu gadis yang baik Pa!” ucap Kamil.
”Justru karena dia gadis yang baik papa mau menjodohkannya dengan Farhan dan nanti setelah dia kau juga harus bersiap-siap jangan sampai kau mencari sendiri dan bermasalah seperti yang dialami oleh Farhan.”
”Itu tidak akan terjadi karena Kamil akan menyelidikinya sendiri seperti apa calon istri Kamil nantinya,” balas Kamil.
”Ck! kamu jangan sombong dengan menolak apa yang papa berikan selama ini.”
”Kamil tidak sombong memangnya apa yang pernah papa berikan padaku? Kamil tidak merasa apa yang diberikan papa, tanyakan mama karena selama ini Kamil selalu menolaknya!”
”Kamil, jangan begitu Nak,” ucap Alika sedih.
”Tolong jangan bertengkar di rumah,” lanjutnya.
Kamil membuang muka mendengar perkataannya jujur dia tidak tahan melihat mamanya menangis karena dirinya. Dia tidak mau bersikap seperti Farhan kakaknya yang menurut setelah pernikahan pilihannya gagal, kakaknya memang lebih menurut dengan papanya karena merasa malu telah menolak perjodohan yang dulu ditawarkan oleh papanya.
”Papa tidak mau tahu, besok pernikahan itu akan dilakukan kau bersiaplah sebagai saudaranya kau harus mendukungnya jangan membuat kesalahan yang sama dengan mencari pasangan sendiri di luar yang belum jelas bibit bebet dan bobotnya mengerti!”
__ADS_1
Hamid pergi setelah mengucapkan kalimatnya. ”Mama dengarkan itu tadi, aku tidak mau dan tidak akan pernah menurut padanya soal jodoh itu urusan Kamil!”
”Kamil tunggu Nak!” teriak Alika namun Kamil tidak peduli dengan teriakannya dia punya tujuan sekarang bertemu dengan seseorang.