Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Menjemput Istri


__ADS_3

”Mas Daffa ...”


”Aku di sini Din, ibu sakit dan ini sedang kontrol. Kamu sendiri ngapain di sini?”


”A-aku sedang nungguin bapak, beliau mau dioperasi besok pagi.”


”Jadi kamu udah bertemu dengannya?” Daffa menggelengkan kepalanya tak percaya jika Medina memiliki keberanian untuk pulang.


”Jadi selama ini kau pulang ke rumah orang tuamu?”


Giliran Medina yang menggelengkan kepala. ”Aku di Jakarta Mas, tinggal di rumahnya Bang Kamil.”


”Bang Kamil tukang sayur itu? Kamu tinggal di rumahnya?” Daffa begitu berapi-api menanyakan hal itu pada Medina.


”Iya.”


”Astaga.” Daffa menatap tak percaya dengan pengakuan Medina kali ini kenapa dengan mudahnya wanita yang pernah dia cintai mau bersama dengan orang yang baru dikenalnya bahkan tinggal di rumah pria yang statusnya bukan suaminya.


”Tunggu kalian tinggal satu atap?” Daffa menguatkan diri menanyakan hal itu pada Medina.


”Tidak, lebih tepatnya belum.”


”Apa maksudmu dengan kata ’belum’ jangan katakan jika kalian sedang pendekatan?” Daffa mencoba menepis segala prasangka ya ada wanita di depannya ini namun sedetik kemudian,


”Kami baru saja menikah dan itu juga atas restu dari bapakku.”


Duaarrr!


Hati Daffa hancur berantakan mendengar pernyataan Medina tentang hubungannya dengan tukang sayur aka Bang Kamil. Wajah tidak bersahabat terlihat jelas Daffa kecewa mendengar pengakuan mantan istrinya itu.


”Maaf aku harus masuk Mas, bapak pasti sudah menunggu lama di dalam kasihan beliau sendirian.”


Medina melangkah pergi meninggalkan Daffa yang masih mematung di tempatnya dia benar-benar terpukul dengan pernyataan Medina, ada rasa sesak di lubuk hatinya kenapa dulu mau mengikuti permintaan ibunya untuk bercerai dengannya dan menikah dengan Lastri istrinya sekarang.


***


”Papa yakin akan jemput mama sekarang?” Malvin ingin ikut tapi Kamil melarangnya.


”Kau di rumah saja dengan Om Daren, dia juga baik kok. Papa hanya sebentar dan gak akan menginap di sana.”


Daren terkekeh melihat interaksi keduanya, dia tidak menyangka jika Kamil sahabatnya sudah dipanggil dengan sebutan papa dan lagi anaknya sudah beranjak dewasa.


”Dilarang tertawa!” seru Kamil.

__ADS_1


"Baiklah kamu jangan khawatir Nak, papamu menitipkan kamu hanya sebentar saja mungkin hanya tiga atau lima jam saja nanti juga segera pulang.”


”Terserah kau saja, hati-hati di jalan ya!”


Kamil pun pergi ke bandara menuju ke Semarang menjemput Medina, selang lebih dari satu jam perjalanan dia pun sampai di bandara Semarang dan langsung menuju ke rumah sakit tempat mertuanya sedang dirawat.


”Bang, kau sudah datang padahal baru tadi kita ngobrol lewat video call.”


”Iya, abang gak mau lama-lama berpisah,” ucap Malik membuat Medina bersemu merah mendengar pengakuan Kamil.


”Kita pamitan dulu sama bapak ya.” Medina masuk menarik tangan Kamil membuat pria itu berbunga-bunga menerima sikap seperti itu dari istrinya.


”Kalian jadi pulang hari ini?” suara Pak Ratno menginterupsi keduanya.


”Iya Pak, maafkan kami jika tidak bisa berlama-lama menunggui bapak. InsyaAllah nanti Medina akan sering-sering datang menjenguk bapak.”


”Mbak Tami, aku titip bapak ya jika ada apa-apa segera dikabari,” lanjut Medina.


”Nanti akan saya kirimkan uang bulanan untuk merawat bapak, tolong Mbak Tami jaga beliau dengan baik jika bapak ingin tinggal dengan kami justru kami akan sangat senang sekali,” papar Kamil dia juga ingin ikut ambil bagian dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang menantu yang baik.


”Tidak perlu Nak Kamil, cukup dengan kau menjaga putriku saja sudah senang buatku dan lagi tolong jangan kamu sakiti dia seperti mantannya itu.”


”Pasti Pak, saya akan menjaganya dengan baik. Kalau begitu kami permisi dulu.” Keduanya pun berpamitan tidak lupa Kamil meninggalkan amplop coklat pada Pak Ratno dan melunasi segala tanggungan biaya rumah sakitnya.


”Apa Kamil merepotkan Bang Kamil?” tanya Medina begitu duduk di pesawat kepalanya di sandarkan pada dinding pesawat.


”Nah seperti ini lebih baik.”


Keduanya duduk di kelas bisnis dan hanya beberapa orang yang ada di dalamnya, mereka tidak menyadari jika ada seseorang yang memotret kedekatan keduanya.


Hingga jam sebelas malam keduanya baru sampai di rumah.


”Aku balik ya,” pamit Daren.


”Malvin?” Kamil mencari putranya.


”Dia sudah tertidur habis sholat isya tadi.”


”Makasih ya.”


”Jangan makasih aja, jangan lupa bulan depan kasih tip di amplop milikku.”


”Oke.”

__ADS_1


Kamil menyusul Medina yang lebih dulu masuk ke kamarnya, wanita itu sudah tidak ada di kamarnya tapi sudah masuk ke kamar mandi.


”Astaga aku ditinggal rupanya,” desis Kamil.


Kamil segera mengunci pintu kamarnya khawatir Malvin akan masuk ke kamar tersebut. Medina keluar dan terhenyak melihat sosok suaminya berada di kamarnya.


”Bang Kamil,” lirih Medina membuat pria itu menoleh.


”Kamu sudah selesai?” tanya Kamil menghampiri istrinya tanpa rasa bersalah sedikitpun padahal dia melihat wanita itu hanya memakai handuk kecil yang melingkar sebatas dada dan paha.


Medina gugup ketika suaminya menghampirinya. ”Bang Kamil mau apa?”


Pertanyaan bodoh macam apa itu,” pekik Medina dalam hati karena dia sendiri salah tingkah diperhatikan begitu intens oleh pria itu.


”Bang Kamil mau mandi di sini juga?”


”Tentu saja ini kamarmu kan? Kamu cantik sekali Sayang,” bisik Kamil membuat Medina meremang seketika.


Kamil pun meraih tengkuk Medina hendak menciumnya namun kedua tangan Medina menahan dada bidang pria itu, tangan Medina bergetar karena menyentuh langsung roti sobek tersebut.


”Kenapa?” lirih Kamil.


”Mandi dulu Bang, memangnya Abang gak gerah seharian aktifitas?”


”Habis ini janji ya, kita main Abang udah gak tahan nih,” bisik Kamil.


Medina merona mendengar keinginan Kamil, dia tidak menjawab tapi melihat senyuman Medina, Kamil yakin jika wanita itu akan memberikan haknya malam ini.


’Cup’


Ciuman singkat mendarat di pipi Medina membuatnya semakin malu dengan sikap Kamil. ”Berhias yang cantik!” bisiknya sebelum benar-benar meninggalkan wanita itu ke kamar mandi.


Medina memilih pergi ke dapur setelah Kamil masuk ke kamar mandi. ”Ma, udah pulang?” Medina menoleh mendapati Malvin sedang mengucek kedua matanya.


”Kau terbangun karena suara mama masak air?”


”Tidak juga sebenarnya sudah sejak tadi hanya saja pintu kamarnya kan tertutup rapat jadi Malvin gak berani masuk, apalagi menggedor pintu.”


”Ya ampun kau ini lalu apa kamu udah makan malam?"


”Udah Ma, tadi Om Daren belikan aku nasi goreng ayam itu juga delivery order karena dia gak bisa masak rasanya lumayan lah buat ganjal lapar.”


”Kasihan sekali anak mama, udah lanjut tidur sana besok sekolah kan.”

__ADS_1


Malvin ke kamarnya tanpa bantahan sama seperti Medina yang kembali ke kamarnya dengan perasaan yang tak menentu.


”Ya ampun kenapa hatiku jadi dag dig dug tidak menentu begini,” lirih Medina.


__ADS_2