
Kamil dan Medina saling pandang begitu mendengar suara Malvin di pintu dapur. Kamil menggaruk alisnya dan segera keluar berlalu begitu saja karena dirinya malu pada putranya ini adalah kemesraan pertama yang diperlihatkan olehnya pada Malvin.
”Ada apa? Kamu membuatnya malu!” ucap Medina. Malvin masih menatap Kamil yang terus berjalan naik ke atas.
”Lagian siapa suruh bermesraan di dapur siang-siang begini,” cibir Malvin.
”Bagaimana persiapannya?”
”Sudah beres, Ma.”
”Syukurlah, apa perlu mama panggil kakekmu ke sini?”
”Tidak perlu kakek sudah berumur kasihan jika harus bolak-balik Jakarta - Semarang lagipula tempo hari saat Malvin di sana sudah pamitan kok.”
”Oh begitu.”
”Ma, tadi Tante Alea ke sini ngapain?” Malvin duduk berhadapan dengan Medina.
”Oh itu, dia kesini karena mama yang memintanya untuk datang mengambil perlengkapan bayi yang mama beli untuknya.”
”Kau terlalu baik!” kesal Malvin.
Medina tersenyum menanggapi perkataan putranya. ”Bagaimana dengan papamu, apakah kamu sudah memberitahukan padanya perihal rencanamu?”
”Belum, Malvin terlalu malas bertemu dengan wanita ular itu,” ucap Malvin.
”Mama tidak pernah mengajarimu untuk berlaku tidak sopan Nak, bagaimanapun dia adalah mama sambung buatmu sama halnya dengan daddy,” jelas Medina.
”Status mereka memang sama tapi sikap mereka terhadapku sangatlah berbeda jadi mama tahu kan kenapa aku begitu membencinya.”
”Jika semua orang sama maka dunia tidak akan penuh warna, ingat dari mereka kita bisa belajar banyak hal.”
Malvin hanya diam mendengar perkataan Medina. ”Satu hal yang harus kamu ingat, kamu itu memiliki adik yang lucu, jika ada waktu pergilah jenguk dia dan nenekmu jangan lupa bawa oleh-oleh untuk mereka.”
Malvin mengedikkan bahunya, ”Papa juga sebenarnya sering memintaku untuk datang ke rumah dan bilang jika istrinya sudah berubah tapi tetap saja Malvin masih belum bisa menerimanya.”
”Mama tahu kamu butuh waktu, ya sudah lebih baik kamu fokus dengan masa depanmu, kamu faham.”
Malvin mengangguk singkat. ”Makasih, Ma.”
Medina kembali ke kamarnya setelah mengembalikan bahan makanan pelengkap karena mie pesanan Kamil pun tidak jadi dia buatnya. Begitu masuk ternyata suaminya sedang rebahan di ranjang. Kamil, pria itu meminta Medina untuk naik dan duduk di sampingnya.
”Apa sudah selesai memberikan wejangan pada Malvin?” tanya Kamil memiringkan posisinya mengarah ada Medina.
”Sudah, kamu malu Bang?”
”Iya sedikit,” sahut Kamil tersenyum kecil mengingatnya.
”Bang Kamil tidak perlu khawatir dia kan sudah dewasa tentunya sudah bisa membedakan baik dan buruknya. Hanya saja sampai sekarang dia masih belum bisa menerima kehadiran Lastri mungkin dia masih berpikir jika wanita itu yang telah mengambil papanya dariku, padahal neneknya sendiri yang mendesak Mas Daffa untuk menikahinya,” terang Medina.
__ADS_1
”Sudah jangan dibahas lagi, semua sudah berlalu pikirkan masa depan saja itu lebih baik.”
”Mm.”
”Tapi Bang apakah Riezka tidak apa-apa jika dia ikut pergi bersama dengan Malvin karena yang jadi masalahnya kan di sana pasti lama.”
”Aku sudah bicara padanya tadi pagi yang jelas dia hanya perlu menyiapkan diri saja soal biaya atau apapun itu aku yang menanggungnya jadi dia hanya perlu belajar dengan baik selama di sana.”
”Terima kasih.”
”Untuk apa?”
”Karena sudah banyak membantuku belakangan ini.”
”Itu sudah menjadi kewajibanku dan satu lagi aku harap kamu tidak terlalu dekat dengan Alea.”
”Kenapa Bang?”
”Aku melihatnya lain, apalagi tempo hari di rumah mama saat mendengar cerita tentang Bang Farhan. Kamu pasti faham kan maksudku?”
Medina mengangguk singkat karena dirinya juga merasa risih atas sikap Alea yang seakan berlebihan apakah itu karena hormon wanita hamil yang ingin dimanja. ”Baiklah.”
***
Keributan terjadi di rumah Kamil sepagi ini, mereka disibukkan dengan kegiatannya masing-masing. Kamil yang sibuk membantu Medina di dapur sedangkan Riezka menata meja makan. Malvin? Jangan ditanya dimana anak itu karena faktanya dia justru sedang bersantai duduk manis di depan layar komputer bermain game kesukaannya.
”Riezka, tolong panggilkan Malvin minta dia segera bersiap untuk ke sekolah,” ucap Medina.
”Buruan sarapan dan bersiap!” seru Riezka.
”Mm, baiklah.” Dengan cepat Malvin segera bangun khawatir Medina akan marah karena ketahuan bermain di jam sibuk.
”Mari sarapan,” seru Medina begitu di meja makan lalu menatap ke arah Malvin. ”Kemana saja kamu, Nak?”
Seluruh pasang mata menatap ke arah Malvin, bocah itu menunduk karena khawatir.
”Maafkan Malvin tadi Malvin main game sebentar, Ma.”
”Lain kali jangan diulangi jika orang di rumah sibuk, segera bantu!”
”Iya, Ma,” sesal Malvin merasa bersalah.
”Daddy dengar hari ini kamu akan pergi ke rumah papamu, apa itu benar?” tanya Kamil.
”Ya, Dad!”
Kamil pun mengangguk dan mengeluarkan dompet dan memberikan kartu miliknya. Malvin bingung maksud Kamil.
”Untuk apa Dad?” Malvin beralih ke arah Medina.
__ADS_1
”Belilah sesuatu untuk mereka minta Riezka untuk membantu memilihkan kado yang tepat buat adikmu daddy dengar dia berulang tahun hari ini,” jelas Kamil.
”Darimana daddy tahu?” Malvin penasaran padahal dirinya tidak menceritakan sesuatu pada Kamil begitu juga dengan Medina.
”Apa yang tidak Daddy ketahui, makanya jangan macam-macam!” Malvin pun tergelak melihat ekspresi Kamil yang melirik ke arah istrinya Medina.
”Kami berangkat!” pamit Malvin bersama dengan Baron.
’Hati-hati,” jawab Kamil. ”Baron setelah mengantarkan Malvin tolong ke kantor ada yang ingin aku bicarakan bersama denganmu.”
”Siap bos!” Keduanya pun pergi meninggalkan rumah Kamil Mahendra.
”Aku berangkat dulu jika ada apa-apa segera hubungi aku mengerti!”
”Baik dan aku yakin semua kan baik-baik saja,” sahut Medina
”Oke.”
Kamil pun segera menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan rumah, dirinya harus bertemu dengan Daren karena pria itu akan menikah dengan Christy.
”Bos,” sapa Christy begitu melihat Kamil masuk ke lobi.
”Bukankah kamu seharusnya mengambil cuti kenapa masih berkeliaran di kantor.”
”Ya itu ... kami masih ada sedikit pekerjaan jadi sengaja datang ke sini untuk menyelesaikannya lebih dulu.”
”Oh. Tolong katakan pada Daren nanti untuk ke ruanganku ada hal yang akan aku bicarakan dengannya.”
Christy mengangguk sedangkan Kamil terus saja berjalan menuju ke ruangannya, begitu masuk Hamid sudah ada di sini menunggunya. ”Ada apa sepagi ini papa kemari, bukankah anak kesayangan sudah memberi kabar?”
”Astaga, begini caramu menyambut papa?”
Kamil duduk di samping Hamid, ”Pa, sebaiknya papa temui langsung Bang Farhan itu lebih baik. Nasehati dia karena istrinya saat ini pun sedang membutuhkannya.”
”Bukankah Alea berada di rumah mamamu, papa yakin dia tidak kekurangan apapun dan lagipula istrimu juga bisa ikut menjaganya bukan?”
Kamil menoleh kesal pada Hamid. ”Apa maksud papa bicara begitu?”
”Bukankah istrimu itu sudah tidak bisa lagi memberimu keturunan, dia pasti bahagia jika merawat bayi Alea.”
Kamil mengepalkan tangannya menahan amarahnya. ”Papa tahu semua tentang kondisi istrimu itu, rawat saja anak Alea bukankah itu lebih baik kamu juga punya pewaris nantinya.”
”Aku tidak akan merawat bayi siapapun, jikapun aku tidak memiliki seorang anak dari istriku, aku masih memiliki Malvin putra tiriku.”
Hamid kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Kamil kenapa putranya justru lebih percaya dengan anak orang. ”Kamu tidak tahu bagaimana wataknya, apakah kamu yakin akan memberikan semua hartamu padanya ingat dia hanya anak orang.”
”Dia tetap anakku dan akan aku didik dia dengan baik.”
Hamid mengeram kesal mendengar jawaban dari putranya, alih-alih kembali bersuara dirinya justru pergi meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Kamil mengusap wajahnya dirinya tidak jujur pada Medina tentang operasi pengangkatan rahim istrinya karena khawatir Medina akan berkecil hati dengan kondisinya. Bagaimanapun kondisinya Kamil tetap akan mencintai wanita itu, biarlah Malvin yang akan menjadi penggantinya itulah yang selalu dia pikirkan.
”Bagaimana aku harus menjelaskannya padamu,” lirih Kamil.