
”Ma, bolehkah Malvin pergi ke rumah nenek bersama dengan papa?” Medina menatap Malvin yang tiba-tiba ingin menemui neneknya. ”Malvin gak akan menginap kok Ma,” lanjutnya.
”Kenapa mendadak kamu ingin pergi ke sana?”
”Malvin kangen saja sama nenek!” seru Malvin.
”Baiklah nanti biar Om Baron yang menjemputmu jika kau mau pulang.”
Malvin mengangguk senang, sudah beberapa hari dia tidak melihat papanya mengajar di sekolah. Malvin ingin mengunjunginya memastikan jika Bu Yanti neneknya baik-baik saja. Begitu tiba di sekolahan, Malvin langsung berpesan pada Baron untuk tidak menjemputnya karena siang ini dia akan pergi bersama papanya.
”Baiklah jika ada sesuatu segera hubungi saya, nanti saya akan datang menjemput Anda Tuan Muda Malvin,” goda Baron.
”Ya ampun tidak bisakah kau berhenti menggodaku aku bukanlah siapa-siapa tanpa Daddy. Pergilah bantu dia di kantor!”
”Baik.” Baron menunjuk pada seorang gadis yang ada di pintu gerbang dia adalah Saskia. Teman wanita yang belakangan gencar mengejarnya.
”Ish, dia lagi dia lagi bosan aku,” ujar Malvin melangkah masuk.
Keduanya nampak terlihat obrolan kecil hingga akhirnya Malvin melihat Daffa berjalan ke arah kantor. ”Aku tinggal dulu ya.” Malvin segera meninggalkan Saskia dan mengejar Daffa.
”Pa,” panggil Malvin dengan nafas tersengal-sengal.
”Astaghfirullah, kenapa berlari-lari seperti itu. Ada apa?” tanya Daffa memberikan botol air minumnya dan duduk di bangku koridor sekolah.
Malvin meminum air tersebut hingga tersisa setengahnya saja. ”Pa, bolehkah nanti aku ikut ke rumah?”
Daffa mengerutkan keningnya tidak biasanya putranya berinisiatif untuk pulang ke rumahnya. ”Tentu saja boleh, papa malah senang jika kau mau ikut ke rumah.”
”Papa jangan salah paham dulu, Malvin pengin ketemu dengan nenek.” Malvin memberikan paper bag pada Daffa.
”Apa ini?”
”Ini oleh-oleh dari mama buat nenek.”
”Terima kasih.”
”Malvin tunggu di depan sekolah nanti, bye!”
Daffa menggelengkan kepalanya melihat sikap anaknya itu, Malvin semakin dewasa.
Bunyi bel sekolah terdengar menandakan jika jam pelajaran usai, semua siswa pun berhamburan keluar untuk pulang ke rumah. Malvin sengaja untuk berlama-lama di kelas dia ingin keluar paling akhir agar tidak terlalu lama menunggu Daffa.
”Ayo pulang!” ajak Saskia.
”Kamu duluan saja, aku mau ada perlu.”
__ADS_1
”Baiklah, sampai jumpa.”
Malvin berjalan keluar dan duduk di samping pintu gerbang menunggu Daffa keluar dari kantornya. Suara motor terdengar Malvin menoleh mendapati Daffa sudah siap untuk pulang.
”Yuk!” Daffa memberikan helm pada Malvin keduanya pun pulang bersama.
Di rumah Daffa.
Suara tangis bayi terdengar begitu jelas, dia adalah anaknya Daffa dengan Lastri yang baru saja lahir beberapa hari yang lalu karena itulah alasan Daffa tidak ke sekolah beberapa hari yang lalu.
”Suara siapa itu Pa?” tanya Malvin begitu sampai di rumah Daffa.
”Suara adikmu, mama Lastri baru saja melahirkan beberapa hari yang lalu karena itulah papa gak datang ke sekolah. Yuk!” balas Daffa mengajak Malvin masuk ke rumah.
Setelah mengucap salam keduanya masuk, Bu Yanti yang melihat cucunya datang langsung menyambutnya dengan senang. ”Kamu datang ke sini Malvin, bagaimana kabarmu Nak? Nenek kangen sekali loh sama kamu,” tanya Bu Yanti.
Lastri yang mendengar perkataan tersebut langsung memutar bola matanya malas mendengar perkataan ibu mertuanya itu. Melihat hal itu Daffa langsung menyuruh Lastri membuatkan minum untuk keduanya.
Daffa menggendong putrinya dan mendekatkannya pada Malvin. ”Lihatlah adikmu cantik kan?” ucap Daffa.
Malvin hanya mengangguk saja dia tidak mau berdekatan dengan adiknya dan lebih memilih bersama dengan neneknya.
”Kamu kenapa begitu, biar bagaimanapun dia juga adikmu loh,” ucap Bu Yanti mengingatkan Malvin.
”Malvin belum siap saja Nek, mama di rumah juga sedang hamil,” ucap Malvin.
”Beberapa hari yang lalu mama masuk rumah sakit dan ternyata dia sedang hamil hanya saja dia harus istirahat total karena kandungannya lemah,” ungkap Malvin.
”Semoga semua baik-baik saja.”
”Aamiin.”
***
Kamil menanyakan hal kenapa Baron masih saja di rumah padahal sudah saatnya menjemput Malvin di sekolahan Medina pun menjelaskan tentang keinginan putranya itu dan keberadaannya saat ini.
”Aku kira dia pergi untuk belajar kelompok, karena biasanya seperti itu. Udah minum vitamin kan?” Medina mengangguk.
”Jaga bayi kita baik-baik ya, aku akan melakukan apapun buat menjaga kalian semua.” Malik mengusap perut Medina yang masih rata.
”Jangan berlebihan ini geli sekali!” ucap Medina menyingkirkan tangan Kamil dari perutnya.
”Ya ampun padahal aku suka sekali seperti ini,” balas Kamil. ”Masa gak diperbolehkan,” rengeknya.
”Aku geli Bang, jangan diteruskan!” ucap Medina membuat Kamil terkekeh baru kali ini dia mendengar Medina bersikap tegas padanya.
__ADS_1
”Maaf,” bisik Kamil.
ponselnya bergetar segera dia mengangkatnya dengan cepat.
”Hallo.” Kamil bangkit dari duduknya menuju ke balkon.
”Siang ini kamu gak datang ke kantor?”
”Ada apa?”
”Papamu baru saja datang dan marah-marah dengan karyawan di sana.”
”Astaghfirullah, kau kondisikan dulu keadaannya aku ke kantor sekarang!”
Bip.
Dengan cepat Kamil segera berpamitan pada Medina, namun dia tidak menceritakan apa yang sedang terjadi karena tidak mau wanitanya itu ikut khawatir.
”Habis ini kamu jemput Malvin ya,” titah Kamil.
”Baik bos!” balas Baron tetap fokus pada kemudi.
Kamil langsung masuk dan membiarkan Baron pergi. Beberapa karyawan memandangnya dengan tatapan heran karena penampilannya yang terlihat sangat santai karena dia memakai sandal rumahan. Ya, Kamil tidak sempat mengganti sandalnya sebelum pergi.
”Astaga lihat penampilanmu!” tegur Daren.
Kamil melihat dirinya sendiri dengan santai. ”Memangnya ada yang salah dengan penampilanku?” Daren hanya menggelengkan kepala melihat sikap Kamil, sahabatnya itu tidak pernah gengsi dengan apapun itu meskipun terlihat receh sekalipun.
”Bagaimana?”
”Papamu marah karena para karyawan sudah tidak respect padanya. Itu karena sikapnya yang berlebihan, beliau belum bisa move on menerima kenyataan yang sekarang sedang dia jalani.”
Kamil mengusap wajahnya, dia yakin papanya masih ingin diperlakukan layaknya seorang bos tapi kembali pada rekam jejak kerjanya yang buruk membuat karyawan malas untuk sekedar menghormati dirinya.
”Berapa orang yang bersikap begitu padanya?”
”Hampir semuanya,” sahut Daren membuat Kamil membelalak. ”Sebagian justru dengan terang-terangan bersikap sinis padanya itu karena rasa tidak puas mereka dengan kepemimpinannya selama ini.” Daren menghela nafasnya. ”Aku harap kau tidak sepenuhnya menyalahkan para karyawan yang membenci papamu karena bagaimanapun mereka ikut andil juga dalam membangun perusahaan ini.”
”Ya aku tahu itu tanpa mereka tak akan ada apa-apanya, nanti aku akan mengurus mereka. Sekarang dimana papaku, apa masih di sini?”
”Di ruanganmu temui dia dan bicaralah baik-baik, jangan adu mulut apalagi adu otot ingat dia papamu!”
Kamil bergegas ke ruangannya untuk menemui Hamid dan ternyata papanya itu sedang bersama dengan orang lain dan terlihat sangat dekat.
”Kenapa dia ada di sini bukankah, seharusnya dia di kantornya?”
__ADS_1