Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Jangan Coba-coba


__ADS_3

”Aku sedang berhalangan Bang,” ucap Alea membuat Farhan berwajah muram seketika karena apa yang dia inginkan tidak tersalurkan.


”Maafkan aku,” sesal Alea.


Farhan mencoba menghibur dirinya sendiri dan tidak ingin membuat Alea sedih karena bagaimanapun itu bukanlah hal buruk mereka bisa melakukannya lain waktu.


”Sudahlah kita bisa melakukannya besok kalau kau sudah bersih atau saat masa subur biar kita bisa memberikan cucu untuk mama,” hibur Farhan.


”Kau benar Bang, sebaiknya kita istirahat besok aku antar kau ke kantor.”


Alea menoleh ke arah Farhan karena pria itu bersikap manis padanya saat ini dan itu justru membuat Alea sedikit curiga ada apa dengannya.


Alea mencoba untuk tidak mempermasalahkan perubahan sikap Farhan karena pagi itupun Farhan masih bersikap manis dengan membukakan pintu mobil dan mengantarkannya hingga masuk ke lift.


”Nanti siang aku jemput kau, di lobi kita makan siang bersama.”


Cup


Farhan segera meninggalkan kantor dimana Alea bekerja yang tidak lain adalah kantor Kamil adiknya. Alea tersenyum-senyum sendiri mengingat sikap manis Farhan padanya hingga lamunannya tersadar oleh panggilan Fajar yang mengagetkannya.


”Duh melamun nih, masih pagi sudah senyum-senyum sendiri semalam udah dikasih plus-plus ya?” goda Fajar teman satu divisinya.


”Apaan orang aku sedang libur juga,” sanggah Alea. ”Tapi anehnya suamiku bersikap manis sekali padaku, kenapa dia bersikap demikian?”


”Kau ini ada-ada saja, bersikap manis dicurigai bersikap acuh kamu pun protes dengannya lalu maunya bagaimana?”


"Ya aneh saja gitu, aku ingat bagaimana reaksi wajahnya saat tahu jika aku sedang libur semalam.”


”Hati-hati jangan sampai dia mencari penyaluran di luar sana,” ujar Fajar.


”Eh? Benarkah darimana kamu tahu atau jangan-jangan kamu sudah pernah mempraktekannya?”


Fajar menutup mulutnya sendiri dia merasa sudah salah bicara pada temannya sendiri.


***


”Nek, kapan mama sama papa pulang?” Malvin segera menghabiskan sarapannya dengan cepat karena hari ini adalah tes untuk kenaikan kelasnya membuatnya begitu bersemangat karena setahun lagi dia akan lulus dan masuk universitas impiannya.


”Bisa jadi seminggu lagi,” jawab Alika berusaha menahan tawanya dia tahu jika cucunya itu sangat merindukan Medina.


”Hah lama sekali,” Malvin menunduk kemudian.


”Kenapa kamu gak betah tinggal sama nenek?”


”Bukan begitu, Malvin kangen sama mama lagian kenapa sih Nek, pakai jauh-jauh segala hingga ke Eropa di negeri sendiri saja alamnya masih bagus!”


”Iya memang tapi ... namanya juga hadiah, nenek kasih hadiah sama mereka berdua masa ditolak bukankah tidak boleh menolak rezeki.”


Malvin menganggukkan kepala, ya karena bagaimanapun dia harus tetap bersyukur karena neneknya perhatian dengan Medina. ”Malvin berangkat dulu ya Nek, doakan Malvin bisa mengerjakan soal dengan baik,” ucap Malvin pada Alika.


Alika bahagia karena merasa dihargai olehnya meskipun Malvin itu bukanlah cucu dari keturunannya sendiri. ”Baron, antar dia ke sekolah.”


Keduanya segera meluncur ke sekolah, Malvin yang lebih banyak diam membuat Baron bertanya-tanya kenapa dia berbeda hari ini.

__ADS_1


”Ada apa?” tanya Baron tanpa menoleh keduanya seperti seorang teman karena belakangan ini mereka berdua sangat dekat.


”Aku merindukan mama,” balas Malvin.


”Hanya mama saja tanpa papamu? Atau kau rindu dengan papa kandungmu bukankah kau baru saja bertemu dengannya kemarin siang.”


Malvin tersenyum mendengar perkataan Baron, ”Aku kasih tahu kamu, semalam papaku itu menghubungiku dan memberitahukan diriku jika dia akan mengajar di sekolah yang sama denganku. Coba kau pikirkan apakah semua ini takdir kenapa aku harus dipertemukan lagi dengan mereka.”


”Syukuri saja, pasti ada hikmahnya kau bertemu lagi dengan mereka, tapi apakah nenekmu itu masih sama judesnya kayak dulu.”


”Entahlah aku juga tak tahu.” Malvin turun dari mobil dan segera disambut oleh Saskia teman satu kelasnya yang belakangan ini terus mengikutinya.


”Belakangan ini papamu gak antar kamu ke sekolahan?” tanya Saskia mengikuti langkah Malvin.


”Kenapa kau menanyakannya bukankah lebih baik kau menanyakan kabarku?” Malvin sedikit kesal karena sahabatnya itu masih saja menanyakan perihal papa tirinya, jangan salahkan Saskia karena dia sedang masa puber tapi haruskah dia menyalahkan papanya juga yang kelewat tampan.


”Huh, apa kau sedang cemburu?”


”Tidak.”


”Lalu kenapa kau tampak marah seperti itu?”


Malvin menghentikan langkahnya membuat Saskia menabrak punggung Malvin.


Dak!


”Ish, kau mengagetkanku kenapa berhenti mendadak!”


”Aku marah padamu karena dia itu suami mamaku, jadi jangan coba-coba menganggunya lagipula papaku itu tidak akan menyukai bayi macam kamu!” Malvin kembali melangkahkan kakinya menuju kelasnya dia hampir saja terlambat karena lima meter dari dia berdiri Daffa sedang melangkah menuju ke kelasnya.


Malvin menjadi tidak fokus mengerjakan soal ujian lantaran Daffa selalu memperhatikannya membuatnya tidak nyaman apalagi beberapa kali dia kepergok sedang melamun hingga akhir tes selesai Daffa memanggilnya.


”Malvin bisa papa bicara sebentar?”


Malvin menghentikan langkahnya tanpa berbalik. ”Apalagi sih Pa? Kenapa juga papa harus berada di sini padahal ada ribuan sekolah di kota ini.”


”Maafkan papa, Malvin papa mau menanyakan sesuatu padamu.”


Malvin pun berbalik menatap Daffa tak berkedip, ”Soal apalagi?”


”Apa kau bahagia bersama dengan mamamu?”


Mendengar pertanyaan konyol tersebut membuat Malvin ingin tertawa, ”Apa tidak ada pertanyaan lain selain itu?”


”Malvin dengarkan papa Nak, nenekmu merindukanmu beliau berharap bisa bertemu denganmu. Kemarin papa bercerita jika baru saja bertemu denganmu di toko buku, dia sangat antusias sekali dan berharap kau bisa datang menjenguknya.”


”Datanglah Nak,” ucap Daffa memberikan secarik kertas pada Malvin dan menepuk bahunya sebelum dia benar-benar melangkah pergi.


Malvin sendiri segera membuka kertas tersebut setelah Daffa menghilang dari balik pintu. ”Alamat rumah,” gumam Malvin lalu segera menyimpannya di kantong bajunya.


***


”Sayang, kau sudah bangun?” Kamil membuka kedua matanya perlahan dilihatnya Medina sudah duduk di depan meja rias sedang menyisir rambutnya.

__ADS_1


”Kita jadi ke rumah mama hari ini?” tanya Medina setelah selesai merapikan rambutnya berbalik menatap ke arah Kamil yang masih malas-malasan di tempat tidur.


”Nanti malam saja ya, aku masih ingin berduaan.”


”Ya ampun Bang udah sepuluh hari loh kita berduaan, jangan bilang ya Abang tuh gak puas!” Medina menatap ke arah Kamil intens.


Kamil hanya nyengir mendengar penuturan Medina, apa yang dikatakan oleh istrinya itu memang ada benarnya juga tapi mau bagaimana lagi dia selalu ingin lagi dan lagi jika ada di dekat wanita itu.


”Aku mandi dulu kita jemput Malvin di sekolah bagaimana?” tawar Kamil.


”Gak perlu kita langsung ke rumah mama saja karena Malvin pasti sudah pulang karena hari ini dia mulai ujian.”


Kamil beranjak dari ranjang segera menuju ke kamar mandi sedangkan Medina wanita itu memilih keluar untuk melihat tanamannya yang sudah dia tinggal selama beberapa hari, sebagian daunnya tetap terlihat segar mungkin Baron menyiraminya setiap hari karena Kamil sudah berpesan padanya untuk menjaga tanamannya.


”Kau sudah siap?” Medina menoleh begitu mendengar suara Kamil.


”Mm, kita berangkat sekarang?” Kamil mengangguk menggandeng tangan istrinya.


”Kenapa kamu begitu khawatir dengan tanaman-tanaman tersebut, bukankah jika mati bisa beli lagi.”


”Ya memang sih tapi jika sudah dari awal merawatnya kan sayang jika sampai mati apalagi daunnya menguning seperti tidak dirawat.”


”Bukankah daun itu yang ada di kamar mandi?” Kamil mencoba mengingat kapan hari pernah melihat beberapa daun sirih berada di tempat sampah kamar mandi.


”Ya itu benar Bang, kenapa?”


”Buat apa? Maksudnya kegunaannya?” Kamil sengaja memancing Medina untuk jujur.


”Ya untuk sesuatu lah masa Abang gak tahu?” balas Medina.


”Ya karena gak tahu makanya nanya daripada tersesat karena menduga-duga dan ternyata dugaannya salah bagaimana?”


Medina malu jika harus berterus terang dan itu sangat terlihat jelas di wajahnya dan Kamil bisa mengetahuinya.


”Sudahlah gak usah dijelaskan Abang dah tahu kok, kenapa tidak pakai yang praktis saja bukankah sekarang banyak sekali produk seperti itu?”


”Iya kan gak pakai setiap hari Bang, tapi ada bedanya kan?” kilah Medina.


”Iya memang lebih keset apalagi waktu pertama kali mencobanya,” ucap Kamil diiringi senyuman membuat Medina menjadi malu.


”Dah gak perlu malu lagi, kita udah tahu satu sama lain kenapa harus malu.”


Kamil membelokkan mobilnya dan membunyikan klaksonnya meminta sekuriti membukakan pintu gerbangnya. Keduanya turun dan segera ke rumah, Kamil meneriaki Alika kebiasannya yang tidak pernah hilang darinya.


”Maa,” teriak Kamil.


”Loh kalian sudah pulang?” Alika terkejut melihat keduanya.


”Malvin dimana Ma?” tanya medina mencari sosok putranya.


”Dia belum pulang,” jawab Alika.


”Bukannya dia pulang jam sebelas? Ini udah lewat jam satu.”

__ADS_1


”Malvin, dimana kamu Nak?” lirih Medina khawatir dengan putranya yang belum kembali.


__ADS_2