Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Sebuah Kejutan (1)


__ADS_3

”Sebenarnya ... sudah lama Kamil ingin mengutarakannya sama mama hanya saja Kamil masih mengumpulkan keberanian untuk ini.” Kamil menoleh ke arah papanya dengan sinis lalu menggulir ponselnya dan menghubungi seseorang untuk datang ke ruangannya.


”Tunggu ya Ma, orang itu sedang ke sini dan papa sendiri ada di kantorku.” Kamil berbalik dan mengintimidasi Hamid membuatnya tak berkutik hal itu tentu saja tidak lepas dari pengamatan Alika. Orang yang semalam marah pada Alika kenapa sekarang menjadi lembek di depan putranya sendiri hal itu menjadi tanda tanya yang besar di hati Alika.


”Pa, kenapa papa masih ada di sini, tamunya sudah datang dan mereka sedang menunggu sekarang,” ucap Farhan tiba-tiba datang. Kamil merasa senang karena dia bisa leluasa menjelaskannya pada Alika setelah papanya pergi.


”Papa sedang ingin bicara dengan mama jadi papa ke sini.” Hamid tidak dapat menyembunyikan rasa khawatir di wajahnya itu.


Apalagi yang akan dia katakan merubah cerita asli menjadi karangannya yang benar saja, Kamil tidak akan tinggal diam sekarang banyak yang harus diluruskan olehnya mengenai Hamid papanya. Kamil tak mau Alika semakin dalam terluka.


”Sebaiknya kalian pulang dan temui klien yang datang kasihan mereka jauh-jauh datang tapi kalian justru mengecewakannya, ingat mencari partner yang baik dalam berbisnis itu sangat sulit jadi jangan sia-siakan rezeki yang datang,” bisik Kamil mengusir keduanya membuat Hamid mengeram kesal mendengarnya.


”Sayang, aku harus kembali ke kantor. Apakah kau mau ikut denganku?” bujuk Hamid.


”Tidak pergilah karena aku sedang ada urusan dengan putraku lagipula aku memang sengaja datang kesini untuknya,” papar Alika.


Kamil menatap tajam pada Hamid entah keberanian darimana dia melakukannya tapi yang pasti dorongan rasa sakit hati karena Alika yang tersakiti membuatnya semakin bertekad untuk membongkar kebusukan papanya. Hamid dan Farhan pun pergi meninggalkan kantornya Kamil.


Tidak berapa lama Baron datang dengan membawa amplop berwarna coklat. ”Ini bos, apa ada lagi yang harus saya lakukan?”


”Tunggu jam pulang sekolah jemput Malvin ya karena aku gak mungkin jemput dia nanti ada rapat penting.”


Alika menatap amplop tersebut lalu beralih ke arah Kamil, pria itu hanya mengangguk singkat. Dengan sedikit ragu Alika membukanya, tangannya gemetar begitu melihat apa yang ada di tangannya sementara wajahnya pucat pasi. Sebenarnya Kamil tidak tega melihat Alika seperti itu tapi jika dibiarkan berlarut-larut dia khawatir akan semakin menjadi beban untuknya.


”Darimana kamu mendapatkan ini semua?” tanya Alika kedua netranya masih melihat-lihat tumpukan foto di tangannya.


”Mama tidak perlu meragukan kevalidan foto tersebut, Kamil tidak mau mama semakin menderita.” Kamil memberikan ponselnya ada Alika sebuah video kedekatan papanya dengan gadis belia terlihat di sana. Alika menangis!


Kamil sendiri hanya bisa memalingkan kepalanya karena tidak tega melihatnya, dia membiarkan mamanya meluapkan segala kesedihannya hingga beberapa saat baru Kamil menghampiri dan merengkuh bahu Alika yang tengah terisak dengan tubuhnya bergetar.

__ADS_1


”Yang sabar ya Ma, ada aku yang akan selalu ada buat mama,” ucap Kamil mencoba menenangkan wanita itu, dia menjelaskan apa yang dia ketahui selama ini pada Alika tanpa dia sembunyikan lagi.


***


Beberapa hari berlalu terjadi perang dingin di antara orang tua Kamil, Hamid dan Alika bersitegang. Kamil sendiri tak mau ambil pusing dengan keadaan tersebut dan memilih untuk tetap fokus dengan keluarga barunya karena dia sendiri merasa tidak berhak ikut campur meskipun sesekali dia tetap memberikan masukan pada Alika tentang tindakan apa yang harus dilakukannya.


"Ayolah Sayang, kita sudah terlambat!” rengek Kamil pada Medina.


”Kamu yakin gak akan ikut kami berdua?” Kamil memastikan Malvin yang ingin tetap di rumah.


Malvin menggaruk tengkuknya dan tersenyum kecil, "Malvin malu Pa, lagipula itu kan acaranya orang dewasa.”


”Kata siapa, siapapun boleh kok datang kok nenek juga ada di sana.”


”Sudahlah kalian saja yang pergi Malvin mau menonton tv di rumah,” tolak Malvin.


”Kami pergi ya, hati-hati di rumah ingat kunci semua pintu Baron akan datang sepuluh menit lagi biarkan dia masuk buat temani kamu.”


”Apa perlu kita jemput mama?” usul Medina.


”Tidak perlu beliau sudah dalam perjalanan ke sana.” Kamil menoleh sekilas ke samping Medina terlihat cantik meskipun sudah memiliki anak yang besar.


”Apa kita perlu menambah momongan segera?” Medina langsung menoleh ke arah Kamil.


”Maksudnya Bang? Mau ... ”


”Iya, aku ingin apalagi anaknya cantik kayak mamanya, memangnya kamu gak mau?”


”Aku masih ingin menikmati kebersamaan kita dulu Bang, gak apa kan?” ucap Medina ragu dia khawatir jika Kamil akan marah padanya.

__ADS_1


”Tidak masalah kita juga masih muda kan, aku rasa bisa melahirkan kembar sekaligus empat itu akan sangat membahagiakan bukankah begitu?” ucap Kamil terkekeh kecil mendengar perkataannya sendiri.


Mobil Kamil berhenti tepat di depan pintu utama Kamil menyerahkan kunci mobilnya pada sekuriti hotel dan berlalu masuk menggandeng istrinya. Puluhan mata memandang ke arahnya tidak lebih tepatnya mereka berdua karena baru kali ini Kamil terlihat menggandeng seorang wanita cantik ke sebuah pesta.


Pesta perusahaan berlangsung cukup meriah Hamid selaku pemegang perusahaan tersebut memanjakan semua karyawannya bahkan sengaja memberikan libur beberapa hari. Hamid pun tidak segan-segan untuk memberikan bonus pada karyawan yang telah berjasa di perusahaannya.


Sorotan lampu blitz terus saja mengarah pada mereka berdua, jujur Medina merasa malu dan tidak menyangka jika dia akan berada dalam situasi seperti ini.


”Aku malu Bang,” bisik Medina. Kamil semakin mengeratkan genggaman tangannya setelah mendengar pengakuan Medina.


”Kita cari mama ya,” ucap Kamil melangkah ke arah konsumsi biasanya mamanya akan standby di sana dan benar saja Alika sedang menikmati hidangan terlezat di hotel milik Kamil ini.


”Bagaimana pelayanannya Ma, apakah memuaskan?” tanya Kamil begitu sampai di meja Alika.


”Sangat memuaskan, oh iya mama punya kejutan untukmu.”


Kamil menaikkan sebelah alisnya mendengar penuturan Alika lalu menarik kursi memberikan akses pada Medina untuk duduk lebih dulu.


”Kejutan apa Ma?” Kamil duduk bersebelahan dengan Alika.


”Nanti kau juga akan tahu,” ucap Alika membuat Kamil penuh tanda tanya karena tidak biasanya mamanya bersikap seperti itu dengannya.


”Medina, makanlah yang banyak dan segeralah hamil berikan mama cucu yang banyak,” seloroh Alika membuat Kamil justru merasa malu kenapa harus bahasan soal anak lagi yang dibicarakan apakah tidak ada yang lain.


Alika bangkit menuju podium membuat seisi ruangan mengarahkan pandangannya ke arahnya.


”Mohon perhatiannya semuanya, ada suatu hal penting yang ingin saya sampaikan ada kalian semuanya.”


Seluruh undangan pun terdiam menunggu apa yang akan disampaikan oleh Alika. Hamid sendiri tampak tegang karena baru kali ini Alika berani maju dan berdiri di depan publik lebih tepatnya para karyawannya karena selama ini dia selalu bersembunyi di balik layar. Seketika keadaan menjadi tegang, mereka penasaran hal penting apakah yang akan disampaikan oleh pemilik perusahaan ini.

__ADS_1



Perkenalkan Medina 😍


__ADS_2