
”Tidak perlu aku yang akan menjelaskan semuanya padanya,” ucap Kamil tiba-tiba menarik Medina ke dalam pelukannya.
”Bang ... ”
”Semua akan baik-baik saja. Ayo kita pulang!” Kamil merangkul bahu Medina mengajaknya pulang ke rumah.
”Bang tolong jelaskan padaku!” lirih Medina mulai menitikkan air matanya Kamil yang melihat hal itu tentu saja tidak tega namun dirinya memang harus menjelaskan semuanya cepat atau lambat istrinya pasti akan tahu.
”Maaf ... waktu itu situasi darurat dan aku yang memutuskan semua itu dengan banyaknya pertimbangan.” Kamil menarik nafasnya banyak-banyak. ”Sayang, kamu tak perlu mengkhawatirkan apapun tentang semua ini aku tidak akan menuntut apapun darimu dan tolong kamu juga tidak akan menuntut apapun karena aku tulus menerimamu apa adanya,” jelas Kamil.
Medina terharu tapi dengan pengakuan Kamil, ”Tapi jika keluarga menuntut kesempurnaan dariku bagaimana Bang, bukankah Bang Kamil perlu seorang penerus?”
”Tak perlu memikirkan apapun karena kita tidak butuh penilaian mereka, aku akan membimbing Malvin dengan baik seperti putraku sendiri. Sudah jangan bersedih apalagi larut dalam kesedihan karena semua itu hanyalah sia-sia belaka bagiku yang terpenting kamu sehat.”
Medina memeluk Kamil erat tangisnya pecah dia bahagia karena memiliki pria yang sangat baik seperti suaminya. ”Makasih, Bang.”
”Kita balik yuk!” ajak Kamil.
”Bagaimana dengan Alea?”
”Tak perlu memikirkannya, keluarganya sedang dalam perjalanan ke sini mungkin nanti malam baru sampai jadi kita bisa istirahat dulu di rumah.” Keduanya melangkah pulang meninggalkan rumah sakit.
Di rumah Kamil.
”Apa mama belum pulang?” tanya Malvin duduk di samping Riezka yang sedang mengerjakan makalah.
”Belum, coba saja dihubungi,” jawab Riezka. ”Oh iya apa kamu sedang dalam masalah?”
Malvin diam. ”Aku bertengkar dengan papaku di sekolah, beliau tidak mengijinkan aku pergi padahal aku sudah sangat memimpikannya sejak dulu.”
”Lalu kenapa kamu diam saja? Bicarakan dengan yang lain jangan dipendam sendiri kamu tahu Tante sangat mengkhawatirkan dirimu,” ucap Riezka.
”Aku belum ada keberanian untuk mengatakannya,” sahut Malvin.
”Lebih baik terbuka dengan keluarga dan tidak mengecewakan mereka mengerti!”
”Baik nanti aku beritahu mama sama daddy tentang hal ini.”
Keduanya kembali fokus dengan kegiatannya masing-masing, hingga pintu terbuka mengalihkan fokus keduanya.
”Dad, Ma, bagaimana keadaan tante Alea?” tanya Malvin.
”Masih di ICU tapi bayinya sudah keluar, seorang gadis kecil cantik seperti mamanya,” ucap Medina.
”Oh, syukurlah.”
”Apa tante dan om sudah makan?” tanya Riezka.
__ADS_1
”Tidak perlu repot kami sudah makan tadi di jalan,” balas Medina.
”Malvin, ke ruangan Daddy sekarang ada yang ingin Daddy tanyakan.”
”Baik.” Malvin hanya mengikuti langkah Kamil ke ruangan kerjanya.
Kamil menatap ke arah Malvin. ”Ada masalah apa?”
”Dad ... papa melarang diriku pergi keluar negeri.”
”Alasannya?”
”Terlalu jauh sulit untuk dijangkau apalagi ekonomi papa tidak mungkin baginya pergi kesana untuk sekedar menjengukku,” ucap Malvin.
”Kamu tidak bilang padanya jika jaman semakin canggih dan jarak bukanlah penghalang bagi kalian berdua.”
”Sudah.”
”Kamu jangan memikirkan apapun biarkan saja besok Daddy yang akan bilang padanya,” ucap Kamil.
”Beneran Dad?”
Kamil mengangguk.
”Makasih.” Malvin nampak bahagia karena Kamil mau membantunya. Dia pun keluar dan membiarkan Kamil sendirian di ruang kerjanya.
Kamil terlihat lelah karena harus bolak-balik mengurus pekerjaan dan juga Alika yang sedang tidak stabil kondisi kesehatannya, Kamil yakin jika mamanya diam-diam memikirkan kakaknya bagaimanapun perasaan seorang ibu lebih peka dan meskipun anaknya berlaku buruk dia tetap akan memikirkannya. Kamil menghela nafasnya sejenak sebelum kembali ke kamarnya menyusul Medina.
”Semua sudah siap?” tanya Kamil begitu sampai di kantornya. Daren hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari Kamil.
”Apa kamu yakin?” Daren balik bertanya.
”Tentu saja untuk apa aku menggunakan sesuatu yang bukan milikku lagipula aku masih bisa cari sendiri,” sahut Kamil.
Dirinya akan memberikan aset milik Farhan pada putrinya sebelum kakaknya mengklaimnya lebih dulu mengingat kakaknya memiliki anak dari wanita lain terlebih Farhan sudah tidak memiliki hak lagi di perusahaannya karena semua aset miliknya telah dibeli olehnya.
”Kamu memang yang terbaik,” puji Daren.
”Sudahlah jangan memujiku aku khawatir migrain ku akan kambuh karena pujianmu itu,” sindir Kamil.
”Astaga kamu.”
”Pesta pernikahanku nanti malam jika kamu tidak sempat datang tidak masalah yang penting doa kalian semuanya dan jangan lupa amplopnya,” ucap Daren membuat Kamil geleng-geleng kepala.
”Sudah aku transfer kamu lihat saja akun milikmu,” seru Kamil.
Daren segera mengeceknya dan membelalak melihat nominal yang tertera di sana. ”Thanks, kamu memang big bos dan bukan kaleng-kaleng.”
__ADS_1
Kamil hanya memutar bola matanya malas mendengar pujian dari sahabatnya. ”Jika aku tidak datang maka biarkan Baron ikut berpesta dan carikan jodoh untuknya.”
”Kamu memikirkannya juga?”
”Dia juga pegawaiku bagaimanapun dia juga banyak membantuku,” ucap Kamil.
”Ya aku mengerti.”
Kamil segera keluar setelah membereskan pekerjaannya tujuannya satu ke sekolah Malvin bertemu Daffa.
”Apa yang membawamu kemari, bos?” sapa Daffa.
”Begini caramu menyapa suami dari mantan istrimu?” sahut Kamil.
”Lalu harus bagaimana?” tanya Daffa.
”Aku mengajakmu duduk di sini untuk membahas masalah tentang Malvin.”
Daffa tercengang mendengar perkataan Kamil apakah putranya itu mengadu padanya.
”Aku memang keberatan jika dia pergi keluar negeri, bukankah pendidikan di dalam negeri juga bagus. Terlebih Malvin memang sudah cerdas banyak tempat untuknya dirinya hanya tinggal memilih sesuai dengan keinginannya.”
”Kamu benar tapi aku ingin dia memiliki pengalaman lebih yang tidak dia dapatkan di sini, jangan menghalangi keinginannya,” balas Kamil.
”Ck! Itu karena kamu punya uang sedangkan kami? Bagaimana jika neneknya merindukannya dan ingin bertemu dengannya.”
”Kamu cukup beritahu saja, aku akan memberikannya akomodasi untuk pergi menjenguknya bagaimana? Apakah itu juga masih belum cukup? Sekarang jaman semakin canggih kenapa mengkhawatirkan hal-hal yang belum pasti.”
”Itu hanya bagi orang yang berduit berbeda denganku yang tidak mampu bahkan gajiku mungkin tidak sebanyak uang nafkah yang diberikan olehmu pada Medina.”
”Jangan merendah aku tahu berapa gajimu per bulan aku rasa itu cukup untuk membahagiakan keluargamu yang sekarang.”
”Sudahlah aku lelah berdebat denganmu dan aku yakin tidak akan menang melawan kamu.” Daffa bangkit meninggalkan Kamil.
Kamil melirik jam tangannya sebentar lagi Malvin pulang lebih baik dia menunggunya dan pulang bersamanya. Baru saja memarkirkan mobilnya Malvin sudah menghampirinya.
”Siang, Dad.”
”Mm, langsung pulang atau mau pergi makan dulu?”
”Pulang saja, Malvin lelah mama pasti sudah masak.”
Kamil pun tersenyum. ”Baiklah.” Kamil segera menyalakan mobilnya bergegas pulang namun di tengah perjalanan ponselnya berbunyi.
’Alex calling ... ’
”Hallo, ada apa?”
__ADS_1
”Aku akan membawa Alea dan putrinya pulang ke Belanda.”
”Apa?”