
”Bagaimana keadaan istri saya Dok?” tanya Kamil cemas dengan keadaan istrinya.
”Kami sudah berusaha tapi hasil Allah yang menentukan, janinnya tidak dapat diselamatkan karena benturan keras yang dialami Bu Medina di kamar mandi mengakibatkan pendarahan hebat,” jelas Dokter.
”Innalillahi, lalu bagaimana istri saya sekarang Dok?" Kamil memperhatikan wajah sang Dokter.
”Dia masih belum sadar, tapi sudah melewati masa kritisnya. Saya permisi dulu mau mengurus pasien yang lain,” pamit sang Dokter.
”Baiklah terima kasih Dok,” ucap Kamil langsung menemui Medina menyusul Malvin yang sudah lebih dulu di kamar rawat inap.
Kamil memandang sendu ke arah wanita yang sedang terbaring tak berdaya, sungguh dirinya sedih karena kehilangan anaknya tapi akan lebih sedih lagi jika dia harus kehilangan Medina wanita yang dia cintai.
”Dad, mama baik-baik saja kan?” tanya Malvin.
”Iya, kita doakan saja semoga mama cepat pulih seperti sedia kala,” balas Kamil.
Suara langkah kaki mendekati keduanya. ”Bagaimana keadaannya Nak?”
”Ma, dia baik-baik saja.”
”Kenapa ini bisa terjadi?”
”Kamil juga tidak tahu karena waktu menemukannya sudah dalam keadaan tidak sadar di kamar mandi,” jelas Kamil.
”Malvin sebaiknya kamu pulang saja nanti bersamaku biar Daddy-mu yang jaga mama,” ucap Alika.
”Baik,” sahut Malvin.
”Mama tunggu dia sadar dulu ya,” ujar Alika.
”Lalu bagaimana dengan janinnya?” sambungnya.
”Sudah tidak bisa bertahan lagi, Ma. Dokter bilang karena benturan keras di rahimnya.”
”Sabar, semua sudah takdir ikhlaskan semuanya.”
Kamil hanya mengangguk dan kembali memandang ke arah Medina. Hampir dua jam Medina belum juga sadar membuat Alika dan Malvin pulang lebih dulu diantar oleh Baron.
”Cepat sadar Sayang,” bisik Kamil mengecup kening istrinya hingga pergerakan jari Medina pun terlihat. Medina membuka kedua matanya perlahan dan mengerjapkan beberapa saat karena sinar lampu yang menyilaukan kedua matanya.
”Sayang, kau sudah sadar syukurlah,” ucap Kamil.
”Dimana ini Bang?” tanya Medina.
”Rumah sakit, kau jatuh di kamar mandi,” sahut Kamil.
”Anak kita Bang?” tanya Medina menatap ke arah Kamil meminta kepastian.
__ADS_1
Kamil menggenggam erat tangan wanitanya menguatkannya. ”Sabar ya, dia sudah tidak ada.”
Medina menitikkan air mata mendengar penjelasan dari Kamil. ”Maafkan mama Nak, karena tidak bisa menjagamu dengan baik,” lirih Medina.
”Sssttt ... sudah ya jangan dibahas lagi yang penting kamu cepat sembuh, InsyaAllah semua akan baik-baik saja,” ucap Kamil.
”Tapi Bang, aku juga sangat merindukan anak kecil.”
”Sudah rezeki takkan kemana, mungkin dia bukan rezeki kita jadi sabarlah.”
Medina kembali menitikkan air mata karena sejujurnya dia sangat menginginkan bayi yang sedang dikandungnya jika sudah demikian apa boleh buat dia hanya bisa berpasrah.
”Istirahatlah, besok pagi kamu baru bisa pulang.” Kamil menggenggam erat tangan Medina memberikan dukungan untuknya Kamil yakin Medina shock dengan apa yang sedang dialami olehnya karena dirinya pun merasakan hal yang sama hanya saja Kamil tidak serta-merta memperlihatkannya secara langsung di depan Medina.
***
Kejadian yang menimpa Medina begitu cepat menyebar di keluarga Kamil, Alea termasuk salah satunya yang terkejut mendengar hal itu.
”Bang anterin aku ke rumah sakit ya!” pinta Alea.
”Tidak bisa, aku harus meeting hari ini karena ada klien yang baru datang dari luar negeri.”
”Astaga hanya mengantarkannya saja kau keberatan Bang apalagi jika hal itu menimpaku!” ucap Alea mendadak kesal karena sikap Farhan dan malah membandingkannya dengan Daren yang selalu sigap mengantarkannya kemanapun dia mau.
”Astaga ...” lirih Alea menggelengkan kepalanya karena mengingat pria itu lagi.
”Kamu menyebalkan Bang, padahal adikmu sedang terkena musibah harusnya kamu itu ada di sampingnya menjenguknya, menguatkannya,” seloroh Alea kesal dengan sikap Farhan.
”Aku harus bagaimana datang dan pura-pura sedih begitu? Jika itu terjadi apakah akan merubah kenyataan, tidak bukan?”
”Adikmu butuh dukungan Bang, pantas saja Kamil tidak dekat denganmu karena Abang sendiri sama sekali tidak perhatian terhadapnya,” tukas Alea segera pergi sebelum Farhan kembali membalasnya.
”Ck! Bilang saja kamu tuh susah move on dari adikku sehingga kau bicara begitu,” ujar Farhan menahan kesal.
Dengan cepat diraihnya ponsel yang tergeletak di meja dan segera menghubungi Alika mamanya.
”Hallo, ada apa kau menghubungi mama?”
”Ma, bagaimana kabar Kamil?”
”Dia masih di rumah sakit nungguin istrinya,. kamu dapat kabar dari siapa?”
”Alea.”
”Padahal belum ada yang tahu soal ini, darimana dia mendapatkan berita ini.”
”Siapa lagi kalau bukan dapat kabar dari Daren, pria itu kan masih saja membuntuti Alea macam gak ada wanita lain saja.”
__ADS_1
”Kau yakin?”
”Jika bukan dia siapa lagi?”
”Baiklah segera kau pergi ke kantor nanti terlambat, mama ada urusan di rumah Kamil, sampai jumpa. Assalamualaikum.”
Bip.
”Astaga tidak mama tidak istri sama saja, mereka berisik sekali jika sudah membahas orang lain apakah memang sudah menjadi watak mereka yang super cerewet!” keluh Farhan dirinya mendengus kesal.
Farhan pun bersiap pergi ke kantor tanpa berpamitan pada Alea karena dia yakin jika berpamitan pun percuma dan wanita itu pasti tidak akan membukakan pintu untuknya karena sedang emosi. Baru beberapa langkah, Alea sudah berteriak memanggilnya.
”Tunggu Bang!”
Farhan berbalik, melihat Alea sudah rapi dengan tas di bahunya. ”Kau mau kemana?”
”Aku mau ikut kau nebeng ya, antarkan aku pergi ke rumah sakit aku mau menjenguk Medina istri Kamil.”
”Sejak kapan kalian itu dekat? Aku melihat keakraban diantara kamu dan dia.”
”Sejak kamu acuh padaku, Bang. Aku dan dia jadi dekat karena memang aku sering curhat dengannya. Sudah jangan banyak omong aku ikut mobilmu antarkan aku ke rumah sakit lebih dulu!”
Alea seakan tidak peduli dengan keadaan Farhan membuat pria itu cukup kesal karena beberapa menit lagi dia harus meeting dengan kliennya yang datang dari luar negeri.
”Dimana-mana wanita memang merepotkan saja,” ucap Farhan segera membawa Alea ke rumah sakit sebelum terjebak dalam kemacetan.
Sepanjang jalan Alea dan Farhan saling diam seakan keduanya tidak saling mengenal satu sama lain, begitu tiba di pintu gerbang rumah sakit Farhan melihat mobil Daren masuk membuatnya curiga jika Alea akan bertemu dengannya di dalam nanti.
”Kenapa sampai ke dalam bukankah kau bilang akan bertemu dengan klien?” tanya Alea curiga.
”Aku akan meminta papa untuk menemuinya sekarang,” balas Farhan.
”Jadi Abang berubah pikiran sekarang dan mau menemui adikmu Kamil karena apa coba?”
”Sudah jangan mengajakku ribut memangnya kamu tidak malu apa dilihat orang!”
Farhan memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Daren, Farhan memang sengaja ingin melihat reaksi Alea istrinya.
Alea belum menyadari jika Daren tengah berdiri di pintu mobil menunggu seseorang keluar di sana.
Mendengar suara yang tak asing Alea segera mengangkat wajahnya melihat siapa yang bicara.
”Daren,” panggil Alea.
Daren yang sedang menggandeng Christy pun terkejut dan melepaskan tangannya di jemari gadis itu.
”Sedang apa kalian di sini?”
__ADS_1