
”Apa kau puas telah berhasil mempermalukan papa di depan orang banyak?” Hamid menatap tajam pada Kamil yang tengah duduk di kursi kerjanya.
Kamil melepaskan kacamatanya dan menaruhnya di meja, masih dengan mode santai menanggapi perkataan papanya. ”Memangnya apa yang telah aku lakukan padamu Pa? Bukankah apa yang menimpamu sekarang adalah jawaban dari yang kau lakukan terhadap mama?”
”Sejak dulu kau tidak pernah mengerti keinginan papa!” bentak Hamid menaikkan satu oktaf nada suaranya.
”Kita tidak satu tujuan Pa. Harus papa garis bawahi jika aku bukanlah Bang Farhan yang selalu mengiyakan segala keinginan papa,” sahut Kamil.
”Setidaknya kau masih ada hati sama papa, tapi setelah ini jangan harap papa akan mau bekerja sama denganmu.”
”Baik, lalu dimana uang proyek dari Bali, kenapa tidak masuk ke rekening bank? Kemana perginya apakah papa juga memonopoli keuangannya, bukankah sejak awal papa tahu jika perusahaan ini bukan sepenuhnya milikmu tapi kenapa papa sesuka hati menggunakan semuanya bahkan uang pun papa pergunakan untuk kepentingan pribadi bukan?”
Hamid terdiam Kamil bukanlah anak kemarin sore yang akan dengan mudah diatur olehnya dan dia baru sadar jika telah meninggalkan sedikit masalah di kantornya.
”Apakah papa sudah menandatangani surat perceraian dari mama? Lebih baik papa menyerah sebelum mama lebih murka lagi dan ingat Pa, selama ini mama lah yang menjadi tulang punggung keluarga bukan papa.”
Hamid merasa sedang dipermalukan mendengar penuturan Kamil tapi faktanya memang demikian adanya pantaskah Hamid membalas perkataan Kamil bagaimanapun pria yang ada di depannya ini adalah putranya sendiri. Hamid memilih pergi meninggalkan Kamil dia tidak ingin membalas perkataan anaknya yang pastinya akan merembet kemana-mana.
Menjelang sore Kamil segera pulang ke rumah Alika karena Medina dan Malvin berada di sana, baru saja menapaki pintu masuk utama dia sudah mendengar suara keributan di di ruang tengah.
”Ma, mama gak bisa dong membandingkan Alea dengan Medina jelas mereka berbeda. Alea lebih suka berpakaian sexy sedangkan menantu mama medina dia lebih tertutup. Sekarang mama faham kan?”
Alika terdiam mendengar perkataan dari Farhan.
”Sudah menjadi tugasnya seorang wanita di rumah mengurus keluarga, seperti yang dilakukan oleh mama selama ini. Papa saja yang kurang bersyukur dikasih istri cantik dan kaya masih saja selingkuh,” sarkas Kamil.
”Wanita itu untuk dimuliakan bukan untuk disakiti. Apa kau tahu bagaimana bentuk selingkuhannya itu?” lanjut Kamil.
Alika terhenyak ketika mendengar pernyataan Kamil yang seakan menyudutkan Hamid, ”Nak, gak boleh begitu ya bagaimanapun dia adalah papamu. Ayo kita makan, masakan Medina ini memang enak mama suka.”
__ADS_1
Kalimat Alika yang terakhir tanpa sadar justru membuat Alea tersinggung dan itu dapat dibaca oleh Medina, Alea menunduk seketika.
”Itu hanya kebetulan saja kok Ma, masih banyak kekurangan yang Medina miliki. Mungkin saya pandai memasak tapi belum tentu dalam hal mencari uang seperti Mbak. Alea,” ucap Medina.
”Tapi bagiku kau sempurna Sayang, jika tidak mana mungkin aku menikah denganmu,” ungkap Kamil membuat Alea semakin meradang karena merasa telah mengejar Kamil sejak SMA tapi pria itu sama sekali tidak melihatnya, Kamil yang hanya menganggapnya hanya sebagai adik membuatnya semakin kesal.
Mereka makan dalam hening, kecanggungan mulai terasa. Farhan meremas tangan Alea memberinya support karena dia tahu istrinya sedang merasa kesal namun Alea justru menepis tangan Farhan.
”Kamu bukannya sedang ujian ya?” Alika menatap ke arah Malvin.
”Sudah selesai Nek, dan sudah mendapatkan hasilnya,” jawab Malvin.
”Benarkah?” Alika mengalihkan pandangannya ke arah Kamil.
”Dia justru mendapatkan predikat terbaik di sekolahannya Ma,” seru Kamil tersenyum bahagia.
”MasyaAllah hebatnya, padahal kamu murid pindahan pasti dulu Medina juga begitu,” tebak Alika.
”Mama dulu rangking satu terus Nek bahkan kata mama dapat bea siswa masuk ke fakultas kedokteran tapi memang belum rezekinya sehingga memilih untuk mundur,” jelas Malvin.
Kamil menatap ke arah Medina meminta jawaban pasti atas pernyataan Malvin. ”Jangan berlebihan begitu,” ucap Medina.
”Kalian jadi pergi kan akhir pekan besok?” Perkataan Alika membuat Kamil dan Medina saling pandang.
”InsyaAllah,” jawab Kamil.
”Pergilah dan biarkan Malvin tinggal di sini menemaniku nanti biar Baron yang antar jemput ke sekolah, kamu mau kan?” ucap Alika seraya tersenyum ada Malvin.
"Tentu nek.”
__ADS_1
”Memangnya mereka mau kemana Ma?” tanya Farhan.
”Honeymoon tentu saja, kamu sendiri yang menolak mama suruh pergi, Kamil dan Medina mau pergi ya silakan saja.”
Farhan menatap ke arah Alea istrinya sebenarnya bukan dirinya yang tidak mau melainkan istrinya sendiri yang menolak dengan alasan belum siap bahkan hingga saat ini merek belum melakukan hubungan layaknya suami istri pada umumnya.
”Yang menolak bukan Bang Farhan tapi Alea Ma, soalnya Alea sedang sibuk dengan pekerjaan di kantor,” kilah Alea.
”Pekerjaan juga penting tapi utamakan keluarga jangan sampai nanti nasibmu sepertiku,” cibir Alika dia sendiri tak ingin nasib wanita lain sama dengannya mengingat Farhan begitu dekat dengan Hamid dia tidak mau jika Farhan tertular toxic yang sama seperti Hamid calon mantan suaminya.
”Sudah malam, kamu pulang dulu ya Ma,” ucap Kamil berpamitan pada Alika.
”Hati-hati jika sudah siap kamu boleh datang ke sini mengantarkan Malvin.”
***
Alea merebahkan tubuhnya di ranjang kedua matanya terpejam mengingat perkataan Alika barusan membuat hatinya merasa nyeri seketika, apakah dia harus menjadi orang lain agar Kamil pun melihatnya. Bukankah jadi diri sendiri lebih baik, bagaimana Alika membandingkannya dengan Medina pun terasa sekali jika mertuanya lebih suka dengan Medina daripada dirinya.
Alea terkejut begitu melihat Farhan sudah ada di atasnya mengungkung dirinya menatapnya dengan tajam.
”A-apa yang kau lakukan?” Alea gugup begitu mendapati Farhan sudah tidak lagi memakai kemejanya.
”Aku ingin meminta hakku Alea,” bisik Farhan dengan suara serak matanya menatap Alea penuh gairah.
Alea panik karena dirinya merasa belum siap dan lagi kenapa harus dengan Farhan suaminya dan hatinya belum sepenuhnya menerima pria yang berstatus duda tanpa anak itu.
”Bisakah kita menundanya lagi kasih aku waktu lagi Bang,” lirih Alea.
”Tidak lagi Alea waktumu sudah habis aku sudah bersabar selama ini, ingat aku pria dewasa kita sudah menikah aku rasa tidak ada salahnya aku meminta hakku dan kewajibanmu untuk melayaniku dan kamu tahu aku pria normal haruskah aku menyewa ****** seperti papaku,” teriak Farhan membuat Alea semakin takut dengannya.
__ADS_1
”Ayo puaskan aku Alea!”