
”Aku tidak percaya dengan apa yang kau ucapkan karena tadi pagi sebelum aku ke sini wanita itu tengah terlelap,” ucap Daren membantah berita itu.
”Silakan cek sendiri atau kau bisa menanyakannya pada Medina istriku saat ini juga sedang berada di sana,” sahut Kamil. ”Aku tidak sedang mengompori dirimu tapi aku tidak mau kau jatuh lagi untuk kedua kalinya, sakit loh jika cinta yang sudah diperjuangkan ternyata malah tidak bisa kita miliki,” sambung Kamil.
”Astaga jangan mengejekku atau karena kau merasa telah bebas bersama dengan Medina kau menyindirku?” ucap Daren kesal.
”Fakta, aku tidak bisa jika harus berdiam diri melihat temanku menderita, aku pernah melihat mamaku di selingkuhi oleh papaku jadi mana mungkin membiarkanmu mengulang kesalahan kedua orang tuaku.”
Daren terdiam mendengar perkataan Kamil baginya pria ini adalah saudara sekaligus tempat berkeluh kesah karena keluarganya jauh di luar negeri dan tidak mungkin baginya untuk berbagi cerita karena dia sendiri tidak begitu akrab dengan saudara-saudaranya itu.
”Aku harus apa?”
”Jangan bergantung hanya pada satu cinta apalagi yang kau harapkan masih terikat hubungan dengan yang lain karena ada hal lain yang lebih penting dari sekedar kesenangan sendiri, Alea sedang mengandung benih orang lain.”
Kamil menepuk bahu Daren setelah mengucapkan kalimat tersebut seakan memberi support padanya agar tetap kuat dan tidak ceroboh dalam mengambil keputusan sedangkan Daren hanya mampu menghela nafasnya setelah Kamil beranjak keluar dari ruangan tersebut.
”Jadi apakah aku harus melupakanmu, Alea,” lirih Daren. Tak mau berpikir panjang dirinya kembali bergelut dengan berkas hanya inilah satu-satunya cara untuknya melupakan rasa kecewanya, jujur dia kecewa karena Alea membohongi dirinya hari ini.
”Sebaiknya aku menanyakannya langsung nanti sepulang dari kantor itu lebih baik daripada aku harus berprasangka buruk pada orang lain,” gumam Daren dirinya kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena pikirannya kacau.
Di rumah Alika, Medina sedang mengupas buah untuk Alika, wanita itu ingin sekali ditemani oleh Medina di rumah meskipun ada Alea dan Farhan sekalipun wanita paruh baya itu lebih nyaman bersama dengan menantunya itu.
”Apa Kamil ada memberi kabar padamu,” tanya Alika pada Medina.
”Belum, biarkan saja Ma. Jika nanti dia tidak pulang ijinkan Medina antar ke kantornya.”
”Tidak boleh, Medina. Kau sedang hamil jadi jangan terlalu capek,” ucap Alika.
”Alea dimana? Sepertinya dia belum pulang kan?” tanya Alika karena tidak lagi mendapati menantunya yang satunya tidak terlihat lagi di rumahnya.
__ADS_1
”Mungkin ada di ruang tengah, apa mama mau bicara dengannya biar Medina panggilkan sekarang?” tawar Medina.
”Boleh.”
Medina keluar untuk memanggil Alea namun yang dia lihat justru kedua pasangan itu sedang bertengkar hebat di belakang rumah. Alea yang menyadari hal itupun segera kembali masuk dirinya berniat minta maaf pada Medina yang melihat pertengkaran itu dan berharap Medina tidak memberitahukannya pada yang lain.
”Mama mencarimu Alea, tolong segera ke kamarnya sekarang ya.”
”Tolong kau tidak mengatakan apapun tentang hal ini ya,” ucap Alea kemudian terisak.
”Yang sabar, semua pasti ada solusinya,” sahut Medina yang sempat mendengar kata Alea meminta Farhan untuk memecat Laras tapi Farhan mempertahankannya karena kinerjanya bagus.
”Hapus air matanya dan segera masuk ke kamar jangan bikin mama curiga!” bisik Medina tersenyum lalu memberikan selembar tisu padanya.
Alea tersenyum merasa ada seseorang yang mengerti akan keadaan dirinya.
”Aku masuk sekarang.”
Pesan tersemat dari Daren yang menanyakan keberadaan Alea di rumah ini, Medina pun hanya menjawab mengiyakan pertanyaan dari Daren secara singkat karena khawatir salah bicara nantinya. Medina pun pamit setelah makan siang dirinya tidak ingin berlama-lama di rumah Alika mengingat wanita itu sedang sakit dan butuh istirahat
Medina memilih keluar dari pintu samping yang langsung terhubung ke rumahnya setelah berpamitan pada Mbok Iyem.
***
”Vin, kemarin kenapa gak ajak-ajak kita main ke rumahmu?” tanya Saskia berkacak pinggang di depan Malvin membuatnya jengah melihat kelakuannya.
”Aku gak tahu jika kalian mau ikut lagipula kemarin juga cuma main basket doang di rumah aku gak yakin kau akan betah berlama-lama di rumahku karena kalian lebih suka jalan-jalan ke mall,” sahut Malvin.
”Ya memang tapi jika kau menawari kami berdua mana mungkin kami akan menolaknya benar gak, Sa?” Saskia menyenggol lengan Salsa yang tengah asyik membalas pesan yang masuk ke ponselnya.
__ADS_1
”I-iya juga Vin! Kenapa kau tidak mengajak kami berdua ikutan kemarin siang dan lebih memilih Intan padahal dia kan gadis tomboy,” seru Salsa membuat Malvin kesal karena Salsa mengolok olok Intan.
”Kamu jangan begitu, karena bagaimanapun Intan itu anak yang baik dan pengertian dengan temannya yang lain meskipun tidak memiliki cukup uang seperti kita di sini.”
”Kau membelanya karena kau suka sama dia kan Vin?” tanya Saskia. ”Bukankah di awal kita jumpa aku juga telah menyatakan rasa sukaku terhadap dirimu tapi kau menolak diriku!” Saskia berlari masuk ke toilet sedangkan Malvin justru merasa sangat bersalah karena hal itu, jujur dia sendiri tidak ingin bermain-main dengan yang namanya cinta dan mengulang sejarah kedua orang tuannya yang menikah muda akibat pergaulan yang tidak baik.
Mungkin memang sudah jalannya seperti itu, Malvin mengacak rambutnya kasar dia jadi kebingungan dengan apa yang sedang terjadi karena dirinya memang tidak ahli dalam masalah seperti ini. Haruskah dia melapor pada Baron bercerita tentang semua ini yang ada dia pasti akan ditertawakan.
”Vin, apa yang terjadi?” Intan menghampiri Malvin yang terlihat sedang kacau.
”Gak tahu aku, itu Saskia menyatakan isi hatinya kepadaku sedangkan aku tidak berminat untuk menjalin hubungan dengan siapapun.”
”Kau sudah menjelaskannya?”
Malvin mengangguk, ”Tapi sepertinya dia tidak terima, apa yang harus aku lakukan?”
”Sabar, mungkin dia memang sedang sensitif saja saat ini.”
Materi bahasa inggris sedang berlangsung namun Malvin tidak bisa fokus karena Saskia terus saja menatap ke arahnya dan hal itu sangat mengganggunya, hingga pelajaran tersebut selesai Malvin tidak bisa menyerap satupun apa yang dijelaskan oleh Daffa sehingga pria itu memanggilnya ke kantornya.
”Kau pasti kena marah guru itu karena sejak tadi aku perhatikan kau tidak fokus sama sekali,” ucap Intan.
”Itu jelas karena aku tidak bisa fokus!” Malvin mengacak rambutnya lagi dia semak ok n frustasi apakah papanya Daffa akan marah dengannya. ”Aku ke kantor dulu ya.”
Malvin melangkah pergi meninggalkan Intan bersama dengan Denis setelah temannya yang satu itu datang dan langsung mengetuk pintunya mana kala sudah berada di depan ruangan tersebut.
”Ada apa papa memanggilku?” seru Malvin membuat Salsa yang ada di sofa terkejut mendengar panggilan Malvin untuk guru bahasa Inggrisnya itu.
”Jadi dia adalah ... ?”
__ADS_1
Daffa dan Malvin saling pandang tak mau ambil pusing dengan pemikiran gadis itu. ”Malvin katakan jika aku salah dengar?” desak Salsa.
”Tidak, kau tidak salah dengar dengan semua ini. Sekarang aku tanya padamu untuk apa kau berada di sini?” Malvin balik bertanya karena kekesalannya pada Salsa yang berkulit ember, sebentar lagi seisi sekolahan pasti akan tahu jika Malvin adalah anak dari guru mereka Daffa.