
Terkejut mendapati Daffa papanya berada di toko buku itulah yang dirasakan oleh Malvin jujur ada kerinduan di hatinya pada sosok yang ada di depannya saat ini meskipun pria itu telah membuatnya terluka tetaplah dia adalah papanya darahnya mengalir di dalam tubuhnya.
”Kamu ke sini dengan siapa?” tanya Daffa memperhatikan putranya yang terlihat lebih keren dari sebelumnya.
”Bersama dengannya nenekku,” balas Malvin.
”Nenek?” Daffa menatap ke arah wanita paruh baya yang ada di belakang Malvin bahkan rasanya tidak pantas jika dipanggil dengan sebutan ’nenek’ karena tampilannya masih terlihat muda dan cantik.
Alika tersenyum dan mengangguk sopan pada Daffa, ”Anda ayahnya Malvin? Bersyukurlah dia nak yang cerdas.”
”Ya saya tahu terima kasih sudah menjaganya selama ini, jadi Anda mamanya Pak Kamil?”
”Benar, mereka berdua sedang honeymoon di Eropa jadi untuk sementara Malvin tinggal bersama dengan saya.”
”Oh jadi begitu?” Hati Daffa seakan terbakar mendengar Medina bisa honeymoon bahkan sampai ke Eropa sebenarnya sekaya apa suaminya itu.
”Papa sekarang tinggal di Jakarta karena ikut pindah mengajar di sini, mamamu Lastri dipindahkan jadi mau tidak mau papa ikut ke sini.”
”Lalu bagaimana dengan nenek?” tanya Malvin.
”Ada, di rumah baru karena rumah di Semarang sudah papa jual jadi beliau ikut kami ke sini,” jelas Daffa.
Malvin mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Daffa, ”Minta nomor ponselnya Pa, barangkali nanti Malvin butuh bimbingan belajar.”
Daffa tersenyum dan mengetik beberapa digit angka di ponsel Malvin lalu mengembalikannya lagi.
”Malvin pulang dulu ya Pa, sampai jumpa!”
Keduanya pamit meninggalkan toko setelah Malvin membayar bukunya. Alika dapat melihat kebahagian di wajah Malvin, ”Kenapa dulu mereka berpisah?”
”Ceritanya panjang Nek, Malvin sudah bersyukur sekarang mereka sudah menemukan kehidupannya masing-masing.”
Alika tersenyum dunia memang sempit bahkan dari masa lalu bisa kembali bertemu di masa depan, lalu bagaimana dengan nasibnya bersama Hamid pria itu sudah mengkhianatinya bahkan dia menggunakan hartanya untuk menyenangkan simpanannya itulah yang tidak bisa dia terima.
__ADS_1
”Kita langsung pulang ya.”
Masih di tempat yang sama, Daffa hanya bisa menatap kepergian putranya yang sudah berubah drastis dari penampilannya dan lagi sopir yang mengemudikan mobil tersebut bukankah pria itu yang bersama dengan Kamil waktu masih berjualan sayur di kampungnya. Lihatlah mobilnya sangat bagus pasti mahal dan Medina sangat beruntung mendapatkan pengganti yang lebih baik darinya. Apakah sekarang Daffa menyesalinya karena telah meninggalkan wanita itu hanya demi memenuhi keinginan mamanya.
Daffa pun segera pulang sebelum Lastri mengomelinya karena pulang terlambat wanita itu sangat cemburu jika dia pulang terlambat sedikit saja dia pasti akan dicurigai meskipun Daffa tidak melakukan apapun di luar sana.
***
Tombol pintu terdengar dari dalam apartemen, Farhan segera berbalik memastikan jika Alea yang pulang ke apartemennya dan benar saja wanita itu pulang dengan wajah lelahnya.
”Apa kau sudah makan?” tanya Farhan mencoba meraih kembali hati istrinya dengan perhatian kecil seperti yang dia lakukan saat ini.
”Belum, aku langsung pulang dari kantor dan tidak sempat mampir kemanapun. Apa kau sedang memasak?” tanya Alea.
”Iya seperti yang kau lihat, sebaiknya kau bersihkan dirimu lebih dulu baru kita makan malam.”
Alea langsung ke kamarnya untuk mandi, tubuhnya terasa lelah apalagi pekerjaannya menumpuk membuatnya harus berpikir ekstra keras biar segera selesai dan yang lebih membuatnya menambah beban pikirannya adalah mengenai nasehat Fajar padanya tentang memberi kesempatan pada suaminya.
Apakah Alea mampu, sejak perjalanan pulang ke apartemen dia selalu saja berpikir mencari jalan terbaik untuk semuanya.
”Ini baru saja selesai Bang, apa masaknya sudah selesai?” Alea berbalik menghadap Farhan.
”Ayo kita makan malam, perutku sudah sangat lapar tadi siang tidak sempat keluar.”
”Kenapa demikian apakah banyak sekali pekerjaan sehingga kau melupakan makan siangmu?” ucap Alea.
”Bukannya sibuk tapi lebih karena tidak ada yang mengingatkan diriku tadi,” sahut Farhan terkekeh dia itu pria beristri tapi sama sekali istrinya tidak peduli padanya bukan lebih tepatnya belum, ralat Farhan karena memang Alea selalu saja meminta waktu padanya entah sampai kapan Farhan sendiri sebenarnya sudah lelah karena wanita itu selalu saja mengabaikannya.
”Kenapa melamun, ayo kita makan!” ajak Alea menarik lengan Farhan membuat pria itu tersentak dengan sikap istrinya yang spontan itu.
Farhan diam menerima perlakuan Alea yang tidak seperti biasanya, di meja makan Alea melayani Farhan dengan baik dari mengambil nasi hingga air minum. Diam-diam Farhan memperhatikan istrinya.
”Apa kepalamu habis terbentur?” ucap Farhan pelan.
__ADS_1
Alea mengernyit heran apakah ada yang salah dengan dirinya, kenapa Farhan berkata seperti itu padanya.
”Memangnya ada yang salah Bang?”
”Kamu lebih perhatian padaku, ini bukan halusinasi kan? Apa kau menginginkan sesuatu?” tanya Farhan mulutnya masih mengunyah makanan yang baru saja diambilkan oleh Alea.
”Tidak ada, aku hanya mau memberikan yang terbaik untukmu itu saja.”
”Bohong,” lirih Farhan bahkan hampir tidak terdengar.
”Beneran Bang, apa yang harus aku lakukan agar Bang Farhan percaya padaku.”
Farhan tersenyum samar bahkan hampir tak terlihat mendengar pernyataan Alea apakah istrinya sedang mencoba merayunya, mengambil hatinya kembali.
”Apa yang bisa kau lakukan, lakukanlah dan buat aku merasa senang itu lebih baik untukmu daripada kau membenci diriku karena itu tidak ada gunanya Alea.”
Farhan bangkit dan mendekati kursi Alea lalu meletakkan bokongnya di sampingnya. ”Cukup selalu bersama denganku kapanpun aku mau itu sudah lebih dari cukup untukku Sayang,” bisik Farhan suara yang serak dan tatapannya yang berkabut membuat Alea kembali teringat malam pertama dimana Farhan mengambil kesuciannya dengan paksa rasa takut kembali hadir meskipun pada akhirnya dia ikut menikmatinya bohong besar jika Alea tidak suka akan hal itu karena Farhan melakukannya dengan sangat baik dan tanpa Alea sadari terkadang dia merindukan hal itu terulang lagi hanya saja hatinya merasa gengsi untuk mengakuinya.
Alea menarik nafasnya perlahan, ”Abang yakin?”
Kedua tangan Alea menangkup wajah Farhan menatapnya dengan intens antara ragu tapi tidak ada pilihan lain, dirinya tidak boleh egois apalagi mengharapkan sesuatu yang mustahil untuknya. Ya, Kamil sudah menjatuhkan pilihannya pada wanita lain. Dia sudah resmi menjadi milik orang lain dan tidak mungkin baginya memiliki kesempatan untuk bisa memiliki hatinya, dia tidak mau menjadi orang ketiga bagi mereka dan pasrah mungkin jalan terbaik untuknya menjadi kakak iparnya saja itu sudah lebih baik daripada tidak sama sekali.
Akan Alea pikirkan lagi bagaimana caranya mendapatkan kepercayaan dari Alika mertuanya karena sepertinya wanita itu sulit sekali ditaklukkan terlebih dia tidak begitu dekat dengannya.
”Kenapa kamu melamun? Apa kamu sudah siap?”
”Si-siap untuk apa?”
”Tentu saja menghabiskan malam ini berdua.”
”Ta-tapi aku sedang ... ”
”Sedang apa?”
__ADS_1
”Mm ...” Alea bingung apakah dia harus membuat Farhan kecewa malam ini.