Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Ternyata Hanya Mimpi


__ADS_3

Bugh!


Kamil terjatuh dari ranjangnya tubuhnya menggelinding dan terbentur kaki meja.


Dak!


”Awh.” Kamil meringis keningnya merah karena benturan yang cukup keras.


”Astaghfirullah ternyata hanya mimpi,” kesal Kamil mengusap kasar wajahnya dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya dengan berani dan lancar melamar Medina tanpa rasa malu, padahal sebenarnya di depan Medina, Kamil selalu saja grogi.


Kamil menghela nafasnya baru mimpi saja rasanya sudah begini jantungnya berdebar-debar tidak menentu apalagi nanti jika bertemu dengannya langsung. Demi apa dia harus segera melamar wanita itu sebelum papanya nekad memaksanya menikah dengan orang pilihannya meskipun Kamil memiliki hak menolak, dia tidak ingin menambah masalah apalagi jika harus kembali berdebat dengan Hamid.


Kamil bangkit dengan memegang keningnya yang sedikit memar, hari ini dia ada janji dengan Malvin akan mengantarkan anak itu ke sekolah barunya. Kamil harap Malvin bisa beradaptasi dengan cepat dan betah di sana.


Tin ... tin ...


Kamil segera mematikan mesin mobilnya begitu sampai di depan rumah Medina.


"Om, kita jadi ke sekolah kan hari ini?” tanya Malvin menyambut kedatangan Kamil.


”Iya tentu saja kita ke sana hari ini,” jawab Kamil.


”Itu jidatnya kenapa Om?”


”Oh ini, (Kamil mengusap jidatnya.) kecelakaan kecil di rumah. Mamamu ada di rumah kan?” Kamil mendaratkan bokongnya di kursi di teras.


”Ada tapi dia mau pergi ke pasar katanya mau lihat harga barang di sana,” ucap Malvin.


”Kenapa gak beli di supermarket saja,” tawar Kamil.


”Kata mama sih pengin lihat dulu bandingin harganya, soalnya kan gak semua barang di sana juga murah. Mama tuh perhitungan banget soal pengeluaran benar-benar teliti seratus perak aja ditagih,” bisik Malvin.


Kamil tergelak mendengar penuturan Malvin segitu perhitungannya wanita itu dengan uang tapi itu lebih bagus menandakan dia layak untuk dijadikan istri karena kejeliannya.


"Haiyo pada ngomongin apa, kelihatannya senang sekali,” tegur Medina yang keluar membawakan dua gelas air.


”Ngomongin mama lah, siapa lagi,” seru Malvin.


"Kok mama?”


”Iya mama kan sering minta kembalian sama Malvin meskipun hanya seratus rupiah sekalipun, mama perhitungan banget,” ucap Malvin.

__ADS_1


”Hem, soal itu. Perhitungan bukan berarti pelit uang seratus ribu jika kurang seratus rupiah juga nilainya pasti akan kurang kan, seratus kalau dikalikan juga jumlahnya juga akan berlipat-lipat.”


”Sudah jangan berantem, kapan akan berangkat?” sela Kamil.


”Sekarang aja yuk?” ajak Malvin penuh semangat.


Kamil diam-diam memperhatikan Medina dan memikirkan perihal mimpinya semalam apakah mimpi itu akan menjadi nyata hari ini.


"Om Kamil kok beda ya hari ini banyak melamun benar tidak Ma?” ucap Malvin.


”Eh? Mama gak tahu Sayang, mama sedang mikirin daftar belanjaan bulan ini kita kan baru pertama pindah jadi harus irit ya kamu jangan boros, mama kan belum dapat pekerjaan.”


”Iya benar juga sih Ma, baiklah Malvin akan irit ke depannya. Jadi nanti Malvin ke sekolah jalan kaki ya,” ucap Malvin.


”Ya tidak gitu juga kali, nanti mama akan pikirkan caranya kamu bisa ke sekolah biar gak bolak-balik naik angkutan umum.”


”Udah jangan dipikirkan nanti Om akan jemput kamu untuk sementara waktu ya,” sela Kamil.


Kamil memarkirkan mobilnya di halaman sekolah. Kepala sekolah sendiri yang menyambutnya langsung karena dia adalah alumni SMA tersebut.


”Pak Romli, ini anak yang saya maksudkan Pak. Tolong bapak pantau dia saya titip sama bapak.”


Kamil bisa sukses dengan bantuan Pak Romli yang selalu membimbingnya dan sekarang justru Kamil yang menjadi murid pertama yang memberi donasi di sekolah tersebut.


Setelah urusan selesai Kamil pun mengajak Medina dan Malvin jalan-jalan di mall, Kamil sengaja memberikan beberapa perlengkapan sekolah yang baru untuk Malvin.


”Om, aku kok jadi gak enak sama om,” tutur Malvin.


”Kenapa memangnya?”


”Malvin takut dikira memanfaatkan kebaikan Om Kamil,” ucapnya.


”Jangan begitu kau cukup belajar dengan baik maka Om akan sangat senang jika kau menjadi orang yang sukses.”


”Jika mama tahu soal ini pasti dia akan memarahi Malvin,” serunya.


Ya Medina sendiri sedang melihat barang-barang seperti sembako, wanita itu harus berpikir ulang ketika dia melihat harga yang tertera di sana cukup mahal dan menguras kantongnya.


”Mama gak jadi belanja?” tanya Malvin yang melihat Medina kembali dengan tangan kosong.


”Mahal Sayang, mungkin karena tempatnya yang bagus dan bersih jadi barang-barang di sini mahal, apa hidup di kota seperti ini, apa aku bisa bertahan," lirih Medina meringis mengingat harga bahan pokok yang melambung sedangkan jika dia beli di kampung harganya bisa buat satu karung beras soal bumbu garam yang habis dia bisa minta pada Hasna sedangkan di sini sama siapa dia akan minta nantinya.

__ADS_1


Kamil sendiri hanya bisa mendengarkan pembicaraan dua orang di depannya dia memahami jika Medina belum bisa beradaptasi dengan cepat apalagi semua serba mendadak untuk mereka.


”Kita makan dulu yuk!” ajak Kamil membawa mereka masuk ke restoran.


Kamil memilih beberapa makanan dan hal itu tidak luput dari perhatian Medina, diam-diam Medina mengamati gerak Kamil yang terlihat berbeda seakan sudah terbiasa dengan keadaannya berbeda ketika dia menjadi tukang sayur dia sangat kaku sekali.


”Sebenarnya siapa dia?”


”Habis ini kita mau kemana?” tanya Kamil.


"Pulang saja kepalaku sedikit pusing,” jawab Medina cepat membuat Kamil menatapnya intens.


”Apa kita perlu ke dokter?” usul Kamil.


”Tidak perlu nanti minum obat juga sembuh sendiri.”


Ketiganya pun makan siang bersama dan setelah membayarnya, Kamil segera mengajak mereka keluar.


”Bos, astaga kau ada di sini? Aku menghubungimu berkali-kali tapi tidak diangkat padahal semua karyawan menunggumu,” ucap Daren berucap bagaikan kereta listrik yang melaju dengan kencang.


Kamil melotot bahkan hampir lepas kedua bola matanya karena rentetan perkataan Daren padanya, bisa-bisanya dia berbicara begitu terbuka padahal dia sedang bersama dengan Medina dan Malvin.


Kamil menarik lengan Daren menjauh dari keduanya. Keduanya terlibat percakapan yang cukup rumit untuk dimengerti oleh orang awam sekalipun.


"Astaga tidak bisakah kau memperkecil suaramu itu, kau benar-benar ... Aish sudahlah, kau membuatku semakin pusing,” ucap Kamil.


”Siapa mereka berdua bos?” tanya Daren.


”Medina, wanita itu adalah Medina,” ucap Kamil penuh penekanan.


Daren melirik ke arah keduanya, ”Cantik juga pilihanmu bos,” bisik Daren.


”Diam kau!”


Kamil kesal karena Daren telah lebih dulu memergokinya.


Medina dan Malvin saling pandang melihat sikap dua pria yang sepertinya sedang berdebat.


”Om apa kita jadi pulang, kasihan mamaku dia sudah lelah?” seru Malvin.


”Mama? Kamil jangan katakan jika dia itu ... ”

__ADS_1


__ADS_2