
Malvin diam saja selama perjalanan pulang membuat Baron bertanya-tanya kenapa putra bosnya itu menjadi pendiam.
”Are you oke, boy?”
”I’m fine thanks,” balas Malvin.
Meskipun mendapatkan jawaban tapi Baron tetap tidak puas mendengarnya. ”Katakan padaku jika ada masalah kau bisa berbagi cerita denganku, anggap saja saya ini kakakmu.”
Malvin melongo mendengar pernyataan Baron ’kakak’ hei dengarlah kau lebih pantas dipanggil ’om ketimbang ’kakak’ Malvin bermonolog sendiri dalam hatinya.
”Apa kau memiliki adik di rumah?” tanya Malvin.
”Punya bahkan adikku banyak, kenapa? Bukankah kau sendiri juga akan mempunyai adik?” sahut Baron.
”Aku sudah punya adik seorang gadis kecil tapi sayangnya bukan dari mama kandungku melainkan mama tiriku. Apakah aku harus bahagia karena berbagi papa dengannya?”
Baron tergelak mendengarnya, ”Apa kau sedang cemburu? Dengarkan Nak, hidup itu saling bergantung satu sama lain dan tidak mungkin hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain dan kamu harusnya bersyukur karena memiliki banyak saudara jadi kau bisa berbagi dengan mereka. Jangan pernah merasa dinomor sekian mengerti, saya yakin papamu itu tetap menyayangi kamu apalagi kamu itu anak pertama dari cinta pertamanya,” urai Baron panjang kali lebar membuat Malvin hanya mengangguk singkat.
”Tolong jangan katakan apapun pada daddy, aku malu jika sudah bercerita seperti ini padamu mengerti.”
”Siap!” Baron kembali tertawa dan Malvin kesal mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.
Hari cuacanya cukup panas sama halnya dengan hati Malvin yang baru saja kena marah mama tirinya, mengingat bagaimana Lastri memarahinya tadi siang membuatnya enggan untuk kembali datang ke rumah Daffa papanya.
Malvin turun dan langsung menuju kamarnya hal itu membuat Medina keheranan karena sikapnya tidak seperti biasanya, kenapa putranya begitu acuh bahkan tanpa sadar telah mengabaikan kehadirannya di meja makan. Tunggu ... apakah Malvin berjalan sambil melamun sehingga tidak menyadari kehadirannya.
Medina mencari Baron karena ingin menanyakan sesuatu tentang Malvin padanya.
”Baron, boleh aku tanya sesuatu padamu?”
”Apa itu?”
”Kenapa Malvin tiba-tiba jadi pendiam bahkan mengabaikan diriku padahal aku sedang berada di meja makan. Apa dia ada masalah atau mungkin dia ada cerita denganmu.”
”Oh soal itu, tanyakan sendiri kepadanya karena tadi saya sudah berjanji tidak akan menceritakan pada siapapun.”
”Termasuk aku?”
__ADS_1
Baron hanya mengangguk dan tersenyum.
"Ya Allah, kalian ini sudah menjadi sahabat baik rupanya. Baiklah biar aku tanyakan padanya sendiri.” Medina langsung ke kamar Malvin namun pintunya terkunci. ”Sepertinya dia ingin sendiri, baiklah biarkan dia berpikir lebih dulu mungkin dengan begini kau bisa menjadi pribadi yang dewasa,” gumam Medina melangkah pergi meninggalkan kamar putranya.
***
”Kau yakin tidak akan ke kantor hari ini? Ketahuilah dengan kau bersembunyi masalah tidak akan selesai begitu saja,” ucap Daren memperhatikan Alea yang sedang duduk di meja makan sarapan dengan semangkok bubur seperti keinginannya.
”Aku hanya ingin menenangkan diriku, tolong jangan bilang pada siapapun tentang keberadaan diriku di sini. Aku butuh waktu,” ujar Alea.
Daren tidak bisa berkata apapun lagi, dia kasihan padanya tapi di sisi lain dia juga tidak mau terlibat masalah apalagi ini dengan Farhan yang notabene keras kepala dan tidak mau mengalah. Daren kerepotan sendiri karena harus menuruti permintaan Alea yang sedang ’ngidam’ segalanya harus terlihat perfect di depan wanita itu sedangkan Daren sendiri pun sibuk dengan pekerjaannya.
Bagaimana membagi waktunya padahal Daren sendiri sudah lelah karena kegiatannya seharian di kantor. Daren memijat pelipisnya pusing, dia butuh istirahat karena sudah dua malam dia selalu begadang mencarikan gorengan hal yang tidak mungkin ada di tengah malam. Soto Betawi yang juga tutup di malam hari. Rasanya Daren ingin berteriak jika dia mampu, segala perasaan dia pendam sendiri dalam hati.
”Aku ke kantor dulu ya jika ada sesuatu segera kabari aku, ingat jangan melakukan apapun di rumahku cukup diam dan jangan menyentuh apapun!”
”Baik aku juga tidak berniat menyentuhnya tapi aku akan merusaknya jika aku mau!”
”Astaga kau ini tega sekali, sudahlah aku pergi!”
Daren memilih ke kantor daripada berdebat dengan wanita hamil yang tidak akan ada ujungnya. Setibanya di kantor Kamil sudah menunggunya di ruangannya.
”Benar, apa kau tahu di mana keberadaan Alea saat ini?”
Di apartemen Hamid.
”Papa yakin kau melukai perasaannya sehingga dia pergi, papa sudah tahu semuanya,” cecar Hamid mulai menyalahkan putra sulungnya.
”Pa.”
”Papa tahu sifat kamu Farhan segera cari dia sebelum keluarganya mendengar kabar ini dan mereka menyalahkan kita.”
”Pa, kemana Farhan harus mencarinya sedangkan semua teman-temannya sudah Farhan tanyai tidak ada satupun yang tahu soal keberadaannya dan Farhan yakin mereka tidak bohong.”
”Dengarkan papa, cari tahu segera dengan bertanya pada orang yang setiap hari bertemu dengannya, dasar bodoh!”
Farhan memberengut kesal karena hanya demi Alea istrinya Hamid papanya mengatakan dia ’bodoh’ sungguh Farhan tidak bisa menerima semua ini.
__ADS_1
”Kau yang berbuat salah maka kau sendiri yang harus membersihkan namamu. Ingat kau telah berbuat sesuatu di luar kendali papa.”
”Apa maksud papa?” tanya Farhan kesal karena merasa disudutkan oleh Hamid. Bukankah selama ini dia hanya mengikuti jejaknya lantas dimana letak kesalahannya.
”Farhan hanya mengikuti apa yang papa contohkan pada Farhan, di mana letak kesalahannya? Bukankah papa sendiri yang selingkuh dari mama mengajarkan Farhan bagaimana menikmati setiap kekuasaan yang kita miliki? Ck! Yang benar saja kenapa sekarang aku yang disalahkan?” ucap Farhan kesal.
Hamid diam, hening seketika.
”Pergilah ke kantor dan cari dia siapa tahu dia ada di sana atau setidaknya kau mendengar informasi tentang keberadaannya saat ini,” usul Hamid kemudian.
”Baiklah akan Farhan coba sekarang.” Farhan bersiap pergi ke kantor tempat Alea bekerja berharap wanitanya ada di sana mengingat wanita itu tengah mengandung benihnya.
Farhan menyeringai mengingat kejadian malam pertama bersama dengannya hanya dengan beberapa kali tembak saja itu sudah berhasil membuat wanita itu hamil bagaimana jika dia melakukan hal yang sama dengan Laras pasti wanita itu pun pasti telah memiliki anak darinya. Sayangnya Farhan tak bodoh dia selalu memakai pengaman karena tak ingin Laras hamil.
Farhan melangkah dengan cepat menuju ke ruangan Alea namun yang dicarinya tidak ada di sana membuatnya mengernyitkan alisnya kemana perginya Alea.
”Sedang apa kau di sin?” tanya Daren tidak lebih tepatnya menegur Farhan karena sudah lancang masuk ke perusahaan orang tanpa ijin lebih dulu dan bahkan sekarang berada di ruangan stafnya masuk tanpa permisi membuat Daren kesal.
”Aku mencari istriku,” balas Farhan.
”Mencari istrimu?” Daren mengulang perkataan Farhan. ”Kenapa kau mencarinya ke kantor apa dia tidak pulang ke rumahmu?”
Farhan kesal mendengar perkataan Daren yang seakan-akan sedang mengejeknya.
”Apakah itu benar?”
”Aku curiga padamu, jangan-jangan kau yang menyembunyikan istriku.”
”Untuk apa dia menyembunyikan istrimu, Bang!” seru Kamil menghampiri keduanya.
”Karena pria ini menyukainya dan aku yakin dia terlibat dalam menghilangnya istriku.”
Bugh.
Bogem mentah mendarat di rahang kiri Farhan, Daren tidak tahan lagi untuk tidak memukul pria yang ada di depannya sekarang.
”Brengsek kau asal menuduhku, introspeksi diri itu lebih baik buatmu kenapa dia bisa pergi meninggalkanmu apakah kau sudah memperlakukannya dengan baik selama ini?”
__ADS_1
”Daren cukup!”