Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Mamaku Pemalu


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan hampir satu jam keduanya sampai di jakarta dan langsung dijemput oleh Daren. Kamil membawa anaknya ke apartemennya lebih dulu karena dia butuh ganti pakaian baru setelahnya dia membawa Kamil pulang ke rumah menyiapkannya ke sekolah.


”Nanti apa kita akan menjemput mama bersamaan?” tanya Malvin sebelum turun dari mobil.


”Kurang tahu papa lihat nanti karena kau sendiri harus sekolah, bisa jadi papa jemput mama sendirian.”


”Ck! Kau tidak asyik!” protes Malvin lalu turun dari mobil Kamil.


Kamil menggeleng pelan dia faham mungkin Malvin masih kangen dengan kakeknya dan ingin kembali ke sana bertemu dengan mereka. Kamil pun kembali melanjutkan perjalanan menuju ke kantornya.


”Wah pengantin baru udah kerja aja nih,” goda Daren membuat beberapa karyawan menoleh ke arah Kamil.


”Hush, jaga bicaranya mau aku potong gajinya bulan depan.”


”Halah jangan gitu dong, aku kan hanya bercanda lagian faktanya memang kamu udah nikah kan. Dimana istrimu kenapa gak kamu bawa ke kantor dan kamu kenalin kepada para staf.”


”Gak akan, aku sendiri belum ngenalin dia sama mama kenapa aku harus ngenalin sama mereka, oh iya apa rapat udah dimulai?”


”Masuklah mereka sudah menunggumu sejak tadi.”


Kamil memimpin meeting bulanan dengan para staf dengan tegas dia menolak masukan yang tidak sesuai dengan visi misinya membuat beberapa karyawan ketar ketir karena baru kali ini Kamil menolak usulan para stafnya itu.


”Itu sangat merugikan Pak Yaqub dan saya kurang setuju dengan usulan Anda, apa ada pendapat yang lain? Sampaikan saja selama saya masih di sini mungkin ada kendala biar bisa kita selesaikan bersama.”


Semua orang terdiam membuat Kamil meyakini tidak ada keluhan dengan para karyawannya atau mungkin mereka memang tidak berani mengatakannya secara langsung.


Meeting selesai Kamil kembali ke ruangannya diikuti oleh Daren. ”Benar kamu sudah menikahi wanita itu?”


”Ish, dia itu punya nama Daren,” keluh Kamil merasa sedikit kesal pada bawahannya itu.


“Ops, maaf Daren menutup mulutnya merasa bersalah. Lalu kapan kau akan mengenalkannya pada para karyawan? Btw semalam malam pertamamu bukan?” goda Daren.


”Astaga pikiranmu mesum sekali!”


”Sama mesumnya denganmu memangnya aku tidak mengenalmu dulu waktu kuliah kau bahkan lebih mesum dariku,” protes Daren.


”Ck! Tolong jangan ungkit masa lalu oke. Ayo kita kerja bukankah ini jelang akhir bulan.”


”Kau benar sebentar lagi gajian, jangan lupa bonus bulanan ku kau tambah ya!”


”Ck! Dasar penjahat!”


Kamil segera memeriksa beberapa berkas yang menumpuk di mejanya karena jam dua dia harus kembali ke sekolahan Malvin menjemput anak itu.


Suara langkah kaki terdengar membuat Kamil mengalihkan perhatian pada seseorang yang masuk ke ruangannya.


”Mama,” panggil Kamil.


”Kenapa kamu gak angkat telepon mama semalam?” ujar Alika mendekati meja putranya.


”Maafkan aku Ma, semalam aku terlalu lelah jadi langsung tidur dan tidak tahu jika mama menghubungiku.”


”Alasan saja, temani mama ke butik sekarang!”

__ADS_1


”Eh?”


”Kenapa? Jangan bilang kamu sibuk, menyebalkan!”


Kamil menunjuk pada tumpukan berkas yang ada di mejanya membuat Alika memutar bola matanya malas.


”Ayo keluar sebentar saja.”


Mau tak mau Kamil menuruti keinginan mamanya pergi ke butik untuk mencari gaun pesta karena sebentar lagi ulang tahun perusahaan papanya akan mengadakan pesta di hotel miliknya.


Sesekali Kamil melirik ke arah jam tangannya, sebentar lagi jam dua dan dia masih berada di butik tersebut.


”Mana koleksi terbarumu?” tanya Alika.


”Ada dan kebetulan baru datang,” ucap Lina. ”Karin tolong bawakan koleksi terbaru mama ke sini,” teriak Lina.


”Bentar Ma,” sahut seorang wanita seraya datang menghampiri mereka.


”Ini Ma.” Karin memberikan beberapa contoh gaun pada Lina.


”Ini Jeng, cantik kan?” ujar Lina.


”MasyaAllah benar ini cantik sekali, siapa yang membuatnya?” tanya Alika.


Lina tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada Karin. "Dia putriku yang membuatnya.”


”Oh jadi ini putrimu yang katanya belajar di luar negeri?” tebak Alika.


”Benar.”


”Tunggu sebentar lagi ya."


”Tapi Ma, Kamil harus segera pergi ada kepentingan mendesak yang tidak bisa ditinggal. Mama di sini dulu nanti kalau udah selesai tinggal kabari Kamil akan jemput mama segera oke. Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam.”


"Ish, anak itu selalu saja begitu," keluh Alika.


”Putramu sangat tampan persis dengan papanya,” puji Lina.


”Ah bisa aja, dia itu paling tertutup orangnya tapi sekali kasih kejutan bikin spot jantung hampir lepas," ujar Alika.


”Wah benarkah pasti sering kasih kejutan buat pasangan nih,” tebak Lina.


”Tidak juga karena dia belum memiliki pasangan, berbeda dengan abangnya yang sudah dua kali menikah.”


”Dia belum punya pasangan, bisa daftar calon mantu dong tante,” ucap Karin.


”Boleh kalau Kamil bersedia, saya tidak pernah memaksakan dia harus seperti apa yang penting dia nyaman udah itu aja sih.”


”Calon mertua idaman nih,” puji Karin.


***

__ADS_1


”Maaf papa terlambat banyak sekali urusan di kantor.” Kamil menghampiri Malvin yang tengah cemberut di depan kelasnya.


”Apa papa akan jemput mama hari ini?” tanya Malvin.


”Mama belum kasih kabar sama papa, jadi papa belum berani ambil keputusan papa khawatir jika mamamu masih kangen dengan kakek di sana,” ungkap Kamil.


”Hm, mama gak akan kasih kabar sama papa percaya deh!” kesal Malvin seraya berjalan menuju mobil Kamil.


”Kamu kok bisa tahu?” Kamil mengikuti langkah Malvin.


”Mama seorang wanita Pa, apalagi kalian baru menikah mama itu tipe orang yang pemalu mana mungkin dia memulainya duluan.”


”Astaghfirullah baik-baik nanti papa akan hubungi dia nanti setelah antar kamu ke rumah.”


Malvin mengernyitkan alisnya, ”Papa mau pergi lagi?”


”Mungkin balik ke kantor, kita beli makan siang dulu ya?” tawar Kamil.


”Gak perlu Pa, mama sudah menyiapkan dimsum di freezer dan daging ayam plus sayurnya di kulkas nanti Malvin tinggal masak aja kok.”


”Wah benarkah? Kalau begitu biar papa yang masak kebetulan papa juga belum makan siang.”


Keduanya pulang ke rumah Kamil melupakan mamanya yang berada di butik dan sibuk sendiri dengan Malvin memasak.


”Papa yakin gak ada kerjaan di kantor?” Kamil yang sedang fokus dengan masakannya pun berbalik dan tersenyum.


”Sepertinya ada dan papa melupakan hal itu,” jawab Kamil santai.


’Mama calling ... ’


”Hallo Ma, bagaimana keadaan kakek?”


”Operasinya sudah berjalan lancar, apa kamu udah makan siang.”


"Belum, bahkan papa tidak memberiku makanan.”


Kamil yang mendengarnya pun segera merebut ponsel Malvin dan mengganti mode panggilan menjadi video call.


”Semua itu bohong Sayang, lihatlah kami sedang makan bersama jangan percaya dengan ucapannya sejak pagi dia selalu protes padaku.”


”Kalian ada-ada saja.”


”Mama kapan pulang? Jangan lama-lama di sana karena papa sudah rindu sekali.”


”Benarkah? Tapi dia tidak mengatakannya padaku.”


Kamil mengambil ponsel milik Malvin dan membawanya ke kamar.


”Pa, jangan bawa ponselnya Malvin belum selesai bicara," teriak Malvin tapi Kamil mengabaikan perkataannya.


”Papa ada perlu sama mama dan ini urusan orang dewasa!"


Blam!

__ADS_1


Suara pintu tertutup dengan keras.


”Ish, dasar orang dewasa menyebalkan, kenapa harus membawa ponselnya ke kamar di sini kan juga bisa,” gerutu Malvin.


__ADS_2