Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Kemarahan Alika


__ADS_3

”Ma, apa benar Kamil berada di sini?” Farhan datang menemui Alika.


”Dia sudah pergi beberapa menit yang lalu, ada apa kau mencarinya ke sini?”


”Tidak ada, aku hanya mau menanyakan perihal Alea.” Farhan akhirnya jujur jika dia ke sini untuk mencari Alea istrinya bukan Kamil. Sepulang dari kantor dia tidak terlihat di apartemen membuatnya khawatir dia takut jika Alea akan mengadu pada orang tuanya perihal kejadian yang dia lakukan semalam.


”Jangan mencari dia di sini karena dia sama sekali tidak pernah ke sini dan lagi mana mau dia datang sedangkan dia tidak pernah menganggap mama, kecuali jika apa yang dia inginkan terpenuhi.”


”Apa maksud mama?”


Alika mengedikkan bahunya singkat lalu menatap Farhan putra sulungnya. ”Kau yakin tidak tahu apa yang dia inginkan ... sudahlah lupakan saja, apa kau sudah makan? Jika belum mari kita makan malam bersama ada Malvin anaknya Kamil di sini.”


”Jadi anak itu nekad pergi ke Eropa buat honeymoon? Ck sulit dipercaya baru saja dipilih menjadi seorang pemimpin sudah jalan-jalan menghabiskan uang perusahaan!” ujar Farhan.


”Apa maksudmu Farhan, jangan suka mengadu domba mama tahu kalian berdua tidak akur tapi tidakkah kau melihat semangatnya bekerja bahkan dia lebih unggul darimu.”


”Mama sedang membandingkan diriku dengannya kan? Ma, aku adalah aku tolong jangan kau bandingkan aku dengan dia itu sangat menyakitkan!”


”Mama tidak akan membandingkan dirimu jika saja kau memihak pada mama, Farhan kamu itu mengetahui semuanya tapi kenapa kamu bungkam selama ini. Apakah kamu tidak menghargai mama yang telah mengandung dan melahirkan dirimu!”


”Mama benar-benar kecewa sangat kecewa padamu Farhan. Jujur mama tidak ada keberanian untuk mengatakannya pada adikmu karena mama khawatir dia akan ikut membencimu.”


Alika meluapkan kekesalannya pada Farhan, ungkapan kesedihan yang selama ini dia pendam. Dia kecewa dengan kedua pria yang justru bersekongkol merahasiakan hubungan gelapnya, Hamid menarik Farhan agar mengikuti jejaknya itulah yang dia ketahui karena setelah resmi bercerai dari istrinya Farhan kerap datang ke klub malam mencari kesenangannya sendiri jadi siapa yang salah di sini. Anehnya Hamid lah yang menuduh balik Kamil yang suka melakukan hal kotor tersebut, Kamil pria yang baik itulah kalimat yang selalu tersemat di hati Alika.


”Maafkan Farhan karena telah membuat mama kecewa tapi sungguh Farhan melakukan hal itu karena tidak mau kalian berdua bertengkar dan berujung pada perpisahan, jujur Farhan salut dengan keberanian Kamil yang mampu menguak semuanya.”


”Karena adikmu itu tidak mau mama semakin tersakiti, apa kau punya keberanian seperti dirinya?”


Farhan menunduk menahan malu, di sisi lain Malvin tengah mendengarkan semuanya dari balik pintu niat hati ingin mengambil ponselnya yang tertinggal di ruang tengah harus tertahan karena mendengar pertengkaran orang dewasa itu.

__ADS_1


Dadanya ikut bergemuruh apalagi bayangan Daffa papanya yang pernah datang memohon padanya, meminta bantuannya untuk rujuk kembali dengan Medina terlintas di wajahnya, kekesalannya memuncak saat tahu papanya justru akan menikah lagi dengan wanita pilihan neneknya. Mungkin apa yang dirasakan oleh Alika neneknya saat ini hampir sama dengannya.


Setelah Farhan pergi, Malvin mendekati Alika yang sedang menangis. ”Yang sabar ya Nek, semua pasti akan berlalu.” Malvin mengajak Alika duduk di sofa,


”Maaf ya di sini kamu justru mendengarkan semuanya, nenek jadi malu,” ucap Alika.


”Apa yang nenek rasakan hampir sama denganku, dulu Malvin juga merasakan hal yang demikian kecewa pada orang yang Malvin sayangi.”


Malvin pun menceritakan semuanya pada Alika tentang masa lalunya hal itu membuat wanita paruh baya itu semakin sayang pada Malvin terlebih Medina karena dia masih mampu bertahan hingga saat ini.


***


Kamil dan Medina sampai di Italia setelah melakukan perjalanan panjang dan cukup melelahkan. ”Kita istirahat dulu ya,” ajak Kamil dia membawa Medina ke Cinque Terre di Riviera, Italia. Pemandangan laut yang terpampang jelas di depan terasa sedang memanjakan mata membuat betah melihatnya.


Kamil sengaja memilih tempat yang langsung terhubung dengan pantai karena dia ingin memanjakan Medina dengan keindahan alam yang ada di sini.


”MasyaAllah cantik sekali ya,” puji Medina.


”Kau ini hobinya pasti hanya berlibur, jalan-jalan menghabiskan uang.”


Kamil memeluk pinggang Medina dari belakang menyesap wangi tubuhnya. ”Kamu suka?”


”Tentu saja.”


”Kita bisa bermain di sana tapi nanti ya, aku mau istirahat dulu, tubuhku pegal semua terlebih sejak tadi hanya duduk saja di pesawat,” keluh Kamil.


”Terserah kau saja aku ikut,” ujar Medina.


”Benarkah?” ucap Kamil seraya menggodanya. ”Akh, ternyata memiliki istri itu sangat menyenangkan ya, kenapa tidak sejak dulu saja aku menikah!” bisik Kamil kemudian.

__ADS_1


Medina tersenyum mendengar perkataan Kamil, ”Jika kau sudah menikah aku rasa kita tidak mungkin bertemu saat ini.”


”Kau benar, beruntungnya aku menolak banyak gadis dan mendapatkan dirimu, kau memang yang terbaik.”


”Keterlaluan,” cibir Medina.


”Gak masalah karena pada akhirnya kamu lah yang memiliki diriku.” Keduanya pun terkekeh bersama.


Kamil menyiapkan makan siangnya sendiri membiarkan Medina istirahat di kamarnya dia ingin memberi waktu sebelum nanti malam akan menggempurnya habis-habisan. Butuh waktu dua puluh lima menit baginya untuk menyiapkan semuanya, hingga wanita yang dia kira telah terlelap nyatanya ada di ruang tamu tengah duduk menonton televisi padahal Medina sendiri tidak faham apa yang sedang dibahas di acara tersebut.


”Sejak kapan kau ada di sini, aku kira kau tidur.” Kamil meletakkan makan siangnya di meja ruang tamu.


”Aku sulit sekali memejamkan mata, keingetan Malvin bagaimana dia di rumah karena baru kali ini dia aku tinggal jauh seperti ini.”


”Kamu ini terlalu berlebihan, jangan mencemaskan dia pastinya dia baik-baik saja bersama dengan mama. Ayo kita makan dulu, pasti kau lapar kan?”


Waktu sore Kamil habiskan berdua dengan Medina di balkon kamarnya melihat sunset hal yang jarang dia temui.


”Ini yakin kita hanya akan tetap di sini?” tanya Medina.


Kamil menoleh ke arah Medina, ”Memangnya kamu mau mengajakku kemana?”


”Aku gak mau hanya berdiam diri di sini, ayo kita keluar!”


”Besok pagi saja ya, aku masih lelah,” ucap Kamil. Keduanya pun terdiam.


Kamil membalikkan tubuh Medina dikecupnya kening wanita itu perlahan turun dan bertemu dua mata indah, setiap jengkal tak luput dari kecupannya. Tatapan keduanya saling bersirobok, tidak ada ucapan sama sekali, hening. Baik Kamil maupun Medina sama-sama menderu napas terengah-engah. Seolah didorong oleh makhluk bernama nafsu, perlahan namun pasti, keduanya saling berlomba mengikis jarak. Hingga pada hitungan dua detik, dua obyek lembut itu saling bertemu. Ah sial, senyapnya ruangan ini semakin memperjelas bunyi kecapan yang menggema. Saling melilit dan menuntut lebih dalam lagi, keduanya lupa bagaimana cara menyudahi ini.


__ADS_1


Cinque Terre di Riviera, Italia


__ADS_2