
”Maaf,” ucap Christy melepaskan tangannya dari genggaman Daren, dia tidak mau menjadi baper karena perlakuan yang diberikan oleh pria yang ada di sampingnya saat ini.
”Apa kau sudah sarapan?” tanya Daren mencairkan suasana.
”Belum, saya ke sini naik motor karena takut terjebak macet.” Christy menunjuk motornya tentu saja hal itu membuatnya tercengang lalu menatap Christy dari bawah hingga ke atas wanita yang ada di sampingnya memakai celana bahan bukan rok pantas saja dia berani naik motor seperti itu.
”Jangan salah sangka itu motor sepupuku karena tidak dia pakai ke kampus jadi aku pinjam,” ucap Christy yang langsung membaca reaksi wajah Daren.
”Oh, kalau begitu kita ketemu di kantor saja aku akan mentraktir kamu sarapan di kantor."
”Terima kasih, saya permisi dulu!” ucap Christy berpamitan pada Daren.
”Sampai ketemu di kantor!” Daren menatap Christy yang dengan lihainya menaiki motor tersebut.
”Astaga kenapa aku jadi memperhatikannya.” Daren langsung menuju ke mobilnya di parkiran dan melesat menuju kantor.
Begitu sampai Kamil sudah menghadangnya di lobi bersama dengan Christy.
”Tumben datang pagi-pagi biasanya kamu akan datang tepat setelah jam siang atau mungkin malah gak datang sama sekali,” ucap Daren melirik Christy yang sedang menata berkas.
”Ke sini!” Kamil menarik lengan Daren membawanya menjauh dari yang lain. ”Kau menyukainya?”
"Apa yang kau katakan?" tanya Daren.
”Jangan pura-pura aku bisa membacanya, ku juga seorang pria sama sepertimu apa kau lupa?" tegas Kamil.
”Aku hanya mengaguminya saja tidak lebih,” bantah Daren.
kamil tersenyum mengejek pada sahabatnya, ”Jika kau menyukainya sekalipun tidak masalah bagiku yang penting kau bahagia mengerti!”
”Oke sekarang kau sedang menghakimiku karena aku menyukainya? Astaga Kamil, aku tidak menyukainya hanya sebatas mengaguminya, kau tahu dia ke sini naik apa? Motor sport!”
Kamil tergelak seketika mendengar penjelasan Daren. ”Aku tahu sekarang, jadi kau dan dia merasa sejati karena sama-sama menyukai hobi yang sama. Congratulations! kau telah menemukan jodohmu!”
”Terserah kau saja,” sahut Daren setengah kesal karena Kamil terus saja mengejeknya.
”Berarti dia orang kaya kan?" selidik Kamil.
”Sayangnya bukan!”
”Kau begitu yakin, apa kau sudah menyelidikinya?"
__ADS_1
”Tentu saja sudah, dia itu hanya anak seorang buruh biasa di desa dan di sini dia ikut saudaranya motor yang dia bawa itu milik sepupunya. Sampai di sini kau faham?”
”Ya ampun detail sekali, oke aku faham sekarang!”
”Ayo kita meeting sekarang!" Daren memaksa kamil untuk segera memulai meeting bulanannya karena sudah tidak tahan terus menerus digoda oleh sahabatnya itu.
”Ayo habis ini aku harus balik mengantar istriku check up ke rumah sakit.”
”Oh, jadi karena ini kau mau datang ke kantor!Rupanya kau sedang belajar menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluargamu,” ucap Daren seketika memuji sikap sahabatnya yang selalu gerak cepat untuk keluarganya.
”Sudahlah ayo kita ke ruang meeting!" Keduanya pergi bersamaan disusul oleh Christy dan yang lain.
***
”Apa hari ini kita jadi main basket di rumahmu?” tanya Dennis begitu jam istirahat sedang berlangsung.
”Aku tidak tahu, barusan papaku bilang jika nenekku memintaku datang ke rumah. Bagaimana jika kau ikut aku ke rumahnya?" usul Malvin jujur dia enggan datang sendirian ke rumah papanya karena Lastri tidak menyukai kehadirannya.
”Yah sayang sekali padahal kita mau ajak Intan juga nantinya,” seru Saskia menghampiri keduanya.
”Kau ...”
”Aku sedang bad mood tolong jangan buat aku semakin kesal!” ujar Malvin pada Saskia. Gadis itu pun mengerucutkan bibirnya kesal dengan perkataan Malvin.
Mendengar teriakan Saskia membuatnya merasa bersalah karena gadis itu seakan frustasi dengannya.
”Maafkan aku, aku hanya sedang tidak suka saja dengan keadaan yang sedang aku jalani, tolong jangan salah paham.”
Saskia spontan memeluk Malvin membuatnya terkejut begitu pula dengan Dennis dan Intan yang baru saja datang di tempat itu.
Denis memberi kode pada Intan untuk diam tapi sepertinya Intan pun salah paham dengan apa yang dilihatnya, membuatnya segera berlalu meninggalkan ketiganya. Denis ikut frustasi dengan keadaan yang sedang terjadi apakah dia harus diam saja atau ...
”Maaf, tolong jangan begini dan membuat orang yang melihat jadi salah paham,” ucap Malvin pada Saskia.
”Kenapa? Aku menyukaimu Malvin bahkan sejak awal kita bertemu,” seru Saskia.
”Maafkan aku tapi aku tidak bisa menerima cinta dari siapapun, tolong kau hargai keputusanku. Denis ayo kita ke kelas!”
Malvin berjalan lebih dulu menuju kelas perasaanya tidak enak dan bingung harus bagaimana menyikapinya.
”Kau benar-benar tegas aku sangat mendukungmu,” ucap Denis.
__ADS_1
”Kau tidak tahu bagaimana daddy-ku mengajariku untuk bersikap tegas begini. Aku tidak menyukainya dan hanya menganggapnya sebagai teman tidak lebih,” jelas Malvin tanpa dia sadari jika Intan ada di belakangnya mendengar semuanya.
”Aku tidak mau mengecewakannya apalagi mamaku yang sudah bersusah payah membesarkan diriku selama ini.”
Malvin pun mengingat masa-masa dimana Medina kesulitan membesarkan dirinya dan karena itulah dia tak ingin membuatnya bersedih karena kelakuannya.
”Aish, sejak kapan kamu ada di belakangku?” Malvin terkejut karena menabrak Intan yang ada di belakangnya.
"Sejak kai menggerutu tadi.”
”Astaghfirullah, aku tidak menggerutu hanya sedikit kesal saja.”
”Apa bedanya, sama saja kan?” kilah Intan.
Derap langkah kaki mengalihkan perhatian ketiganya, Daffa melangkah mendekati Malvin.
”Apa kau sudah membuat keputusan?" tanya Daffa menatap ke arah Malvin.
Malvin terdiam sejenak menatap ke arah teman-temannya. ”Maaf Pa, sepertinya tidak bisa hari ini karena Malvin sudah ada janji lebih dulu dengan teman-teman jadi ...”
Daffa menarik nafasnya perlahan, ”Tidak masalah papa sadar kok, kamu gak mungkin bisa memenuhi keinginan papa kali ini.”
”Bukan begitu, tapi sungguh Malvin tidak bisa pergi karena mama juga sedang dalam kondisi yang kurang fit dan Malvin sudah lebih dulu janji akan bersama dengan teman-teman Malvin hari ini.”
”Iya, maafkan papa yang tidak pernah mengerti akan keadaanmu selama ini.”
”Jika Malvin ada waktu pasti Malvin mau kok ke rumah.”
”Janji ya, papa dan nenek sangat menunggu kedatanganmu," ucap Daffa sebelum benar-benar pergi.
”InsyaAllah.”
”Yes! Jadi hari kita tetap bisa bermain basket!" seru Denis kegirangan.
”Jangan kabar-kabar dengan yang lain cukup kita bertiga saja nanti ada Om Baron yang akan bermain dengan kita,” ucap Malvin.
Denis pun mengerlingkan sebelah mata kirinya pada Intan membuat Malvin melotot karena tidak suka dengan sikap sahabatnya pada Intan.
”Ck! Jangan buatku malu Den, kau ini temanku atau bukan sih!" kesal Malvin.
”Iya tentu saja temanku, oke kita hanya bertiga saja ya!” seru Denis.
__ADS_1
”Lalu apakah aku gak boleh ikut dengan kalian?”
Ketiganya langsung menoleh ke arah suara. ”Duh kenapa dia harus muncul di saat seperti ini!”