Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Aku Pulang!


__ADS_3

”Farhan apa kau melihat adikmu?” tanya Hamid begitu masuk ke rumah.


”Dia belum datang Pa?” jawab Farhan.


”Apa? Acara akan segera dimulai tapi dia belum datang kemana dia?” Hamid tampak berpikir kemana kira-kira putra bungsunya itu pergi.


”Sudahlah jangan dipikirkan, Kamil itu sudah dewasa dia tahu mana yang baik untuknya,” ucap Alika.


”Apa dia ada bilang padamu jika hari ini dia akan datang?” tanya Hamid.


”Tidak, dia hanya bilang akan kembali keluar kota.”


”Astaga anak itu kenapa sulit sekali dikontrol bahkan dia bertindak sendiri tanpa meminta pendapatnya pada orang lain,” ucap Hamid kesal.


”Apa kau lupa dia itu sudah dewasa jadi jangan paksa dia menjadi seperti yang kamu mau, dia bisa menentukan jalan hidupnya sendiri,” tukas Alika.


”Ish, selalu saja kau membela anak itu.”


Hamid pergi meninggalkan kerumunan tamu yang mulai berdatangan.


”Farhan apa kau benar-benar tidak tahu kemana adikmu pergi?" tanya Alika.


Farhan mengedikkan bahunya, ”Aku sama sekali tidak tahu menahu Ma, lagipula kami tidak begitu dekat kau tahu sendiri itu bukan.”


”Lalu kemana mempelai wanitanya apakah dia belum datang?” Alika mencari keberadaan calon menantunya Alea.


”Dia sudah datang mungkin sedang menemui teman-temannya karena tadi ada beberapa wanita yang menyapanya,” jelas Farhan.


”Ingat jaga dia baik-baik kau tahu bukan jika dia itu sahabatnya adikmu jadi kau bisa menyimpulkannya sendiri, seperti apa nantinya ke depan.”


Alika tidak mau Farhan dan Kamil berselisih paham dia menyadari jika Alea menyukai Kamil hanya saja putranya itu cuek dan tidak pernah menanggapi perasaan gadis itu.


”Farhan tahu kok maksudnya Ma, Farhan akan menjaga Alea dengan baik.”


”Terima kasih.”


”Nah itu dia anaknya datang!”


Alika menoleh melihat putra bungsunya datang menghampirinya.


”Ma,” panggil Kamil.


”Akhirnya kau datang juga?” ucap Alika.


”Iya, aku mau berpamitan.”


”Kau mau pergi lagi?”


”Iya, masih ada yang harus Kamil kerjakan di luar Ma,” ucap Kamil.


”Baiklah tapi ingat kau harus memberi kabar pada mama jangan bikin mama khawatir mengerti!”


Kamil mengangguk.


”Selamat ya Bang, semoga samara bersama Alea.”


”Terima kasih untuk doanya.”

__ADS_1


”Ma ... Kamil pergi ya, assalamu’alaikum.”


”Waalaikumussalam.”


Kamil melangkah pergi menuju bandara diantar oleh Daren.


”Bos, memangnya wanita di sana cantik-cantik ya? Sepertinya kau lebih nyaman ke sana dibandingkan dengan kota lain,” tanya Daren.


”Namanya juga wanita pasti cantik kalau tampan itu pasti pria,” papar Kamil.


”Ck! Gak nanya aku.”


”Ya udah lagian udah tahu jawabannya kenapa masih nanya.”


”Ingat apapun yang terjadi hubungi aku segera.”


”Baik bos!”


”Aku berangkat, sampai jumpa!”


Daren mengangguk membiarkan bosnya check in melakukan perjalanannya ke kota lain.


***


"Jadi berangkat mbak?” tanya Hasna.


”Jadilah kalau gak berangkat pasti mereka akan menertawakan diriku dan aku tidak mau itu terjadi meskipun aku berusaha untuk acuh sekalipun aku tidak bisa.”


”Aku temani ya?” tawar Hasna.


”Baiklah, tapi janji ya apapun yang terjadi jangan pernah menangis kau harus kuat!” ucap Hasna memberikan semangat pada Medina.


”Baik, kenapa jadi kamu yang mengkhawatirkan diriku?” Medina dan Hasna terkekeh bersama.


”Ya sudah aku berangkat dulu, Assalamualaikum.”


"Waalaikumussalam.”


Dengan langkah pasti Medina pergi menuju pernikahan mantan suaminya Daffa. Hampir setiap langkahnya dia hitung karena dia masih saja tidak percaya dengan apa yang sedang dia alami.


”Aku harus kuat!” gumam Medina. ”Apapun yang terjadi itu adalah takdirku!” lanjut Medina.


Taxi yang dia tumpangi berhenti di salah satu hotel bintang lima di pusat kota.


”Kau tamu undangan juga?” tanya salah seorang penerima tamu.


Medina mengangguk.


”Silakan masuk!” ucapnya.


Dengan langkah gontai Medina masuk memandangi suasana ballroom hotel yang sudah disulap menjadi begitu megah, pernikahannya dulu tidak seperti ini dan sekarang sangat berbeda sekali dengan dulu dia menikah.


”Pasti Lastri adalah menantu terbaik pilihan Bu Yanti untuk Daffa, makanya beliau berani mengocek uangnya begitu banyak dan lagi Lastri adalah orang kaya yang sangat diimpikan keluarganya Daffa.”


Medina terus saja bermonolog dalam hati.


”Akhirnya kau datang juga,” sapa Lastri menghampiri Medina bersama Daffa.

__ADS_1


”Tentu saja bukankah kalian mengundangku?” balas Medina.


Lastri seakan kesal karena mantan istri suaminya berani datang dan tanpa rasa khawatir sedikitpun.


”Terima kasih,” ucap Daffa.


”Tidak perlu aku hanya melaksanakan kewajibanmu sebagai tamu saja.”


”Dimana kekasihmu bukankah dia bilang akan datang bersama denganmu, apakah kau yakin dia itu kekasihmu? Meragukan!” cecar Lastri.


”Dia sedang ke Jakarta karena ada kepentingan jadi mohon maaf saya datang ke sini sendirian karena tidak mungkin saya mengajak anak saya Malvin saya takut dia akan mencakar dirimu nantinya karena mengira kamu telah merebut bapaknya,” jelas Medina.


”Sulit dipercaya jangan-jangan kamu berbohong!” ejek Lastri.


”Dia tidak berbohong!” seru seorang pria menghampiri Medina dan merangkul bahunya.


”Saya datang, maaf terlambat jalanan macet,” bisik Kamil membuat Medina terkejut karena sikap Kamil yang begitu dekat dan hampir tak berjarak.


”Kau ... kenapa kau datang ke sini?”


”Tentu saja bisa, saya bisa melakukan apapun yang saya mau,” ucap Kamil.


”Kamu datang juga?” wanita paruh baya menghampiri mereka berempat.


”Bu ... ini mbak Medina datang bersama dengan kekasihnya,” ucap Lastri.


Bu Yanti memandang ke arah Medina dan Kamil bergantian, ”Sepertinya aku pernah melihat orang ini bersama dengan pemilik hotel ini.”


”Yang benar saja mungkin ibu salah lihat, mana mungkin tukang sayur bisa bertemu dengan pemilik hotel ini,” balas Lastri.


Bu Yanti Mandang sekali lagi untuk memastikannya. ”Ah, gak mungkin ibu salah lihat tapi ya sudahlah buat apa ibu mengurus masalah orang lain. Kamu kenapa gak ajak cucuku Malvin?”


”Dia gak akan mau Bu,” jawab Medina.


”Anak itu!” kesal Bu Yanti.


”Sudahlah Bu, gak perlu mikirin dia Lastri akan kasih kamu cucu yang banyak nantinya, yang cakep-cakep melebihi Malvin tentunya,” ucap Lastri mulai sesumbar karena dia takut sejak tadi Daffa diam memperhatikan Medina dan Kamil.


”Buktikan saja Lastri! Ya sudah cepat kalian temui tamu yan lain, mereka sudah pada menunggu acara harus segera dimulai!” ucap Yanti. Ketiganya pergi meninggalkan Medina dan Kamil.


”Maaf saya datang terlambat!” ucap Kamil melepaskan tangan yang sejak tadi menempel di bahu Medina.


Medina mengalihkan pandangannya ke arah Kamil yang tampak berbeda dari sebelumnya pakaiannya rapi dan terlihat lebih tampan dari sebelumnya.


”Kenapa memandangku seperti itu?”


”Karena kau berbeda dari biasanya.”


”Benarkah? Apa aku terlihat lebih tampan? Katakan pendapatmu tentangku?”


”Maksudmu?” Medina tidak faham dengan arah pembicaraan Kamil.


”Mana yang lebih mbak Medina sukai, Kamil yang kucel jualan sayur keliling atau Kamil yang sekarang ada di depan Mbak Medina?”


Medina mengangkat wajahnya menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh pria yang ada di depannya saat ini.


”Kamu memintaku menilainya?”

__ADS_1


__ADS_2