Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Biarkan Dekat


__ADS_3

Masihkah bisa dipertahankan jika ternyata orang yang dipertahankan justru asyik dengan dunianya sendiri. Ya Farhan seakan mengabaikan Alea selama ini hanya di awal saja dia sangat antusias tapi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, pria itu seperti acuh.


”Kau baik-baik saja kan?” tanya Kamil pada Alea yang terdiam mendengar pertanyaan darinya.


”Menurutmu bagaimana?” sahut Alea.


”Sebaiknya kau cepat mengambil keputusan jika kau belum mengerti kau bisa menanyakan hal itu pada istriku dia lebih faham karena dia telah mengalami masa sulit sepertimu.”


Alea terdiam sesaat, ”Apa dia ada di rumah?”


Kamil mengangguk, ”Datang saja bicaralah dengannya secara terbuka dia orangnya asyik diajak bicara apalagi soal agama, itulah kelebihan yang tidak dia perlihatkan di depan orang lain.”


”Jadi ini salah satu alasanmu juga memilihnya,” tanya Alea.


”Benar, pergilah ke rumah aku sedang banyak pekerjaan.”


”Ish kau bahkan mengusirku!” pekik Alea namun tetap bangkit dari duduknya meninggalkan Kamil di ruangannya. Setelah Alea pergi baru Daren datang.


”Astaga kau telat sedikit saja karena Alea baru saja ke sini,” ujar Kamil.


”Aku tahu itu.”


Kamil menautkan kedua alisnya, ”Jadi kau sudah bertemu dengannya?”


”Tidak lebih tepatnya menghindarinya, aku tidak mau hal buruk terjadi jadi lebih baik menghindarinya lebih dulu dan soal apartemen di sampingku itu, aku sudah membayarnya.”


”Jadi ... itu atas namamu sendiri?”


”Benar.”


”Astaga aku kira bukan begitu, aku memintamu untuk membayarnya tapi dengan uangku karena aku pikir ingin memberikannya pada putraku Malvin.”


”Hah! Tidak salah? Dia masih terlalu kecil untuk menerima hadiah seperti itu, aku justru khawatir dengan pergaulannya jika kau memberikannya kemudahan di usianya yang masih muda.”


”Aku juga tidak ingin memberikannya secara gratis itu hanya buat penyemangatnya agar dia rajin belajar dan meraih predikat terbaik di sekolahnya sama sepertiku,” ungkap Kamil.


”Astaga maafkan aku, aku pikir bukan begitu.”


"Makanya jangan berpikir negatif dulu, lihat bagaimana yang terjadi.”


”Sudahlah, aku mau memeriksa gudang dulu sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan di sana,” pamit Daren.


Kamil tersenyum kecil melihat Daren seperti itu, dia yakin jika pria itu sedang mengalami kebimbangan dan lebih baik membiarkannya lebih dulu daripada membuatnya terdesak dalam kebimbangan.


Di rumah Kamil, Malvin baru saja pulang langsung memeluk Medina mengobati rasa kangennya karena dua hari tidak bertemu dengannya.


"Masak apa hari ini Ma?” tanya Malvin masih bergelayut manja.


”Mama tidak memasak, sebentar lagi Mbok Iyem mengirim makanan buat kita. Memangnya kau mau memakan sesuatu?”


”Iya, tapi jika memang mama tidak bisa ya sudah.”

__ADS_1


Suara bel pintu berbunyi.


”Sepertinya Mbok Iyem datang,” tebak Malvin.


”Bukan, kalau dia yang datang tidak akan memencet bel tapi langsung masuk lewat pintu samping menuju ke dapur. Coba kau lihat.”


Malvin melihat ke depan wajahnya tampak tidak suka karena melihat siapa yang ada di depan pintu, dengan rasa malas dia segera membukanya.


”Hai, apa Tante boleh masuk?” sapa Alea.


”Tentu saja silakan.” Malvin mempersilakan Alea masuk dan duduk di ruang tamu.


”Mama ada?”


Malvin menautkan alisnya, ”Ada.”


"Tenang saja aku tidak akan menyakiti mamamu justru Tante ke sini untuk sharing,” jelas Alea.


”Tunggu sebentar saya panggilkan di dalam.” Malvin masuk memanggil Medina.


”Kenapa lama sekali siapa di depan?”


”Dia Tante Alea, temannya papa istrinya om Farhan,” ucap Malvin.


”Ya ampun komplit sekali menyebutnya. Kamu bantuin Mbok Iyem ya, mama mau temui dia dulu.”


Medina segera menemui Alea dirinya penasaran hal apa yang membuatnya datang ke rumah ini menemui dirinya.


”Silakan jika memang aku bisa bantu aku akan membantumu,” sahut Medina.


”Ini tentang pengalamanmu di masa lalu, apakah kau bisa berbagi denganku?”


Medina terdiam apakah yang harus dia lakukan jika Alea mengungkit masa lalunya itu. "Mbak Alea mau tanya yang seperti apa ya?”


”Semuanya.”


Medina menghela nafasnya berat, ”Bisakah kita makan siang dulu, setelahnya baru kita bercerita saling sharing karena memang ini waktunya makan siang.”


Alea menoleh ke arah meja makan tampak Mbok Iyem asisten rumah tangga mama Alika ada di sini bersama dengan Malvin menata meja makan.


”Boleh.”


”Ayo!”


***


”Bu, ada Non Alea di rumah Den Kamil,” ucap Mbok Iyem pada Alika.


”Dia ada di sana ngapain?”


”Kurang tahu tapi yang saya lihat mereka berdua terlihat sangat akrab satu sama lain.”

__ADS_1


”Oh benarkah? Jika memang demikian tidak ada yang perlu dikhawatirkan hanya saja terdengar aneh jika Alea datang ke rumah Kamil sendirian sedangkan dia tengah dalam masalah.” Alika jadi risau mendengar kabar dari Mbok Iyem.


”Loh mau kemana?” tanya Mbok Iyem melihat Alika bangun dari duduknya.


”Mau ke rumah Kamil sebentar Mbok memastikan saja jika Alea tidak macam-macam pada Medina.”


”Sebaiknya istirahat saja, biar nanti Medina yang ke sini dan menjelaskan semuanya.” Mbok Iyem tidak akan membiarkan Alika pergi mengingat tadi pagi dia mengeluh pusing dan Mbok Iyem sadar jika hal itu disebabkan oleh kelakuan putra sulungnya Farhan.


”Tapi Mbok, ... ”


”Kalau nekad nanti saya akan menghubungi Den Kamil memintanya pulang ke sini dan mengurus semuanya. Saya gak mau loh melihat Nyonya Alika sakit lagi memangnya enak sakit, tidak!”


”Ya ampun kamu melebihi mamaku,” sahut Alika.


”Biarkan saja mereka berdua, siapa tahu dengan begitu mereka bisa akur dan saling berbagi cerita satu sama lain. Lagipula di sana juga ada Malvin, anak itu kan cerdas pasti bisa melindungi mamanya sendiri.”


”Baiklah.” meskipun berkata demikian tapi Alika tetap menggulir ponselnya untuk menghubungi putranya Kamil.


”Hallo Ma, ada apa?”


”Alea ada di rumahmu, apa kau tidak khawatir?”


”Ma, biarkan saja mereka berdua dekat dan saling mencurahkan isi hati, siapa tahu istriku juga memendam sesuatu selama ini.”


”Yang mama khawatirkan Alea berbicara macam-macam, hatinya sedang buruk.”


”Kamil percaya dia tidak akan melakukan apapun, biarkan saja ya Ma. Oh iya apa benar mama sakit? Kamil tahu dari Mbok Iyem tadi dia kasih tahu Kamil sebelum antar makanan ke rumah.”


”Tidak masalah hanya pusing biasa saja kok.”


”Jangan terlalu memikirkan masalah yang sedang terjadi biarkan Farhan menyelesaikan masalahnya sendiri.”


”Kau benar tapi bagaimanapun dia juga anak mama jadi tidak mungkin jika mama mengabaikannya begitu saja kan. Mama tutup teleponnya ya, mau minum obat dan istirahat.”


”Baiklah sampai jumpa!”


Bip.


Alika menghembuskan nafasnya setelah menutup ponselnya, dilihatnya Hamid sedang menatap ke arahnya penuh dengan kekesalan. Ingin Alika acuh tapi tidak mungkin dia menghindarinya lagi.


”Dimana anak itu?” tanya Hamid dengan telapak tangan masuk ke saku celananya.


”Siapa yang kau maksud?”


”Siapa lagi jika bukan anak kesayanganku itu,” sahut Hamid.


”Dia tidak ada di sini, sejak pagi dia pergi.”


”Apa? Di apartemennya tidak ada lalu kemana dia?”


”Selingkuhannya, siapa lagi!”

__ADS_1


__ADS_2