Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Persoalan Hati


__ADS_3

Kamil datang ke rumah Maryam karena wanita itu memanggilnya untuk datang ke rumah, dirinya datang sendiri karena tidak ingin Pak Ratno sendirian di rumah.


”Ma, bagaimana kabarmu?” Kamil duduk di samping Maryam sambil mencomot keripik kentang dalam toples yang dipegang Maryam.


”Ish, tak perlu basa-basi langsung ke intinya,” seru Maryam.


”Tadi Om Bobby datang ke kantor dan menanyakan keadaanmu ... dia juga menanyakan perihal hati.”


”Mama bisa menebak sudahlah jangan dibahas lagi untuk apa, jujur mama sudah tidak memikirkan hal itu lagi yang ingin mama pikirkan adalah keadaan anak-anak dan cucu-cucu mama nantinya. Bagaimana keadaan Medina, apa dia ingin hal yang aneh-aneh?”


”Alhamdulillah tidak sekarang dia sedang di rumah bersama dengan bapaknya, mama pasti sudah tahu dari Mbok Iyem kan?”


”Kau benar Nak, tadi siang dia kasih tahu mama. Oh iya bagaimana dengan Alea, apa kakakmu ada memberi kabar soal istrinya?”


Kamil bingung haruskah dia jujur menceritakan semuanya tapi jika dia tutup-tutupi dia khawatir salah langkah pada akhirnya.


”Ma, Alea dan Bang Farhan bertengkar di kantor tadi pagi. Kamil tidak bisa melerai karena tidak tahu duduk persoalannya dengan pasti tapi yang jelas Bang Farhan menuduh Alea dan Daren ada affair di belakangnya.”


”Kau sendiri percaya dengan tuduhan yang diberikan abangmu itu?”


Kamil mengedikkan bahunya, ”Mereka itu sebelas dua belas, Ma. Kamil yakin jika Daren juga memiliki rasa pada Alea sedangkan Alea sendiri dirinya sudah merasa tersakiti oleh Bang Farhan lebih merasa nyaman bersama dengan Daren, di samping itu mereka juga dulu kuliah bersama.”


”Mama kasihan dengan Alea tapi dia sendiri acuh dengan mama dan cemburu tiap kali mama bicara soal istrimu, sungguh mama tidak ada niat lain ataupun membandingkan dirinya. Tidak sama sekali, mama ingin Alea belajar pada Medina.”


”Sabar Ma, semua tidak semudah membalikkan telapak tangan kita tidak bisa memaksakan sesuatu yang orang lain sendiri tidak suka.”


"Kau benar, bagaimana dengan Malvin apa kau sudah memberikan apa yang mama perintahkan?”


Kamil mengangguk mengiyakan. ”Mama tidak perlu khawatir dia anak yang penurut dan mudah diatur jadi tidak perlu terlalu memikirkannya.”


”Syukurlah.”


Kamil segera pulang setelah bertemu dengan Alika hatinya sedikit tenang terlebih dengan jawabannya yang cukup melegakan hatinya, Kamil tahu dirinya tidak boleh egois apalagi menahan kebahagian mamanya. Pemikiran Kamil sama dengan Alika, sudah waktunya istirahat dan tidak memikirkan dunia. Menikmati waktu luangnya bersama dengan anak dan cucunya.

__ADS_1


”Bang udah pulang kok jalan kaki?” sapa Medina yang melihat Kamil membuka pintu gerbangnya sendiri.


”Iya, aku habis dari rumah mama dan mobilnya aku tinggal di sana. Apa Malvin sudah pulang?”


”Iya dia di kamarnya.”


Kamil merangkul bahu Medina mengajaknya masuk. ”Bang jalan yuk kita cari makan lesehan di luar, cari angkringan gitu.”


Kamil menghentikan langkahnya menatap Medina. ”Kau yakin?”


Medina tersenyum dan mengangguk. ”Baiklah biar bapak sama Malvin makan di rumah berdua, atau kamu mau mereka ikut bersama kita?”


”Tidak perlu bapak biar di rumah saja kasihan jika jalan nanti asam uratnya kambuh lagi. Biar beliau di rumah makan sama Malvin.”


”Baiklah segera bersiap kita berangkat sekarang saja.”


Medina segera ke kamar mengganti jilbabnya dan mengambil dompetnya. Segera berlalu menuju ke arah Kamil yang sudah menunggunya di bawah. Setelah berpamitan keduanya pun meluncur pergi mencari angkringan, Medina rindu dengan makanan khas di kampungnya dan berharap di sini bisa menemukannya.


***


”Sayang aku panggilkan Dokter ya.” Kamil segera mengambil ponselnya setelah membantu Medina merebahkan tubuhnya di ranjang.


”Tenanglah Dokter sedang ke sini.”


”Tidak perlu berlebihan, aku tidak apa-apa kok hanya merasa lelah saja.”


”Tidak aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu. Tunggu hingga Dokter datang, baru aku ke kantor aku ingin memastikan jika kau baik-baik saja.”


”Ma,” panggil Malvin yang juga ikut khawatir begitu mendengar Kamil memanggil Dokter ke rumah.


”Kau belum berangkat ke sekolah, bagaimana jika terlambat?” seru Medina.


”Tidak akan, ada Daddy yang akan membantuku bicara dengan kepala sekolah. Benar kan Dad?” Malvin menggoda Kamil.

__ADS_1


”Astaga anak ini, segera berangkat minta Baron untuk mengantarkanmu cepat!”


”Mm, Malvin pergi ya Ma, Daddy gak asyik.” Mendengar Malvin mengkritiknya membuat Kamil melotot seketika.


”Aish, anak itu benar-benar.”


Di tempat lain, di apartemen Farhan.


Kedua pasangan itu kembali bersitegang bertengkar adalah makanan sehari-hari buat mereka berdua.


”Aku akan mengantarkanmu ke Dokter kandungan bukankah ini jadwalnya kontrol ke Dokter,” ucap Farhan mengigit sandwich di tangannya.


”Tidak perlu lagipula kau kan kerja Bang, aku bisa berangkat sendiri,” tolak Alea.


”Jangan dibiasakan membantah perkataan suami jika aku bilang mau antar ya pasti aku antar. Apa mau berharap pria itu yang mengantarkannya?” ucap Farhan membuat Alea menghentikan sarapannya dan segera bangkit dari duduknya.


Alea tidak lantas keluar untuk bekerja, dirinya justru masuk ke kamarnya enggan untuk melakukan apapun inginnya hanya tidur setelah mengunci kamarnya Alea menutup kedua matanya dengan bantal.


Dirinya merasa jadi orang lain di rumah ini, apakah itu karena kehadiran Rania tempo hari. Salahkah Alea jika menuntut haknya, Alea benci Rania dan kenapa wanita itu kembali datang pada Farhan saat dirinya mencoba memberikan harapan pada suaminya.


Alea merasa tertekan? Iya. Seharusnya dia melewati masa-masa kehamilannya dengan bahagia tapi yang ada dia justru merasa tertekan dan gelisah tak menentu.


”Apakah Medina juga merasakan hal yang sama seperti ku, ingin dimanjakan oleh suaminya sendiri,” gumam Alea. ”Tapi Kamil adalah orang yang perhatian berbeda dengan Farhan.”


Alea hanya dapat menangisi nasibnya sendiri, apakah dia harus mengalah tapi bagaimana dengan bayinya. Orang yang dia kira bisa dijadikan sandaran pun tidak bisa dipegang ucapannya, Daren pria pengecut yang dia kenal. Kenapa dia harus bertemu dengan orang seperti mereka.


Alea merasa tertipu dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, mereka memakai topeng untuk bersandiwara. Alea merasa lelah dan tertidur pada akhirnya. Dirinya tersadar ketika puluhan panggilan ponselnya terus saja bergetar, dengan malas Alea mengangkatnya.


”Hallo dengan siapa?”


”Hallo dengan istrinya pak Farhan, suami Anda mengalami kecelakaan bersama dengan seorang wanita mohon segera ke rumah sakit sekarang.”


”A-apa! Ba-baik, saya segera ke sana sekarang. Di rumah sakit mana?”

__ADS_1


” ... ”


Alea segera meraih kunci mobil dan segera pergi ke rumah sakit, pikirannya tidak tenang hatinya bertanya-tanya kenapa bisa suaminya bersama dengan seorang wanita lalu siapa dia?


__ADS_2