
Kamil terbaring di pangkuan Medina dia merasa lelah dengan kesibukannya bolak balik dari kantor mamanya ke kantor miliknya beberapa hari ini membuat kakinya sedikit pegal, namun dia tidak mengatakannya pada Medina pria itu terlalu gengsi untuk mengatakan kelemahannya karena khawatir dikatakan manja oleh istrinya itu, dia harus terlihat kuat.
”Apa mau aku pijat?” tawar Medina.
”Bolehkah?” balas Kamil menyerigai.
”Tentu saja, itu jika Bang Kamil mau?”
”Tidak perlu, nanti malam saja ya, apa Malvin belum pulang?”
”Dia sedang bermain basket di lapangan bersama Baron, tadi dia minta ijin mau ke toko buku tapi berhubung tidak ada yang mengantar ya sudah aku biarkan saja. Aku pikir bisa meminta tolong Baron tapi Malvin menolak dan ingin berangkat sendiri naik motor.”
Kamil mengerutkan alisnya, ”Motor matic yang ada garasi?”
”Yang manalagi memangnya Abang banyak motor?” ucap Medina terkekeh dia tahu jika suaminya bisa membelikannya banyak motor tapi tempatnya memang tidak mungkin muat karena rumah yang dibelikannya tidaklah begitu besar seperti rumah Alika mertuanya.
”Kamu udah siapkan? Besok malam kita pergi berdua, paginya aku akan mengantarkan Malvin ke rumah mama. Tidak masalah kan kita tinggalkan dia di sana?”
”Terserah Abang saja, tapi apa yakin kalau dia takkan merepotkan mama di rumah?”
Kamil membuka matanya dan mendongak ke arah Medina, ”Tidak mungkin kau yakin saja, dia kan sudah dewasa mana mungkin dia akan merepotkan neneknya sendiri justru mama senang karena ada yang menemaninya jadi kamu tenang saja ya!”
”Dia itu harus dikasih adik biar tidak kesepian, bagaimana dia besok kalau gak ada teman kasihan kan?” lanjut Kamil.
”Abang benar.”
Medina kembali membelai surai hitam Kamil yang sudah setengah jam berada di pangkuannya. ”Aku ijin ke dapur dulu mau buatkan Malvin minum dulu ya.”
Kamil bangun lalu mengangguk singkat membiarkan istrinya melayani putranya sementara dia sendiri beralih ke atas melihat Malvin yang sedang bermain lewat balkon kamar.
***
__ADS_1
Derap langkah kaki terdengar nyaring Kamil menuju ke apartemen papanya berniat menjenguk pria paruh baya itu, dia tetap menghormatinya meskipun dia juga ikut kesal dan sakit hati karena menghianati mamanya.
Kamil masuk ke apartemen dan melihat wanita muda sedang ada di dekat papanya sedang duduk di atas pangkuannya, begitu melihat Kamil datang Hamid menyuruhnya untuk meninggalkannya.
”Apa begini orang sakit itu, masih bisa bercumbu melepas hasrat,” lirih Kamil mengeram menahan kesal.
”Ada apa kamu ke sini?” Hamid membenarkan posisi duduknya.
Kamil menatap isi ruangan apartemen tersebut tak ada barang-barang branded di ruangan tersebut apakah papanya jatuh miskin. ”Kemana papa sembunyikan uang proyek tersebut?”
Hamid bangkit dari duduknya menghampiri putranya, ”Uangnya sudah papa pakai buat biaya berobat istri muda papa, papa mencintainya dan tidak mungkin mengabaikannya dia sedang sakit.”
”Astaga, jika memang demikian keadaannya bukankah papa bisa berkata jujur pada mama. Kenapa papa tega membohongi mama selama ini dengan dalih keluar kota untuk bisnis padahal papa sedang berduaan dengan wanita yang seharusnya menjadi anak bukan istri.”
”Papa tahu ini salah Nak, tapi sungguh papa tak ada pilihan jujur papa mencintai gadis itu. Bukankah cinta tak memandang usia, kamu sendiri menikahi seorang janda beranak satu padahal kamu bisa mendapatkan seorang gadis yang lebih cantik darinya.”
”Cukup! Jangan samakan cinta dengan nafsu! Papa kira Kamil bodoh tidak bisa membedakan antara diantara keduanya, yang papa miliki untuknya bukan cinta tapi nafsu karena mama sudah mulai menua dan mungkin tidak bisa sepenuhnya bisa melayani papa dengan baik.”
Hamid terdiam.
”Sok tahu,” lirih Hamid.
”Usia kami juga tidak terpaut jauh kami masih lahir di tahun yang sama sedangkan yang papa lakukan itu jelas sekali lantaran nafsu karena gadis yang papa nikahi itu seharusnya menjadi putrimu. Di sini siapa yang gila? Alih-alih menjadi seorang papa yang baik, kau justru menjadi sugar daddy untuknya!”
”Kamil tidak mau tahu, kembalikan uang mama secepatnya atau Kamil akan melaporkannya pada mama dan kita bertemu di pengadilan.”
Dengan langkah kesal Kamil meninggalkan apartemen Hamid, alasan sakit itu memang sengaja menjadi alasan untuknya datang menjenguk padahal dia enggan untuk datang ke sini. Kamil segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum nanti malam melakukan perjalanannya berangkat ke eropa bersama dengan Medina.
Kamil segera meminta Daren untuk menghandle semuanya termasuk kantor mamanya dan juga memintanya memantau gerak Hamid selama dirinya tidak ada di kantor.
”Ingat, jangan biarkan dia masuk ke kantor mamaku karena bagaimanapun statusnya saat ini dia adalah mantan bukan pemimpin.”
__ADS_1
”Sepertinya kau benci sekali dengannya, ingat Kamil bagaimanapun dia adalah papamu,” tegur Daren.
”Itu dulu sebelum dia menyakiti mamaku, sekarang urusannya sudah lain, aku bahkan melihatnya sedang bercumbu dengan wanita muda itu di apartemennya bukankah ’sakit’ hanyalah alasannya saja untuk menghindari tuduhan yang ku berikan.”
Daren menghembuskan nafasnya kasar. ”Kau benar, seharusnya dia tidak begitu tapi bagaimanapun aku sendiri tidak ingin membuat hidupnya rumit, dan aku juga tidak tega manakala harus mengusirnya dari tempat dia bekerja dulu.”
Kedua mata Kamil membulat mendengar kalimat Daren, ”Jadi dia ke sini?”
”Iya kemarin dia datang bersama mantan sekretarisnya itu tapi dengan tegas aku melarangnya dan mengancamnya akan memberitahukan dirimu, astaga kenapa aku jadi konyol begini. Katakan aku tidak mungkin berbuat jahat pada orang tua!”
”Sudahlah yang penting ke depannya kita harus lebih hati-hati lagi, aku balik ya.” Kamil segera meninggalkan kantornya menuju rumah Alika karena dua orang yang dia cintai berada di sana.
”Ma, aku pulang!” teriak Kamil.
”Ya ampun masuk rumah itu mengucapkan salam bukan berteriak-teriak begitu Kamil kebiasaan!” seru Alika.
”Dimana istri dan anakku, Ma?”
”Dia sedang berada di belakang, ini mama juga mau menyusulnya ke sana.”
Kamil merangkul bahu Alika berjalan menuju taman belakang. ”Kalian sedang apa?”
Medina dan Malvin menoleh ke arahnya. ”Seperti yang kau lihat,” jawab Medina. Wanita itu tampak sibuk membereskan tanah yang berserakan di lantai.
”Istrimu suka sekali membereskan bunga-bunga di taman sejak tadi dia tak mau diam,” ungkap Alika.
Kamil hanya tersenyum menanggapi perkataan mamanya.
”Udah beres Ma, ayo masuk!” ajak Medina. Mereka berempat pun kembali ke rumah.
”Ingat jangan merepotkan nenekmu mengerti?” ucap Medina mengingatkan putranya.
__ADS_1
”Tidak akan Sayang, kamu tenanglah mama malah suka jika dia di sini karena tentunya mama akan ada teman nantinya,” ucap Alika.
Kamil dan Medina berangkat ke Italia tepat jam tujuh malam untuk ritual pernikahan mereka aka honeymoon yang tertunda.