Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Menghilangnya Farhan


__ADS_3

Kamil akhirnya membuat keputusan dengan mengakuisisi perusahaan milik Farhan karena bagaimanapun perusahaan milik Farhan itu awalnya adalah milik Alika. Kamil tidak rela jika milik Alika jatuh ke tangan orang lain karena itu adalah hasil kerja keras mamanya selama ini.


”Kamu tahu ada sebagian orang yang tidak setuju jika kamu yang mengakuisisi perusahaan milik Farhan, karena mereka tahu kamu sangat ketat dalam menjalankan tugasnya bisa jadi orang-orang itu takut kena imbasnya atau semacam putus kontrak massal karena kamu tidak menyukai mereka.”


Kamil terkekeh mendengar penuturan Daren. ”Kamu bersemangat sekali, aku justru khawatir mereka akan membunuhku karena tidak suka denganku.”


”Ck! Aku hanya menebaknya. Bodoh sekali mereka yang mau melakukan itu adalah orang yang tidak punya otak dan hanya mementingkan dirinya sendiri,” sahut Daren.


”Tapi aku masih berpikir dimana Farhan bersembunyi karena jejaknya sama sekali tidak terendus kasihan istrinya,” lanjut Daren.


“Dia di tempat yang aman dan aku harap dia baik-baik saja. Sekarang kita fokus saja pada perubahan yang akan terjadi di perusahaannya, pasti akan banyak orang yang tidak setuju dengan kebijakan baru yang akan aku buat nantinya.”


”Kau tenanglah aku akan tetap mendukungmu! Aku balik dulu ya,” pamit Daren.


”Astaga kenapa buru-buru sekali apa kamu ... ”


”Ya kamu sudah faham kan? Begitulah hidup, aku juga butuh hiburan kan?” Keduanya tergelak bersama dan akhirnya berpisah di luar gedung.


Kamil segera pulang ke rumah karena Malvin sudah berada di rumah. Beberapa hari dia tidak terlihat banyak hal yang ingin dia dengar dari putranya.


Kamil terkejut mendapati seorang gadis manis duduk di kolam renang bersama dengan Malvin, Kamil berniat untuk menyapa keduanya tapi Medina melarangnya.


”Jangan Bang! Biarkan mereka bersama nanti Malvin pasti menceritakan semuanya jadi biarkan saja dulu,” ujar Medina.


”Kamu mengenal gadis itu?” tanya Kamil.


”Ya, dia adik sepupu Malvin.”


”Apa?” Kamil membelalak mendengar perkataan Medina.


”Adik sepupu?” Kamil mengerutkan keningnya.


”Kau akan tahu nanti, Bang,” ucap Medina. ”Mau makan sekarang?”


”Oke.”


Dalam diam Kamil mengamati gadis yang bersama malvin keduanya tidak nampak seperti saudara.


”Kenapa menatap mereka berdua seperti itu?” tanya Medina.


Kamil tersenyum, ”Mereka seperti bukan saudara tapi seperti orang yang sedang berpacaran saja.”

__ADS_1


”Astaghfirullah, jangan berprasangka buruk pada mereka. Riezka memang jarang bertemu dengan Malvin sejak kecil dan sekarang mereka bertemu lagi setelah bertahun-tahun lamanya, jadi Malvin sebagai kakak ingin melindunginya.”


Malvin masuk dan menyapa Kamil yang sedang menikmati makan siangnya.


”Dad.”


”Bagaimana kemarin liburannya? Kenapa gak ngenalin Daddy sama dia?” tunjuk Kamil pada Riezka.


”Paling mama juga udah cerita benar gak, Ma?” Malvin melirik pada Medina yang tengah menyajikan es cappucino untuk Kamil.


”Benar, tapi Daddy ingin kamu mengenalkannya sendiri,” sahut Medina.


Malvin menggaruk kepalanya lalu meringis malu, ”Baiklah nanti Malvin kenalkan pada Daddy.”


Malvin kembali keluar menemui Riezka.


”Anak jaman sekarang suka begitu ya,” gumam Kamil membuat Medina melirik mendengar gumaman Kamil.


"Bagaimana dengan Bang Farhan dan Alea, apakah mereka masih saling bertemu?”


”Alea pulang ke rumah orang tuanya jadi kita tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya untuk sementara dia aman.”


”Aman, maksudnya?” Medina masih belum faham dengan situasi yang sedang terjadi.


”Ah iya kamu benar, Bang.” Medina pun membersihkan meja makan dan berencana menjenguk Alika karena wanita itu dikabarkan sedang sakit di rumahnya.


***


”Kalian datang?” Hamid tampak duduk di meja makan menikmati makan malamnya.


”Iya, bagaimana kabarnya mama?” tanya Kamil mengambil tempat di sampingnya.


”Kamu cek saja sendiri, dia sedang berada di kamarnya enggan untuk makan, apa kamu ada berita soal abangmu Farhan?”


”Tidak tahu.”


”Lalu apa yang kamu tahu? Abangmu menghilang dan kamu masih santai tidak melakukan apapun sungguh keterlaluan!” teriak Hamid membuat Alika dan Medina terkejut mendengarnya.


”Apa papa sedang menghakimiku dan menyalahkan diriku dengan semua peristiwa ini? Aku sudah berusaha mencarinya dan aku juga harus menyelamatkan perusahaan beserta istrinya. Sekarang apa yang papa lakukan dengan anak kesayangan papa itu?”


Giliran Hamid yang terkejut mendapatkan serangan balik dari Kamil. ”Apa kamu sedang membuat perhitungan dengan papamu?”

__ADS_1


”Tidak, papa sendiri yang memulai jadi jangan salahkan Kamil karena semua terjadi juga atas kesalahan Bang Farhan sendiri.”


Kamil enggan melanjutkan perdebatan dengan Hamid dirinya memilih naik ke lantai dua menemui Alika. Dirinya melihat kedekatan Alika dengan istrinya dan terlihat jelas ketulusan hati Medina merawat mamanya.


”Apalagi yang kalian debatkan?” tanya Alika.


Kamil duduk di tepi tempat tidur, ”Jangan dimasukkan ke dalam hati perkataan kami barusan.”


”Mungkin papamu terlalu khawatir dengan keadaan putranya jadi sikapnya jadi berlebihan begitu,” tutur Alika.


”Papa sudah keterlaluan sekali, Ma. Dalam pikirannya hanya ada Bang Farhan, masa iya sejak dulu yang dia khawatirkan hanya dia terus!” kesal Kamil.


”Astaga kamu ini, meskipun demikian kamu harusnya bersyukur karena mendapatkan ganti kasih sayang dari istrimu. Kamu bisa melihat bagaimana Farhan dan Alea kerap bertengkar hanya karena masalah sepele, tidak seperti kalian yang adem ayem. Benar tidak?”


Kamil mengangguk, ”Ma, apakah mama tahu keberadaan Bang Farhan saat ini, setidaknya dia pernah menghubungimu?”


”Tidak. Dia sama sekali tidak menghubungi mama sama sekali. Lalu bagaimana dengan perusahaannya, apakah masih bermasalah?”


”Tidak, aku sudah mengatasinya dan dibantu Daren mengurusnya. Percayalah aku tidak akan membiarkan apa yang pernah menjadi milik mama beralih ke tangan orang lain.”


”Aku percaya padamu, Nak. Tolong urus dengan baik, mama mengandalkan dirimu.”


”Baik, kami pulang dulu, Ma. Mama istirahat saja jika butuh sesuatu panggil saja aku,” ucap Kamil baginya amatlah mudah memperlakukan dua wanita yang ada dalam hidupnya Alika dan Medina.


”Ayo Sayang, kita pulang!” ajak Kamil dan Medina pun berpamitan pada mertuanya.


Sepanjang jalan Medina diam dan itu membuat Kamil penasaran dengan perubahan sikap istrinya itu. ”Apa ada masalah, kenapa diam saja.”


”Mm, tidak ada kok Bang.”


”Jangan bohong, aku tahu kamu itu gak pandai untuk berbohong!”


Medina tersenyum, ”Apa itu sangat kelihatan?”


Kamil mengangguk, ”Katakan ada apa?”


Medina pun menoleh ke arah Kamil, ”Soal mama, dia ingin perusahaannya diurus dengan baik olehmu. Bang, apa kamu tahu kemana perginya kakakmu itu?”


Kamil mengedikkan bahunya, ”Tidak, tapi aku curiga jika dia lari bersama dengan Laras karena setahuku hanya dia orang yang sedang dekat dengannya saat ini.”


”Apa, lalu bagaimana dengan Alea. Bang, kamu gak kasihan apa dengan nasibnya yang seakan tidak menentu dan itu karena sikap Bang Farhan!” Mendadak Medina ikut kesal karena bagaimanapun Alea adalah seorang wanita dan dia sudah menganggapnya seperti seorang adik bagaimana mungkin dia rela melihat adiknya menderita.

__ADS_1


”Kamu tenang saja jika dia masih macam-macam aku janji tidak akan memberi ampun padanya, terlebih sekarang dia tidak memiliki apa-apa jadi dia tidak akan bersembunyi terlalu lama.‘’


Medina tampak menimbang perkataan Kamil. ”Boleh aku menghubungi Alea?”


__ADS_2