Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Keluhan Sahabat


__ADS_3

”Sayang apa yang sedang kau lakukan?” Kamil terkejut melihat Medina sedang terduduk di kamar mandi dengan tubuh yang lemas dan wajahnya yang pucat.


”Berpeganglah yang kuat!” Kamil segera menggendong istrinya menuju ke ranjang.


”Kau tidak apa-apa kan? Aku panggilkan Dokter ya, sebentar!” Kamil mengambil ponselnya namun dilarang oleh Medina.


”Gak perlu Bang, aku hanya lelah saja kok, hari ini aku belum minum vitamin itu saja,” ucap Medina.


”Kenapa bisa begitu, tolong jangan ceroboh Sayang, kau juga harus mengutamakan kesehatanmu mengerti! Sekarang istirahatlah, aku ke dapur dulu ambil air putih.”


Kamil begitu cekatan melayani istrinya, karena dia sadar jika dirinya masih membutuhkan sosok Medina di sampingnya dia tidak ingin melihat wanita itu menderita apalagi saat ini dia sedang mengandung benihnya.


”Bangunlah minum obat dulu!” titah Kamil seraya membantu Medina untuk bangun.


”Istirahat ya dan jangan membantah!” tegas Kamil.


”Tapi Bang, Malvin belum pulang.”


”Tidak perlu mengkhawatirkannya ada Baron yang akan mengawasinya tenanglah.”


Medina kembali membaringkan tubuhnya setelah mendengar jawaban dari suaminya, kedua matanya terpejam perlahan.


Kamil keluar membiarkan Medina beristirahat di kamar, merasa jenuh karena tidak ada teman dirinya memilih menghubungi Daren memintanya ke kafe di seberang jalan rumahnya.


Tiga puluh menit berlalu Daren datang dengan wajah lesunya membuat Kamil bertanya-tanya apa yang membuat sahabatnya terlihat kacau seperti itu.


”Apa Alea bikin masalah, ceritakan saja barangkali aku dapat membantu meringankan beban hatimu,” selidik Kamil.


Daren mengangguk tapi tidak lantas bicara karena pelayan kafe datang memberikan pesanannya. Dirinya menghela nafas beratnya seakan beban berat sedang menindihnya.


”Dalam posisi seperti ini siapa yang akan kau dukung?” Daren mulai berbicara.


”Maksudnya masalah yang sedang kau hadapi?” tanya Kamil.


”Iya,” jawab Daren singkat.


”Aku akan mendukung yang benar dan siapapun itu aku harap tidak saling menyalahkan keadaan ada akhirnya, jujur aku sendiri membenci abangku yang plin-plan. Apa dia merepotkan dirimu?”


”Sebenarnya aku tidak bisa bersama dengannya satu atap tanpa ikatan yang benar saja, aku pria normal!” keluh Daren.


”Astaga jadi itu yang membuatmu terlihat frustasi seperti ini?”


”Kau pikir? Huhf! Tadi pun hampir saja jika kau tidak meneleponku mungkin akan bablas, kau kira mudah mengendalikannya!”


Kamil hanya dapat tersenyum mendengar keluh kesah sahabatnya apalagi Alea memang wanita yang sangat agresif berbeda dengan istrinya yang terlihat kalem.


”Lalu maumu bagaimana? Apa sebaiknya dia tinggal di apartemen sebelahmu?” tawar Kamil.

__ADS_1


Daren menoleh mendengar kalimat Kamil, ”Maksudmu?”


”Ya bagaimanapun dia masih kakak iparku karena statusnya kan belum bercerai, aku tidak akan mungkin tega membiarkannya seperti itu.”


”Sebenarnya aku tidak mempermasalahkannya hanya saja kadang dia menggodaku itu yang membuatku pusing!”


”Oke kalau begitu biar besok kau urus semuanya aku yang akan membayar seluruh biayanya ajak dia pindah di sebelah apartemenmu aku lihat di sana masih kosong.”


”Kau tahu?”


Kamil hanya mengangguk tentu saja dia tahu karena dia memiliki banyak mata untuk mengawasi tempat-tempat tertentu.


"Lalu soal Farhan?”


”Dia ada di rumah mama,” sahut Kamil menunjuk pada rumah besar di sebrang jalan milik Alika. ”Biarkan dia instrospeksi diri mau dibawah kemana kapalnya yang telah karam itu, aku yakin mama pasti akan memberinya nasehat.”


”Kau yakin?”


”Tentu saja, percayakan semuanya pada mamaku beliau lebih ahli dalam menasehati anak-anaknya tapi untuk Farhan aku tidak yakin,” ucap Kamil mengedikkan bahunya.


”Kau harus buka lowker buat pengganti Alea dan biarkan dia istirahat, aku yakin abangku juga takkan membiarkan dia tanpa makan karena bagaimanapun dia sedang mengandung bayinya. Ingat kau harus kuat menghadapi cobaan.” Kamil terkekeh melihat nasib sahabatnya bukan karena mengejek melainkan merasa aneh karena sikap Daren yang tidak mau terus terang dari awal dan kenapa setelah kejadian ini dirinya justru gencar berjuang keras untuk meyakinkan hati Alea.


”Kau pulang saja, jangan biarkan dia menunggumu!” titah Kamil.


”Kau mengusirku, astaga tadi siapa yang memanggilku ke sini?” ujar Daren kesal.


”Maafkan aku, kau pikir kau butuh istirahat itu saja.”


”Kau yakin sampai besok akan di sini?”


”Ish, ini kafe buka dua puluh empat jam! Adakah yang salah?”


Kamil menggeleng cepat sahabatnya memang sedang frustasi membiarkannya tenang itu lebih baik daripada mengajaknya ribut.


***


Pagi jam enam Medina sudah mondar-mandir di dapur membuat sarapan hal yang biasa dilakukannya, meskipun Malvin belum pulang dan Kamil melarangnya untuk melakukan apapun tapi Medina merasa tidak enak hati jika terus berdiam diri.


”Astaga kau menyiapkan semua ini?” Kamil datang dengan handuk kecil yang masih melingkar di lehernya.


Medina wanita itu hanya tersenyum manis pada Kamil lalu meletakkan secangkir kopi di depan Kamil.


”Hanya hal kecil kau tak perlu khawatir Bang, lagipula aku ingin membiasakan diri melayani suamiku sendiri.”


”Iya aku tahu itu tapi bukankah Dokter sudah melarang dirimu untuk banyak bergerak. Dokter ingin kau banyak istirahat,” bantah Kamil.


Medina menggeleng, ”Istirahat memang perlu tapi bukan alasan untuk tidak melakukan apapun.”

__ADS_1


Kamil menyeruput kopi dan tersenyum, ”Baiklah jika itu maumu tapi ingat aku tidak mau terjadi apapun denganmu dan bayi kita.”


Medina membalas perkataan Kamil dengan anggukan kepala. ”Bang, apa Malvin akan pulang hari ini?”


”Aku akan menghubungi Baron setelah ganti pakaian, aku ke kamar dulu ya.” Kamil segera pergi ke kamar mengganti pakaiannya bersiap pergi ke kantornya.


Hari ini akan banyak sekali pekerjaan yang menantinya dia hanya berharap semoga segera selesai dan segera pulang agar bisa memiliki lebih banyak waktu bersama istrinya. Kamil segera meraih ponselnya dan menghubungi Baron.


”Hallo Bos! Kami sedang perjalanan pulang.”


”Kabari jika kau sudah sampai rumah aku segera ke kantor sekarang!”


"Oke!”


Bip.


Kamil turun dengan cepat menuju ke meja makan menemui Medina yang sedang sarapan di sana.


”Kau sudah akan pergi?”


”Iya, Baron sudah aku hubungi mereka sedang perjalanan pulang. Istirahatlah setelah ini biarkan Mbok Iyem dan asisten rumah yang membereskan semuanya.”


Medina mengangguk. ”Hati-hati.”


Cup.


”Aku pergi, Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam.”


Kamil melajukan mobilnya ke kantor tanpa ditemani sopir dia ingin bebas berkendara dan membiarkan sopirnya standby di rumah. Begitu sampai Alea sudah menunggunya di lobi.


”Aku ingin bicara padamu empat mata!”


Kamil yang baru saja datang pun menaikkan alisnya mendengar perkataan Alea. ”Soal apa?”


”Abangmu siapa lagi?”


”Ikut aku!”


Alea mengikuti Kamil hingga ke ruangannya.


”Apa kau bersama dengan Daren datang ke sini?”


”Tidak, aku datang sendiri dan atas inisiatif sendiri.”


”Lalu apa yang hendak kau bicarakan denganku?”

__ADS_1


”Dimana dia? Apakah dia bersedia menceraikan diriku nantinya?”


”Maumu sendiri bagaimana bertahan atau berpisah?”


__ADS_2