Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Menyelidiki


__ADS_3

Seisi rumah sakit dibuat ramai dengan menghilangnya Alea dan bayinya, terlebih Kamil yang sejak awal ingin selalu mengurus segala sesuatu yang ada.


”Cek CCTV urus semuanya jangan sampai lolos bukankah baru beberapa menit yang lalu aku yakin orang itu pastinya belum jauh.”


”Baron tolong kamu segera ke rumah sakit!”


Bip.


Kamil tidak bisa untuk tinggal diam mengabaikan yang sedang terjadi saat ini. ”Apa kita harus lapor polisi sekarang?” usul Daren.


”Jangan dulu bukankah ini belum ada dua puluh empat jam, sebaiknya kita mencarinya tanpa bantuan dari pihak berwajib lebih dulu,” tolak Kamil lalu menoleh ke arah Alex dan Daren, dirinya diliputi rasa khawatir.


Kamil pun segera mengirimkan pesan pada Farhan kakaknya dia tidak peduli bagaimanapun caranya dia harus pulang.


”Apa ada kabar terbaru?” tanya Farhan setelah dua hari berlalu akhirnya dia datang ke rumah Kamil.


Bug!


”Aku pikir kamu pria yang baik, tapi nyatanya kamu tidak lebih dari seorang pengecut!”


Bug!


Kembali Kamil menghajar kakaknya itu hingga babak belur. ”Daddy, stop it!” teriak Malvin.


”Kenapa tidak dari dulu kamu pulang, Bang! Setelah semuanya seperti ini apakah kamu baru menyesalinya?”


Farhan terduduk di kursi mengelap darah yang keluar dari ujung bibirnya. ”Untuk apa aku kembali jika di hatinya tidak ada diriku.”


”Dasar gila!” Kamil mengusap wajahnya frustasi bagaimana bisa kakaknya memperlakukan wanita dengan tidak baik.


”Mama sampai masuk rumah sakit dan kamu sama sekali tidak peduli?”


”Bang,” panggil Medina mengusap lengan Kamil agar tidak semakin marah pada saudaranya.


”Sekarang baik aku maupun mama tidak akan pernah peduli lagi denganmu,” ucap Kamil. Farhan menegakkan wajahnya mendengar perkataan Kamil.


”Jangan pernah menginjakkan kakimu di sini.” Kamil sangat marah dan kali ini benar-benar tidak peduli mau seperti apa kakaknya itu karena nyatanya Alea dan bayinya belum berhasil ditemukan sepertinya semua yang terjadi memang sudah terencana dengan baik sehingga tidak meninggalkan jejak sedikitpun.


”Kamil aku akan pulang ke Belanda karena ada suatu hal yang mendesak.” Tiba-tiba suara Alex terdengar membuat semua yang ada di ruangan itu mengalihkan pandangannya ke arah pria blasteran Belanda - Indonesia.


”Lalu bagaimana dengan pencarian adikmu? Aku belum menemukan titik terang.”


”Aku tahu ini mungkin sulit sama halnya dengan keluargaku sendiri pasti tidak akan rela mendengar semua ini, tapi aku sendiri tidak bisa berlama-lama di sini karena bisnisku juga membutuhkanku di sana,” jelas Alex.


"Maafkan aku karena tidak bisa banyak membantumu,” sesal Kamil.


”Tidak masalah aku akan tetap memantau perkembangan pencarian adikku di sana. Malvin mampirlah ke tempat Om, jika kamu free selama di Amerika.”


”Baik Om, terima kasih.”

__ADS_1


Semua kembali seperti biasanya meskipun misteri hilangnya Alea belum terpecahkan tetap saja Kamil terus memantaunya.


”Apa kamu tidak merasa aneh?” tanya Daren pada kamil yang sedang melamun di kursi kerjanya.


”Apa maksudmu?” Kedua tangannya masih memainkan pena.


”Kenapa Alex tiba-tiba pulang ke Belanda dan alasannya sangat tidak masuk akal. Apakah dia tidak memiliki orang kepercayaan di sana sehingga buru-buru pulang.”


”Aku sudah memikirkannya sejak kemarin hanya saja aku belum sepenuhnya faham dengan situasinya karena itu aku memilih untuk diam.”


”Apa kamu mau melakukan sesuatu?”


”Tentu saja aku sudah menyusun rencananya dengan baik, doakan saja semua berjalan sesuai dengan rencana.”


”Aku mendukungmu!” Daren menepuk bahu Kamil dan keluar dari ruangan itu.


Tak berselang lama Kamil pun menghubungi seseorang berharap semua masalahnya cepat selesai.


***


”Selamat Sayang, akhirnya kamu lulus dengan predikat terbaik di sekolahan,” ucap Medina dia merasa bangga karena putranya berhasil memenuhi keinginannya.


”Makasih, Ma.”


”Jangan lupa kamu punya nadzar yang harus kamu penuhi sebelum pergi.” Medina mengingatkan putranya.


”Mama tahu, pasti daddy senang dengan berita ini.”


”Malvin sudah kasih tahu beliau kok, Ma. Daddy sedang sibuk di kantor jadi Malvin tidak berani banyak bicara tadi.”


”Dia memang selalu saja begitu, Malvin kami sudah membicarakannya beberapa hari ini soal masa depanmu.”


Malvin diam tentu saja karena dia belum sepenuhnya faham arah pembicaraan mamanya.


”Daddy-mu memintamu untuk menggantikannya kelak jadi mama mohon jangan mengecewakan kami dan mama harap kamu benar-benar belajar dengan baik di sana nantinya.”


”Tapi Ma, bukankah kalian masih bisa memiliki anak? Kenapa harus Malvin yang memegang kendali?”


”Mama sudah tidak dapat lagi memberimu seorang adik jadi mama mohon padamu untuk tetap menjaga silaturahmi yang baik dengan adik tirimu itu.”


”Ma, apa mama tidak salah bicara?”


”Tidak Nak, mama mohon padamu ya jaga Adelia bagaimanapun dia adalah adikmu.” Medina menitikkan air matanya.


Malvin memeluk Medina. ”Yang sabar ya, Ma. Malvin tahu kok kalau daddy itu orang yang baik makanya dulu Malvin mengijinkannya untuk menikah dengan mama.”


Medina terharu mendengar penuturan Malvin putranya. ”Tidak penting buat Malvin punya adik atau tidak yang penting kalian bahagia itu sudah cukup buat Malvin,” lanjut Malvin.


”Kamu ini bicara kayak orang tua saja.”

__ADS_1


”Tapi memang benar, Ma. Buat Malvin yang penting kalian bahagia selalu akur gak pernah bertengkar dipandang pun nyaman.”


”Ehem, ada apa ini?” Kamil masuk ke ruang tengah.


”Eh, sudah pulang? Tumben lebih awal?” Medina meraih tas milik Kamil dan berjinjit mencium pipi pria itu.


”Astaghfirullah, jangan begitu di depan Malvin ya. Kalian bikin Malvin malu saja,” keluh Malvin membuat Kamil terkekeh.


”Kamu akan merasakannya besok jika sudah waktunya bagaimana bahagianya memiliki orang yang kita cintai. Tapi daddy tidak akan merestui gadis manapun sebelum kamu benar-benar menunjukkan padaku jika kamu mampu menghandle semuanya, di masa depan.”


”Malvin akan buktikan, Dad.”


”Bagus!” Kamil terlihat santai dengan kedua tangannya masuk ke kantong celananya.


”Kita makan di luar yaz buat merayakan kelulusan Malvin.”


”Baik Bang, mama diajak ya?”


”Tentu dong, aku sudah mengatakannya tempo hari jika Malvin berhasil lolos maka aku akan mengajaknya makan malam di luar kasihan jika mama terus menerus di rumah.”


”Mengerti.” Medina mengurai senyumnya.


”Kamu memang wanita terbaik pilihanku,” puji Kamil. ”Aku mandi dulu ya, jangan lupa Riezka diberitahu agar dia juga bersiap.”


”Baik bos!” Kamil berlalu ke kamarnya sedangkan Medina menuju ke kamar Riezka dan Malvin yang bersebelahan.


”Nak, ayo bersiap malam ini daddy mengajak kita makan di luar. Beritahu Riezka juga untuk bersiap.”


”Baik, Ma.” Malvin buru-buru bangkit dan menuju ke kamar sepupunya.


Kamil mengajak keluarganya makan di salah satu restoran bintang lima dan ternyata di situ tidak hanya pihak keluarganya saja namun ada Daffa dan juga Bu Yanti.


”Bang ... kok mereka ada di sini?” Medina mengernyitkan alisnya.


”Suprise! Sayang sebentar lagi Malvin akan pergi jadi aku memang sengaja mengundang mereka anggap saja ini juga perpisahan buat Malvin dan Daffa,” jelas Kamil.


”Bang Kamil gak cemburu?”


”Untuk apa? Aku sangat yakin jika di hatimu saat ini hanya namaku, bukan pria lain,” bisik Kamil. Yang lain berbaur dan saling menanyakan kabar apalagi Bu Yanti dan Malvin yang sudah cukup lama tidak berjumpa.


”Hallo ada apa?” Kamil menjauhkan dirinya dari meja makan karena suara yang begitu berisik membuatnya tidak bisa mendengar dengan jelas.


”Coba kamu ulangi lagi!”


Kamil mengertakkan giginya mendengar kabar yang tidak dia sangka.


”Kirimkan buktinya padaku segera!”


Kamil terlihat sangat marah mendengar kabar yang tidak dia inginkan, kecurigaannya benar!

__ADS_1


__ADS_2