Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Harus Bagaimana?


__ADS_3

Kamil menyeret Farhan yang dalam keadaan sakit ke rumah Alika. Dia ingin mamanya ikut menasehati pria yang dipanggil kakak olehnya, memikirkan hal itu rasanya tidak tepat jika Farhan adalah kakak baginya karena kelakuannya lebih buruk dari seorang anak kecil.


”Apa yang terjadi?” Alika terkejut melihat kondisi putranya dengan perban melingkar di kepalanya. ”Bukankah seharusnya kau berada di rumah sakit?”


Kamil mendudukkan Farhan di sofa. ”Ajari dia bagaimana etika bertemu Ma!”


”Kenapa kau bicara begitu Kamil?”


”Tanyakan padanya Ma, kenapa aku begitu marah sekarang,” ucap Kamil.


Alika menata pada Farhan, anak itu memang sama dengan ayahnya bahkan tidak berubah sama sekali kenapa dia justru nekad melakukan hal buruk sedangkan orang tuanya saja berpisah lantaran melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan saat ini, selingkuh!


Farhan menundukkan kepalanya semakin tidak memiliki nyali untuk menatap wanita yang ada di depannya ini. ”Maaf Ma,” lirihnya bahkan hampir tidak terdengar.


”Mama tidak butuh kata maaf darimu Farhan, yang mama mau kau itu berubah menjadi lebih baik. Apa kau sudah tidak mencintai Alea lagi?”


Farhan mengangkat kepalanya menatap Alika. ”Ma, aku ... ”


”Jika kau tidak lagi mencintainya maka lepaskan dia jangan membuat kesalahan yang sama seperti papamu!” potong Alika segera membuat Farhan bergeming.


”Mama benar Bang, sebenarnya aku kesal dengan sikapmu. Jadilah pria yang memiliki pendirian, dimana kamu saat awal pertama kau meminta papa untuk menikahkan dirimu dengan wanita itu. Kau yang mendesak Papa untuk segera meminang Alea kan? Sekarang kau harus bertanggung jawab, bukan mengabaikannya.”


”Dia sendiri yang meminta,” sahut Farhan tak terima jika Kamil marah padanya.


”Astaga, dia meminta karena Abang itu acuh dengannya jika saja Abang perhatian padanya, Kamil yakin itu tidak akan terjadi dan Alea masih berada bersama denganmu.”


”Jadi kau menyalahkan diriku dengan semua ini?” Farhan tidak terima.


”Ini bukan tentang salah dan benar tapi faktanya Abang mengabaikan dirinya.” Kamil segera bangkit dari duduknya dan berpamitan pulang dengan Alika.


”Dimana Alea?” tanya Alika.


”Ada di tempat Daren Ma, jadi mama tidak perlu khawatir dengan dirinya,” jawab Kamil.


”Astaga kenapa dia di rumah pria yang bukan suaminya.” Alika mendadak kesal dengan menantunya itu.


”Ma, jika tidak di sana lalu dimana? Tidak mungkin kan dia balik ke luar negeri dan kedua orang tuanya tahu apa yang sedang menimpanya di sini. Lalu, apakah Kamil juga harus menampungnya di rumah Kamil, bagaimana perasaan istriku Ma?”


Kamil tahu jika Alika mengkhawatirkan keadaan Alea namun tidak mungkin juga baginya membantu sepenuhnya mengingat dirinya sudah terikat dengan Medina, Kamil benar-benar menjaga hati istrinya tidak mau Medina cemburu.

__ADS_1


"Ma, dia juga punya tempat tinggal di sini jika dia mau dia bisa kok tinggal di sana hanya saja dia tidak ingin melakukannya karena bisa jadi sewaktu-waktu Bang Farhan datang padanya,” jelas Kamil.


”Sudahlah sebaiknya kalian selesaikan sendiri urusannya, kalian sudah dewasa mama tidak mau ikut pusing,” ujar Alika membuat Kamil terkekeh.


”Siapa juga yang nyuruh mama mikir, sudah Kamil harus pulang karena Medina di rumah sendirian. Assalamualaikum.”


’’Waalaikumussalam.” Alika hanya memandangi tubuh putranya hingga keluar pintu gerbang.


***


”Maafkan aku karena diriku kau terkena imbasnya,” ucap Alea terlihat lelah seharian tidak bisa berisitirahat sama sekali.


”Tidak masalah, aku siapkan kamarnya dulu ya.” Daren segera berbalik menuju ke kamar tamu menyiapkannya untuk Alea meskipun sebenarnya kamar tersebut sudah bersih Daren ingin memastikan kenyamanan untuk wanita itu.


”Sudah bersih, silakan.” Daren mempersilakan Alea untuk beristirahat namun Alea justru mencekal lengan Daren.


”Ada apa lagi?” tanya Daren.


”Terima kasih, maaf sudah merepotkan dirimu. Aku akan kembali ke apartemenku jika semua sudah membaik.”


”Tidak perlu, kau bisa tinggal di sini kapanpun kau mau. Dan ... kau yakin untuk resign dari kantor?”


Alea mengangguk. ”Aku akan meminta kompensasi dari ayahku jadi tak perlu khawatir soal keuanganku.”


Demi apa dia harus memperjuangkan hubungan ini jika nyatanya dia harus melawan Farhan pada akhirnya, dia merasa sungkan jika harus berurusan dengan keluarga Hamid. Namun rasa sayangnya pada Alea sudah dia rasa sejak masuk bangku kuliah hanya saja Alea lebih milih Kamil daripada dirinya. Haruskah dia menyerah?


Daren memilih membersihkan dirinya daripada berpikir macam-macam. Baru saja dia melepaskan kemejanya, Alea sudah kembali memanggilnya.


”Eh? Maaf aku tidak tahu jika kau ... ”


”Tidak masalah, ada apa?”


”Aku butuh sabun, di kamar mandi kosong.”


”Astaga, maaf aku lupa mengisinya sebentar aku ambilkan lebih dulu.” Daren buru-buru ke dapur mengambil sabun yang ada di kabinet bawah dan segera memberikannya pada Alea.


”Ini, setelah mandi segeralah istirahat!” ucap Daren mendorong tubuh pelan agar segera ke kamarnya.


Hampir satu jam Daren berada di kamarnya dirinya merasa bingung harus bagaimana menghadapi Alea meskipun sebenarnya dia ingin sekali bersama dirinya namun tidak dengan kondisi seperti ini.

__ADS_1


Daren keluar kamar situasinya sunyi, mungkin Alea sudah tidur dan menyalakan tv dia pikir ide bagus dengan cahaya remang-remang menonton siaran bola yang sedang berlangsung.


"Kau belum tidur?” Alea menghampiri Daren dan ikut duduk di sofa membuat Daren yang dalam posisi tiduran segera beranjak bangun.


”Ada apa, apa kau butuh sesuatu?” tanya Daren.


”Tidak, aku hanya tidak bisa memejamkan mataku jadi aku keluar untuk minum tapi melihat tv menyala aku langsung ke sini.”


”Besok kau jangan kemana-mana, jika butuh sesuatu katakan saja.”


Hening sesaat.


”Kenapa kau baik padaku?” Alea menunduk memutar gelas yang ada di tangannya.


Daren menoleh menatap ke arah Alea, ”Lalu aku harus bagaimana? Membiarkannya terus melukaimu?”


Alea menggeleng pelan, ”Pasti ada alasannya kan?”


”Bukankah sudah aku jelaskan tadi di bandara jika aku ... ”


”Apa?”


”Astaga Alea tolong jangan seperti anak kecil, alasanku sudah jelaskan jika aku mencintaimu,” ucap Daren.


”Terima kasih.” Alea memeluk Daren spontan membuatnya terkejut dengan kasi wanita itu.


”Ish, diamlah apa kau lupa jika kau sedang hamil!” kesal Daren tapi tidak dengan Alea yang justru duduk di pangkuan Daren.


”Jangan menggodaku cepat Istirahatlah di kamarmu.” Daren mencoba meminta wanita itu untuk segera pergi tidak mungkin baginya untuk melakukan hal bodoh dengan wanita yang ada di depannya saat ini.


”Aku tidak mau tolong jangan menolaknya!”


”Astaga Alea, please jangan buatku marah mengertilah,” lirih Daren jarak mereka sangat dekat bahkan Alea sengaja mengikis jarak di antara mereka berdua. Keduanya seakan hanyut sebelum akhirnya panggilan telepon membuyarkan keduanya.


”Maaf aku harus menerima telepon dulu.” Daren bangkit meninggalkan Alea menuju balkon sedangkan Alea sendiri terlihat kesal andai saja ponsel itu tidak bergetar pasti dia sudah melakukannya dengan Daren.


Daren masuk, meraih jaket dan kunci mobilnya pamit untuk keluar.


”Kau mau kemana?” tanya Alea melihat Daren tergesa-gesa.

__ADS_1


”Maaf aku harus keluar sebentar ada hal yang harus aku selesaikan, kau tidurlah lebih dulu jangan menungguku.”


Daren segera keluar meninggalkan Alea yang mematung di tempatnya. ”Apakah dia sedang menghindar dariku?”


__ADS_2