
Malvin tampak senang dengan motor barunya, Kamil benar-benar tidak perhitungan padanya meskipun dia hanyalah anak tiri sekalipun. Namun meskipun demikian dirinya tidak mau memanfaatkan kebaikan Daddy-nya itu karena bagaimanapun Kamil tetaplah hanya orang tua sambung untuknya.
”Malvin, wow keren keren sekali kau sekarang,” ucap Saskia menghampiri Malvino dan Dennis teman baru Malvin.
”Kau tidak tahu saja jika daddy-nya itu orang kaya maka apapun bisa dia dapatkan dengan mudah,” seru Dennis.
”Meskipun begitu, aku tidak mau memanfaatkannya karena aku sadar diri sih dan gak mungkin aku terlalu merepotkannya. Hal yang sangat penting buatku adalah mamaku bahagia dan itu dia dapatkan bersama dengan daddy-ku jadi aku tidak mau menuntut apapun darinya.”
”Benar-benar anak yang baik,” puji Saskia.
”Jangan memujinya nanti kau akan besar kepala bahkan jatuh cinta padanya,” cecar Dennis.
Malvin hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan temannya itu, karena memang faktanya dia tidak ingin menanggapi persoalan hati apalagi di usianya yang masih sini. Peristiwa yang dialami oleh kedua orang tuanya membuat Malvin tidak ingin mengulangi kejadian yang sama, cukuplah mereka dijadikan contoh.
”Kita makan dulu yuk!” ajak Dennis yang memang hobi makan. Malvin hanya mengangguk dan mengikuti Dennis, Saskia pun tak ingin ketinggalan dia mengikuti keduanya.
”Apa kau tidak memiliki teman atau mungkin kesibukan lain sehingga kau mengikuti kami berdua,” tanya Malvin membuat Saskia sedikit kesal seakan-akan dia tidak diinginkan di sini.
”Kenapa kau bertanya begitu apa kau tidak senang jika aku berada di sini?” ujar Saskia.
Malvin diam dirinya memang kurang nyaman dengan keberadaan Saskia yang selalu saja menempelnya setiap saat tapi dia sendiri tidak tahu bagaimana menghindari gadis itu.
***
”Kalian ada affair di belakangku benar?” desak Farhan.
Farhan kesal karena berkali-kali Alea dihubungi namun tidak bisa, istrinya melupakan tas miliknya yang tertinggal di mobilnya. Farhan berniat mengantarkannya ke ruangan Alea namun inilah yang dia lihat.
”Ini tidak seperti yang kau lihat Farhan,” sahut Daren.
”Omong kosong!”
Bugh!
Pukulan mengena di rahang Daren, pria itu tidak terima dan membalas Farhan lebih keras.
”Bad-jingan kau menuduhku. Kau pikir kau pria yang paling sempurna!” teriak Daren tidak mau kalah dengan Farhan.
”Kau yang menyembunyikan Istriku selama beberapa hari, kau yang membuatnya jadi menjaga jarak denganku. Aku tahu kau juga mencintainya kan? Jawab jujur jika kau memang gentleman!” serang Farhan. Kali ini dia tidak mau mengalah dan merasa dirinya di posisi yang benar.
__ADS_1
”Alea katakan padanya apa yang kau rasakan selama tinggal bersama dengannya agar dia sadar diri dan tidak merasa di atas angin karena telah berhasil membuat dirimu hamil. Ingat Alea, dia pria yang menikahi dirimu beberapa waktu yang lalu tidak benar-benar mencintaimu!”
Alea menegang mendengar semua pernyataan Daren, apakah semua itu benar?
”Jangan didengar Alea itu semuanya bohong!”
Daren memejamkan matanya mendengar Farhan menyangkal semuanya.
”Dasar bad-jingan kamu!”
Bugh! Kembali baku hantam terjadi di ruangan Alea hal ini membuat beberapa orang beramai-ramai Dateng untuk melerai termasuk Kamil yang baru saja tiba di kantor.
”Apa yang terjadi?” tanya Kamil melihat kedua pria dewasa di dalam ruangan tersebut sudah banyak belur karena saling pukul.
”Ingatkan kakakmu untuk belajar lagi sopan santun,” ucap Daren setelahnya pergi meninggalkan tempat itu.
”Kalian ... ?”
Alea tidak mau melihat Farhan dia justru menyusul Daren keluar, seluruh pegawai yang lain pun membubarkan diri kembali ke meja kerjanya masing-masing.
”Kenapa kau selalu membuat keributan Bang?” Kamil merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi tapi inilah fakta yang terjadi di sini, di tempat kerjanya.
Kamil sendiri tidak mau ambil pusing dengan rumah tangga saudaranya itu seharusnya masalah seperti itu tidak diumbar di luaran dan hanya menjadi konsumsi pribadi, entah kenapa keduanya justru seakan senang ketika semua orang mengetahuinya.
***
”Kau tidak apa-apa kan?” tanya Alea cemas dirinya membantu Daren membersihkan luka yang ada di wajahnya.
”Tolong jangan berlebihan, aku bisa sendiri sebaiknya kau pergi dan jangan membuat orang jadi salah paham lagi dengan kita.”
”Biarkan saja toh kita tidak melakukan hal-hal yang merugikan mereka,” sahut Alea tidak senang dengan penuturan Daren.
”Kau harus ingat kita hidup bersosialisasi mereka akan tetap berkomentar apapun yang kita lakukan, baik saja dibicarakan apalagi hal buruk akan jadi bahan bullying kau tahu kan?” ucap Daren dan Alea sadar akan hal itu.
”Sebenarnya ada apa di antara kalian, tolong jawab jujur!” Suara Kamil tiba-tiba mengagetkan keduanya.
”Apa kau percaya padaku? Atau mungkin kau lebih percaya pada kakakmu itu,” sahut Daren.
”Aku lebih percaya dengan orang yang jujur, katakanlah aku tidak akan menghakimi kalian,” pinta Kamil.
__ADS_1
”Kami berdua tidak memiliki hubungan apapun,” ucap Daren dan raut wajah kecewa terlihat kentara sekali di wajahnya.
”Jadi selama ini dia anggap aku apa?” pekik Alea gusar menatap Daren kesal.
”Aku menganggap dirimu sebagai teman dan aku masih peduli karena kau seorang wanita.”
”Dasar pengecut!” Alea langsung melangkah pergi meninggalkan kantor entah kemana tujuannya yang pasti dia ingin menenangkan hatinya karena sekarang dia baru sadar jika hidupnya dikelilingi oleh orang-orang yang munafik, pengecut yang tidak tahu diri. Alea kecewa.
”Aku tidak yakin dengan jawabanmu itu, aku sangat mengenalmu kenapa kau tidak berterus terang terhadapnya jika kau mencintainya,” jelas Kamil.
”Memang masih bisa? Aku tidak yakin, biarlah dia bahagia dengan pilihannya aku tidak akan mengganggunya.”
Kamil menepuk bahu Daren, dia tahu semua ini pasti berat untuknya tapi semua adalah konsekuensi dari apa yang dia lakukan kemarin dan sekarang dirinya didesak untuk mengiyakan sesuatu yang memang seharusnya diiyakan oleh Daren.
Kamil sangat tahu sebagai seorang pria dia yakin jika Daren memang menyukai Alea. Daren merasa frustasi sendiri karena merasa tidak mampu lagi untuk memendam semuanya.
"Kamil,” panggil Daren.
”Jika hal itu terjadi apakah kau akan mendukungku?”
Kamil mengangguk singkat dan dengan cepat Daren pergi meninggalkan Kamil.
”Aku ijin tidak masuk hari ini,” bisik Daren mengurai senyumnya.
"Astaghfirullah ini kantor kenapa kalian ijin sesuka hati, huh!” kesal Kamil, namun kembali tersenyum manakala sahabatnya itu berbalik dan tersenyum padanya.
Kamil berbalik menuju ruangannya seorang tamu yang sejak tadi menunggunya pun memberinya sapaan.
”Aku menunggumu sejak pagi Boy,” ucapnya.
”Ya ampun Om, kenapa kau mengagetkan diriku. Ada apa Om, datang kemari?” tanya Kamil.
”Om mau melamar ibumu, apakah kau akan memberi ijin padanya?”
Kamil membelalak mendengar maksud kedatangannya ini bukanlah untuk yang pertama kali tapi yang ketiga kalinya.
”Maaf Om, soal itu saya tidak berani mengatakan apapun karena semua keputusan itu ada di tangan beliau.”
Orang itu mengangguk, ”Lalu apakah kau akan merestuinya?”
__ADS_1
Kamil diam tidak tahu harus jawab apa.