
”Siapa dia?”
Kamil memperhatikan foto yang diberikan oleh Alea. ”Kau ingin tahu siapa dia?”
”Ya tentu saja.”
”Aku rasa itu tidak penting buatmu, bukankah kau sudah memiliki hubungan dengan abangku, tolong hargai perasaannya.”
”Ck! Kau selalu saja begitu,” ucap Alea berdecak kesal.
Kamil melirik ke arah Malvin dia tidak ingin putranya itu salah paham dengan kedatangan Alea ke ruangannya. ”Lalu kau ingin aku seperti apa?”
”Apa status wanita itu?”
”Dia itu istriku.”
Alea membulat ketika mendengar pengakuan Kamil, ”Itu tidak mungkin kenapa harus wanita sepertinya?"
”Aku mencintainya apa ada yang salah? Sudahlah tidak perlu dibesar-besarkan, mau dengan siapapun aku melabuhkan hatiku sekarang,” ucap Kamil santai.
”Apa mama sudah tahu soal ini?”
Kamil meletakkan foto-foto tersebut di mejanya. ”Belum, aku akan memberitahukannya nanti jika waktunya sudah tepat, tapi aku usahakan secepatnya.”
Alea melirik sekilas pada Malvin yang masih cuek menikmati makan siangnya.
”Sudahlah jangan diperdebatkan aku pasti akan ke rumah dan mengenalkannya pada keluarga di rumah.”
"Aku tunggu.” Alea melangkahkan kakinya dan berhenti sejenak memperhatikan Malvin, pemuda itu hanya mengangguk singkat padanya.
”Siapa dia Pa?” tanya Malvin ketika alea sudah pergi.
”Dia kakak iparku,” jawab Kamil santai. ”Besok jika mamamu sudah siap papa akan mengenalkannya pada keluarga papa,” sambung Kamil.
”Hanya mama?”
”Tentu saja tidak kamu juga ikut, sudah ya jangan kemana-mana habiskan makanannya papa mau ke ruang meeting sebentar.”
Kamil membawa berkas yang menumpuk di mejanya ke ruang meeting.
Malvin memperhatikan ruangan Kamil lalu bangkit dan melihat meja kerjanya yang kosong hanya satu foto yang tergeletak di mejanya.
”Apa ini nenekku, cantik sekali.” gumam Malvin.
”Kamu lihat apa Nak?” seru Kamil yang kembali ke ruangannya.
”Ini siapa Pa?” Malvin menunjuk pada bingkai foto yang tergeletak di meja kerja.
”Oh itu nenekmu Sayang, besok kau pasti akan bertemu dengannya. Ayo kita pulang!”
”Loh bukannya papa bilang sedang meeting kenapa pulang sekarang?”
”Semua urusan sudah papa serahkan sama Om Daren jadi papa tidak perlu lagi mengawasi.”
Kamil mengulurkan tangannya pada Malvin mengajak putranya itu untuk segera pulang.
__ADS_1
***
Medina ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan makan malam, dia ingin membuat steam ikan untuk Malvin.
”Eh ketemu lagi.”
”Kamu belanja di sini juga rupanya.”
Medina mengangguk, ”Ikan di sini lebih segar saya mau masak buat putraku.”
”Sama kalau begitu, saya juga ingin mengundangnya makan malam di rumah sudah lama dia gak datang ke rumah,” tuturnya.
”Memangnya dia tidak tinggal serumah dengan Anda?” tanya Medina.
Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya, ”Dia sudah besar bahkan belum menikah tapi sudah tinggal di apartemennya sendiri. Saya kira dia mau segera menikah tapi dia selalu bilang belum ketemu jodohnya dan akan datang membawanya ke rumah jika dia sudah menemukannya hingga.”
”Kau sangat mencintainya,” ujar Medina.
”Iya, dia putra terbaik yang aku miliki. Senang berkenalan denganmu.”
Medina hanya mengangguk saat wanita paruh baya itu pergi meninggalkannya, dia memilih pulang setelah belanjaannya selesai.
”Bang, kamu udah pulang?” Medina melihat Kamil dan Malvin duduk di teras.
”Iya, kamu darimana Sayang,” balas Kamil melihat dua tangan Medina menjinjing belanjaannya.
”Ke supermarket maaf buat kalian menunggu lama.” Medina membuka pintu rumah dan mengajak dua pria itu masuk.
Setelah meletakkan belanjaannya Medina menyusul Kamil ke kamar.
”Aku merindukanmu, boleh kan?” Kamil merapatkan tubuh Medina ke pelukannya.
Medina tersenyum kecil mendengarnya membuat Kamil semakin gemas saja dengannya.
”Aku serius loh,” bisik Kamil tangannya sudah mulai bergerak menggoda Medina.
”Ini masih sore Bang.”
”Tidak ada batasan waktu untuk bercinta Sayang, boleh ya? Juniorku sudah turn on kamu tega?” desis Kamil.
Medina tahu dan dapat merasakan hal itu. ”Sebentar saja ya, sekali aja please!”
”Tapi aku gak yakin Bang.”
”Kenapa begitu?”
”Tadi pagi juga Abang janjinya sebentar tapi ternyata justru sampai siang.”
”Itu karena kau sangat nikmat dan Abang tidak ingin mengakhirinya Sayang.”
Suara lenguhan lolos dari bibir Medina dengan cepat Kamil membawanya ke ranjang dan menindihnya. ”Sebentar saja ya, obati kangenku ini,” bisik Kamil.
Keduanya kembali bergulat dengan permainan yang panas hingga menjelang adzan maghrib tiba.
”Makasih ya,” bisik Kamil. Medina nampak malu melihat Kamil yang bertelanjang dada di depannya.
__ADS_1
”Kamu gak perlu masak kita makan diluar.”
”Tapi Malvin gak biasa makan di luar Bang,” ujar Medina.
Kamil pun tersenyum kecil, ”Jangan khawatir karena ini juga makanan rumahan tapi yang memasaknya itu temanku sendiri.”
”Bersiaplah.”
Kamil keluar lebih dulu untuk memberitahukannya pada Malvin sedangkan Medina wanita itu lebih dulu membersihkan dirinya.
”Papa yakin makan di luar?” seru Malvin yang duduk di belakang kemudi.
”Iya dong kita kan belum pernah makan malam di luar bersama, papa udah booking tempatnya kok jadi kamu gak perlu khawatir.”
Malvin mengangguk netranya mengamati gedung-gedung yang menjulang tinggi di sisi kanan kirinya ada rasa takjub karena dia bisa menapakkan kakinya di kota ini.
Setelah menempuh tiga puluh menit ketiganya sampai di restoran yang terlihat kecil namun terlihat sangat nyaman.
”Ayo masuk!” Kamil merangkul keduanya membawanya masuk ke ruangan yang sudah dibooking olehnya.
”Hai bro, kenalkan ini istri dan anakku.” Kamil mengenalkan keduanya pada temannya Zayyan.
”Kau sudah nikah? Kok gak mengundang kita semua?” protes Zayyan.
”Ya nanti kita sebar undangannya deh, oh iya aku pesan seperti biasanya ya.”
”Siap.” Zayyan memberi kode pada Kamil.
Ketiganya pun ngobrol bersama sesekali terdengar gurauan dari Malvin membuat Kamil dan Medina terkekeh bersama. Sungguh malam ini menjadi malam yang membahagiakan buat Medina dan Malvin karena sudah lama mereka tidak pernah merasakan kebahagian setelah Daffa pria itu melangkah pergi dari rumah.
”Apa kalian bahagia?” tanya Kamil dia ikut senang melihat senyum yang mengembang di wajah keduanya.
”Tentu saja Pa, jujur sudah cukup lama kami tidak pernah keluar dan menikmati suasana kebersamaan seperti ini, terima kasih karena telah menjadi bagian dari hidup kami,” ungkap Malvin.
”Syukurlah papa juga ikut senang jika kalian senang.”
”Kita pulang sekarang?” ajak Medina.
”Tidak mau jalan-jalan dulu?” tawar Kamil.
”Iya Ma, sebaiknya kita jalan-jalan dulu. Malvin juga jenuh tiap hari ke sekolahan pulang sore gak ada teman pula di rumah,” keluh Malvin.
Medina mengerti jika putranya itu kesepian mengingat jadwal Kamil yang padat sedangkan dia di rumah tak mungkin sepenuhnya menemani putranya.
Mobil berhenti di pusat perbelanjaan. ”Ayo kita jalan-jalan dulu!”
Ketiganya pun kembali masuk ke mall Kamil dan Medina mengikuti langkah Malvin yang sudah lebih dulu berjalan di depan.
”Kamil!”
Kamil terdiam mendengar namanya dipanggil, sontak Kamil pun menoleh.
”Papa.” Kamil terkejut melihat papanya bersama dengan seorang wanita muda tengah menggandengnya dengan erat.
”Siapa dia Pa?”
__ADS_1