Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Melepas


__ADS_3

Christy merasa bersalah melihat pertengkaran antara kekasihnya dan Alea wanita yang pernah singgah di hati Daren, Christy seakan menjadi pihak ketiga di antara mereka berdua padahal sejak awal dirinya pun telah menolak pria itu. Namun Daren bersikeras akan berjuang untuk melupakan sosok Alea dalam hidupnya.


”Daren, kejar dia jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk!” Christy mendorong Daren untuk bergegas mengejar Alea.


”Ta-tapi ...” Daren ragu dan menoleh ke belakang namun Christy mengangguk memberikan ijin pada pria yang beberapa hari ini selalu menemaninya.


Daren pun mengejar Alea dirinya ingin menjelaskan persoalan yang akan terjadi jika mereka berdua tetap bersama, Daren tak ingin Alea menjadi salah paham.


”Alea tunggu!” Daren segera menarik lengan Alea dan membawanya ke tempat yang cukup tenang.


”Tolong dengar penjelasanku!” ucap Daren kesal karena Alea seakan-akan berubah menjadi seorang anak kecil yang manja.


”Apa yang harus aku dengarkan, bukankah kamu sendiri yang melakukannya kenapa aku harus mendengarkan perkataanmu itu,” sahut Alea ketus.


”Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.”


”Iya benar itu karena kalian menyembunyikannya padaku, bahkan kamu justru berpaling dariku dan menjalin kasih dengan gadis lain. Tapi tidak masalah bagiku, kamu berhak bahagia.”


”Asalkan kamu tahu aku cukup tenang setelah tahu gadis yang kamu sukai lebih baik dariku.” Alea terus saja berbicara dan Daren memang sengaja membiarkannya mengeluarkan segala keluh kesahnya karena Daren tahu Alea tidak memiliki teman di kota ini.


”Alea, maukah kamu mendengarkan isi hatiku.” Daren ingin mengutarakan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi.


Alea mengangguk, ”Katakan!”


Daren menarik nafas banyak-banyak dirinya ragu tapi dia harus mengatakannya semuanya pada Alea tanpa ditutup-tutupi lagi.


”Aku dan Christy merasa jika kami senasib.”


Alea mengangkat kepalanya mendengar perkataan Daren.


”Kami berdua anak terbuang meskipun kaya tapi keluarga tidak menganggap kami ada, kamu tahu kan sejak dulu aku tidak pernah bersama dengan orang tuaku bahkan aku lebih memilih untuk pergi ke negara ini daripada berkumpul dengan keluargaku.”


”Mengertilah, bahwa suatu saat suamimu pasti akan berubah.”


”Aku tidak yakin.”


Daren memegang tangan Alea, ”Kamu harus yakin dengan apa yang sedang kamu jalani, Alea. Percayalah setiap hubungan itu pasti ada cobaannya mungkin Tuhan kasih kamu ujian lewat Farhan agar kamu bisa belajar bagaimana rasanya bersabar.”


”Kapan kalian akan menikah?” Alea melepaskan diri dari Daren.


”Secepatnya setelah Christy bisa keluar dari rumah tantenya.”


Alea kembali merasakan sesak yang mendalam mungkin benar dia dan Daren tidak berjodoh dan cukup hanya berteman saja tidak lebih. ”Terima kasih banyak untuk semuanya.”

__ADS_1


Alea segera bangkit dari duduknya karena tak ingin terlalu lama berdekatan dengan Daren. Dia merasa malu karena selama ini telah salah mengartikan perasaannya kepada Daren.


”Aku akan mengantarmu pulang!” tawar Daren.


”Tidak perlu.” Alea segera menghentikan taxi dan benar-benar pergi meninggalkan Daren.


”Maafkan aku,” lirih Daren lalu menoleh ke samping, Christy sudah ada di dekatnya menggenggam erat tangannya.


***


”Sayang, apa Malvin sudah memberimu kabar?” Kamil merasa cemas karena hanya dia yang tidak tahu kabar putranya.


”Ada kok, memangnya kenapa?”


”Mm, gak apa kenapa dia tidak memberi kabar padaku padahal dari kemarin aku mencoba menghubunginya.”


”Oh soal itu, dia khawatir jika nanti mengganggu makanya dia hanya memberi kabar padaku,” jelas Medina.


”Astaga anak itu.”


”Memangnya teman-temannya masih mau berteman dengannya?”


”Tentu saja masih, kenapa apa Bang Kamil meragukannya?”


Medina menggeleng pelan, ”Abang tenang saja ada Baron yang akan mengawasinya. Cepat makan dulu, memangnya Abang gak lapar?”


”Baiklah, lagipula aku sudah rindu masakanmu,” balas Kamil segera meraih piring yang diberikan Medina padanya. ”Terima kasih.”


”Makan yang banyak!” Medina meletakkan lauk di piring Kamil membuatnya terkekeh karena piringnya penuh dengan makanan.


”Ya ampun Sayang, perutku bukan karet yang bisa melar dengan memakan makanan sebanyak ini,” keluh Kamil.


”Sudah jangan banyak protes ini juga bagiannya Malvin karena dia tidak ada jadi aku memberikannya untukmu.” Medina menarik nafasnya gelisah membuat Kamil curiga jika istrinya sedang memikirkan sesuatu.


”Ada apa?” Kamil mengusap punggung tangan istrinya.


”Aku khawatir saja, apa dia baik-baik saja karena selama ini dia selalu makan masakan rumahan.”


”Tak perlu khawatir soal itu karena aku sudah mewanti-wanti Baron untuk menjaganya dengan baik bahkan soal makanan sekalipun.” Kamil pun kembali melahap makanan yang masih tersisa di piring lalu membantu istrinya membereskan meja makan dan dapur.


”Kamu tahu, Daren akan segera menikah dengan Christy.”


”Christy ... pegawai baru itu? Apa itu sudah pasti?”

__ADS_1


”Aku kurang tahu tapi aku hanya mendengar dari Daren langsung jika mereka berdua akan segera meresmikan hubungan keduanya dalam ikatan pernikahan.”


”Apa Alea sudah tahu akan hal ini? Apa wanita itu tidak terluka karena sebelumnya dia begitu berharap tentang Daren. Bang, kenapa aku justru jadi merasa sedih dan tidak tegas mendengar hal ini.”


”Kenapa, apakah ada yang salah?”


”Aku hanya merasa perjuangan Alea sia-sia.”


”Kamu tidak boleh berkata begitu bukan hanya Alea saja yang terluka Daren pun sama terlebih dia mengalami hal yang sama dengan Christy mungkin karena alasan itu juga dia mau melindungi gadis itu.”


”Jangan pernah menilai orang dari covernya bukan? Aku yakin niat Daren baik, meskipun jika dipikir tidak masuk akal dan tolong kamu mensupport Alea apapun keadaannya.”


Medina mengangguk, ”Aku tahu kok Bang setiap sesuatu itu pasti ada alasannya dan aku yakin di balik itu pasti akan ada hati yang terluka. Semoga saja Alea bisa bersabar.”


”Nah ini yang aku suka darimu, Sayang. Tolong jika dia datang ataupun mungkin dia curhat padamu berikan dia support,” ucap Kamil. ”Aku sendiri tidak mau membela salah satu di antara mereka berdua tapi ... semoga keduanya bisa sama-sama saling ikhlas.”


”Ya aku tahu itu,” sahut Medina kembali merapikan piring-piring yang masih sedikit berantakan.


”Kita ke rumah mama yuk!”


”Sekarang?”


Kamil mengangguk, ”Bagaimana?”


”Besok pagi saja ya, Abang libur kan? Aku lelah ingin istirahat dulu.”


”Oke, aku kasih tahu mama biar besok tidak perlu pergi kemana-mana.”


”Memangnya beliau mau kemana?”


”Sayang, mama itu sedang dalam keadaan yang kurang baik juga karena tekanan dari papa maka dari itu aku ingin kita datang untuk menghiburnya.”


”Kenapa bisa demikian? Bukankah mereka berdua telah bercerai?”


”Ini semua karena masalah yang sedang membelit Bang Farhan, imbasnya mama diminta papa untuk membantu dan menolak bantuan dariku. Entahlah padahal jika dipikir itu sama saja.”


”Lalu sekarang kemana Bang Farhan?”


”Bersembunyi seperti seorang pengecut.”


”Apa? Bagaimana dengan Alea?”


__ADS_1


__ADS_2