
”Mama, kalian jadian?” selidik Malvin diam-diam anak itu menguping pembicaraan kedua orang dewasa itu dari balik pintu kamarnya yang sengaja dia buka sedikit.
”Jadian apaan, kenapa kamu selalu ingin tahu urusan orang dewasa,” keluh Medina mau kesal tapi Malvin adalah anaknya sendiri.
”Ya jika memang hal itu benar pun tidak masalah, aku sebagai anakmu akan mendukungmu Ma. Yang perlu mama ketahui Om Kamil itu baik kok,” ucap Malvin lalu menarik lengan Medina masuk ke kamarnya.
”Dia memberikanku banyak barang, lihatlah!”
Medina menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya, di tempat tidur Malvin ada beberapa barang branded dan juga ponsel keluaran terbaru.
”Kapan kau membelinya?”
”Tadi waktu mama ke supermarket,” balas Malvin.
Medina mengecek satu per satu tas, sepatu, jam tangan serta t-shirt dan ponsel semuanya merek terkenal.
”Malvin jika dia memberimu barang lagi tidak bisakah kau menolaknya jika kita terus saja menerimanya mama khawatir tidak bisa membalasnya dan yang ada hutang semakin menumpuk,” jelas Medina.
”Ma, Malvin sudah menolaknya tapi Om Kamil memaksanya karena dia pengin Malvin masuk sekolah dengan suasana dan gaya baru begitu katanya,” kilah Malvin.
”Mama gak yakin deh,” bantah Medina.
”Baik, mama tanyakan padanya saja kebenarannya oke!”
Medina diam tidak tahu harus bagaimana lagi menanggapi perkataan Malvin.
***
Kamil datang ke kantor rupanya Hamid papanya sudah berada di sana menunggunya.
”Kau datang terlambat?” ucap Hamid.
”Biarkan saja, perusahaan ini milikku sendiri jadi aku bebas mau datang kapanpun aku mau bukan?” sahut Kamil.
"Ck! Kebiasaan selalu membantah perkataan orang tua,” balas Hamid.
”Jika memang faktanya demikian papa mau apa? Aku mendirikannya dengan susah payah jadi kenapa aku mesti takut. Oh iya dimana anak kesayangan papa, dia tidak ikut mendampingi ke sini?”
”Dia ada urusan dan nanti akan menyusul kemari.”
”Oh begitu.”
”Dia itu saudaramu kenapa kau bersikap seperti itu padanya.”
"Maksud papa?”
"Istrinya Alea, bukankah dia sahabatmu kenapa kau tidak menyakinkan gadis itu untuk menerima abangmu itu,” jelas Hamid.
”Astaga Pa, Kamil kasih tahu papa sekarang biar semuanya jelas dan tidak ada lagi kesalahpahaman jika antara aku dan Alea tidak ada hubungan apapun. Aku menganggapnya seperti adikku sendiri jadi jangan khawatir aku akan merebutnya karena aku sudah memiliki calon sendiri.”
”Benarkah? kenapa kau tidak mengenalkannya padaku?"
”Nanti jika sudah tiba waktunya, saat ini dia belum siap karena ada beberapa hal yang harus disiapkan lebih dulu.”
”Terserah kau saja, ayo kita mulai meeting-nya papa akan segera pergi keluar kota siang ini.”
Keduanya pun segera masuk ke ruang meeting disusul Daren dan Farhan. Hampir satu jam lebih mereka berada di dalam begitu keluar Farhan langsung menghadang adiknya.
__ADS_1
”Abang mau bicara denganmu,” ucap Farhan.
Dengan malas Kamil berhenti, ”Apalagi Bang, jika masalahnya masih sama maka lupakan saja karena aku takkan pernah membahasnya lagi.”
”Abang harap kau bisa menjelaskannya pada Alea.”
”Sudah Bang, aku sudah melakukan hal itu jika dia masih saja mengejar diriku maka itu bukan salahku tapi salah Abang kenapa tidak bisa menaklukkan hatinya.”
Kamil segera berlalu meninggalkan Farhan dengan perasaan kesal tadi papanya yang mengatakan hal itu dan sekarang Farhan.
"Kakak sama adik sama saja, sama-sama keras kepala,” seru Daren begitu Kamil masuk ruangannya.
”Diam kau! Aku mau menanyakan sesuatu padamu,” ucap Kamil.
”Apa?”
”Jika wanita diajak menikah dan belum memberikan jawaban kira-kira berapa hari kita meminta jawabannya.”
”Kau sedang melamar Medina?”
"Astaga aku sedang tanya padamu tapi kau justru balik bertanya padaku, katakan saja yang kau tahu.”
"Tidak pasti ada yang cepat ada yang lama, kadang tanpa kita minta biasanya akan bicara dengan sendirinya. Jadi benar kau melamar wanita itu?”
”Iya anggap saja demikian.”
”Wow luar biasa! Semoga dia segera memberikan jawaban atas kegelisahan hatimu,” ucap Daren.
”Kau sedang mengejekku kan?"
”Oke aku pegang kata-katamu itu.”
”Ck! Serius amat!”
”Ini berkas yang kau minta dan mengenai rumah itu di dalamnya sudah ada berkas dan sertifikatnya.”
”Terima kasih banyak untuk bantuannya,” ucap Kamil membuka berkas yang diberikan Daren padanya.
”Aku pergi dulu ya.” Kamil segera berlalu meninggalkan kantornya tujuannya satu rumah Medina.
***
"Bang Kamil,” ucap Medina terkejut dengan penampilan Kamil yang terlihat gagah dan tampan.
”Aku boleh masuk?”
”Si-silakan Bang,” ucap Medina gugup.
Kamil duduk dan menyerahkan map biru pada Medina.
”Apa ini?" Medina membuka map yang diberikan Kamil padanya.
”Sertifikat rumah dan isinya semua sudah aku alihkan atas namamu,” ucap Malik.
Medina tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
”Kenapa kau melakukan ini?”
__ADS_1
”Medina sudah aku jelaskan kemarin bukan jika aku ingin membahagiakan dirimu, ini tidak seberapa untukku dan aku ingin membuktikannya jika aku benar-benar mencintaimu bukan hanya ucapan semata.”
”Tapi ini terlalu berlebihan Bang.”
”Tidak, bahkan ini tidak sebanding dengan besarnya rasa cintaku sama kamu,” ungkap Kamil.
"Katakan apa yang kau rasakan aku ingin mendengarnya,” tanya Kamil mendesak Medina.
”Maksudnya?"
”Kau juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan kan, jawab jujur.”
Medina hanya diam dirinya tidak bisa mencerna perkataan Kamil, saat ini dia justru menatap intens pada sosok yang ada di depannya cukup lama, sejak kapan pria ini berhasil memporak-porandakan hatinya.
"Malah melamun, aku tidak kalah tampan kan dengan papanya Malvin bahkan aku yakin aku jauh lebih tampan darinya sekarang,” ucap Kamil percaya diri mengurai senyumnya.
”Sombong sekali,” sahut Kamil.
”Tapi memang benar kan? Ayo ngaku!”
Medina mengangguk tersipu malu, memang benar jika Kamil lebih tampan dari Daffa.
”Jadi ... kamu mau kan menerimaku?”
Kamil mengeluarkan kotak beludru berwarna biru navy, dan mengeluarkan isinya.
”Mungkin ini terlalu cepat untukmu tapi aku sendiri tidak mau melepas kesempatan yang ada dan buatmu ini bukanlah lamaran yang romantis menurut versimu, Will you marry me?”
Medina menitikkan air matanya mendengar ajakan Kamil, antara bahagia dan juga sedih berbaur menjadi satu. Andaikan ibunya masih hidup mungkin dia bisa membayar rasa bersalahnya pada wanita yang telah melahirkannya dan perasaan bahagianya akan lengkap.
Kamil kebingungan sendiri karena respon Medina di luar ekspektasinya, dia ingin merengkuh tubuh mungilnya namun wanita itu justru menolaknya.
"Maaf jika hal ini membuatmu sedih,” ucap Kamil merasa bersalah karena telah membuat wanita ini menangis.
Medina menggelengkan kepalanya, ”Aku teringat ibuku.”
Kamil melirik jam tangannya hampir jam dua itu tandanya sebentar lagi dia harus menjemput Malvin.
"Medina, aku harus menjemput Malvin sekarang, apa kau mau ikut ke sekolahannya?” tawar Kamil.
”Tidak perlu lagian dia sudah dewasa kenapa aku harus ikut kayak anak TK saja.”
Kamil tertawa mendengar tanggapan Medina. ”Siapa tahu dia mau bernostalgia.”
”Yang ada justru membuatnya malu, sudahlah jika kau ingin pergi sekarang pergi saja daripada dia menunggu terlalu lama di sekolahan kasian nanti.”
”Baiklah aku pergi sekarang, aku akan mengajaknya jalan-jalan dulu sebentar boleh ya.”
”Terserah.”
Kamil meletakkan kotak beludru di atas meja. ”Simpan ini jangan sampai hilang, aku akan senang jika kau mau memakainya. Assalamualaikum.”
"Waalaikumussalam,” jawab Medina memandang Kamil pergi dan lagi-lagi dia terkejut melihat mobil yang dibawa olehnya.
”Sebenarnya siapa dia?”
__ADS_1