Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Perhatian Kamil


__ADS_3

”Bagaimana keadaan istri saya Dok?” Kamil nampak khawatir dengan keadaan Medina.


”Istri Pak Kamil sedang hamil usia dua minggu tapi maaf saya harus mengabarkan jika kandungannya saat ini sangat lemah jadi ibu Medina harus banyak beristirahat,” ucap Dokter.


Mendengar penjelasan dari Dokter, Kamil tidak tahu apakah dia harus bahagia atau sedih karena dia sangat mengharapkan Medina segera hamil tapi jika istrinya sampai kesakitan rasanya Kamil tidak akan tega melihatnya kesakitan.


”Baiklah Dok, saya akan memantaunya selalu. Terima kasih.”


Kamil mendekati tempat tidur Medina yang masih terlelap dalam tidurnya. Medina terbaring lemah selang infus menancap di tangannya. Kamil mengusap wajah Medina menatapnya dengan intens. ”Cepat sembuh Sayang,” bisik Kamil.


”Dad, bagaimana kondisi mama?” Malvin datang menghampiri Kamil.


”Mama butuh banyak istirahat, kamu pulanglah ke rumah biar Baron yang nemenin kamu. Daddy akan di sini menemani mama.”


”Baiklah, tapi tolong jika ada sesuatu Malvin tolong dikabari ya Dad,” ucap Malvin. Kamil hanya mengangguk singkat dan membiarkan putranya pulang bersama dengan Baron.


Kamil kembali menatap ke arah Medina wanita itu masih terlelap setelah diberi obat Dokter. Baru beberapa menit Kamil akan ikut terlelap namun gerakan jari jemari Medina menyadarkan Kamil.


”Kamu udah bangun Sayang, apa ada yang sakit?” tanya Kamil khawatir.


Medina mengerjapkan kedua matanya karena sinar lampu begitu menyorot netranya. ”Kita dimana Bang?”


”Di rumah sakit tadi kamu pingsan dan sekarang kita masih di sini.”


Medina mengedarkan pandangannya mencari sosok putranya.


”Jangan khawatirkan Malvin dia sudah pulang ke rumah bersama Baron,” ucap Kamil seakan dapat membaca pikiran Medina.


”Kamu tahu kabar yang paling menggembirakan?”


”Apa itu?” Medina menatap Kamil dan berharap pria itu segera memberitahukannya.


”Di sini ada calon anak kita, kamu sedang hamil anak kita,” ucap Kamil kedua matanya berbinar bahagia. ”Tapi kamu harus banyak istirahat karena kandungannya lemah jadi aku minta kau harus banyak istirahat nantinya dan akan ku carikan asisten rumah tangga buat mengurus keperluan rumah dan kamu tidak boleh membantah.”


Medina hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya yang mulai protektif padanya. ”Tidak segitunya Bang, aku masih bisa kok melakukan semuanya sendiri pelan-pelan.”


Kamil menaikkan alis kanannya, ”Yakin? Jikapun iya aku tidak akan mengijinkannya Sayang, aku mau kamu dan dia baik-baik saja.”

__ADS_1


Medina pun hanya bisa diam tak ingin berdebat lagi. Besok harinya tepat jam delapan Malvin sudah kembali ke rumah sakit ditemani Alika, wanita paruh baya itu tidak bisa diam saja mendengar menantunya berada di rumah sakit. Sejak semalam dia merengek akan menjenguk Medina tapi Kamil melarangnya dan hanya mengijinkannya datang hari ini.


”Bagaimana keadaannya?” tanya Alika.


”Dia baik-baik saja jadi tidak perlu khawatir,” balas Kamil.


”Kandungannya?”


”Ma, tolong mama carikan asisten rumah tangga ya. Jika perlu yang seperti Mbok Iyem biar bisa menjadi teman bicara buat Medina di rumah. Urusan kebersihan Kamil akan carikan tukang beres-beres sendiri yang bisa pulang pergi jadi tidak perlu standby di rumah.”


’’Oke nanti mama carikan, apa tidak sebaiknya kalian pindah saja ke rumah yang lebih besar. Bukankah rumah yang biasa kamu tempati juga kosong dan lebih besar dari yang sekarang kalian tempati.”


”Kamil mau saja tapi apa Medina juga mau?” Kamil menoleh ke arah istrinya.


”Bagaimana Medina kalian pindah saja di dekat rumah mama, biasanya Kamil juga tinggal di sana lebih dekat dengan mama,” saran Alika.


”Semua terserah Bang Kamil saja deh Ma, Medina nurut saja.”


”Nah itu baru namanya istri solehah,” ucap Kamil menggoda istrinya.


Medina menatap ke arah Malvin yang sejak tadi hanya menyimak obrolan orang dewasa itu hanya bisa tersenyum dia sudah semakin dewasa dan sebentar lagi akan memiliki adik. Medina tersenyum sendiri manakala mengingat jaraknya sangat jauh dengan anak keduanya.


”Bang kita ke rumah sakit dulu ya, jenguk Medina,” ajak Alea bersemangat sekali.


”Nanti siang pas istirahat Abang mau ada meeting nih bentar lagi, buruan ya nanti Abang antar kamu sampai ke kantor terlambat dikit gak apa palingan juga Kamil gak ngantor hari ini.”


”Astaga gak boleh gitu meskipun itu kantor adik ipar sendiri semua peraturan itu sama rata gak boleh tenang pilih dan lagi Bang kenapa sih Abang begitu sama Kamil.”


Farhan seakan gak terima dengan perkataan Alea yang menyudutkan dirinya, ”Maksudmu apa sih? Memangnya Abang ngapain sama Kamil?”


Alea memutar bola matanya mendengar penuturan Farhan yang seakan merasa tak bersalah padahal jelas-jelas kemarin siang dia menolak untuk tetap berada di rumah sakit dan beralasan ada rapat di kantornya hanya untuk menghindari adiknya. Apalagi setelah mendengar kabar jika Medina tengah hamil anak pertama Kamil.


”Kapan masa suburnya?” tanya Farhan membuat Alea mengernyitkan alisnya.


”Kenapa bertanya begitu?”


”Hanya tanya saja gak boleh?”

__ADS_1


”Gak percaya!” Alea segera menarik lengan Farhan keluar waktunya untuk bekerja bukan untuk bersenang-senang di rumah, Alea khawatir jika meladeni Farhan maka dirinya tidak akan pernah berangkat ke kantor.


Sepanjang perjalanan Alea hanya diam dirinya kesal karena Farhan tidak mau diajak kerjasama untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Medina.


”Masih marah?” tanya Farhan yang tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. ”Abang janji nanti habis meeting ke rumah sakit menjenguk Medina.”


”Janji ya.”


Farhan mengangguk dan tersenyum kecil pada istrinya. ”Selamat bekerja. Cup!” kecupan singkat mendarat di kening Alea membuat wanita merona seketika.


”Sampai jumpa.” Alea keluar dan masuk ke gedung dimana selama ini dia berusaha mengejar Kamil namun justru Farhan lah yang menikahinya, ”Dunia ini sungguh lucu!” gumam Alea saat dia dipinang oleh Farhan.


”Eh kamu pagi sekali ke sini?” Daren menyapa Alea binar wajahnya terlihat sedang berbahagia.


”Iya sekalian dengan Farhan tadi, kamu sendiri kenapa sudah berada di sini?”


”Kamil kan tidak datang kemari jadi aku yang menggantikannya, btw bagaimana kabar istrinya?”


Alea mengedikkan bahunya, ”Kemarin dia baik-baik saja sih hanya perlu istirahat karena kandungannya lemah.”


”Dia mau jadi Daddy? Eh maksudnya Daddy dari benihnya sendiri,” ralat Daren terkekeh membuat Alea malas mendengarkannya jujur dia masih belum menerima sepenuhnya dengan keadaannya Alea cemburu dengan Medina.


”Kenapa kau berkata begitu?”


”Iya memang sekarang dia sudah jadi ’Daddy’ kan, hanya saja anak itu bukan benihnya. Kamil harus bersyukur karena statusnya dia akan menjadi seorang Daddy kandung. Rupanya benihnya manjur juga hanya dua bulan langsung jadi.” Daren terkekeh setelah mendengar perkataannya sendiri.


”Kamu sendiri kapan menyusulnya?”


”Kenapa kau bertanya begitu padaku, lagipula ini kan rahasia dapur orang!”


”Ingat Alea, air jatuhnya ke bawah terus melaju ke tempat yang paling rendah. Kamil itu memiliki sifat yang sama dengan Bos Alika dan Farhan? Apa kamu pernah ada rasa curiga sedikit saja pada suami kamu ketika berada di luar sana?”


”Kenapa jadi bahas beginian?” protes Alea.


”Aku hanya mengingatkanmu saja, didengar silakan tidak ya tidak masalah anggap saja perkataanku hanya angin lalu, beres kan? Apa Farhan melakukan sesuatu yang mencurigakan di luar sana?”


Alea semakin terpojok jujur hatinya sedang meragu dengan tanda merah dilehernya tempo hari dan juga kemejanya yang terdapat noda lipstik.

__ADS_1


”Kalau begitu bantu aku menyelidikinya!”


Daren membulatkan matanya mendengar perkataan Alea. ”Kenapa harus aku?”


__ADS_2