
"Malvin ayo makan dulu!” titah Medina.
”Malvin masih kenyang Ma, nanti saja kalau mau tidur!” balas Malvin.
”Memangnya kamu makan apa seharian ini, hanya di sekolah kan, dan ini sudah malam. Ayo cepat makan baru istirahat.”
”Tadi Malvin dan teman-teman ditraktir sama Om Kamil makan mie ayam habis main bola jadi ya masih kenyang,” seru Malvin.
”Kok bisa? Memangnya dia tadi sama kamu?”
Malvin mengangguk, ”Iya Ma, dan kita ramai-ramai makan mie ayam tempatnya Pak Ujang.”
”MasyaAllah, kalau dia tekor bagaimana jualannya hanya sayur untungnya gak seberapa kok malah kalian rampok mie ayam,” tukas Medina.
"Gak akan Ma, kayaknya dia itu bukan tipe tukang sayur biasa,” sanggah Malvin.
”Sok tahu! Ya udah kalau gitu belajar sana lalu istirahat besok kan masih harus sekolah.”
Tanpa membantah lagi Malvin segera ke kamarnya menunaikan kewajibannya, belajar!
Medina sendiri memilih duduk di ruang tamu pikirannya menerawang tak menentu mengingat sosok Kamil yang belakangan ini selalu saja mengganggu pikirannya, apalagi tempo hari dia melihat langsung bagaimana dia hanya mengenakan boxer tanpa atasan.
Mengingat hal itu Medina mendadak menjadi galau sendiri. ”Kenapa pikiranku jadi mesum begini!” gumam Medina memukul kepalanya sendiri dengan tangan kirinya.
Medina beranjak ke kamarnya, bayangan masa lalu pun kembali terlintas bagaimana kehidupan dia saat masih bersama dengan Daffa mantan suaminya. Tidak pernah tenang itulah yang dia rasakan karena tekanan dari Bu Yanti selalu datang dan Medina tak ingin mengulang kembali masa itu cukuplah masa lalunya menjadikannya pelajaran berharga ke depan.
”Astaghfirullah,” lirihnya. Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang biasanya dia akan menangis tapi setelah dipikir ulang tak ada gunanya dia menangis karena semua takkan menjadi seperti yang dia harapkan.
Menjelang pagi Medina masih bermalas-malasan di kamar membuat Malvin curiga apakah ibunya sakit karena selama ini Medina rajin bangun pagi menyiapkan sarapan dan bekal untuknya.
”Ma,” panggil Malvin.
Tok ... tok ... tok ...
”Ma, apa mama sudah bangun?” teriak Malvin lebih keras namun tak ada sahutan dari dalam kamar Medina.
”Atau jangan-jangan mama sakit?” pikiran Malvin jadi kemana-mana hatinya gelisah, khawatir jika mamanya sakit.
"Ma,” ulang Malvin.
Ceklek ...
”Ya ampun Ma, mama gak apa-apa kan, kok lama sekali buka pintunya?” tanya Malvin dengan raut wajah tegang.
”Kamu sudah siap? Maaf mama pusing sekali jadi terlambat bangun, kamu udah sarapan?” tanya Medina segera ke dapur.
__ADS_1
”Bagaimana mau makan, mama aja belum bangun,” balas Malvin.
”Mama kenapa pusing apakah memikirkan papa jadi sampai begini?”
Medina berbalik melotot pada Malvin, ”Kamu bisa gak sih jangan bawa-bawa papamu itu, mama beneran pusing bukan karena mikirin dia.”
”Lalu karena apa? Apa mama sudah memiliki pengganti papa?”
”Kau ini bicara apa, kayak barang aja diganti!”
”Lah mama belakangan ini aneh kok banyak melamun lebih tepatnya. Ada apa Ma, cerita sama Malvin.”
"Udah buruan siap-siap ke sekolah nanti telat lagi!” seru Medina dengan berat hati Malvin pergi ke kamar mandi setelah menyambar handuknya di kamar.
Tin ... tin ... tin ...
”Sayur ... sayur ... Ayo pada belanja gak ibu-ibu yang cantik!” teriak Kamil membuat beberapa emak-emak yang sedang berkumpul di halaman langsung berhamburan menyerbunya.
”Aduh Bang Kamil dah datang dari tadi udah kami tunggu loh Bang,” seru Bu Lia.
”Hehe ... maaf tadi jalanan macet maklum hujan lebat dari semalam banyak genangan air jadi kudu super hati-hati.”
”Ayo mau belanja apa ibu-ibu, silakan dipilih-pilih dulu kalau selesai bayar dulu baru bawa pulang,” seru Kamil membuat beberapa pembeli terkekeh melihat logatnya yang sedikit kaku.
”Maksudnya?”
”Lah iya tampang cakep jualan sayur kayaknya gak imbang deh kalau pegawai kantoran baru saya percaya, tapi meskipun jualan sayur saya acungkan jempolnya karena abang gak gengsian jadi orang,” ucap Wina membuat Bu Lia kesal karena telah mengambil perannya untuk bercerita.
”Ya gak apa jualan sayur, saya juga melakukannya dengan senang hati kok daripada gak ada kerjaan di rumah lagi nganggur jadi pilih merantau mencari kesibukan,” jelas Kamil.
"Walah tipe suami idaman ini, apa masih jomlo kalau iya boleh dong daftar?” ujar Wina.
”Duh Mbak Wina jangan kepedean deh memangnya Mbak Wina pantes sama Bang Kamil yang ganteng ini,” ucap Bu Lia protes.
"Aduh Bu Lia, kalau saya mau daftar itu gak akan ada masalah karena saya single, gak ada ikatan status dengan siapapun jadi free mau dengan siapapun juga,” bantah Wina kesal.
”Bu Lia sendiri kalau mau daftar harus mikir berulangkali karena ada Pak Danu lah saya gak ada yang akan menentangnya.”
Keduanya pun terlibat adu mulut di pagi hari.
”Udah kalian gak malu apa dilihatin banyak orang yang lewat di sekitar sini, istighfar saling minta maaf, sesama manusia itu jangan suka menjelekkan apalagi ujung-ujungnya menghina fisik sungguh itu dilarang sama Allah.”
”Tuh dengerin kata Mbak Medina gak boleh saling menjelekkan satu sama lain, mengerti!”
Keduanya pun bungkam seribu bahasa.
__ADS_1
"Kok baru keluar?” tanya Kamil melihat Medina tampak pucat.
”Aku gak bisa tidur semalam jadi ya begini,” balas Medina terkekeh sendiri.
”Kok bisa atau jangan-jangan mikirin sesuatu ya?” goda Kamil.
”Gak juga, lagi capek aja sih lebih tepatnya. Oh iya beli tempe sama tahunya ya,” ucap Medina.
Kamil pun mengambilkan barang yang diminta Medina. ”Ini, apalagi?”
”Udah itu aja berapa harga?”
”Udah bawa aja gak perlu bayar!”
”Loh gak bisa gitu dong, Abang kan jualan masa aku beli gak bayar nanti untungnya darimana dan kalau ada yang tahu pasti mereka cemburu karena aku diistimewakan sama Bang,” seru Medina.
”Ya anggap saja begitu, udah bawa aja gak apa!”
”Besok aku gak akan belanja loh kalau gak mau dibayar!” sahut Medina.
”Btw, makasih ya kemarin udah traktir anak-anak mie ayam waktu main bola. Malvin bahagia sekali,” ucap Medina.
”Sama-sama.”
”Bapaknya aja gak pernah seroyal itu sama dia makanya aku kaget kemarin waktu aku minta dia buat makan malam dia baru ngaku kalau habis ditraktir mie ayam tempatnya Pak Ujang,” jelas Medina.
”Itu kebetulan saja kok, kalau suka saya malah senang karena bisa membuat orang lain bahagia.”
”Ya sudah, ini uang tempe dan tahunya,” ucap Medina segera berlalu setelah meletakkan uang di atas sayur kangkung.
”Duh nekat banget sih disuruh jangan bayar kok malah ninggalin di sini.”
”Rezeqi bang gak boleh ditolak meskipun sedikit!”
Baru saja meletakkan barang di meja tetangganya sudah geger mengerti pintu rumahnya.
”Mbak Medina buka pintunya mbak!”
”Ada apa Hasna?”
”Itu aku dengar dari Anton kalau Malvin ... ”
”Malvin kenapa Na?” potong Medina.
”Dia ...”
__ADS_1