Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Masalah Datang dan Pergi


__ADS_3

”Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu apa ada masalah?” Medina menatap putranya yang sedang dalam keadaan bad mood.


”Teman Malvin tahu jika Malvin adalah putranya Pak Daffa guru bahasa Inggris di kelasnya, ada yang mengatakan jika Malvin pintar karena memang papa itu orangnya pintar tapi tidak sedikit pula yang menggunjing Malvin menggunakan nama papa buat nilai bagus di kelas, bukankah itu menjengkelkan!”


Malvin menyandarkan kepalanya di sofa dirinya kesal apalagi mengingat Salsa yang selalu saja ingin mendekatinya.


”Sudah jangan dipikirkan lagi, sebaiknya kau segera mengisi perutmu itu jangan terlalu lama kosong nanti yang ada kamu malah sakit!” tegur Medina mengingatkan pada putranya.


”Malvin gak lapar Ma, nanti sajalah jika sudah lapar Malvin bakalan turun. Malvin tidur dulu ya!”


Medina hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikapnya dia juga masih muda dan pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Malvin saat ini bedanya Malvin punya tempat untuk berbagi sedangkan dirinya tidak karena bapaknya sibuk kerja sama halnya dengan kakaknya.


”Kenapa melamun di sini?” Kamil yang baru saja masuk melihat istrinya tengah melamun tentu saja khawatir tidak biasanya ekspresi wajahnya sulit ditebak.


”Aku khawatir dengan Malvin,” ucap Medina.


”Apa dia bikin masalah?” Kamil mengajak Medina duduk di sofa.


”Dia baru saja cerita jika di sekolahannya ada teman yang tahu jika dia adalah putra kandungnya Daffa, guru bahasa Inggrisnya jadi dia khawatir jika berita itu akan meluas dan dia kena bully,” ucap Medina menjelaskan.


”Tenanglah semua tidak akan terjadi, aku akan meminta pada kepala sekolah untuk merahasiakan semua ini.”


”Apa kau yakin Bang?”


”Tentu saja memangnya pernah aku bohong?” sahut Kamil.


”Tidak!”


”Yuk makan!”


Kamil mengajak medina makan siang meskipun ini terlambat karena waktu sudah menunjukan pukul dua lebih.


Berbeda di rumah Daffa, setelah Bu Yanti mengetahui semuanya rasa sesal sekarang hadir di hati wanita itu. Menyesal karena dulu bersikeras memaksa putranya untuk menikahi Lastri tapi ternyata pilihan hatinya tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.


”Maafkan ibu ya Nak, tidak seharusnya dulu ibu paksa kamu menikah dengannya. Sekarang inilah yang terjadi,” ucap Yanti mulai terisak wajahnya pucat apalagi melihat cucunya yang sedang lucu-lucunya tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu.


”Harusnya sejak awal ibu gak paksain semua ini dan mendengarkan apa katamu,” lanjutnya.


”Sudahlah Bu, semua sudah terlanjur dan tak perlu disesalkan yang penting sekarang bagaimana besarkan anak ini menjadi wanita yang baik karena Daffa tidak yakin jika Lastri akan merawatnya dengan baik.”


”Maafkan ibu,” ucap Lastri.

__ADS_1


”Sekarang ibu istirahat saja, Daffa akan cari baby sitter buat jagain dia di rumah karena Daffa tidak mungkin memasrahkannya pada ibu sepenuhnya. Ibu harus banyak istirahat!”


”Maafkan ibu Nak,” ujar Bu Lastri sedangkan Daffa sendiri merasa kepalanya pusing dan tidak tahu harus bagaimana lagi.


Banyak sekali pengeluaran dan dia harus ekstra kerja keras agar semua kebutuhan terpenuhi. Lastri istrinya membuatnya berantakan dan Daffa tidak habis pikir kenapa wanita itu seakan semakin menekannya dengan gaya hidupnya sekarang, Lastri berubah semenjak bersama iparnya Wiwik.


***


Di rumah Alika, Alea tengah menemani mertuanya yang sedang duduk di ruang tengah sesekali dia melirik ke arah Farhan yang asyik dengan gadgetnya membuatnya kesal dan berharap ingin segera pulang ke apartemennya Daren.


Tadi pagi dia tidak bilang jika akan pergi bersama dengan Farhan, dia khawatir jika Daren akan marah padanya mengingat dia sangat perhatian belakangan ini. Alea memikirkan banyak cara agar bisa segera pulang tanpa diikuti oleh Farhan.


”Ma, aku pergi dulu ya!” pamit Alea.


”Mau kemana?” Alika menatap menantunya penuh tanya.


”Aku akan mengantarmu kita pulang sama-sama,” ujar Farhan.


”Tidak, aku ingin bertemu dengan teman-temanku sudah lama aku tidak berkumpul. Aku pergi ya Ma, Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam,” balas keduanya. Alika melirik Farhan memintanya untuk mengejar istrinya berbanding terbalik dengan Alea yang justru mengambil langkah seribu meninggalkan rumah ini.


Alea menghentikan taxi dan meminta sang sopir untuk melaju dengan cepat setelah dia tahu jika Farhan mengejarnya. Alea datang ke apartemen milik Daren dan sengaja kesana untuk istirahat, biarlah dirinya kena marah Pak Hamid papa mertuanya karena sebelumnya atau lebih tepatnya tadi pagi orang itu meneleponnya dan marah-marah padanya karena tidak mau mengurus keluarganya.


”Hallo, dimana kamu?”


”Aku di apartemen sekarang kapan kau pulang?”


”Dua jam lagi, ada apa? Apa kau butuh sesuatu?”


”Iya benar, aku butuh makanan yang panas dan pedas.”


”Baiklah nanti akan ku bawakan tolong jangan kemana-mana, mengerti!”


”Baik."


Alea menutup ponselnya dirinya menginginkan sesuatu tapi tidak mungkin juga dia kembali keluar dan kembali bertemu dengan Farhan.


Alea merasakan sedikit pusing dan ingin meminum obat begitu membuka laci dirinya dikejutkan dengan kumpulan foto-foto di sana. Alea mengambilnya dan kembali mengingatnya jika foto itu memang dirinya bersama Kamil, Raditya serta Daren dan hanya Daren yang sering menolak untuk difoto.


”Astaga jadi selama ini dia memang benar-benar menyimpan rasanya untukku,” lirih Alea tak dia sadari air matanya jatuh perlahan kenapa dia baru sadar dengan perasaannya. Terlalu lelah dengan perasaannya Alea tertidur hingga Daren pulang ke rumah.

__ADS_1


”Alea, bangun!”


Alea menggeliat manakala mendengar suara memanggilnya memintanya bangun, perlahan dia membuka matanya dan melihat Daren sudah ada di depannya.


”Bangunlah, pesananmu sudah tersaji di meja makan. Buruan cuci mukanya,” ucap Daren.


”Terima kasih.”


”Maaf aku tidak bisa menemanimu.”


Alea segera terdiam mendengarnya, "Apa maksudmu?”


”Aku harus mengantar pegawaiku, kau tahu ini jam berapa?”


Alea menggelengkan kepalanya.


”Jam sepuluh malam.”


”Apa, jadi kau pulang dengan pegawai maksudku ... ”


”Dia pegawai baru, dia di sini sedang masa training tidak mungkin jika aku meninggalkannya di kantor sedangkan dia bawahanku dan pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah pekerjaanku jadi aku harus bertanggung jawab mengantarnya pulang.”


”Di mana dia?”


”Menunggu di ruang tamu. Sudahlah sebaiknya kau segera makan sup di meja makan mumpung masih panas.”


Daren bangkit segera keluar dari kamar untuk menemui Christy pegawai baru. Alea segera membuntuti Daren hanya karena penasaran ingin melihat siapa yang akan diantar oleh Daren.


Deg.


Seketika jantungnya terasa nyeri melihat gadis cantik dan masih muda berada di sofa sedang menunggu Daren.


”Silakan di minum dulu, baru kita pulang,” titah Daren.


”Apa kau tinggal sendirian di sini? Padahal apartemennya lumayan besar?” tanya Christy.


”Dia tinggal bersama denganku, kenapa?”


Daren dan Christy memandang ke arah Alea yang sedang berjalan menghampiri keduanya.


”Alea,” desis Daren. Pria itu tidak habis pikir kenapa Alea keluar dan menemui mereka, bukankah ini sama saja membuat masalah baru baginya. Daren menggeram kesal dengan kehadirannya.

__ADS_1


"Siapa dia?” Daren menatap Christy tidak tahu harus menjawab apa.


__ADS_2