
Malvin melarang Baron untuk mengantarkannya pulang ke rumah karena dia ingin pergi menemui neneknya Yanti. Malvin yakin Lastri mama tirinya belum pulang ke rumah karena itu dia memberanikan diri untuk menemuinya. Malvin masuk ke gang sempit lalu bertemu dengan beberapa anak-anak kecil yang sedang bermain di depan gang, beberapa langkah kemudian Malvin sampai di rumah sederhana tapi terlihat bersih.
”Assalamu’alaikum,” ucap Malvin di depan pintu.
”Waalaikumussalam,” jawab Bu Yanti keluar begitu mendengar suara cucunya datang.
”Ya ampun kamu Malvin kan? MasyaAllah nenek bisa ketemu sama kamu di sini, ini sedang tidak bermimpi kan?” Bu Yanti menatap cucunya memegang kedua pipinya.
”Ish, nenek tentu saja tidak, ini Malvin cucu nenek.” Malvin pun menceritakan semuanya bagaimana dia bisa datang ke tempat ini.
”Kamu benar-benar buat nenek khawatir Nak, kamu tahu nenek selama ini sangat rindu tapi gak tahu kemana harus mencarimu karena memang tidak memiliki alamatmu di sini,” ucap Yanti.
”Ini kan udah ketemu Nek,” ucap Malvin. Yanti pun mengajak Malvin makan siang bersama dengan menu ala kadarnya karena memang dia tidak memasak selain bahan yang diberikan oleh Lastri menantunya.
Hingga pukul dua siang Malvin lupa tidak mengabarkan keberadaanya sekarang, dia lupa memberitahukan pada Alika jika hari ini dia akan pulang terlambat. Ponselnya mati dan dia harus segera mencharger-nya jika tidak seluruh penghuni istana pasti akan kalang kabut mencarinya.
Malvin mencari charger dan segera mencharger ponselnya, anak itu khawatir jika Alika akan mencarinya dan benar saja baru lima menit dinyalakan rentetan pesan masuk dan juga puluhan panggilan tak terjawab tersemat di sana.
”Mama, apa dia sudah pulang?” lirih Malvin.
”Ada apa Vin?” Yanti bertanya-tanya pada cucunya yang terdiam membaca tumpukan chat di ponselnya.
”Gak ada apa-apa Nek, ini keluarga papa sedang mencari Malvin sekarang. Malvin pulang dulu ya Nek, lain waktu Malvin pasti akan datang ke sini jika ada waktu.”
Malvin segera menyalami tangan Yanti berpamitan pulang ke rumah Kamil.
Di rumah besar Alika.
”Tenanglah dia pasti aman kok, dia sudah dewasa pasti tahu bagaimana caranya untuk pulang,” ucap Kamil meski sendirinya ikut panik tapi pria itu tidak memperlihatkannya pada Medina.
Kamil merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi Baron namun beberapa kali tidak ada tanggapan darinya, Kamil beralih ke nomor Malvin pun sama jawabannya tidak ada tanggapan. Tak mau berpikir panjang Kamil memerintahkan Daren untuk mengecek keberadaan Baron dan putranya Malvin karena keduanya sulit sekali dihubungi.
”Bagaimana?” Medina terlihat cemas.
”Kamu jangan khawatir Sayang, aku sudah memerintahkan Daren untuk mencarinya ke sekolah.”
”Seharusnya dia sudah pulang pukul sebelas tadi lalu kemana dia pergi selama dua jam?” kedua tangannya bertumpu saling bertautan.
__ADS_1
”Tenanglah Kamil pasti akan mencarinya hingga ketemu,” ucap Alika menenangkan hati Medina.
”Hallo, Daren apa kau sudah menemukannya?” Kamil mengernyitkan dahi mendengar perkataan di seberang sana.
”Baiklah segera kabari aku jika menemukan sesuatu!”
Bip.
”Bagaimana?” tanya Medina mengangkat wajahnya menatap Kamil.
”Terakhir Malvin bertemu dengan seorang pria, guru pembimbingnya setelah itu Baron dilarang mengantarkannya pulang karena dia ada urusan.”
”Lalu kemana Baron sekarang? Kenapa dia tidak segera pulang ke rumah.” Giliran Alika bersuara karena dia sendiri ikut khawatir dengan Malvin.
”Mobilnya di bengkel Ma, dia menabrak pembatas jalan karena menghindari anak kecil yang tiba-tiba menyebrang.”
”Ya ampun beruntung Malvin tidak ikut dengannya.”
”Sayang, aku pergi dulu Daren sudah datang. Tenanglah aku akan bawa Malvin pulang segera.”
”Ma, aku pergi ya.” Kamil segera pergi meninggalkan rumah begitu Daren datang, Kamil segera melacak ponsel milik Malvin kapan terakhir kali ponselnya menyala.
***
”Apa dia itu putramu?” tunjuk Daren pada seorang anak SMA yang sedang berjalan sendirian di trotoar.
”Astaga anak itu dari mana saja,” gumam Kamil memperhatikan penampilan putranya yang tampak acak-acakan. Mobil pun menepi setelah membunyikan klakson terlebih dahulu, Kamil keluar diikuti Daren.
”Papa,” lirih Malvin.
Kamil bersandar pada mobil tangannya melipat di dadanya memperhatikan wajah putranya dengan intens, alih-alih menyapa Malvin merasa takut padanya.
”Darimana saja kamu beberapa jam belakangan ini, kami mengkhawatirkan dirimu,” ucap Kamil.
”Maaf Pa, ada sesuatu yang Malvin kerjakan di luar.”
”Sebaiknya kita pulang saja, kasihan putramu pasti dia juga lelah," ucap Daren menyikut lengan Kamil seraya tersenyum dia tidak tega melihat wajah lelah anak itu.
__ADS_1
”Ayo kita pulang!” Kamil mengulurkan tangannya membuat Malvin yang awalnya takut pun akhirnya tidak merasakan kegugupan lagi. Kamil merangkul bahunya hingga dia membukakan pintu mobilnya perlakuan spesial yang sangat langka dilakukan oleh sosok bernama Kamil Mahendra.
”Kamu sudah makan?” tanya Kamil yang sengaja duduk di samping Malvin di belakang kemudi.
”Sudah Dad,” ucap Malvin membuat Kamil menoleh ke arah Malvin, dia sedang memastikan diri jika dia tidak salah dengar.
”Maaf Dad, mulai hari ini aku akan memanggilmu dengan sebutan ’Dad’ aku rasa itu lebih cocok untukmu.”
Daren yang berada di depan kemudi pun tergelak mendengarnya. ”Kamu memang pintar boy!” puji Daren masih terkekeh kecil.
”Diam kau! katakan padaku darimana saja kau setelah pulang sekolah.” Kamil memaksa Malvin untuk berkata jujur karena dia tidak suka jika Malvin berkata bohong padanya.
Malvin pun memberitahukan semuanya pada Kamil dan penuturannya tentu saja membuat pria berstatus ’Daddy’ ikut terkejut mendengarnya. ”Dunia ini memang sempit!” ucap Kamil kemudian.
”Ya, seakan bayangan mantan tidak akan pernah bisa lepas begitu saja,” sahut Daren.
”Ck! Itu berlaku buat Daffa tidak denganku, lagian kenapa juga dia harus memilih ke sini. Apa dia sengaja?” tebak Kamil.
Malvin yang mendengar perdebatan orang dewasa tersebut pun akhirnya angkat bicara, dia sendiri tidak ingin papanya disalahkan oleh Daddy-nya itu.
”Biar aku luruskan Dad, biar tidak terjadi kesalahpahaman lagi. Sebenarnya yang memilih kesini itu adalah Lastri istri kedua papaku.”
”Jadi dia yang memprovokasi papamu biar mau pindah ke sini?” Kamil tidak habis pikir dengan keluarga mantan suami istrinya yang masih saja kepo dengan statusnya sebagai suami Medina.
”Sudah biarkan saja buat hiburan kita. Oh iya bos, ada sesuatu di kantor yang harus kita selesaikan segera. Jika masalahmu dengan keluargamu selesai segeralah datang ke kantor.”
”Baiklah, terim kasih.” Kamil turun diikuti Malvin.
”Makasih Om,” ucap Malvin sebagai anak yang baik pastinya dia tahu bagaimana caranya berterima kasih pada Daren yang sibuk mencarinya.
”Malvin.” Medina langsung memeluk putranya begitu anak itu datang.
”MasyaAllah Ma, biasa aja kenapa Malvin malu dilihatin sama papa dan nenek!” bisik Malvin namun masih terdengar membuat Kamil dan Alika tersenyum mendengarnya.
”Katakan dari mana kamu tadi dan katakan dengan jujur tidak boleh ditutup-tutupi mengerti!”
Malvin menoleh ke arah Kamil apakah dia diijinkan mengatakannya pada Medina.
__ADS_1