Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Cinta Terpendam


__ADS_3

”Kau ke sini, kau bilang mau libur dulu ke kantor.” Daren terkejut melihat Kamil datang jam tiga sore ke kantor dengan pakaian santai seakan dia hanya seorang pegawai rendahan padahal dia adalah bos di kantor ini.


”Aku habis menghajar Bang Farhan.”


Daren tersentak mendengarnya, ”Ya ampun jika bos besar tahu beliau pasti akan marah besar.”


”Siapa yang kau maksud bos besar? Apa itu Pak Hamid, ingat dia bukan lagi bos di sini. Aku yang akan menghadapinya nanti.” Kamil kesal mendengar perkataan Daren.


”Segera kau cek berapa besar uang yang tidak masuk ke pendapatan perusahaan aku akan menagih uang itu padanya malam ini,” titah Kamil penuh penekanan dia tak mau menunda sesuatu dan memberikan kenyamanan bagi penjahat seperti papanya, entah kenapa dirinya menjadi semakin membencinya.


”Ini, aku sudah mengauditnya kemarin kamu cek lagi, barangkali keliru karena totalnya lumayan banyak bisa buat bikin rumah mewah dua lantai.”


Kamil menerima beberapa lembar kertas dan segera memeriksanya dirinya tidak akan semarah ini jika saja uang itu digunakan untuk keperluan yang sangat mendesak namun faktanya uang itu dipergunakan untuk berfoya-foya.


”Oke aku bawa ya, tolong jangan beritahu siapapun masalah ini apalagi sampai mamaku tahu.”


Daren mengangguk, ”Kau tetap harus berhati-hati bisa saja papamu tidak terima pada akhirnya karena kau sudah membongkar semua kebusukannya. Aku justru kasihan dengan Alea karena dia sama sekali tidak tahu kebejatan suaminya sendiri.”


”Jangan membahas dia di kantor aku khawatir dia mendengarnya,” balas Kamil. ”Oke aku pergi sekarang.”


Kamil segera keluar dengan langkah lebar dirinya harus segera pulang ke rumah sebelum kembali keluar menemui Hamid. Baru saja lift terbuka Alea memanggilnya membuatnya urung untuk masuk.


”Ada apa?” Kamil menoleh ke arah samping Alea berlari tergesa-gesa.


”Ada yang ingin aku tanyakan padamu.”


”Soal apa, katakan!”


”Farhan.”


Mendengar nama itu Kamil mendadak malas untuk bicara karena membahas saudaranya itu takkan ada habisnya.

__ADS_1


”Kenapa tidak kau tanyakan sendiri padanya jika kau ingin tahu tentang seseorang maka hubungi orang yang bersangkutan jangan menanyakan hal tentangnya padaku.”


”Kamil, aku sudah tidak tahu harus bertanya pada siapa makanya aku bertanya padamu. Katakan apapun yang kau ketahui tentangnya.”


Kamil menarik nafasnya dia tidak mungkin mengatakannya pada Alea tapi membiarkannya pun pasti wanita yang sudah dia anggap adik itu akan semakin menderita.


”Aku tidak akan mengatakan apapun padamu tapi jika sesuatu terjadi padamu datanglah ke rumah mama, kami pasti akan membantumu.”


”Ya ampun kenapa kau tega sekali Kamil hanya dengan mengatakan hal itu kau pikir semuanya akan selesai?”


Kamil berada dalam posisi tersudut, ”Sudahlah aku harus pergi sekarang, kau temui saja dia di kantornya barangkali dia sedang membutuhkan bantuanmu.”


Kamil segera pergi meninggalkan kantor pusat tujuannya hanyalah satu pulang. Berbeda dengan Alea wanita itu justru curiga jika Kamil menyembunyikan sesuatu, Alea bergegas menuju kantor Farhan menghentikan taxi tanpa membawa tas apalagi uang yang ada di benaknya adalah suaminya.


***


Alea masuk ke ruangan Farhan namun pria itu tidak ada di tempatnya sama halnya dengan sekretarisnya. Kemana mereka berdua pergi, lalu dengan siapa dia harus bertanya karena dirinya tidak mengenal karyawan di sini selain Laras.


Alea keluar dan mencoba menghubungi Farhan namun tidak ada jawaban dari ponselnya hal itu membuat Alea semakin khawatir. Alea memutuskan untuk ke lobi dan menanyakannya di sana.


”Em, itu apa kau tahu kemana Pak Farhan pergi kenapa tidak ada di ruangannya?”


”Sebentar saya cek lagi agenda beliau.” Dengan cepat wanita itu melihat layar yang tertera di komputer.


”Pak Farhan sedang tidak ada tugas di luar atau mungkin beliau sedang makan siang mengingat ini adalah jam makan siangnya.”


”Baiklah jika begitu, terima kasih.”


Alea kembali berpikir apakah suaminya sedang membodohi dirinya kenapa ponselnya mati dan dia sama sekali tidak bisa menghubungi pria itu.


Alea keluar dari perusahaan itu dan pergi ke rumah mertuanya dia ingin menanyakan langsung pada Alika. Namun di depan kantor saat dirinya sedang menunggu taxi dia melihat Farhan bersama dengan Laras tapi kenapa Farhan memakai topi dan menutupi wajahnya, Alea yakin itu adalah Farhan kekasihnya.

__ADS_1


Alea mulai kesal dirinya tidak bisa mengejar Farhan karena tidak ada taxi yang lewat di jam seperti ini. Alea merutuki kebodohannya kenapa dia tidak membawa mobilnya sendiri ke kantor.


”Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?” Alea berjongkok kepalanya menunduk dia tidak tahu harus berbuat apalagi.


”Kamu sudah melihatnya?”


Alea mendongak Daren sedang berdiri tepat di sampingnya dengan tangannya berada di saku celananya.


”Jadi kau mengetahui hal ini?”


”Iya, aku baru juga baru tahu dari Kamil tadi di kantor jika suamimu habis dihajar olehnya.”


Alea melongo mendengar penjelasan Daren pantas saja dia memakai topi dan ...


”Dia bersikap begitu untuk mengelabui orang yang lewat karena tidak mungkin baginya jika mukanya terlihat hancur, tapi tenanglah meskipun Kamil menghajarnya ketampanannya tidak akan berkurang sedikitpun,” hibur Daren.


Alea semakin terkejut mendengar perkataan Daren. "Apa lukanya sangat parah?”


Daren mengedikkan bahunya singkat, ”Tapi yang jelas pasti sangat sakit kamu pasti bisa membayangkan bagaimana Kamil itu kan? Tapi jangan lantas mesum karena dia sudah punya istri.” Daren menahan tawanya dia tak ingin wanita yang ada di sampingnya ini kembali bersedih dan cara inilah yang dia lakukan untuk menghiburnya.


”Dasar gak waras mana ada aku membayangkan pria lain sedangkan suamiku sendiri juga tidak kalah perkasanya dengan Kamil,” ucap Alea sungguh dia ingin sekali mencakar pria yang ada di sampingnya bisa-bisanya dia masih mengajaknya bercanda dalam situasi yang rumit seperti ini.


”Sudahlah jangan diambil hati lebih baik kau pulang ke rumah siapa tahu suamimu sudah berada di rumah menunggumu karena dia butuh bantuanmu, jangan sampai orang lain yang menyembuhkannya.”


Daren segera berlalu pergi meninggalkannya terlama dengan Alea hatinya semakin sakit melihatnya menjadi wanita bodoh yang mudah sekali dibohongi. Kenapa juga dia tidak melihatnya barang sedikit saja, hatinya sudah tertutup oleh kisah cinta pertamanya yang kandas karena Kamil menolaknya. Jika saja dia bisa mengambil posisi Farhan sudah pasti dia akan menyayangi wanita ini lebih dari apapun. Kenapa cinta serumit ini!


Daren terus melangkah tidak memperdulikan teriakan Alea hingga tangannya ditarik oleh wanita itu. ”Antarkan aku pulang!”


”Aku sibuk masih banyak pekerjaan yang belum selesai,” tolak Daren dia ingin menghindar dari Alea.


”Kali ini saja please!”

__ADS_1


Daren segera membuka pintu mobilnya dan membiarkan Alea masuk, Daren tidak bisa menolak dan berkata tidak pada siapapun makhluk yang bernama wanita. Begitu lift terbuka dan keluar dari sana Daren langsung berbalik menutupi penglihatan Alea karena khawatir wanita itu akan semakin terluka.


”Apa yang terjadi minggir!” Alea berusaha untuk menyingkirkan bahu Daren hingga Daren terdorong dan terkejut melihat apa yang dilihatnya. Alea menutup mulutnya.


__ADS_2