Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Kemarahan Malvin


__ADS_3

”Mama baik-baik saja kan?” tanya Malvin.


”Kenapa hidup mama seperti ini?” jawab Medina.


Malvin kembali memeluk Medina, wanita yang memberikannya kasih sayang selama ini. Malvin tidak mau melihat mamanya kembali menangis.


Kesedihan di wajah Medina dan Malvin, sangat jelas terlihat dan entah kenapa hati Kamil ikut melow melihat kedekatan batin mereka berdua.


”Om, bisa hibur mamaku?” ucap Malvin membuat Kamil tersentak karena kaget.


”Eh?”


”Malvin titip mama sebentar Om.”


”Kau mau pergi?”


”Jangan bikin masalah Nak, mama khawatir mama tirimu akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini. Apalagi dia dari keluarga kaya mama khawatir dengan keselamatanmu,” ungkap Medina.


”Malvin tidak bisa membiarkan ini terjadi Ma, terlebih mama sudah cukup menderita kenapa mereka masih ingin melakukan penghinaan lagi, bukankah itu dzolim!” Malvin segera pergi dengan menggunakan sepeda motor milik Medina tujuannya satu ke kampung sebelah rumah neneknya.


Malvin mengendarai motornya seperti orang kesetanan membuat beberapa pengendara yang lain memberikan peringatan lewat suara klakson yang begitu nyaring di pendengaran.


Malvin tidak percaya dengan apa yang terjadi, begitu sampai di rumah neneknya Malvin segera masuk dan mencari neneknya Bu Yanti.


”Kenapa nenek tega lakuin ini sama mamaku? Apakah tidak cukup untuknya menderita selama ini?” cecar Malvin.


Bu Yanti terkejut melihat cucunya datang dan memarahinya dia pun tidak faham dengan apa yang sedang diucapkan oleh Malvin.


”Nenek benar-benar keterlaluan!” seru Malvin.


”Apa yang sedang kau katakan Nak, nenek tidak faham maksudmu?” sahut Bu Yanti.


”Apa kau tidak tahu apapun? Jangan pura-pura bodoh Nek! Menantumu yang kaya itu sudah melabrak mamaku dia tidak punya etika sama sekali, orang kaya yang tidak memiliki sopan santun!” cecar Malvin lagi.


”Malvin apa yang kau katakan huh!”


Daffa datang menghampiri bersamaan dengan istri barunya Lastri.


”Tanyakan saja ada istrimu itu kenapa aku datang dan marah-marah apakah aku harus melaporkannya pada pihak berwajib karena telah mengusik ketenangan orang lain.”


Daffa menatap Lastri dengan penuh tanda tanya sedangkan pelakunya hanya bisa menunduk karena dia tahu jika dirinya bersalah.

__ADS_1


”Apa yang telah kau lakukan pada mereka?” tanya Daffa.


”A-aku memang mendatangi mbak Medina meminta tolong padanya untuk membujuk dirimu Mas,” jawab Lastri.


”Bohong!” teriak Malvin.


”Kalau memang kau bicara baik-baik padanya mana mungkin tetangga semua tahu jika di rumah mamaku terjadi keributan dan dalang dari semua itu adalah kau!” lanjut Malvin.


Semua yang ada di sana menatap ke arah Lastri, ”Memangnya apa yang kau katakan pada Medina?” tanya Daffa.


Lastri masih terdiam tak bergeming dia sendiri takut jika suaminya akan marah padanya.


”Katakan Lastri!” teriak Daffa membuat semua orang yang ada di sana terkejut dengan tindakannya.


”Iya Mas, aku memang mengatakan hal yang buruk padanya dan itu semua karena dirimu jika saja kau tidak mengabaikan diriku takkan pernah aku mendatanginya dan mencaci maki dirinya.”


Kalimat Lastri sukses membuat semua tercengang terlebih Malvin, anak itu semakin membenci keluarga papanya.


”Kalian dengar sendiri kan? Jika sampai terjadi sesuatu dengan mamaku aku tidak akan memaafkan kalian semua.”


Setelah mengatakan hal itu Malvin segera pergi meninggalkan rumah neneknya itu, kebenciannya semakin besar dan dia berjanji akan membuat mereka bungkam dengan apa yang akan diperoleh kelak.


”Aku harus sukses agar mereka tidak meremehkan mamaku,” gumam Malvin.


”Maafkan Malvin karenanya kau jadi ke sini, sebaiknya Bang Kamil pulang saja tidak baik di sini, aku khawatir jika tetangga berpikiran buruk terhadap kita apalagi dengan statusku yang seorang janda,” tutur Medina.


”Tidak masalah dan aku akan tetap di sini menunggu anak itu pulang karena aku udah diamanahi sebelum dia pergi pergi jadi aku harus menunggu dia hingga dia pulang,” jelas Kamil.


”Semua ini takkan terjadi andai aku segera pindah dan menjauh dari mereka. Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin pindah hanya saja aku belum mampu menata semuanya sendirian, karena akan butuh dana yang besar jika harus keluar kota tabunganku belum cukup untuk ke sana,” ucap Medina.


”Memangnya kamu mau pindah kemana?” tanya Kamil menatap intens pada Medina membuat wanita itu salah tingkah karena perlakuan Kamil.


”Jakarta, aku ingin mengadu nasibku di sana.”


Kamil mengernyitkan dahi mendengar penuturan Medina. ”Kau ingin ke Jakarta? kenapa harus kesana tidak adakah kota lain lagi selain di sana?”


”Karena aku juga tidak ingin keberadaan kami tidak di ketahui oleh pihak keluargaku sendiri, sudah bertahun-tahun keluargaku membenciku karena diriku ibuku sendiri meninggal dan saudaraku menyalahkan diriku akan hal itu.”


”Jodoh, rezeki dan maut itu sudah ada yang mengaturnya kenapa mereka menyalahkan dirimu?”


”Ceritanya panjang dan saat itu ibuku meninggal karena tekanan darah tingginya kambuh.”

__ADS_1


”Yang sabar ya,” ucap Kamil berusaha menenangkan Medina.


”Setelah itu aku diusir dari rumah orang tuaku, dan ya seperti inilah hidupku hingga sekarang.”


”Apa kamu gak kepikiran untuk mencari pengganti mantan suamimu itu?”


Medina mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan itu dari Kamil dan menatap wajahnya untuk beberapa detik kemudian Medina memalingkan kembali wajahnya.


”Memangnya masih ada yang mau denganku? Buatku pernikahan itu bukan hanya untukku saja tapi juga putraku Malvin karena aku juga memiliki dia, jadi aku harus mencari pengganti yang juga bisa menerima dia sebagai putranya. Aku tidak boleh egois hanya mementingkan kebahagiaanku sendiri.”


Kamil menyukai pendapat Medina yang begitu terbuka padanya. ”Tentu saja ada, jika ada orangnya apakah kau mau menerimanya apapun kondisinya?”


Medina membulatkan matanya mendengar penuturan Kamil lalu tersenyum getir.


”Itu tidak mungkin sudahlah lupakan saja,” ucap Medina.


”Ma,” panggil Malvin lesu.


Medina bergegas bangkit menghampiri Malvin, ”Apa yang terjadi Nak?”


”Maafin Malvin ya, tadi Malvin menemui nenek dan di sana Malvin bertemu dengan mereka semua, orang yang udah jahat sama kita.”


Medina memeluk tubuh Malvin, ”Sudahlah lebih baik kita ikhlaskan saja apa yang terjadi hari ini, anggap saja tak pernah terjadi apapun mengerti!”


”Tidak mungkin Ma, mama tahu kan tetangga semua pasti pada ngomongin mama dengan hal-hal yang buruk padahal mama sama sekali tidak pernah melakukannya. Malvin tahu kok kalau tante Lastri itu jahat!” seru Malvin.


”Tenang Malvin semau akan baik-baik saja percayalah.” Medina mencoba untuk menenangkan putranya sendiri.


”Bagaimana kalau kalian berdua pindah dari sini?”


Medina dan Malvin saling pandangan. ”Pindah kemana?”


”Ke Jakarta seperti yang kalian mau,” ucap Kamil.


”Tapi kami tidak memiliki saudara di sana dan lagi tabunganku belum cukup untuk itu,” tolak Medina.


”Kalian tidak perlu khawatir, aku punya rumah kosong yang bisa kalian tempati daripada gak ada yang nungguin, bagaimana?”


Medina dan Malvin kembali saling pandang mencari jawaban atas pertanyaan Kamil.


__ADS_1


Visualnya Kamil ya reader cocok gak?


__ADS_2