Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Mencoba Tenang


__ADS_3

Daren tergesa-gesa masuk ke rumah Kamil karena ingin membawakan makanan pesanan Alea. Dirinya tidak menyadari jika ada mobil Tuan besar sedang ada di sini, terkejut tentu saja apalagi tatapan kesal dari si empunya mata menghujam seakan ingin mengulitinya.


”Jangan pernah mendekati wanita yang telah bersuami,” ucap Hamid penuh penekanan.


”Kau tahu, jika Alea sedang mengandung benih dari putraku. Seharusnya kau menjaga jarak dengannya bukan malah sengaja memprovokasinya untuk berpisah dengan suaminya.”


Daren mencoba santai mendengar perkataan Hamid bagaimanapun orang yang ada di depannya saat ini adalah orang tua yang masih dia hormati mengingat dia pernah membantu kedua orang tuanya di masa lalu.


”Sepertinya Anda salah faham Pak Hamid, saya sama sekali tidak mendekati siapapun tapi kami saling mencintai sekarang. Anda bisa menanyakan langsung bagaimana dia bisa berada di sini. Jika putra Anda orang yang baik tentu saja wanita ini tidak akan keluar dari rumah suaminya,” balas Daren.


”Tolong jangan buat keributan di rumahku. Pa, sebaiknya papa pulang saja karena percuma saja papa ke sini jika hanya membuat huru hara yang tidak jelas,” ucap Kamil.


”Jadi kau memihaknya? Ish, papa yakin jika kau lebih mendukungnya karena secara tidak langsung kalian adalah seorang sahabat sejak dulu, benar?” ujar Hamid.


”Astaga Pa, papa jangan salah paham dengan apa yang sedang terjadi. Apa yang dikatakan Daren memang benar adanya jika memang Farhan berlaku baik pada Alea, dirinya tidak akan mungkin berada di sini saat ini,” tukas Kamil.


Hamid melirik kesal pada Alea entah kenapa dia justru merasakan kekecewaan yang mendalam pada wanita pilihannya itu.


”Alea bukankah putraku Farhan memperlakukanmu dengan baik?” tanya Hamid.


”Iya. Dia memang memperlakukanku dengan baik hanya saja aku tidak suka dengan sifatnya yang keterlaluan menurutku,” balas Alea.


Hamid tidak senang mendengar jawaban Alea. ”Memangnya hal apa yang membuatmu tidak suka, papa akan bicara dengannya nanti.”


”Memangnya bisa, sayangnya Alea sudah tidak percaya lagi sama dia.” Alea memilih menggandeng Daren di depan Hamid dan berpamitan meninggalkan rumah Kamil.


”Aku pergi dulu ya, Medina kapan-kapan aku mampir lagi ya,” pamit Alea.


Medina hanya mengulas senyum dan mengangguk mencoba membaca keadaan.


”Apa papa mau minum?” tawar Medina mencoba untuk tidak ikut tegang.


”Sebaiknya kau ke kamar saja Sayang, biar aku yang mengurus papa,” titah Kamil dan Medina pun mengangguk.


”Pa, sebaiknya papa tidak mencampuri urusan mereka biarkan mereka menyelesaikannya, lagipula Bang Farhan juga tidak meminta papa untuk membantunya kan?”

__ADS_1


”Masalahnya sekarang dia juga tidak ada di apartemennya, papa sudah ke rumah mamamu tapi juga tidak tahu sama sekali soal abangmu.”


”Papa pulang saja, tolong kau bicara dengan Alea barangkali dia mau mendengar perkataanmu,” ucap Hamid.


”Baik.”


Kamil menatap sendu sosok yang melangkah pergi meninggalkan rumahnya sebenarnya dia merasa iba dengan keadaannya di usianya yang sudah senja seharusnya dia habiskan di rumah bersantai dengan keluarga bukan malah mengurusi masalah yang tidak ada habisnya.


Kamil berbalik hendak ke kamar namun justru melihat Malvin putranya seperti sedang sedih setelah menerima telepon.


”Kau ada masalah?” tanya Kamil menghampiri Malvin di dekat kolam renangnya.


”Tidak, hanya masalah kecil saja sih Dad. Apa semua orag sudah kembali kenapa jadi sepi?”


”Iya. Tolong jika ada masalah bicara denganku atau setidaknya cerita dengan Baron dia pasti sangat mengerti tapi jangan minta uang sama dia karena dirinya sudah menanggung beban adik-adiknya.”


”Itu tidak akan terjadi Dad, aku jamin itu.”


Kamil tersenyum simpul mendengar putranya mengatakan hal itu, dia yakin jika Malvin memang sedang dalam masalah namun dia membiarkannya sengaja ingin mendengar Malvin berkata sendiri padanya.


"Daddy masuk dulu, ingat jangan sungkan untuk cerita mengerti!”


***


”Sebaiknya kau pulang, apa kau tidak khawatir jika papamu akan mencarimu nanti?” wanita cantik dengan pakaian sedikit sexy sedang ada di samping Farhan. Siapa lagi jika bukan Laras, sekretarisnya itu.


”Aku malas dan tolong jangan memintaku untuk pulang kau seakan-akan sedang mengusirku saja,” geram Farhan tidak terima dengan perkataan Laras.


”Maafkan aku, tapi aku merasa gak enak dengan Pak Kamil adikmu, dia sempat mengingatkanku untuk tidak lagi dekat denganmu,” ucap Laras memperhatikan ponsel Farhan yang bergetar.


”Kau tidak mengangkat teleponnya?”


”Malas!”


”Siapa tahu itu penting dan kau harus mengangkatnya,” ujar Laras mengingatkan Farhan.

__ADS_1


”Tidak aku tidak mau, biarkan saja.” Farhan beralih ke kamar mandi melihat siapa yang menghubunginya membuatnya malas dia yakin jika papanya sedang sibuk mencarinya.


”Ish, kenapa pria itu selalu saja ingin ikut campur masalahku.” Farhan membasuh wajahnya dan segera menatap wajahnya sendiri di cermin.


”Alea apakah aku begitu buruk untukmu sehingga kau pergi dariku!” lirih Farhan.


Farhan menatap dirinya di cermin, kekesalannya membuncah terlebih begitu dirinya mengingat akan Alea dan Daren bersama. Dirinya yakin jika nantinya dia pasti akan kalah melawan Daren karena bagaimanapun pria itu sangat perhatian sekali pada istrinya berbeda dengannya yang selalu saja acuh bahkan sama sekali tidak memperhatikannya. Bahkan mantan istrinya pergi karena keegoisannya sendiri..


”Sayang, ponselmu terus berbunyi apakah kau yakin tidak akan menerimanya?” teriak Laras dari balik pintu.


Farhan pun keluar dan melihat sudah ada di depan pintu memegang ponselnya.


”Kenapa kau menyentuh barang milikku bukankah sudah aku katakan untuk tidak menyentuhnya!”


”Maafkan aku tapi berulang kali berdering apakah aku harus membiarkannya tidak kan? Angkatlah aku khawatir itu hal penting.”


Laras berbalik setelah mengatakannya meninggalkan Farhan yang sedang kesal.


Sepuluh kali panggilan dari papanya dan dua kali dari Kamil ditambah dengan beberapa pesan yang masuk ke logo berwarna hijau membuatnya semakin penasaran apa yang sedang terjadi sehingga mereka menghubunginya. Kepalanya saja masih sakit dan sekarang harus memikirkan hal yang sam sekali tidak dia ketahui.


Dengan lincah jarinya membuka email dan sengaja meminta seseorang untuk menanyakan hal apa yang membuat papa dan adiknya mencarinya. Dia sengaja tidak membuka aplikasi tersebut.


Farhan kembali duduk di sofa namun tidak lama karena dirinya tidak bisa menahan rasa nyeri di kepalanya memilih untuk merebahkan dirinya di sana. Baru beberapa menit email masuk dan membuatnya cukup terkejut membacanya.


”Astaga benarkah ini?’ lirihnya seraya bangkit dan hal itu membuat Laras khawatir apa yang sedang menimpa bosnya itu.


”Laras aku akan segera ke rumah sakit, sekarang.”


”Aku ikut!”


”Tidak boleh ku tak ingin orang lain semakin curiga dengan kedekatan kita berdua,” papar Farhan.


”Apa salahnya mereka tahu faktanya istrimu sudah mengetahuinya kan?” Laras tidak bisa untuk berdiam diri saja tanpa melakukan apapun.


”Dengarkan aku, aku mau ke rumah sakit jadi tolong diamlah aku tidak ingin kepalaku semakin sakit!” gerutu Farhan pada Laras yang terkejut mendengar penjelasan Farhan.

__ADS_1


”Memangnya siapa yang sakit?” tanya Laras.


Tanpa berniat menjawab Farhan segera keluar dari apartemen tersebut memburu waktu.


__ADS_2