
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Farhan membuatnya semakin emosi karena pelakunya adalah Alea istrinya sendiri.
”Kau berani padaku?”
”Kau yang lebih dulu memulainya Bang, jika kau tidak melakukannya lebih dulu maka hal ini takkan pernah terjadi,” ucap Alea.
”Aku tanya satu hal padamu kenapa kau pergi ke kantornya Kamil apakah kau sengaja ingin mendekatinya lagi?”
”Aku memang ke sana untuk menanyakan keberadaannya. Salahkah aku sebagai sahabatnya mencari tahu dimana dia berada?”
Farhan mencengkram tangan Alea menahan marah. ”Kau kesana bukan menjadi seorang sahabat melainkan seseorang yang mencintainya, kau pikir aku bodoh!”
”Lepaskan ini sakit, kau menyakitiku Bang!” teriak Alea.
Farhan menghempaskan tangan Alea kasar dirinya tidak dapat berpikir jernih, kegagalannya dengan mantan istrinya membuatnya hilang kendali merasa takut kehilangan dan juga sakit hati yang mendalam.
”Maafkan aku,” lirih Farhan.
”Aku bukan Rania mantan istrimu itu Bang, jadi tolong jangan buat aku semakin menderita karena sikapmu itu,” balas Alea.
”Aku minta maaf sungguh aku tidak bermaksud untuk nyakitin kamu aku khilaf,” sesal Farhan memegang telapak tangan Alea memohon pada gadis itu.
Alea hanya dapat memalingkan wajahnya dia tidak mau menatap pria yang telah membuatnya semakin jauh dari Kamil pria yang sebenarnya dia cintai dalam diam.
”Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, aku janji tidak akan menyakitimu ya,” lirih Farhan.
Sejujurnya Alea tidak mengerti kenapa Farhan begitu takut kehilangannya, padahal dia sangat tahu jika hatinya untuk adiknya Kamil yang justru menolaknya.
”Aku tidak tahu Bang,” sahut Alea.
”Apapun itu akan aku lakukan asalkan kau tidak mengabaikan diriku,” seru Farhan
”Akan ku pikirkan Bang,” ucap Alea tapi Farhan sangat yakin jika Alea akan memaafkan dirinya mengingat Alea sendiri tak ingin kedua orang tuanya tahu tentang keadaannya saat ini.
***
Kamil duduk terdiam mengingat beberapa kali pertemuannya dengan Medina dan hal itu membuatnya semakin yakin jika dirinya jatuh cinta pada wanita itu.
”Melamun bos!”
Kamil terkejut mendengar suara Baron.
”Ck! Kau ini mengagetkan orang saja, bagaimana mudiknya lancar?” tanya Kamil mengingat pria itu baru saja pulang ke rumahnya.
”Tentu saja lancar, bos sendiri bagaimana dengan mbak Medina? Apakah dia sudah memberi respon pada sikap bos selama ini?”
__ADS_1
”Itulah yang sedang aku pikirkan, karena belakangan ini dia seakan menghindar dariku,” ucap Kamil.
”Sabar bos butuh waktu, aku rasa dia memang trauma jadi butuh waktu sedikit lama untuk menyembuhkan luka hatinya,” jelas Baron.
”Kamu sok tahu!”
”Tentu saja karena aku memiliki seorang kakak yang nasibnya hampir sama seperti mbak Medina.”
Kamil kembali terdiam dia tidak menyangka jika dirinya akan terdampar di kota ini dari sekian banyak kita kenapa harus di sini dia menemukan tambatan hatinya, meskipun bukan seorang gadis yang dia cintai tapi perasaannya cukup menyiksa baginya.
”Coba bos datangi rumahnya dan mulai lagi pendekatan siapa tahu hatinya akan kembali tergerak!”
”Bos bisa pura-pura pesan kateringnya buat jum’at berkah atau acara lainnya kan? Tapi niatnya tetap itu buat jalan dekat dengannya, jadi biar sedekah pahalanya tidak berkurang.”
”Astaga kau mengajariku jelek Baron!”
”Tidak bos, mana mungkin itu hal jelek justru saya mengajari bos berbuat bagi dengan saling berbagi dengan sesama.”
”Baiklah besok aku akan ke rumahnya, buat pesanan lagipula udah lama ini aku gak sedekah sayuran karena kau pergi mudik kemarin itu.”
Kamil kembali bersemangat karena telah menemukan jalan untuk mencoba mendekat pada Medina.
***
”Awh, sakit Ma, bisakah pelan-pelan melakukannya?” protes Malvin ketika Medina membersihkan luka lebam di wajahnya.
”Kamu kenapa bisa melakukan hal itu Nak?” tanya Medina begitu sampai di rumah dia ingin marah tapi tidak bisa karena hanya Malvin satu-satunya orang yang dia sayangi sekaligus kerabatnya saat ini.
”Ma, haruskah aku diam saat mereka mengejek dirimu dengan tidak baik? Mereka boleh menghinaku tapi tidak dengan mama, bukannya aku pantas marah pada mereka semua?”
Medina terdiam mendengarkan penjelasan Malvin.
”Mereka mengatakan mama tidak bisa jagain suaminya dengan baik jadi papa pergi ninggalin mama, padahal mereka tidak tahu fakta yang sebenarnya. Malvin marah Ma, apakah Malvin salah?”
Medina meraih tubuh Malvin dan memeluknya. ”Maafkan mama Sayang,” lirihnya.
Air matanya pun menetes tanpa dia inginkan hal yang sudah lama dipendam pun akhirnya terjadi juga sudah lama Medina tidak menangis.
”Ma, apapun yang terjadi Malvin akan tetap jagain Mama karena hanya mama satu-satunya yang Malvin miliki di dunia ini.”
”Medina terharu mendengar penuturan putranya itu, dia bahagia karena masih ada orang yang peduli padanya, dialah alasan kenapa masih bertahan di sini.
”Kamu diskors gara-gara kejadian tadi kan?” ucap Medina.
”Bukan hanya Malvin saja Ma, tapi beberapa teman Malvin juga termasuk Ferdy karena dia yang paling depan bantuin Malvin.”
”Selanjutnya jangan diulangi lagi mengerti!”
__ADS_1
Mereka tidak tahu jika seseorang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka berdua.
”Sudahlah sekarang istirahat ya jangan ulangi lagi kesalahan yang sama besok kau jangan kemana-mana bantu mama di rumah.”
Malvin tak menjawab dirinya masuk ke kamarnya dengan perasaan kesal.
Tok ... tok ... tok ...
Medina langsung membuka pintu betapa terkejutnya dia melihat siapa yang ada di depan pintu.
”Ada apa ya Bang?” tanya medina.
”Ini saya mau pesan sesuatu untuk besok jum’at,” balas Kamil.
”Saya gak di suruh masuk?”
”Sebaiknya di teras saja ya, tidak enak dilihat tetangga.”
Medina segera mempersilakan Kamil untuk duduk. ”Silakan Bang!”
Kamil pun duduk berhadapan dengan Medina membuat wanita itu sedikit gugup karena Kamil menatapnya tak berkedip.
”Begini ... besok jum’at saya mau pesan 100 box nasi paket ayam plus snack-nya apa bisa?”
”Kenapa Bang Kamil mendadak pesan seperti ini?” selidik Medina karena dia merasa ada yang aneh dengan sikap Kamil bukannya dia tidak bersyukur karena mendapat rezeqi namun pesanan mendadak itu cukup membuatnya bertanya-tanya.
”Ini kegiatan rutin mamaku, karena biasanya beliau akan selalu melakukannya tiap jum’at dan saya ingin melanjutkan kegiatan tersebut.”
Medina mengangguk dan tidak bertanya lagi, ”Baiklah saya akan buatkan nanti, dan masjid mana yang akan menjadi tempat penyalurannya nasi boxnya itu?”
”Masjid Al-Hikmah saja yang dekat.”
”Baik, besok saya pastikan pesanannya sudah ready sebelum jam sebelas siang,” ucap Medina.
”Terima kasih, ini uangnya sisanya saya bayar besok ya karena saya gak bawa uang cash.”
Medina menerima uang tersebut dan menyimpannya. ”Terima kasih.”
”Saya permisi dulu. Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam.”
”Ma, kenapa mama gak menolak pesanan tersebut?” tanya Malvin.
”Apa maksudmu Malvin?” jawab Medina.
”Malvin tahu kalau Om Kamil itu sebenarnya suka sama mama dan Malvin tidak mau mama menikah lagi!”
__ADS_1
Deg!