
Malvin dan teman-temannya pun segera masuk ke rumah dan bersiap main basket meskipun terlihat lelah tapi tetap semangat kecuali Saskia yang merasa kehadirannya seakan tidak diharapkan.
”Duduklah, aku mau ganti baju dulu.” Malvin mempersilakan teman-temannya untuk istirahat lebih dulu menunggunya untuk berganti pakaian.
”Aku seperti orang yang tak diharapkan di sini,” ucap Saskia membuat Denis dan Intan terkejut mendengarnya.
”Apa maksudmu?" tanya Intan yang merasa tidak suka mendengar penuturan dari Saskia.
”Aku merasa diabaikan oleh kalian!” Saskia memberengut kesal karena sejak tadi dia merasa tidak dianggap apa keputusannya ikut ke rumah ini adalah sebuah kesalahan.
”Apa kau menyesal ikut dengan kami?” tanya Denis.
”Sepertinya.” Saskia tetap duduk santai memandang ke depan dimana kolam renang ada di sana.
Malvin berjalan menghampiri teman-temannya setelah mengganti pakaiannya dengan memakai t-shirt dan celana pendek.
"Apa kita jadi bermain?” tanya Malvin. Denis dan Intan justru mengedikkan bahunya bersamaan.
”Kalian?” Malvin memandang ke arah Denis dan Intan bergantian.
”Den, apa makan siangnya mau sekarang?” Mbok Iyem muncul dari balik pintu.
”Boleh Mbok, biar Malvin ke meja makan saja. Ayo kita makan dulu!” ajak Malvin pada ketiga temannya.
”Mbok, apa mama apa udah pergi?” tanya Malvin begitu sampai di dapur.
”Iya tadi dijemput sama bapak, memangnya gak omong tadi?” sahut Mbok Iyem.
”Tidak, mungkin buru-buru jadi gak sempat kasih tahu,” ucap Malvin.
”Ya sudah buruan makan sana, nanti keburu dingin gak enak!"
Malvin segera keluar begitu selesai membantu Mbok Iyem menyiapkan makanannya.
”Kok kamu kayak sedang galau?" ucap Intan begitu melihat wajah Malvin yang sedang tidak baik.
”Aku sedang memikirkan mamaku yang periksa ke Dokter, sudahlah sebaiknya kalian cepat makan dan segera kita bermain.” Malvin mengalihkan pembicaraan karena tak ingin melihat temannya jadi canggung.
Beberapa menit setelahnya Malvin langsung memanggil Baron untuk ikut bermain bersama di lapangan agar bisa menjadi dua tim meskipun hanya berempat. Ya, Saskia tidak akan mungkin ikut bermain karena dia cenderung lebih suka berdandan feminim berbeda dengan Intan.
”Malvin, kau dengan Denis ya aku dengan Om Baron!” ucap Intan.
”Tidak biar Denis saja yang bersama dengannya kau bermain bersamaku!"
”Oke deal!” Denis menyela dan langsung bergabung dengan Baron.
”Kita mulai!” Malvin memberi aba-aba memulai permainannya.
Di rumah sakit.
__ADS_1
”Bagaimana Dok?" tanya Kamil.
”Apa Bu Medina istirahat dengan baik di rumah?” sahut Dokter.
”Belakangan ini saya memang kesulitan beristirahat, Dok.”
Kamil menoleh ke arah Medina begitu mendengar perkataan istrinya itu. ”Apa yang kamu pikirkan Sayang?"
”Banyak hal,” jawab Medina tersenyum.
”Saran saya sebaiknya Anda lebih banyak beristirahat atau melakukan hal ringan jika meras bosan.”
”Baik Dok, kalau begitu saya permisi dulu.Terima kasih.”
Keduanya pun segera keluar dari rumah sakit namun bukan pulang tujuannya dan hal itu membuat Medina bertanya-tanya.
”Kok kita lewat jalan ini, Bang?” tanya Medina seketika karena jalan yang dilalui bukanlah jalan menuju ke rumah.
”Kita ke mall sebentar mau kan? Sudah lama loh kita gak jalan bersama,” ujar Kamil membuat Medina tersenyum kecil. ”Kau ingin apa? Aku akan memenuhinya, katakan saja!” sambung Kamil.
”Tak perlu karena aku sudah memiliki banyak barang darimu,” sahut Medina.
Kamil menautkan kedua alisnya memang benar apa yang dikatakan oleh istrinya, entah bagaimana ceritanya hari ini dia ingin sekali memanjakannya.
”Eh kenapa masuk ke sini?” Medina terkejut saat Kamil membawanya masuk ke toko perhiasan ternama di kota ini.
”Bos besar, mau ambil perhiasan untuk siapa?” tanya pemilik toko yang sudah sangat akrab dengan Kamil.
”Istriku,” balas Kamil.
”Istrimu, kapan kau menikah kenapa tidak mengundang kami?”
”Cukup lama dan sekarang kami sedang menunggu buah hati kami,” ucap Kamil.
”Astaga selamat ya, dia adalah pelanggan yang paling baik di antara yang terbaik tidak pernah komplain apapun. Kau tahu baru pertama kali ini dia membawa wanita selain mamanya,” puji sang pemilik toko.
”Jangan berlebihan aku seperti itu karena kau yang memberikan layanan terbaik jadi aku tidak pernah komplain,” ujar Kamil.
”Anda ingin model yang seperti apa?”
”Yang ternaru dan limited edition tentunya.” Kamil menoleh ke arah Medina.
”Kau terlalu berlebihan Bang!” ujar Medina pada Kamil.
”Tidak, aku tidak seperti yang kau pikirkan aku hanya ingin membahagiakan wanita yang aku cintai.”
”Silakan, ini adalah keluaran terbaru dan limited edition hanya ada dua saja.”
”Benarkah? Apa kau suka?” Kamil menoleh ke arah Medina. ”Bagaimana?” tambahnya.
__ADS_1
”Ini terlalu berlebihan," ucap Medina.
”Tidak. Sherly, aku ambil keduanya ya!" Si pemilik toko pun kegirangan mendengar Kamil mengatakan hal itu.
”Baik, pasti yang satu untuk mama Alika apakah itu benar?” tebak Sherly.
”Siapa lagi!” Kamil tersenyum puas karena mendapatkan apa yang dia inginkan.
”Perusahaan ku sebentar lagi ulang tahun, aku harap kau mau memakainya nanti,” ujar Kamil tersenyum kecil pada Medina.
Kamil pun menyelesaikan pembayarannya dan segera membawa Medina ke butik memcari gaun sekaligus sepatunya.
Selesai berkeliling keduanya pun pulang ke rumah tepat pukul lima sore.
”Apa Dokternya antri sehingga jam segini baru pulang?" tanya Malvin yang masih menonton tv setelah teman-temannya pulang ke rumah.
”Maaf kami baru saja ke mall, belanja. Apa kamu sudah makan?” tanya Kamil.
”Kau telat, Dad. Lihat sekarang jam berapa tentu saja aku sudah makan tadi siang bersama teman-teman,” jawab Malvin.
”Sorry, besok siang kamu jangan buat janji dengan siapapun karena Daddy akan mengajakmu pergi. Daddy ke kamar dulu!”
Kamil menyusul Medina yang sudah lebih dulu ke kamarnya. Sampai di kamar dia tidak menemukan Medina, Kamil pun panik dan segera mencarinya ke kamar mandi namun pintunya terkunci dari dalam.
Kamil pun berinisiatif untuk mendobraknya, keributan pun terjadi Malvin yang mendengarnya segera datang.
”Apa yang terjadi, Dad?” Malvin ikut panik melihat Kamil yang tengah mendobrak pintu.
”Mamamu ada di dalam, tapi tidak ada sahutan.” Kamil terus mendobraknya.
”Aku ambil kunci cadangan!" Malvin segera berlari ke laci dapur mencari kunci dan segera memberikannya pada Kamil.
”Ini, Dad!”
Tanpa menunggu lama Kamil segera membukanya dan terkejut melihat apa yang terjadi.
”Ma!” teriak Malvin.
”Sayang apa yang terjadi?” Kamil ikut panik dan segera membawa Medina ke mobilnya.
”Kamu ikut papa, Baron tolong hubungi mamaku kasih tahu hal ini.”
”Baik.”
Kamil segera membawa istrinya ke rumah sakit karena kondisi istrinya terlihat kritis. Kamil mencoba tetap tenang meskipun dia mengkhawatirkan istrinya karena dia sendiri tak ingin membuat Malvin ikut panik karenanya.
Malvin mondar-mandir di depan pintu menunggu Dokter keluar sedangkan Kamil duduk di kursi menatap lurus ke depan.
”Bagaimana keadaan mama saya, Dok?”
__ADS_1